Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Surat undangan


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian Shabira pergi kedalam rumah makan aku pun segera menyusul untuk mengetahui lebih jelas kondisi Jani. Di dalam dia sedang diobati oleh pak Husen. Meski pun kaki Jani sempat berdarah tapi untung lukanya tak dalam jadi lukanya tak perlu dijahit.


Kuedarkan pandanganku pada semua, kulihat semua sangat mengkhawatirkan Jani. Azka, Jho dan Gio begitu perhatian pada Jani. Aku tahu mereka semua menyukai Jani tapi rasanya suasana ini terlalu memuakan bagiku, aku tak tahan melihat ini.


Aku ingin marah, aku ingin melampiaskan semua kekesalan dalam hatiku akan rasa cemburu ini tapi aku tidak bisa melakukannya karena nanti akan berujung panjang, ketiga sahabatku pun akan marah jika aku menunjukan ketidak sukaanku atas sikaf mereka pada Jani.


Ah! Ini sangat menyebalkan, kenapa aku harus terjebak dalam cinta yang seperti ini? Kenapa aku harus jatuh cinta pada Jani, sahabatku sendiri dan kenapa juga aku harus membuat kesalahan bodoh yang membuatku merasa terikat dengannya meski aku tak bisa memilikinya?


Oh! Tuhan, ini begitu menyiksaku, sepertinya aku tidak akan bisa bertahan di keadaan ini, n'tah bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari belengguh cinta yang terikat kesalahanku pada Jani dan persahabatan kami berlima.


Setelah Jani selesai diobati mereka melanjutkan sarapan pagi yang tadi sempat tertunda karena ada insiden. Atar, Azka, Jho, Gio, Shabira dan Jani duduk dikursi dengan meja panjang yang sama. Diam-diam Shabira menatap Atar dengan pikirannya yang terus bertanya-tanya.


POV Shabira


Aku selalu tak mengerti dengan orang dewasa, mereka semua munafik tak pernah mau mengakui perasaannya sendiri. Aku tahu ayah pasti cemburu pada bunda itu terlihat jelas di tatapan matanya tapi ayah belaga menampik perasaannya sendiri.


Terkadang aku heran, Kenapa bisa aku punya seorang ayah yang begitu payah dan pengecut? Apa karena itu mereka berpisah? Harusnya kalau ayah memang masih mencintai bunda, ayah ajak aja bunda balikan lagi? Tapi kenapa ayah lebih memilih diam dan memendam semua perasaannya sendiri?


...****************...


Sesi sarapan pagi pun selesai meski Atar hanya makan sedikit tapi semua kembali bekerja, sementara Jani dan Shabira kembali kerumah untuk beristirahat karena kakinya masih terasa sakut, dengan diantar oleh pak Husen menggunakan mobil.


Minggu pagi Jidan dan Shabira sedang lari pagi. Tiba-tiba Jidan menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" tanya Shabira.


"Aku tiba-tiba kepikiran acara besok disekolah, besok kita bolos aja yuk" jawab Jidan dengan tak semangat.


"Kenapa harus bolos? Besok kan kita kebagian baca puisi diatas panggung"


"Aku gak semangat karena kalau udah tampil biasanya kita bersembunyi di perpustakaan ketika semua anak merayakan momen hari ayah dengan ayah mereka" jawab Jidan dengan sedih.


Shabira menatap Jidan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, hatinya merasa terenyuh dengan kesedihan saudaranya itu tapi tak berapa lama Shabira tersenyum sambil mengeluarkan surat undangan dari sekolah untuk orang tua murid.


"Taraaaaa...!!!" ucap Shabira sambil mengangkat surat undangan itu setinggi kepalanya.


Jidan menyernyitkan kedua alisnya dengan heran.


"Apa itu dan buat apa itu?"


"Ini surat undangan, aku berencana meminta ayah untuk datang kesekolah untuk menghadir acara hari ayah disekolah kita"


Tapi ternyata rencana Shabira itu tetap tak membuat Jidan tersenyum, dia masih saja tetap sedih.


"Tapi kan om Atar itu ayah kamu bukan ayah aku jadi tetap aja meski dia datang ke acara disekolah aku tetap tidak punya ayah" lirih Jidan sambil menunduk sedih.


