
Atar lalu berjalan ditrotoar jalan menjauhi rumah sakit dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa harus aku, kenapa aku yang sudah membuat kekacauan ini? Bagaimana bisa aku melakukan semua ini?" batin Atar sangat kecewa dengan dirinya sendiri.
Dia menendang kaleng yang ada dihadapannya sebagai bentuk pelampiasan atas kekesalan dan rasa kecewa dihatinya. Cukup jauh dia berjalan dengan perasaan yang tak menentu hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke vila dengan menaiki kendaraan umum.
Hari pun kini semakin menunjukan warna gelap pertanda malam akan segera datang, azdan baru berkumandang disetiap penjuru masjid dan musolah ketika Atar baru sampai dikampung tempatnya bekerja.
Dia lalu melanjutkan dengan berjalan kaki untuk sampai ke vila tapi Atar sempat mampir dimusolah untuk menunaikan shalat magrib dilanjut dengan shalat taubat agar hatinya lebih tenang, setelah berdoa dan memohon ampun atas dosa-dosanya Atar lalu pulang ke vila.
Di vila lampu sudah terlihat menyala pertanda penghuni vila itu sudah kembali pulang, mobil mereka pun sudah terlihat terparkir digarasi. Atar kemudian hendak masuk tapi pintu rumah terkunci dari dalam, Atar lalu menekan bel rumah.
Ting... tong...ting...tong...ting...tong
Beberapa kali dia menekan bel namun tak terdengar atau pun terlihat ada seseorang yang membukan pintu untuk Atar.
"Mereka juga tak mau membukakan pintu untukku, sepertinya aku tidak akan bisa tidur di vila malam ini" ucapnya sambil tertunduk sedih.
Atar mengedarkan pandangannya kesegala arah, diintipnya pula jendela kaca tapi dari dalam tak terlihat ada tanda-tanda ada kehidupan. Mungkin ketiga temannya sudah masuk kekamar masing-masing, pikir Atar.
"Jho! Azka! Gio!" teriak Atar berharap salah satu dari mereka ada yang menyahut.
Tapi harapan Atar kandas sudah karena ketiga temanya tak ada yang menyahut. Atar menghela nafas lesu, kesedihan yang tergambar diwajahnya sudah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
"Ya sudahlah, mungkin mereka masih marah dan belum bisa memaafkan aku, mungkin aku harus pergi dulu dari sini" lirih Atar sedih.
Dia lalu pergi dari vila, sebelum jauh melangkah Atar sempat menoleh kebelakang berharap ada sosok sahabatnya yang tiba-tiba mau membukakan pintu untuknya tapi lagi-lagi harapannya kandas sudah karena ketiga sahabatnya tak ada yang mau keluar untuk membukakan pintu untuk Atar.
Dia akhirnya pergi lagi dari vila, tanpa Atar sadari diatas balkon sana ada Azka yang berdiri sambil menatap kepergian Atar, Azka nampak memalingkan wajah dari Atar seolah dia sedang berusaha menutup mata, hati dan telinganya akan masalah ini dan tak mau melihat Atar.
Atar yang kebingungan harus pergi kemana malam ini lalu memutuskan untuk tidur dimesjid sambil menunaikan shalat isya.
Ya, semalaman Atar didalam mesjid dia terus berdoa dan meminta petunjuk dari sang pencipta atas masalah yang tengah dihadapinya sampai dia ketiduran dimasjid hingga menjelang subuh baru terbangun kembali karena ada imam masjid yang membangunkannya.
"Nak, nak bangun ini sudah saatnya shalat subuh sebentar lagi jama'ah akan berdatangan untuk shalat subuh" ucap imam masjid itu sambil menepuk bahu Atar.
Tak berapa lama Atar pun terbangun, dia langsung mengucek-ngucek matanya.
"Eh! Bapak, maaf saya ketiduran disini" ucap Atar.
"Iya tidak apa-apa.Nak, bukan kah kamu ini salah satu arsitek yang sedang melakukan pembangunan dikampung kami ini kan?" tanya imam masjid itu.
"Iya betul pak, bapak ini bukannya pemilik rumah makan yang ada disamping tempat pembangunan?" tanya balik Atar.
"Iya betul nak, kamu kenapa tidur disini?"
Atar tak langsung menjawab dia malah tertunduk sedih untuk sesaat, tak berapa lama Atar baru menjawab.
"Sebenarnya saya ada sedikit masalah dengan teman-temanku tapi ini tidak akan lama ko, saya akan segera menyelesaikan masalah ini"
Sejenak Atar terdiam lalu dengan agak ragu dia bertanya.
"Bapak bolehkah saya bertanya"
"Kamu mau bertanya apa? Bapak akan menjawabnya kalau bapak tahu jawabannya"
"Bagaimana pertumbuhan Shabira selama ini? Apa dia tumbuh dengan baik? Apa segala sesuatu yang diperlukannya tercukupi? Apa dia baik-baik saja?" tanya Atar dengan ragu.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan soal Shabira?"
