
Dari kejauhan terlihat dua anak kecil yang memakai seragam sekolah sedang berjalan kaki menuju ketempat sekolahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Kedua bocah itu terus berjalan sambil bercakap-cakap.
"Shabira, tadi subuh ayah bangunin aku padahal aku masih ngantuk, aku gak tahu kenapa tumben-tumbennya ayah ngebangunin aku padahal belum waktunya shalat subuh, kayanya ayah ngomong sesuatu deh tapi ngomong apa ya?" tanya Jidan.
"Iya sama ayah juga bangunin aku. Ayah bilang kalau sebentar lagi kita akan punya adek bayi, bunda hamil lagi" tutur Shabira.
"Kamu serius sebentar lagi kita akan punya dedek bayi?" Jidan mengulang kalimatnya karena tak percaya, gadis kecil itu langsung mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Jidan.
Kedua netra Jidan terlihat berbinar-binar karena amat senang, Shabira pun tersenyum melihat kegembiraan yang terbingkai jelas diwajah Jidan itu. Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya menuju sekolah setelah tadi sempat berhenti sejenak.
...****************...
Raisa masih tak rela saat mendengar kabar kehamilan Jani, dia terus memutar otaknya untuk menyusun rencana agar merenggangkan hubungan Atar dengan Jani meski dia belum tahu bagaimana caranya untuk memisahkan kedua sejoli itu.
Sementara Jani pergi ke Puskesmas yang ada didekat lingkungan tempatnya tinggal untuk memeriksa kehamilannya ke Bidan dengan pergi sendiri sebab Atar yang tadinya berencana mengantar Jani ke Dokter kandungan mendadak tak bisa pergi karena mendapat telepon dari kantor kalau dia harus segera mengikuti meeting dadakan sebeb ada hal penting dan darurat di kantor hingga dia tak bisa absen untuk hari ini.
Akhirnya Jani terpaksa pergi sendirian karena dia amat penasaran dan tak sabar jadi Jani memilih pergi sendiri untuk memeriksa kehamilannya pada Bidan yang ada di Puskesmas.
Setelah diperiksa oleh Bidan, Jani langsung duduk dan menanyakan kondisinya, "Jadi bagaimana hasilnya bu?"
"Selamat ya bu Jani atas kehamilannya, mulai sekarang ibu harus banyak mengkonsumsi vitamin dan makanan yang begizi agar janinnya tumbuh dan berkembang dengan sehat dan sempurna, jangan banyak pikiran dan jaga baik-baik kandungannya ya bu"
"Iya bu, oh iya kandungan saya memasuki berapa bulan bu?"
"Melihat dari terakhir menstruasi perkiraannya sekarang kandungan ibu menginjak 8 minggu itu artinya HPL (Hari perkiraan lahir) akan jatuh pada tanggal 17 bulan Maret"
"Oh iya bu terimakasih" ucap Jani.
Setelah itu dia kembali pulang. Sore hari kemudian, Atar sengaja pulang cepat karena dia yang tahu kalau Jani akan pergi untuk mengecek kandungannya sendiri, dia sangat penasaran ingin mendengar langsung dari Jani apa hasil dari cek kandungannya itu.
Atar yang sudah sampai dirumah dan langsung disambut hangat oleh istrinya lalu memberikan kecupan mesra dikening sang istri dengan penuh kasih sayang dan itu membuat iri hati Raisa yang sedang mengintip mereka dibalik dinding.
"Jani, Gimana hasil cek kandungannya? Apa calon bayiku baik-baik saja?" tanya Atar sambil mengelus lembut perut Jani yang masih belum kelihatan menonjol.
__ADS_1
Jani lalu tersenyum sambil menjawab, "Iya dia baik-baik saja. Kata bu Bidan perkiraan kandungan ku ini sudah dua bulan dan perkiraan lahirnya tanggal 17 bulan Maret tahun depan"
"Wah! Aku jadi gak sabar pengen cepat lihat anakku tumbuh dari bayi sebab waktu Shabira lahir aku tak bisa mengalami masa-masa itu"
"Sabar dong dia juga perlu tumbuh dan berkembang didalam perutku" ujar Jani sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Iya, iya aku akan sabar menunggu setiap prosesnya" ujar Atar lalu dia memeluk Jani.