Shabira lalu menepuk lembut pundak Jidan, dia lalu berkata


"Kamu jangan khawatir aku akan meminta ayah untuk mengakui kalau dia ayah kita"


"Emang om Atar bakalan mau?" tanya Jidan dengan ragu.

__ADS_1


"Aku yakin ayah pasti mau jadi kamu jangan sedih lagi ya"


Meski Shabira menghibur Jidan tapi Jidan tetap merasa ragu kecuali kalau dia dengar sendiri kalau Atar bersedia berpura-pura jadi ayahnya. Untuk menepis semua keraguan Jidan, Shabira lalu mengajak Jidan pergi kevila tempat tinggal Atar.


Jidan mengangguk setuju, mereka lalu pergi kevila. Didepan vila suasana masih nampak sepi seperti vila yang tak berpenghuni.


"Shabira ko sepi banget ya disini? Om-omnya pada kemana?"


"Mana aku tahu, coba aja kita pencet bel rumahnya"


Shabira lalu memencet bel rumahnya, mereka kemudian menunggu penghuni rumah membuka pintu untuk beberapa saat. Dikamar Atar, dia masih tertidur dengan selimut tebal dan lembut yang menutupi tubuh tingginya.


Namun, suara bel itu terlalu memekikan telinganya hingga dia yang masih ngantuk terpaksa bangun karena bel terus berbunyi.


"Ih! Jho, Gio, sama Azka kemana sih ko gak bukain pintu? Lagian siapa sih pagi-pagi gini sudah bertamu?" gerutu Atar kesal karena dia masih ngantuk.


Atar lalu bangun dari tempat tidurnya dia segera memakai sandal dan turun kebawah dengan masih mengenakan kaos berwarna putih, celana pendek diatas lutut dan rambut yang acak-acakan.


Dia menyeret keluar kakinya dengan malas lalu membuka pintu rumah sambil menguap dan menggaruk perutnya. Jidan dan Shabira menatap Atar dengan tatapan smirk.


"Apa-apaan ini, Kenapa ayah berantakan sekali" batin Shabira yang merasa aneh dengan penampilan ayahnya yang acak-acakan karena setiap dia melihat Atar, Atar selalu berpenampilan rapi dengan setelan kemejanya.


Saat Atar baru menyadari kalau yang datang itu Shabira dan Jidan, dia buru-buru merapihkan rambut dan sedikit menurunkan celananya yang diatas lutut.


"Eh! Shabira, Jidan, kalian mau datang kesini ko nggak bilang-bilang dulu sih" sapa Atar sambil melebarkan senyuman.


"Apa ayah baru bangun tidur?" Shabira tak menjawab dia malah bertanya dengan nada angkuh.


"Hehehe...iya ayah bangun kesiangan ini" jawab Atar agak malu.


"Pasang alaram sih, cuma ayah gak denger saking ngantuknya soalnya semalam ayah kerja lembur sampai malam banget jadi ayah bangun kesiangan deh" jawab Atar agak canggung.


"Om Azka, om Jho dan om Gio mana?" tanya Shabira.


"Sepertinya mereka juga masih tidur" jawab Atar.


Shabira lalu berkacak pinggang, kemudian dia berdecak sambil menggelengkan kepalanya dengan menatap tajam ayahnya yang terlihat kikuk.


"Ck, ck, ck...Jadi tadi subuh ayah tidak bangun untuk shalat subuh?"


Atar hanya menjawab dengan senyuman kikuk. Shabira lalu membuang nafas dengan kasar kemudian dia berkata.


"Bunda tidak pernah bangun kesiangan, bunda selalu bangun subuh-subuh. Coba aja kalau ayah dan bunda tinggal bersama mungkin bunda akan membangunkan ayah agar ayah tidak ketinggalan shalat subuh" ujar Shabira memberi kode.


Tapi Atar tak bisa membaca kode dari putrinya yang ingin tinggal bersama layaknya keluarga kecil yang bahagia, Atar lebih cenderung merasa malu karena bangun kesiangan hingga dia ketinggalan shalat subuh.


"Ah! Sial, kenapa aku selalu terlihat bodoh di hadapan putriku sendiri sih? Aku memang seorang ayah yang payah. Citraku makin buruk dimata Shabira kalau begini terus gimana aku bisa jadi ayah yang baik baginya kalau aku selalu membuat kesalahan dihadapannya" batin Atar sambil menunduk lesu.


