
Minggu pagi yang cerah. Dia berniat untuk pergi kepanti sambil lari pagi dengan maksud akan memberikan seragam sekolah yang kemarin dibelinya untuk Shabira dan Jidan.
Di panti asuhan
Jani dan bu Retno sedang ada dibelakang rumah sambil melihat tangki air yang airnya tak mau keluar jadi mereka tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang membutuhkan air.
"Rin, gimana ini, airnya gak mau keluar. Apanya yang rusak ya?" tanya bu Retno
"Kalau soal ini aku juga tidak tahu bu" jawab Rinjani kebingungan.
Tak berapa lama mbak Tari menghampiri mereka.
"Rin, ada tamu yang yang nyariin kamu tuh didepan" ucap mbak Tari
"Siapa mbak?"
"Mbak nggak tahu kamu lihat aja ke depan"
"Iya mbak"
Rinjani lalu pergi menemui tamunya. Dan ternyata yang datang itu adalah Atar.
"Atar! Ada apa cariin aku kesini?"
Atar lalu menyodorkan tote bag pada Jani sambil berkata "Aku datang ke sini cuma mau ngasih ini buat Shabira dan Jidan. Ini seragam sekolah buat mereka"
Jani menerima tote bag itu dengan kebingungan di lihatlah isinya dia lalu bertanya pada Atar.
"Kenapa kamu berikan ini untuk mereka?"
"Gara-gara basah-basahan di sungai kemarin itu seragam sekolah mereka jadi kotor kan terus kamu bilang ini akan susah nyucinya jadi aku gantiin seragam sekolah mereka yang baru biar kamu gak susah nyucinya yang waktu itu dibuang aja ini gantinya" tutur Atar
"Ya ampun, seharusnya kamu gak perlu dengerin ucapan aku waktu itu, bajunya udah aku cuci ko, udah bersih jadi kamu tak perlu beliin anak-anak seragam yang baru"
"Ya ini aku udah terlanjur beliin jadi gimana dong, udahlah kasihin aja ke Shabira dan Jidan biar seragam sekolah mereka banyak ya"
Setelah berpikir sejenak akhirnya Rinjani mau menerima pemberian Atar. Atar juga memberikan sebuah amplop yang berisi uang dia lalu memberika uang itu pada Jani agar uangnya diberikan untuk anak-anak panti lainnya.
Seperti biasa awalnya Jani menolak karena merasa sungkan sebab akhir-akhir ini Atar sering memberinya uang dan itu membuat Jani merasa tidak enak hati tapi setelah Atar panjang lebar membujuk Jani akhirnya dia menerima uang itu juga dengan perasaan tidak enak hati.
Ketika mereka asyik ngobrol tiba-tiba Shabira datang dengan menyelendangkan handuk dipundaknya.
"Bun, airnya udah bisa keluar belum, aku udah gerah nih pengen mandi?" tanya Shabira.
"Belum sayang, nggak ada yang benerin kan bapak udah berangkat ke rumah makan, nanti bunda panggil tukang ledengnya dulu deh, sabar ya" jawab Rinjani.
Atar lalu menyapa gadis kecil itu sambil tersenyum, sebagai jawaban sapaan dari Atar Shabira hanya melemparkan senyuman pada Atar tanpa berkata apa pun.
"Emang airnya kenapa?" tanya Atar penasaran.
"Kayanya ada yang rusak jadi airnya gak keluar" jawab Rinjani
"Apa boleh aku ngecek dulu? Semoga aja aku bisa betulin"
__ADS_1
Tanpa sempat Jani menjawab pertanyaan Atar, tangan Atar malah ditarik oleh Shabira untuk pergi mengecek ke tempat tangki air.
"Ayo! Ayah, buruan betulin aku udah gerah pengen cepat mandi" ajak Shabira.
Atar hanya bergeming sambil terus mengikuti Shabira membawanya pergi, sementara Jani yang tak menyangka Shabira akan menarik tangan Atar, dia sejenak melongo tak berapa lama Jani lalu mengikuti Shabira dan Atar.
