
Derap langkah kaki Atar terus mengantarkannya menyelusuri koridor untuk sampai ditempat Jidan dirawat. Dari kejauhan Atar mulai bisa melihat istrinya sedang mondar-mandir, wajah cantiknya itu terlihat amat cemas. Atar pun segera menghampirinya dan menanyai keadaan Jidan.
"Apa yang terjadi? Kenapa Jidan bisa dibawa kerumah sakit?"
"Aku juga tidak tahu pasti, dia kenapa? Tadi itu kami sedang menghadiri acara pernikaha tetangga, Jidan itu izin pergi ke toilet sementara aku dan Shabira menunggu dia sambil menikmati hidangan, ketika aku akan minum tiba-tiba Jidan berlari menghampiriku dan langsung merebut gelas yang ada ditanganku, dia lalu meminumnya sampai habis, tak lama setelah itu dia meringis kesakitan sambil megangin perutnya" tutur Jani menceritakan kembali kronologi awal Jidan bisa dibawa kerumah sakit.
Atar, Jani dan Shabira lalu menunggu dokter selesai menangani Jidan dengan perasaan cemas dan khawatir. Tak berapa lama dokter pun keluar dari ruangan itu. Atar, Jani dan Shabira langsung menghampirinya untuk menanyain kondisi jidan.
"Dok, apa yang terjadi dengan putra saya?" tanya Atar.
"Kami menemukan obat pencahar yang masuk kedalam tubuhnya dalam dosis tinggi, dugaan sementara obat itu masuk kedalam tubuhnya lewat minuman yang diminumnya" jawab Dokter.
"Ko bisa begitu? Bagaimana bisa ditempat hajatan seperti itu ada obat pencahar? Tidak mungkinkan yang punya hajatan melakukan itu dihari bahagia mereka? Apa ini ada yang sengaja naruh obat itu di minuman yang diminum Jidan?" tanya Jani kebingungan.
"Bisa jadi seperti itu, kata kamu Jidan merebut minuman itu dari tangan kamu, itu benarkan?"
Jani lalu mengangguk. "Kalau begitu sepertinya target yang harus sakit perut itu kamu bukan Jidan. Sepertinya Jidan tahu minuman kamu ada obat pencaharnya dia tidak ingin kamu sakit perut jadi dia meminum minuman kamu. Dan sepertinya Jidan tahu siapa pelakunya" terka Atar.
"Kalau begitu siapa dong yang melakukannya?
" Maaf bu, bapak, saya juga ingin memberi tahukan satu hal lagi" ucap Dokter.
"Ada hal apa lagi dok?" Jani penasaran pada hal yang ingin disampaikan oleh Dokter itu.
"Kamu juga melihat ada beberapa luka memar ditubuh pasien, sepertinya itu bekas hantaman benda tumpul"
"Maksudnya gimana dok saya tidak mengerti?" tanya Atar
"Dilihat dari luka memar itu sepertinya pasien mendapatkan penganiayaan dari seseorang"
Penuturan Dokter itu membuat Jani, Atar dan Shabira tercengang kaget. Bagaimana bisa Jidan mendapatkan luka bekas penganiayaan itu? Siapa yang sudah melakukan itu? Dan apa yang sebenarnya terjadi dengan anak laki-laki itu? Selama ini Jidan tak pernah berbicara apa pun hingga dari ketiga orang itu tak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang sudah terjadi dengan Jidan.
Dokter itu lalu pergi, Atar, Jani dan Shabira lalu masuk ke ruang rawat Jidan. Anak laki-laki itu nampak terbaring lemah dengan infus yang terpasang di tangannya. Jani menatap wajah polos itu, betapa terenyuh hatinya ketika melihat Jidan.
Betapa tidak hati lembut Jani tak merasa miris dengan kondisi anaknya itu, selama ini Jani selalu ada dirumah tapi dia malah tak tahu apa pun dengan yang dialami oleh anaknya itu, itu membuat Jani amat sedih.
"Jidan bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Shabira cemas.
"Sekarang rasa sakitnya sudah berkurang" jawab Jidan.
"Jidan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu bisa sakit perut begini diacara nikahan itu sementara yang lain tidak apa-apa?" tanya Atar.
Jidan langsung terdiam karena dia takut untuk menceritakan semuanya pada ayah dan bundanya.