"Tidak apa-apa pak, saya hanya ingin tahu saja tapi kalau bapak tidak bisa menjawab saya tidak akan memaksa"
Imam masjid yang tidak lain adalah pak Husen itu lalu tersenyum pada Atar kemudian dia menjawab
"Shabira itu anak yang baik meski kadang sikafnya dingin dan cuek pada orang tapi sebenarnya dia suka membantu orang lain, dia cerdas dan juga rajin, dia baik-baik saja dan soal kebutuhannya insya Allah kami akan berusaha memenuhi kebutuhannya meski kami tidak bisa memberikan yang mewah"
"Syukurlah kalau begitu" gumam Atar sambil menunduk.
__ADS_1
Pak Husen baru ingat kalau sekarang waktunya adzan subuh dia lalu menyuruh Jidan untuk adzan karena kebetulan saat itu dia ikut sama pak Husen untuk shalat dimesjid.
"Jidan ini sudah waktunya adzan subuh kamu adzan ya" titah pak Husen pada Jidan
"Baik pak" ucap Jidan dia lalu segera adzan.
Tak berapa lama jama'ah pun berdatangan dan mereka semua lalu melaksanakan shalat subuh berjama'ah.
Siang hari kemudian.
Hari minggu ini seperti biasa Jidan dan Shabira pergi bermain dengan bermain sepeda disekitar perkebunan teh. Saat lagi asyik bersepeda tiba-tiba Jidan tanpa sengaja melihat Atar sedang duduk melamun sambil bersandar disebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu.
"Shabira, Shabira, berhenti dulu deh" ucap Jidan setengah berteriak.
Shabira lalu menghentikan laju sepedanya lalu melirik kebelakang.
"Ada apa Jidan?" tanya Shabira.
Jidan lalu menghampiri Shabira kemudian dia berkata sambil menunjuk kearah Atar.
"Shabira lihat deh itu, bukankah dia temannya bunda?"
"Oh iya, dia itu kan Ooomm... Om Atar. Emang kenapa kamu nunjukin dia ke aku?"
"Tahu gak tadi subuh aku ketemu sama dia dimesjid, Om Atar tidur dimesjid wajahnya saat itu terlihat lesu dan sedih, sepertinya dia lagi punya masalah lihat aja sekarang aja dia lagi ngelamun" tutur Jidan.
"Terus hubungannya dengan kita apa? Masalah-masalah Om Atar lalu kenapa kita harus pusing mikiran dia?" tanya Shabira.
"Masalahnya dia nyebut-nyebut kamu waktu dimasjid, nanyain pertumbuhan kamu, nanyain apa kebutuhan kamu tercukupi atau tidak, nanyain kamu baik-baik saja atau tidak, kalau tidak ada sesuatunya ngapain dia nanyain kamu" tutur Jidan.
"Beneran Om Atar nanyain soal aku?" tanya Shabira tak percaya.
"Ya beneranlah ngapain juga aku bohong sama kamu"
Shabira memperhatikan Atar dari kejauhan, ucapan Jidan itu kini jadi pertanyaan besar dibenak Shabira. Dan tanpa sengaja Atar yang mulai mengedarkan pandangannya malah menangkap sosok dua anak kecil yang tengah memperhatikannya, Atar lalu berdiri dan memanggil mereka.
Shabira dan Jidan bukannya menghampiri Atar mereka malah saling berpandangan satu sama lain, akhirnya Atar yang menghampiri mereka.
"Kalian lagi apa disini?" tanya Atar.
"Lagi main sepedaan" jawab Jidan.
Atar menatap sayu gadis kecil yang kini ada dihadapannya.
"Apakah benar kamu ini adalah anakku? Kenapa ini terasa seperti mimpi?" batin Atar sedih karena membiarkan anaknya tumbuh tanpa sosok ayah disisinya.
"Shabira, bisakah kamu kesini mendekati Om?" tanya Atar sambil menatap sedih pada Shabira.
Gadis kecil itu merasa kebingungan akan sikaf aneh pria yang ada dihadapannya kini. Tapi entah kenapa kakinya malah membawa Shabira mendekati Atar.
Saat sudah dekat tiba-tiba Atar memeluk gadis kecil itu sambil berlutut agar menyeimbangkan tinggi badanya.
"Hey! Om kenapa Om tiba-tiba memelukku?" tanya Shabira dengan sedikit protes sambil mencoba melepaskan diri dari Atar.
Tapi Atar tak membiarkan gadis kecil itu melepaskan diri dari pelukannya.
"Shabira tolong biarkan Om memelukmu sebentar karena Om sedang merindukan seseorang yang mirip denganmu" alibi Atar.