Tanpa sepasang suami istri itu sadari dari kejauhan ada hati yang tengah dongkol akibat kemesraan mereka Raisa terus ngedumel kesal melihat perlakuan manis Atar pada Jani.
"Ih! Kenapa sih mas Atar selalu bersikaf manis pada mbak Jani, bikin kesel aku aja. Eh! Tunggu dulu, katanya kehamilan mbak Jani itu memasuki dua bulan? Ko seperti ada yang janggal ya? Bukankan dua bulan lalu mbak Jani kabur dari rumah otomatis itu tidak bisa membuat mbak Jani dan mas Atar berhubungan suami istri dong? Kalau begitu lalu bagaimana bisa mbak Jani hamil? Apa jangan-jangan dia mengandung anaknya pria lain dan bayi yang dikandungnya itu bukan anaknya mas Atar?" terka Raisa dengan pikiran negatifnya.
...****************...
Hari minggu pagi yang cerah ini Raisa sengaja pergi berjalan-jalan diarea komplek perumahan sambil membawa anaknya dengan menggunakan stroller, cerahnya hari ini tak bisa mengalahkan mendungnya hati Raisa.
Dia masih iri dan kesal akan kehamilan Jani yang membuat Atar semakin dekat dan semakin memberikan perhatian ekstra pada istri sahnya itu. Itu membuat Raisa terus memutar otaknya untuk menghancurkan kebahagiaan sepasang suami istri yang masih muda itu.
Ketika hatinya masih dirundung kekesalan tiba-tiba sorot matanya menangkap seseorang yang sudah tak asing lagi bagi Raisa karena dia pernah bertemu dengan seseorang itu sebelumnya. Ya, seseorang itu adalah Gionino. Gio nampak sedang lari pagi sambil menghirup udara segar di pagi hari diarea komplek perumahannya.
"Iya benar, dia orangnya. Sepertinya dia sangat menyukai mbak Jani" sambungnya tiba-tiba Raisa menerbitkan sebuah senyuman disudut bibirnya ketika dia punya sebuah rencana untuk menghancurkan rumah tangga Jani dan Atar.
"Aku samperin dia ah!"
Raisa lalu mendekati Gio dan menyapanya, awalnya Gio hanya menatap sinis pada Raisa karena dia tahu wanita ini adalah sumber luka dihati Jani dan Gio pun tak menyukai Raisa.
"Hi mas! Lagi lari pagi ya? Masih ingat nggak sama aku?" sapa Raisa dengan ramah.
"Bagaimana saya tidak ingat, kamu ini adalah wanita penghancur rumah tangga Jani dengan Atar" jawab Gio dengan ketus.
"Si mas nya ko jawabnya ketus banget sih? Kita bisa ngobrol sebentar gak, mas? Saya tahu loh! Mas itu menyukai mbak Jani kan?"
Gio yang masih bersikaf dingin dan malas basa basi dengan wanita itu lalu langsung to the point.
__ADS_1
"Langsung aja mau kamu apa?" tanya Gio.
"Saya mau ngajak mas buat kerja sama untuk menghancurkan rumah tangga mas Atar dan mbak Jani agar mas Atar bisa menjadi milikku sepenuhnya dan mbak Jani bisa menjadi milik mas seutuhnya" jawab Raisa.
Gio lalu menatap tajam pada wanita itu. Kalimat terakhir Raisa membuat minat Gio tertarik pada penawaran itu.
"Kamu punya rencana apa untuk menghancurkan rumah tangga mereka?" Gio semakin penasaran untuk terlibat pembicaraan lebih dalam lagi dengan wanita yang sudah mempunyai seorang bayi itu.
"Lebih baik kita cari tempat duduk dulu agar ngomongnya lebih enak" ajak Raisa.