Ketika sudah sampai ketempat tangki air Atar segera mengecek pompa airnya dan betul saja ternyata pompa airnya ada yang rusak. Atar meminta Jani untuk mengambilkan peralatan untuk membetulkan pompa airnya.
Setelah Jani kembali dia mulai membetulkan pompa airnya. Bu Rento, mbak Tari dan Shabira lalu masuk kedalam rumah karena ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan.
Sementara Jani menemani Atar yang terus berkutat membetulkan pompa airnya yang rusak. Cukup lama Atar berkutat dengan pompa air hingga akhirnya pompa air itu selesai diperbaiki.
"Nah! Akhirnya selesai juga ayo kita coba apakah airnya sudah bisa keluar atau belum" ucap Atar.
"Syukurlah kalau udah selesai, semoga aja airnya bisa keluar" ucap Jani.
Atar lalu memutar keran air tapi tiba-tiba Kerannya copot dan memancarkan air ke wajah dan tubuh Atar.
"Eh! Copot!" spontan Atar berucap.
Jani jadi panik karena baju dan wajah Atar jadi basah. Atar segera menutup kembali keran airnya dan memberi lem agar pipa dan keran airnya merekat dengan kuat supaya tak terjadi kebocoran lagi.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya panik Jani.
"Aku nggak apa-apa ko" jawab Atar sambil meraup wajahnya yang basah.
Dengan spontan Jani mengambil handuk dari jemuran lalu mengusap lembut wajah Atar yang basah, Atar yang kaget hanya bergeming sambil terus menatap wajah cantik wanita yang ada dihapannya kini.
"Cuma sedikit ko Jani, ini tidak apa-apa"
"Biar aku bantu keringkan baju kamu" ujar Jani yang membantu mengeringkan baju Atar dengan handuk yang diambilnya dari jemuran yang sudah kering.
"Masya Allah, cantik benar kamu Jani, andai saja aku bisa memilikimu pasti aku akan sangat bahagia" batin Atar yang terpesona akan kecantikan wanita yang ada dihadapannya kini.
Dengan perlahan senyuman itu mulai merekah dikedua sudut bibir Atar. Tanpa mereka sadari, Shabira melihat semua itu.
"Sepertinya hubungan ayah dan bunda baik-baik saja tapi, kenapa mereka harus berpisah? Dan, sepertinya ayah masih mencintai bunda, lalu kenapa ayah tak balikan lagi aja sama bunda?" tanya Shabira pada dirinya sendiri.
Gadis kecil itu terlihat kebingungan, dia dan pikirannya terus menerka-nerka akan alasan kenapa orang tuanya tak hidup bersama meski pun dia amat penasaran tapi dia belum berani bertanya langsung pada mereka karena banyak hal.Hingga akhirnya Atar dan Rinjani menghampiri Shabira.
"Shabira, kenapa kamu bengong aja?" tanya Jani sambil mengusap lembut bahu Shabira.
"Eh! Bunda, itu aku mau nanya airnya udah bisa keluar belum?"
"Oh! Itu, airnya udah betul sekarang kamu udah bisa mandi"
"Kalau gitu aku mandi dulu ya"
Shabira buru-buru pergi ke kamarnya untuk mandi.
...***************...
Pagi ini aku, Azka, Jho dan Gio akan sarapan pagi dirumah makan pak Husen tapi karena aku ada urusan sebentar jadi aku mampir dulu ke suatu tempat sementara Azka, Jho dan Gio pergi duluan ke rumah makan.
__ADS_1
Setelah aku selesai dengan urusanku, aku baru menyusul ke rumah makan milik pak Husen. Ketika aku baru sampai dijalan depan rumah makan, tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Jani, kuhentikan langkahku lalu kutatap Jani yang membawa motor matic tapi ada yang berbeda darinya, Jani terlihat panik, sepertinya dia ada sedikit masalah dengan motor maticnya karena dia terlihat oleng saat membawa motor maticnya.