"Maafkan ayah Shabira, ayah belum bisa mengakui bahwa ayah ini adalah ayah kandungmu" batin Atar sambil terisak sedih.
Sebenarnya Shabira merasa risih tapi lama-lama dia merasa nyaman saat dipeluk oleh Atar karena ada perasaan tenang dan damai yang menyelimuti hatinya saat dipeluk oleh Atar.
"Ko aku merasa nyaman dipeluk Om Atar, pelukanya hangat dan lembut sama seperti pelukan bunda" batin Shabira.
"Apa Om menangis? Ternyata benar apa kata Om Jho, Om Atar itu cengeng" celetuk Shabira.
Atar buru-buru menyeka air matanya kemudian menatap lekat gadis kecil itu.
__ADS_1
"Hey! Om Jho ngomong apa aja tentang Om?" tanya Atar.
"Om Jho bilang bunda suka bikin Om Atar menangis karena Om Atar saat kecil gampang menangis, bunda juga suka jailin Om" jawab Shabira dengan nada meledek.
"Ih! Siapa bilang Om cengeng itu nggak benar ya, Om ini seorang yang kuat, nih lihat otot-otot Om" kata Atar sambil memperlihatkan otot-ototnya yang tersembunyi dibalik kemeja lengan panjang berwarna biru tua.
Shabira mencibir sambil bergumam "Ih! Siapa yang peduli"
Saat asyik ngobrol dengan Shabira tiba-tiba mata Atar menatap Jidan yang terlupakan yang dari tadi berdiri dibelakang Shabira sambil terus memperhatikan Atar dan Shabira.
"Eh! Kamu siapa namamu?" tanya Atar pada Jidan.
"Aku?" kata Jidan sambil menunjukan telunjuknya pada diri sendiri.
"Iya kamu. Ayo! Sini" ajak Atar sambil melambaikan tangannya.
"Namaku Jidan. Ada apa Om?"
Tiba-tiba Atar memeluk kedua anak itu sambil berkata "Bukankah kalian ini bersaudara?"
Kedua anak itu mengangguk didalam pelukan Atar.
"Kalian jangan pernah bertengkar ya. Jidan, kamu kan anak laki-laki jadi kamu harus jagain Shabira ya, jangan sampai ada yang mengganggunya"
"Bukannya Jidan yang menjagaku tapi aku yang biasanya menjaga Jidan" ujar Shabira.
Atar lalu melepas pelukannya kemudian dia tersenyum pada Shabira.
"Kamu sangat mirip dengan bundamu"
Atar lalu mengelus rambut Shabira dan Jidan. Kemudian dia mengeluarkan dua lembar uang kertas didompetnya.
"Apa kalian mau jajan atau beli es krim? Ini uang buat kalian" tanya Atar lalu memberikan uang itu ketangan Shabira dan Jidan.
Kedua anak itu hanya melongo keheranan.Tak berapa lama Shabira memegang tangan Atar sambil mengembalikan uang yang diberikannya.
"Meski kami anak panti tapi kami tidak diajarkan untuk meminta-minta jadi maaf Om aku tidak bisa menerima uang Om" ucap Shabira.
Atar merasa terharu akan sikaf tegasnya Shabira, dia merasa bersyukur meski anaknya tumbuh tanpa seorang ayah tapi sifat anak itu sangat baik walaupun dia dingin dan cuek.
"Tolong terima uang ini, anggap saja ini hadiah untuk kalian karena kalian sudah mengobati rasa rindu Om pada seseorang" bujuk Atar.
"Shabira, terima aja. Kita nggak boleh menolak rezeki" bisik Jidan pada Shabira.
"Iya Om, terimakasih ya. Shabira ayo kita pulang" ajak Jidan sambil menarik Shabira.Gadis kecil itu melongo pada Jidan.
"Udah nggak usah bingung gitu. Ayo! Pulang" ajak Jidan.
Mereka lalu pergi tapi Atar mencegah sambil berkata dengan setengah berteriak.
"Om ikut kalian pulang ke panti ya"
Shabira lalu melirik kebelakang lalu dia bertanya "Untuk apa? Bukannya Om punya rumah"
Atar menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil berkata.
"Iya sih tapi Om lagi bertengkar dengan ketiga teman Om, mereka masih marah dan tak memberi pintu untuk Om bisa masuk kerumah"
"Apa Om sudah minta maaf sama mereka?" tanya Shabira.
Atar menggelengkan kepalanya pertanda dia belum minta maaf.
"Minta maaf dulu sama mereka, cepat selesaikan masalah Om dengan mereka jangan masalah Om dibiarkan terlalu lama" ucap gadis kecil itu lalu mengayuh sepedanya yang kemudian diikuti oleh Jidan.
"Apa barusan aku habis dinasehati lagi sama anakku sendiri?" tanya Atar pada dirinya sendiri sambil meraup wajahnya dengan tak percaya akan kejadian barusan.
Bersambung
__ADS_1