"Ayah minta maaf, Shabira. Ayah tidak akan bangun kesiangan lagi deh, ayah janji" lirih Atar masih menunduk karena merasa bersalah.


Suasana sejenak menjadi hening hingga Atar mencairka suasana kembali.

__ADS_1


"Oh iya, kalian tumben datang kesini, Ada apa ya?"


Shabira lalu mengeluarkan surat undangan dari saku celananya lalu memberikan surat itu pada Atar.


"Apa ini?" tanya Atar setelah menerima surat itu.


"Itu surat undangan dari sekolah untuk para orang tua murid. Apa ayah bersedia datang untuk acara disekolahku?" tanya Shabira penuh harap agar Atar mau datang ke acara hari ayah disekolahnya.


Atar tak langsung menjawab dia membuka surat undangan itu lalu membacanya.


"Ini surat undangan untuk acara hari ayah yang akan dilaksanakan hari senin besok?"


Shabira mengangguk lalu bertanya lagi "Jadi gimana apa ayah bisa datang?"


"Kalau kamu yang minta..." Atar sengaja menggantung kaliamatnya agar Shabira penasaran.


"Tentu saja ayah bersedia datang, apa sih yang tidak buat putri ayah yang cantik ini" lanjut Atar sambil tersenyum.


"Ayah serius mau datang?" tanya Shabira masih ragu.


Atar tersenyum lagi sambil meyakinkan Shabira "Iya ayah serius mau datang"


Shabira tersenyum kegirangan dan dengan spontan dia lalu memeluk Atar.


"Makasih ayah, aku seneng banget ayah mau datang"


Atar lalu membalas pelukan putrinya sambil tersenyum dia kemudian berkata "Sama-sama sayang"


Jidan hanya tersenyum kecut melihat kebahagian Shabira karena dalam hatinya dia merasa sedih sebab dia sudah tak punya ayah kandung lagi hingga dia tak bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah dan ada rasa iri dalam hatinya namun anak laki-laki itu hanya terdiam dan berusaha untuk tegar.


Shabira lalu melepas pelukannya kemudian dia menatap Atar dengan tatapan penuh harap dan sedikit merasa ragu.


"Ayah, aku punya satu permintaan lagi. Apa ayah bisa mengabulkan permintaanku yang ini?"


"Kamu mau minta apa lagi, sayang? Ayo katakan saja, ayah akan kabulkan semua permintaanmu" ujar Atar dengan senyuman ramah.


"Bisakah saat nanti ayah datang ke sekolahku, ayah mengaku sebagai ayahku dan juga ayahnya Jidan?"


Atar lalu menatap Jidan dengan tatapan datar, dia melihat anak laki-laki menatap dirinya dengan penuh harap. Tak berapa lama dia lalu tersenyum pada Jidan kemudian dia berkata sambil mengelus lembut rambut Jidan.


"Apa ini permintaan kamu Jidan ?....kalau iya, om bersedia mengaku jadi ayah kamu nanti sekolah"


"Apa om serius? Mau berpura-pura jadi ayahku besok disekolah?" tanya Jidan kembali merasa tak percaya dengan tatapan mata yang berbinar-binar antara terharu dan bahagia.


"Ya tentu saja mau kenapa tidak? Jadi... besok disekolah kamu boleh memanggil om dengan sebutan ayah"


"Terimakasih om, om sangat baik aku senang bisa bertemu dengan om" ucap Jidan dengan tulus dan sepenuh hati.


"Iya sama-sama Jidan" ucap Atar sambil tersenyum.


Setelah itu Atar mengajak Jidan dan Shabira untuk sarapan pagi bersama karena kebetulan mereka belum sarapan pagi. Tapi sebelum sarapan Atar mandi dulu setelah itu dia masak dan menyiapkan sarapan untuk semuanya.

__ADS_1


Satu hal yang Shabira ketahui lagi dari sosok ayahnya ternyata selain Atar itu seorang arsitek hebat tapi ternyata dia juga pandai masak itu terbukti dari masakan yang dibuatnya, semua terasa enak rasanya pun tak kalah dengan lestoran bintang lima yang mahal dan rasanya enak.


Bersambung


__ADS_2