
Mendengar suara Bara. Meera langsung melepaskan genggaman tangan Marvel dengan cepat, sesangkan Marvel sedikit kaget mendengar Bara. kedua wanita yang tadi bergelayut manja pada Bara juga ikut keluar
Bara menarik tangan Meera dan melingkaekan tangannya kepinggang Meeea possesif. Meera tak bisa menghindar lagi kali ini.
"Bara ada apa?" kata Melinda sambil memegang lengan Bara.
Meera yang melihat tangan suaminya di sentuh Wanita lain jelas tidak senang, Meera menatap tangan itu dengan tatapan tajam namun tidak bersuara. "Cihh.. menggelikan" batin Meera.
"aaahh ayolah boy.. aku cuma mau kenalan sama karyawanmu, apa tidak boleh" kata Marvel sembari memandang Bara.
"Jangan dia wanitaku" jawab Bara tegas.
Meera yang mendengar Bara menyebut dirinya Wanitaku pun timbul rasa bahagia di hatinya. namun ia masih merasa marah karena tangan suaminya masih tak dilepaskan dengan melinda.
"aaahh boyy. kasi satu untuku, kau sudah ada melinda dan leora" Marvel berkata asal. karena dari tadi memang Marvel menyaksikan bagaimana kedua wanita itu merayu Bara.
Meera mendengar perkataan Marvel memicingkan matanya. sedangkan tangannya berusaha melepaskan tangan kanan Bara yang melingkar di pinggangnya. Bara mulai merasakan Meera yang sudah tidak tenang hatinya pun segera melepaskan tangannya yang sedari tadi di pegang oleh melinda.
"Maaf aku harus pamit dulu, lain kali kita makan bersama lagi" Bara pamit undur diri dari rekan-rekannya. tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Meera.
Bara memberi isyarat pada Adit, tentu adit sudah mengerti arti dari tatapan mata Bara.
sedangkan Shinta hanya diam mematung melihat drama di depannya tanpa bersuara. dimana 2 tuan muda keluarga kaya raya sedang merebutkan Meera sahabatnya.
sedangkan Marvel hanya diam menganggukan kepala. namun hatinya sudah berfikiran licik sedari tadi. "hmmmm.. kita lihat saja, aku tidak akan melepas Meera begitu saja" gumam Marvel dalam hati lalu pergi bersama asistennya.
Melinda sangat kesal melihat tingkah Bara melindungi Meera. "Siapa wanita tadi, berani sekali merebut Bara, aku akan mendapatkanmu Bara" gumam Melinda dalam hati sambil mengepalkan tangannya kuat. lalu pergi dari tempat itu.. Demikian pula Leora. ia juga menatap kesal Meera. cemburu membakar hatinya melihat Bara, pria yang diincarnya begitu lama tak menghiraukannya.
"kamu pulang denganku saja, mari aku antar" kata Adit kepada Shinta
__ADS_1
"aahh... tii tiidak usah tuan, saya bisa pulang sendiri" Shinta kagok menjawab Adit. Adit tak memberikan tanggapan. tatapannya yang dingin sudah membuat shinta takut. ia meneruskan kata-katanya "emm maaf tuan saya tidak menolak."
Adit lalu menuju ke mobil yang digunakannya tadi, disana sudah ada sopir. mereka bertiga lalu naik ke mobil.
Sedangkan Meera dan Bara sudah Berada di parkiran menuju ke mobil Meera.
"kemarikan kunci mobilnya" kata Bara. Meera lalu memberikan kunci mobil yang di simpannya didalam tasnya. Bara membukakan pintu, Meera langsung masuk di kursi samping kemudi. Meera tak mau banyak bicara. bahkan tidak berbicara sama sekali dari tadi sejak didalam ruangan. Bara lalu duduk di kursi kemudi. tanpa banyak bicara pula Bara segera melajukan mobil Meera keluar area Parkir.
Meera hanya menatap kaca samping dengan tatapan sedih, ia memikirkan kejadian di restoran tadi. "hmmm.. jangan nangis meera. jangan sampai nangis" kata hati Meera. walaupun Meera pintar menahan airmata dan memendam rasa sakit hati dan kecewanya. namun ia tak pintar untuk membohongi dirinya sendiri. bahwa saat ini ia sedang cemburu. jelas sekali terlihat di raut wajahnya. Berbeda dengan Bara yang tak pernah bisa ber ABCD jika merasa cemburu atau tak enak hati tentang Meera itu.
Bara melajukan Mobilnya menuju keapartemen mewah miliknya. tak jauh dari resto tersebut. Meera yang sedari tadi memandang kaca samping namun ia tak fokus dengan apa yang dilihatnya. sampai mobil Bara berhenti di depan Apartemen miliknya, saat itu juga Meera baru sadar bahwa ia tak pulang ke mansion Bara.