"Katakan pada kami, Jidan. Apa kamu tahu di minuman bunda itu ada obat pencaharnya? Ini pasti disengaja, pasti ada orang yang sengaja ngasih obat itu di minuman bunda, kamu pasti tahu kan siapa yang sudah melakukan ini? Ayo! Katakan semua yang kamu tahu pada kami, Jidan" tanya Jani sedikit mendesak Jidan.
"Dan satu lagi, luka memar itu, Bagaimana kamu bisa mendapatkan luka memar itu?" lanjut Jani.
__ADS_1
Jidan masih menutup-nutupi semua karena dia takut untuk berkata jujur. Tapi, Jani terus membujuknya agar Jidan mau jujur pada semua hingga pada akhirnya dia mau mengakui juga.
"Aku sayang sama bunda, aku tidak mau bunda dan dede bayi kenapa-kenapa. Aku melihat ada seseorang memasukan sesuatu kedalam minuman itu lalu dia menyuruh pramusaji mengantarkan minuman itu pada bunda karena dia sangat mencurigakan aku segera menghabiskan minuman itu supaya bunda tak meminumnya, tidak ku sangka sesuatu yang dimasukan kedalam minuman bunda itu adalah obat penguras perut" tutur Jidan membuat Jani terharu akan ketulusan anak angkatnya itu.
Dia bela-belain meminum minuman itu hanya untuk melindungi Jani dan bayinya, Jani yang terharu lalu mengecup kening Jidan.
"Makasih ya kamu sudah menyelamatkan bunda, tapi bunda minta maaf karena kamu menyelamatkan bunda kamu jadi sakit begini" ucap Jani sedih.
Jidan lalu menganggukan kepalanya seraya mengulas senyuman dibibirnya.
"Sekarang katakan pada bunda siapa yang memberikan obat pencahar itu pada kamu?"
Jidan lalu celingukan untuk memastikan kalau situasi aman kemudian dia menjawab dengan perasaan takut dan ragu secara singkat, "Mama Raisa"
"Apa! Raisa? Jadi yang melakukan semua ini adalah dia? Dia benar-benar sudah keterlaluan" batin Atar seraya menahan emosinya.
"Jani, ini tidak bisa dibiarin kita harus bertindak"
"Tapi kita tidak punya bukti kalau dia pelakunya, yang kita punya hanya korbannya saja yaitu Jidan"
Atar menyernyitkan dahinya sambil berpikir kemudian dia menatap Jidan dan bertanya, "Jidan, Dokter bilang ada beberapa luka memar di tubuhmu lalu bagaimana kamu bisa mendapatkan beberapa luka itu?"
Anak laki-laki itu masih terlihat ragu dan takut untuk menceritakan semuanya tapi Atar meyakinkan Jidan kalau dia menceritakan semuanya Atar berjanji akan melindungi Jidan.
Jidan akhirnya menceritakan luka memar ditubuhhya itu bekas penganiayaan yang dilakukan oleh Raisa lantaran dia marah pada Jidan sebab ketika uang jajan dan uang untuk membeli buku tulis Jidan dipalakin oleh Raisa tapi dia menolak memberikannya karena buku tulis Jidan untuk sekolah sudah habis kalau dia tak membeli buku lalu bagaimana dengan sekolahnya.
Itu mengundang kemurkaan Raisa hingga dia tega memukuli anak laki-laki itu. Jani benar-benar sedih mendengar penuturan Jidan, meski Jidan hanya anak angkatnya tapi anak laki-laki itu juga seorang anak manusia yang bisa merasakan sakit dan Raisa tak sepantasnya memperlakukan Jidan dengan seperti ini.
"Jangan ayah, jangan laporin mama Raisa ke polisi aku takut mama akan semakin marah padaku" Jidan yang mendengar ucapan Atar jadi panik dan takut.
"Kamu jangan khawatir Jidan, ayah akan melindungi kamu, ini sudah keterlaluan dan dia pantas mendapat hukuman atas perbuatannya jadi kamu jangan takut ya, percaya saja sama ayah"
Jidan akhirnya bergeming, hatinya sedikit tenang saat dia mendengar dan melihat ucapan Atar yang terlihat serius dan meyakinkan. Atar lalu menatap Jani, meski sebenarnya hati Atar masih kesal atas pernyataan Gio tapi rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan tentang kecurigaan Atar atas sempel DNA yang diberikan Raisa atas nama Alif.