Gio yang setuju akhirnya mau mencari tempat duduk bersama Raisa dan bayinya. Setelah mereka dapat tempat duduk dan langsung duduk kemudian mereka mulai membahas soal rencana jahat Raisa. Tanpa basa basi lagi Raisa langsung mengutarakan rencana jahatnya pada Gio.
"Jadi begini mas, mbak Jani itu sekarang sedang hamil lagi dan kehamilannya itu menginjak dua bulan saya curiga kalau bayi yang dikandung mbak Jani itu bukan anaknya mas Atar sebab bagaimana bisa mbak Jani hamil sementara dua bulan lalu dia itu kabur dari rumah jadi bagaimana bisa mbak Jani dan mas Atar bisa berhubungan suami istri sementara mereka terpisah?" tutur Raisa menjelaskan kecurigaannya pada Jani.
"Lalu apa lagi?" tanya Gio yang ingin mendengar penjelasan lanjutan dari pembicaraan Raisa itu.
"Bagaimana kalau mas Gio mengaku pada mas Atar kalau bayi yang dikandung oleh mbak Jani itu adalah anaknya mas Gio agar mas Atar marah dan kecewa pada mbak Jani" pinta Raisa.
Brak!
Sontak Gio langsung memukul meja di hadapannya karena marah dan itu berhasil membuat Raisa kaget.
"Apa kamu sudah tidak waras, sekali pun saya mencintai Jani tapi saya tidak pernah melakukan itu dengan Jani hingga dia hamil" ketus Gio.
"Ya elah mas, nggak usah baper gitu kenapa. Ini kan cuma siasat aja supaya menghancurkan rumah tangga mbak Jani dan mas Atar"
"Tetap saja saya tidak bisa terima sebab itu artinya saya sudah menjelek-jelekan Jani, saya tidak suka melakukan itu"
"Mas Gio, mas ini menjelek-jelekan mbak Jani cuma didepan mas Atar doang ini supaya perasaan sayang mas Atar pada mbak Jani berubah jadi perasaan benci ya walau saya juga tahu ini semua tidak benar"
Gio akhirnya bergeming mendengar ucapan Raisa, nampaknya pria tampan itu sedang berpikir dan menimbang-nimbang apakah dia akan menerima tawaran Raisa atau tidak.
Bersambung
__ADS_1
Hay semua kali ini aku mau ngasih sedikit pemberitahuan ya dipart ini. Eh! Sebenarnya lebih tepatnya itu aku mau promosi sih hehehe😅 Jadi kali ini aku sedang menulis karya baru dan besar harapanku untuk semua agar mampir juga dikarya baruku dan memberi dukungan juga dengan meninggalkan jejak. Judulnya itu NOVELLA ini adalah kumpulan banyak cerita yang dibuat menjadi satu. Disini akan ada banyak cerita dengan alur dan tokoh yang berbeda dengan judul khusus disetiap bagiannya. Dibagian pertama aku kasih judul DENDAM JADI CINTA, part ini menceritakan tentang dendam kesumat seorang perempuan terhadap seorang pria yang diberi julukan oleh asisten pribadinya dengan julukan penjahat yang budiman, menurut kalian definisi penjahat itu seperti apa? Lalu bagaimana pria ini bisa diberi julukan penjahat yang budiman?
Karena dendam kesumat nya itu si perempuan jadi gelap mata saking benci dan dendamnya dia pada si pria hingga si perempuan ingin membunuh si pria dengan memberinya racun di minuman si pria, pria itu tak menyadari ada racun dalam minumannya, dia pun meminum minuman itu hingga racun itu berhasil masuk kedalam tubuhnya dan menggerogotinya hingga dia sekarat, Lalu apakah pria ini bisa lolos dari kematian? Dan bagaimana caranya Cinta bisa merubah dendam menjadi cinta? Simak kisahnya dikarya terbaruku dengan judul NOVELLA dengan judul khusus DENDAM JADI CINTA cek di story aku ya🥰🙏