Melihat Bara yang keluar dari mobil Meera segera keluar dari mobil. sebelum melangkahkan kakinya ia melihat kekanan dan ke kiri "ini bukan mansion, dimana ini" tanya hati Meera.
"mau di gendong atau mau di seret?" Bara membalikan badannya lalu menatap Meera.
"gak mau, aku mau pulang" jawab Meera tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Meera membelalakan matanya. ia seperti sadar akan ucapan Bara. ia menyentuh tengkuknya karena merinding. ia pun langsung berjalan mengikuti Bara.
Sesampainya di depan pintu kamar Bara. Meera masih diam mematung disana. sedangkan Bara sudah memasuki kamarnya. Ruangan yang sangat mewah untuk ukuran apartemen. Ada 3 kamar tidur, dapur, ruang tamu, dan ada balkon di luar cendela.
"Masih tidak mau masuk?" Bara kembali bersuara.
Meera tanpa menjawab langsung masuk kedalam, ia baru pertama kali diajak Bara kesitu.
Meera berdiri memetung melihat perabotan mahal di ruangan itu. "punya siapa ini, mewah sekali" pikir Meera
Sedangkan Bara sedang duduk di sofa sambil melepas jas dan dasinya. kini ia hanya menggunakan kemeja putih dengan lengan yang di gulung, tampak disana tangan kekar Bara menunjukan rupanya. Bara duduk menyilangkan kakinya. "Duduk"
__ADS_1
Meera berjalan ke sofa didepan Bara yang terhalang jarak Meja di depannya. Meera seketika teringat Shinta temannya. ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor shinta. ia ingin mengirimkan pesan pada Shinta takut jika Shinta menunggunya, ia meminga shinta untuk pulang sendiri namun sebelum ia sempat mengetik Bara sudah bersuara lagi. "Menghubungi siapa? kemarikan ponselmu" kata Bara dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Meera hanya memandang Bara sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada ponselnya lagi. "cihh seenaknya" batin Meera.
"Ameera kirana, sudah berani membantah rupanya" Bara berkata lebih keras. Meera punsedikit gemetar mendengar suara Bara yang tidak bersahabat. ia lalu berjalan kearah Bara. ia mengulurkan tangannya memberikan ponselnya pada Bara. namun bukan ponselnya yang di raih melainkan tangannya. hingga Meera pun terjatuh kedalam pelukan Bara. Mau melarikan diri jelas sudah tidak bisa. Meera dikunci oleh Bara.
"tadi ngapain di restoran?" Tanya Bara lembut, nadanya kini sudah tak seperti barusan. kini ia lebih tenang.
"Makan" jawab Meera. tanpa memandang wajah Bara. "yaaaa awalnya mau makan, tapi akirnya bisa memergokimu sedang bermesraan dengan wanita" batin Meera
"kalau bicara itu tatap mata orang yang berbicara denganmu, lalu kenapa bisa bertemu Marvel?" tanya Bara lagi dengan nada yang sama lembutnya.
"ihh kenapa jadi lembut gini, makin takut aku.." batin Meera
"tidak sengaja" jawab Meera. "aaaiihh harusnya aku bilang sengaja, biar bisa ku lihat, dia cemburu atau tidak" hati Meera
"Lalu apa yang kamu lihat?" tanya Bara sambil mencium leher Meera.
Meera merasakan geli di lehernya. ia pun mencoba menghindarinya. "ini ngapain nempel-nempel di leherku".. batin Meera
"Tidak ada" kata Meera. "huuuhhh yaa aku lihat kau bermesraan dengan 2 wanita ganjen itu, tapi aku tidak akan mengatakannya, biar kau sendiri yang mengakui"... gerutu Meera dalam hati.
"kau marah?" tanya Bara. sambil menenggelamkan mukanya pada leher Meera
"tidak" jawab Meera. "marahlah.. suami di rangkul-rangkul wanita ganjen siapa yang gak marah, gitu aja ditanyain" .. gerutu hati Meera.
"hmmm... meera meera.. kau pandai sekali menutupi kemarahanmu" batin Bara.
"Mereka semua teman bisnisku, jangan salah berburuk sangka" Bara mencoba menjelaskan keadaanya, karena ia tadi melihat ekspresi Meera yang sudah tidak enak ketika di restoran.
"yaaa yaaa mereka teman bisnismu, dan bisa-bisa kedua wanita tadi jadi teman tidurmu jika kau terus-terusan berdekatan dengan mereka" gumam Meera.
__ADS_1
Bara sebenarnya juga marah melihat Meera dipegang tangannya oleh Marvel. namun ia tak mau berpikir negatif dulu. ia tak mau menghamimi Meera tanpa bukti, ia tak mau berfikir macam-macam dulu sebelum menerima informasi dari Adit, karena sebelumnya Bara sudah mengirim pesan pada Adit. untuk mengecek cctv di restoran itu.