Atar pun menceritanyan pada Jani, tapi masih ada satu hal yang menjadi pertanyaan dibenak Jani dan juga Atar. Kalau memang Raisa mengambil rambut Shabira untuk dijadikan sempel atas nama bayinya lalu kapan Raisa mengambil rambut Shabira sementara saat itu dia baru datang kedalam kehidupan Jani dan Atar? Pertanyaan itu masih belum bisa ditebak oleh Atar dan Jani hingga detik ini. Mereka lalu memutuskan untuk terus menyelidiki semua ini.
...****************...
Di sebuah caffe terlihatlah seorang pria sedang duduk berhadapan dengan seorang gadis berambut pirang keturunan dari negara Australia. Suasana saat itu masih hening ketika mereka masih saling terdiam hingga akhirnya Gio mencarikan suasana.
"Why you have to follow me here, Ayla?" tanya Gio
(Kenapa kamu harus menyusul aku kesini, Ayla?)
"l already told you that because you suddenly returned to Indonesia witthout telling me first"
(Aku kan sudah katakan padamu, itu karena kamu mendadak pulang ke Indonesia tanpa memberi tahukan aku dulu)
__ADS_1
Gio menghela nafas kasar, dia masih tak habis pikir dengan Ayla yang bela-belain nyusulin dirinya ke Indonesia cuma karena alasan itu.
"Indonesia is my birthplace, so it's only natural that if l come back here what's the problem for you?" ujar Gio
(Indonesia ini kan tanah kelahiranku jadi wajar dong kalau aku pulang kesini, lalu masalahnya buat kamu apa?)
Ayla menatap wajah Gio dengan tatapan wajah sedih lalu dia berkata.
"Why do you still not understand Gio, l love you, l just want to always be near you"
(Kenapa kamu masih tidak mengerti Gio, aku sayang sama kamu, aku hanya ingin selalu ada didekat kamu, Gio)
Gio meraup wajahnya lalu membuang nafas kasar.
"Didn't l explain that we're justru friends?" ucap Gio dengan tegas
(Bukankah aku sudah jelaskan kalau kita hanya sebatas teman?)
"l know Gio, l don't care if you accept me or not, the important thing is l want to always be by your side"
(Aku tahu Gio, aku tak peduli kamu akan menerima aku atau tidak yang penting aku mau tetap selalu ada disisi kamu)
Kepala Gio terasa pening karena sifat keras kepala Ayla yang tetap bersikekeh ingin tetap ada disampingnya meski perasaan Gio pada Ayla hanya biasa saja layaknya pada teman-temannya yang lain. Untuk saat ini dia tak bisa menyuruh Ayla kembali pulang ke negara asalnya sebab gadis berambut pirang itu pasti menolak akhirnya dia menyuruh Ayla untuk mencari tempat penginapan.
"It's already late then let me help you find lodging for you to sleep tonight"
(Ini sudah malah, kalau begitu ayo aku bantu cariin kamu penginapan buat kamu tidur malam ini)
"l don't want to, l want to be at your house" tolak Ayla.
(Aku tidak mau, aku mau dirumah kamu saja)
"Indonesia and Australia are different, Ayla. Here you can not live in the same house with a man who is not your husband"
(Indonesia sama Australia itu beda Ayla, disini kamu tidak bisa tinggal satu rumah sama seorang pria yang bukan suamimu)
"Okey then justru make me this as your wife" pintar Ayla.
(Baiklah kalau begitu jadikan saja aku ini sebagai istrimu, Gio)
"What! Wife? You do not make it up how can l be your husband"
(Apa! Istri? Kamu jangan mengada-ngada, mana bisa aku menjadi suami kamu)
"Yes already, then let me stay at your house"
(Ya udah, kalau begitu biarkan aku tinggal dirumahmu)
__ADS_1
Gio benar-benar pusing dibuat oleh Ayla, dia tahu Ayla tidak akan menyerah sampai keinginannya terwujudkan dari itu Gio terpaksa mengizinkan Ayla tinggal dirumahnya untuk sementara sebelum dia punya cara untuk menyuruhnya kembali ke negara asalnya, toh di rumahnya juga ada ibunya, bapaknya dan adik ibunya yang bernama Seno.
Bersambung