
Jalanan yang macet, suara bising kendaraan dan hiruk pikuk orang-orang dengan segala kegiatannya masing-masing sudah menjadi pemandangan yang biasa yang terjadi didaerah perkotaan. Akan ada banyak orang-orang yang kesal saat terjebak didalam kemacetan yang membuat seseorang datang terlambat ketempat tujuannya.
Sama halnya dengan Jani, dia juga jadi kesal karena terjebak dalam kemacetan, tapi bukan karena dia takut datang terlambat ketempat tujuan melainkan karena dia merasa bosan jika berlama-lama didalam bus yang membawanya pergi ke tempat tujuan.
"Ih! Parah banget ini macetnya" gerutu Jani sambil menatap barisan kendaraan disamping bus yang ditumpanginya.
"Lebih baik aku turun disini aja deh, lagian tempatnya sudah dekat ko, jalan kaki sedikit mah tidak apa-apa lah" pikir Jani.
Kemudian dia turun dari bus setelah menghentikan bus dan membayarnya. Jani memilih melanjutkan dengan berjalan kaki dari pada harus menunggu kemacetan yang begitu padatnya.
Lima belas menit kemudian
Kini Jani telah sampai ditempat tujuan, di hadapannya kini ada sebuah lestoran cukup besar yang nampak dari luar sangat ramai. Disamping lestoran itu berdirilah sebuah bangunan pencakar langit yang amat kokoh dengan arsitektur yang membuat mata dimanjakan oleh bentuk bangunannya yang berbeda dari bangunan disekitarnya.
Bangunan itu adalah kantor tempat suaminya mencari nafkah. Sebenarnya Jani datang kesini karena ingin melihat lestoran baru milik Pak Husen dan sekalian membantu pekerjaannya selagi dia datang kesini, tapi karena ini jamnya makan siang sekalian dia juga mau ngajak suami dan teman-temannya untuk makan siang.
Karena lestoran itu berdampingan dengan kantor suaminya Jani jadi tahu tempat Atar bekerja. Jani lalu masuk kedalam lestoran dan langsung menghampiri Pak Husen, setelah memberi salam dan banyak bertanya tentang lestoran itu kemudian Jani membantu pekerjaan Tari sebagai pramusaji.
Waktu istirahat kerja kini telah tiba, para karyawan mulai berhamburan keluar dari gedung untuk makan siang, lestoran Pak Husen mulai dibanjiri oleh konsumen, para pegawai di lestoran itu nampak sibuk menyiapkan pesanan untuk para konsumen.
Jani pun ikut sibuk membantu melayani konsumen, ketika dia sedang membawa nampan yang berisi dua gelas jus segar tiba-tiba Jani tersandung kaki seorang konsumen yang tidak sengaja menselonjorkan kakinya hingga minuman yang dibawa Jani tumpah semua mengenai seorang karyawati yang sedang berjalan hendak mencari tempat duduk yang masih kosong.
Prang!
Gelas jus yang dibawa Jani seketika tumpah dan pecah. Pekerja wanita itu nampak kaget karena bajunya basah terkena jus yang dibawa oleh Jani.
"Aish! Bajuku jadi basah nih!" keluh karyawati itu dengan amat kesal.
Jani langsung membungkuk seraya meminta maaf pada karyawati itu kemudian dia mengambil tissue dan membantu membersihkan pakaiannya. Tapi karyawati itu tak terima dia menepis tangan Jani sambil marah-marah.
"Heh! Pelayanan murahan, berani sekali kau menyiram pakaianku. Apa kamu tidak tahu ini baju mahal gajimu sebagai pelayan di lestoran ini pun tidak akan mampu membeli baju ini" bentak karyawati itu.
__ADS_1
"Ma.. maaf saya mbak, tadi saya tidak sengaja menyiram mbak sebab kaki saya tersandung oleh kakinya mas yang ini" ucap Jani sambil menunjuk pada seorang pria yang duduk tak jauh dari tempat itu.
Pria itu tak mau mengakui kalau tadi kaki Jani tersandung olehnya hingga menyebabkan Jani tak sengaja menyiram pakaian karyawati yang merupakan atasan si pria itu, dia tidak mau mengaku sebab atasannya itu super galak dan sombong.
"Rico! Apa benar tadi kamu membuat pelayan ini tersandung hingga menyiram baju saya?" tanya Sesilia.
"Tidak bos. Saya tidak melakukan apa yang dia tuduhkan" Rico berbohong karena tak mau kena omelan dari atasannya.
"Kamu gak budeg kan, tadi denger kan apa dikatakan si Rico" ucap Sesilia dengan tegas sambil memelototi Jani.
"Iya mbak, saya minta maaf saya memang menyiram mbak tapi saya tidak sengaja, saya mohon maafkan saya" ucap Jani sambil menunduk.
"Alah! Alasan saja kamu. Kamu harus ganti rugi. Saya yakin kamu pasti tidak akan mampu menggantinya jadi rasain nih!" seru Sesilia lalu mengambil jus di meja Rico kemudian menyirakan jus itu kemuka Jani.
Sontak Jani beringsut mundur tapi tetap saja jus itu mengenai mukanya hingga baju dan wajahnya basah. Dia lalu menatap tajam wanita itu seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Dasar brengsek! Kamu pikir aku tak bisa melawanmu hanya karena aku seorang pelayanan restoran? Dia membuat jiwa bar-barku keluar lagi" gerutu Jani dalam hati.