Dari jalan raya dia membelokan motor meticnya ke halaman rumah makan tapi, Jani berteriak dan tiba-tiba motor maticnya menabrak teras rumah makan alhasil Jani terjatuh dan sebagian badannya tertindih motor maticnya.
Azka yang tak sengaja melihat kejadian itu dari dalam rumah makan langsung berhamburan memburu Jani, dia mematikan mesin motor yang masih menyala lalu mengangkat motor meticnya agar Jani tak tertindih motor lagi.
Kejadian yang amat singkat itu membuat kumelongo kaget. Azka langsung menolong Jani. Gio dan Jho yang penasaran kenapa Azka tiba-tiba lari keluar, mereka langsung pergi keluar untuk melihat.
"Jani apa kamu tidak apa-apa?" tanya Azka.
"Kakiku sakit" ringis Jani sambil menunjukan kakinya yang lecet dan berdarah akibat tertindih motor.
Azka yang panik spontan langsung merobek baju kemeja bagian bawahnya untuk mengikat pergelangan kaki Jani yang berdarah. Dia segera mengikatkan sobekan bajunya di pergelangan kaki Jani.
Jani sendiri tak berkutik dia hanya menatap Azka dan membiarkan pergelangan kakinya diikat.
"Kamu ko bisa sampai jatuh dari motor gitu sih, Jani?" tanya Azka khawatir sambil menatap wajah Jani setelah dia selesai mengikatkan kain di kaki Jani.
"Sepertinya rem motornya blong, aku tidak bisa mengendalikan motornya jadi deh, aku nabrak dan jatuh dari motor" jawab Jani.
N'tah kenapa melihat itu hatiku terasa sakit namun aku tak bisa berbuat apa-apa aku hanya bisa menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Jani apa kamu tidak apa-apa?" serempak Gio dan Jho yang baru datang bertanya.
"Kakiku sakit" jawab Jani.
Tiba-tiba Jho berjongkok lalu membopong Jani dan membawa dia masuk kedalam sontak itu membuat Azka dan Gio tercengang demikian pula dengan Aku yang masih mematung ditempat ini.
Hatiku semakin sakit saat melihat adegan itu, rasa marah yang tertahan dihati ini begitu menyesakan dadaku namun lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa karena Jani bukan siapa-siapa aku, aku tak berhak marah atau pun melabraknya.
Akhirnya aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku dengan kesal, betapa lemah dan tak berdayanya aku akan cinta dan persahabatan ini hingga rasa yang terpendar dihati ini tak bisa kuperjuangkan.
"Ah! Sialan, kenapa aku harus melihat ini" umpat ku sambil mencoba menampik perasaan yang tengah memanas, mendidih dan hendak menyemburkan murkanya.
Tapi tiba-tiba ada tangan kecil yang menggenggam tanganku, ku lirik si pemilik tangan kecil itu.
Shabira!
Gadis kecil itu menatap mataku seolah sedang membaca suasana hatiku yang sedang tidak baik-baik saja dari pancaran mataku.
"Apa ayah cemburu pada bunda? Apa ayah marah pada bunda?" tanya Shabira.
Kutatap netra putriku dengan sendu, hatiku memang sedih tapi aku tak mau dia mengetahui kesedihanku, sebisa mungkin kubuat suasananya menjadi netral meski aku tahu mata dan hatiku tak bisa berkata bohong, bahwa aku cemburu pada Jani.
"Ayah tak berhak cemburu atau pun marah pada bunda kamu, Shabira" jawabku dengan berat.
"Kenapa begitu?" tanya Shabira dengan wajah polosnya.
"Karena bunda kamu bukan istri ayah jadi dia bebas dengan siapa pun" jawabku lagi dengan amat berat.
Gadis kecil itu langsung diam seribu bahasa sambil menunduk sendu. Aku tak tahu isi hatinya, Apakah dia menunduk sedih karena ayah dan bundanya tidak tinggal bersama? Atau dia merasa sedih melihatku yang payah karena tak bisa memiliki cintanya? N'tahlah aku tak bisa menebak isi hatinya.
Bersambung
__ADS_1