
Renal betul-betul lelah. kakinya terasa semakin berat. ia tak kuat lagi melangkah. Apalagi untuk mencapai pintu-pintu yang berdiri kokoh da menyambutnya dingin. ia bahkan tak berani lagi berharap, akan ada pintu yang terbuka lebar dan merangkulnya tulus.
salahkan jika ia ingin berhenti saja tak seperti harapan orang banyak?
di saat-saat lemah dalam kesendiriannya, lelaki berusia 25 tahun itu sering tertawa frustasi. ayah dan ibunya sudah lama meninggal, tapi mereka masih menyisakan beban namanya.
waktu kecil limpahan kasih dari ayah dab ibu, membuat renal nyaris tak merasa minder akan kekurangan fisiknya. Beranjak besar, dan melihat kenyataan masalah fisik yang membekapnya, ternyata jauh lebih serius, dan bukan sekadar organ yang belum berkembang, ia mulai panik. tapi naungan islam, lingkungan baru yang kemudian mendekapnya, membuat cowok usia delapan belas tahun itu pasrah. tuhan punya sekenario besar untuknya pasti.
Dengan kepercayaan itu, dulu ia menjalani hari-hari sekolahnya. lelaki bertubuh tegap, denga hidung mancung, dan mata coklat itu menjalani takdir dengan semangat. ia tampan, cerdas pula. kekurangan satu-satunya cuma......
"Nal, jangan pikirkan. fokuslah pada kelebihanmu. jangan meratapi kekurangan!"
Ibu yang bijak. lalu ayah selalu siap dengan dua jempol teracung untuknya.
"Anak yang paling hebaaat!"
Semua orang seperti selalu siap menghiburnya.
"Optimis, Nal...,optimis!"
Riza, teman satu kampusnya tak kurang memompakan semangat dan berusaha mengalirkan kepercayaan diri, setiap kali dilihatnya teguh termenung menatapi kekurangannya.
"Apa ada muslimah yang mau jadi istriku, ya Za?" tanyanya gampang
Dan riza, dengan tawa khasnya, selalu mengalirkan hawa optimis, "Kamu ada-ada aja, Nal!"
"Hey, aku serius!"
Mereka sudah di tahun kelima kuliah. mendekati wisuda. teman-teman yang sekampus sudah banyak yang menikah, bahkan ada yang tahun-tahun awal kuliah. wajar kalau lelaki itu mulai cemas.
__ADS_1
"Pasti ada, Nal!"
"Dengan kaki begini?" Renal menunjuk sebelah kakinya yang mengecil tak seimbang. kaki itu yang mengharuskannya kemana-mana dengan kruk. Cacat sejak lahir, Kata nenek.
"Nal, perempuan yang menikahimu karena iman, karena percaya mereka tak perlu suami dengan dua kaki, untuk menuntun mereka ke surga. Perempuan seperti itu pasti mau!"
Tatapan ragu renal dibalas tepukan di bahu, menenangkan.
"Nal, tenang. kita punya banyak aktivitas dakwah yang ikhlas! mereka bukan orang-orang yang fisik oriented!"
Benarkah?
Malam itu Renal yang berdandan rapi, membuktikan kalimat yang di ucapakn riza dengan sangat optimis dulu, sahabatnya yang telah menikah dua bulan lalu, memprakarsai diri untuk mencarikan calon istri untuknya.
"Seperti apa dia, Za?"
Riza tampak berpikir. beberapa detik berlalu dan ia masih kelihatan berpikir sangat keras.
terikan teguh dijawab tawa meledak riza. Ah, dia memang teman sejati.
"Orangnya manis, kulitnya kuning, pendidikannya D-3 . ga masalahkan,?"
renal mengedikkan bahu. ia tahu banyak temannya yang mensyaratkan pendidikan harus S1 untuk calon istri. Tapi, hal itu sama sekali tak bwrlaku untuknya. ia bahkan tak punya syarat apa-apa, kecuali bahwa perempuan itu bisa berlapang dada terhadap keadaan fisiknya.
"Nal, jangan melamun kita harus cepat-cepat pergi, sebelum calonmu digaet orang, Oke?"
Dengan kendaraan riza, mereka akhirnya sampai ketempat calon istri. Mutia, namanya. mengingatkan renal akan sosok tegar pahlawan perempuan dari aceh.
ini fase perkenalan. ta'aruf, orang bilang. fase kenal bagi dua orang yang ingin menikah.
__ADS_1
waktu serasa lambat, kala dua sahabat itu duduk menunggu di ruang tamu, yang diterangi bohlam sepuluh watt. ketika akhirnya mutia muncul dan tersenyum manis, sambil mengucapkan salam, renal merasa dunianya bersinar.
barangkali riza benar, pikir renal sambil matanya mengawasi mutia yang bicara dengan pandangan tertunduk, perempuan saleh tak memandang fisik.
mereka berbicara panjang lebar. diskusi tentang macam-macam. dan saat itulah, ketika renal dengan susah payah bangkit menyambut mutia yang tanganya penuh nampan dan toples, mata gadis itu tertumbuk pada kruk kayu diketiak laki-laki itu. Raut manisnya yang pias, tertangkap basah. teguh tak akan lupa.
Layaknya masa kenal dan lihat, ia memang tak beroleh jawaban malam itu. tapi, renal merasa lebih dari bisa menolak. Dan, Dugaan lelaki itu ternyata tepat. Mutia menolaknya!.
setelah itu pintu demi pintu yang lain menutup diri darinya, maimunah yang perawat, Deisy sepupu istrinya riza, vira yang ketua keputrian, adik kelas mereka, bahkan sita, gadis hitam manis yang berkerusung, anak ibu kantin di kantornya. semua menolak!
Awalnya tentu sangat menyakitkan bagi lelaki itu. untunglah, Riza tak pernah meninggalkannya. sahabat baiknya itu selalu mengajaknya untuk kembali berfikir postif, setelah mereka mendapat respons negatif dari gadis-gadis yang didatangi. Sikap riza benar-benar mewakili dunia networking yang di gelutinya belakangan.
"Mungkin mereka belum siap, ya, nal?"
" Mungkin mereka masih mau kuliah."
"Mungkin..."
Berbagai dalih yang di sampaikan dan diulangi riza, Demi menjaga perasaan, Akhirnya dipatahkan renal.
" Atau mungkin, mereka tak mau punya suami pakai kruk macam aku, Za!"
" Nal.....jangan begitu!"
"ini kenyataan. Dan, kalau perempuan terpilih macam mereka saja, yang aktif dalam dakwah, yang shalihah, yang mengejar syurga, Katamu. kalau seperti mereka saja tak siap bersuamiakan aku, Bagaimana yang lain?"
Untuk kali pertama dalam persahabatan mereka.
Riza kehilangan daya menghibur sahabatnya. Ahhh, apa yang salah dengan perempuan-perempuan itu? Tidakkah mereka melihat ketampanan renal? Matanya yang cerdas, dan memang laki-laki itu sangat cerdas. tidakkah mereka melihat kemahiran Renal berorasi? Wawasannya yang luas. Tidakkah?
__ADS_1
" Za, mereka pun melihat aku cacat!"