"Dasar pelayan sialan! Sudah berani ya, kamu menatap saya dengan tatapan seperti itu. Kamu tidak tahu siapa saya? Saya bisa membuatmu kehilangan pekerjaanmu disini karena kamu sudah kurang ajar pada saya" bentak Sesilia pada Jani.
Karena ingin menghentikan kekacauan ini Tari lalu memanggil Pak Husen yang saat itu sedang di dapur. Tapi sebelum Pak Husen datang Atar datang duluan dan sempat melihat adegan itu.
Atar yang tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu segera mengambil tissue untuk mengusap wajah Jani yang basah kemudian dia membantu mengeringkan baju Jani yang basah.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tannya Atar cemas.
Jani yang membiarkan Atar membantunya mengeringkan wajahnya hanya menggelengkan kepala, Atar lalu membuka jasnya dan memakaikan pada Jani meski jasnya terlihat kebesaran dipakai oleh wanita bertubuh mungil itu.
"Jani! Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Jho yang baru datang bersama Azka dan Gio.
"Tidak Jho" jawab singkat Jani dengan masih menatap tajam wanita yang sudah mempermalukannya itu.
__ADS_1
Seketika wajah Sesilia jadi berubah pucat, perasaan tidak enak pun mulai merasuki hatinya.
"Siapa wanita ini kenapa Pak Atar dan Pak Jho mengenali dia?" batin Sesilia mulai takut.
Ketakutan Sesilia makin menjadi-jadi ketika Atar mulai angkat suara, "Heh! Sesilia, Kenapa kamu memperlakukan istri saya seperti ini hah?! Bukankah dia sudah minta maaf sama kamu, lagian kamu ke siram jusnya juga cuma sedikit lalu kenapa kamu harus membalasnya dengan keterlaluan? Emang berapa harga baju kamu ini, saya bisa membayarnya?"
Atar yang kesal lalu mengeluarkan banyak uang kertas berwarna merah kemudian melemparkan uang itu ke muka Sesilia.
"Apa segini masih kurang? Cepat minta maaf kamu pada istri saya" titah Atar pada Sesilia dengan sedikit membentaknya.
Sudah pasti Sesilia merasa kaget dan menyesal atas perlakuannya pada Jani sebab dia tak menyangka kalau wanita yang dia kira hanya seorang pelayan nyatanya adalah istri CEOnya. Dan semua orang juga pasti tak menyangka kalau Jani itu istrinya Atar sebab yang mereka tahu Atar itu belum menikah, saat mereka menikah pun tak ada orang-orang di kantornya yang dia undang karena saat itu Atar dikeluarkan oleh ketiga temannya dan Atar juga tak pernah terpikirkan kalau dia bisa kembali lagi ke perusahan ini.
"Kenapa kamu diam aja, cepat minta maaf pada istri saya kalau tidak saya akan pecat kamu" bentak Atar dengan mengancam Sesilia.
Seketika itu pula lutut Sesilia jadi bergetar hebat, tapi karena dia tak ingin dipecat dari perusahaan itu akhirnya dia minta maaf pada Jani.
"Sa.. sa.. saya.. mi.. minta.. maaf.. bu
..Jani.. Ka.. kalau bu Jani ini.. istrinya pak Atar lalu..kenapa bu Jani mau.. jadi pelayan di lestoran ini?" tanya Sesilia dengan terbata-bata.
"Jani ini orang yang sederhana, dia tidak malu melakukan pekerjaan apa pun meski suaminya seorang CEO. Mungkin dia kesini karena bosan dirumah jadi dia mau bantuin pekerjaan bapak angkatnya yang merupakan pemilik lestoran ini. Kalau saya lihat kamu memperlakukannya dengan tidak baik lagi pada istri saya, saya akan pecat kamu Sesilia" ancam Atar.
"Maafkan saya Pak saya janji tidak akan memperlakukan Bu Jani seperti ini lagi. Bu tolong maafkan saya, saya mohon saya menyesal atas perbuatan saya itu" ucap Sesilia penuh sesal.
Jani yang tak mau memperpanjang masalah ini lalu memaafkan Sesilia dan dia menyuruh Atar agar tidak memecat Sesilia dengan syarat agar perlakuan Sesilia yang seperti ini tidak diulang lagi.
...****************...
Tanpa terasa kini tibalah saatnya Azka mengganti status lajangnya dengan beralih menjadi seorang suami dari seorang gadis cantik yang bernama Syakila Assyifa atau lebih akrab dipanggil Syifa. Gio, Jho, Atar dan Jani mengucapkan selamat pada pengantin baru itu.
Semua terlihat amat bahagia dihari yang spesial bagi Azka dan Syifa ini. Jho juga kali nampaknya sudah berhasil menggandeng gebetannya yang merupakan anak magang di kantornya itu bahkan mereka sudah berencana untuk tunangan hanya saja mereka belum membicarakan soal ini pada orang tua mereka.
__ADS_1
Sementara Gio masih betah dengan kesendiriannya itu, meski sebenarnya dia juga merasa risih saat orang tuanya menanyakan kapan dia akan menikah. Dan memang kepergian Gio ke Australia itu untuk berusaha move on dari Jani, dia juga ingin menghindari pertanyaan orang tuanya yang selalu menanyakan kapan dia akan menikah. Beberapa hari setelah Azka dan Syifa menikah, Gio langsung berangkat ke Australia untuk menjalani kehidupnya yang baru.
Bersambung