
"jumlahnya saja berapa aku tidak tahu" jawab Meera polos. sambil memainkan kancing baju Bara
"2 milyard perbulan" sahut adit.
"APAAAAAAA???????????" teriak Meera seketika berdiri dan melotot menatap Adit.
"kenapa kaget gitu? itu belum seberapa. jika kurang kau bisa meminta lagi. uangku tak akan habis hanya untuk menafkahimu. jadi jika kau tak menggunakannya itu akan sangat menyinggungku faham?" kata Bara tajam menatap mata Meera.
Meera masih terperanga didepan Bara. Bara menarik tangan Meera lagi agar duduk lagi di pangkuannya.
"ya ampun.. ekspresimu Nonaa.... " batin Adit. karena melihat ekspresi Meera yang menggemaskan
"aku tidak mau jumlah sebanyak itu. aku bukan orang matre, kurangi digitnya. nanti akan aku gunakan kartu nya" jawab Meera.
"wanita macam apa didepanku ini, diberi uang banyak malah menolak" batin Bara.
"mau jadi istri durhaka?" kata Bara.
"ih gitu terus durhaka durkaha terus. gak mau aku tuh durhaka sama suami" kata Meera cemberut. .
"yasudah terima saja. kau harus tahu apa setatusmu. kau ini Nyonya Muda keluarga Surya. kau harus terbiasa dengan itu" kata Bara sambil menarik dagu meera agar menghadap kewajahnya. Meera memutar bola matanya. dan berfikir mau diapakan uang sebanyak itu.
"bersiaplah kita akan menjemput Rangga" kata Bara.
seketika Meera bertanya. "apa kau datang bersama pengawal juga?"
"iya aku membawa sebagian" jawab Bara
"jangan.. jangan Bawa mereka. aku jamin tidak akan terjadi apa-apa. aku takut keberadaan mereka menjadi ancaman bagi anak buah kak sam" jelas Meera.
Bara dan adit saling tatap. Adit pun bersuara
"tidak bisa. jika terjadi sesuatu dengan tuan Muda gimana mengingat ketuanya habis di pukul oleh tuan muda. gimana nanti mereka balas dendam. aku tidak setuju dengan usulmu nona" kata Adit.
"aaaihh kak sam bukan orang seperti itu. aku mengenalnya" kata Meera.
"baiklah. kita pergi ber 3. tanpa pengawal" jawab Bara enteng
"apaa??? yang benar saja. kita mau ke sarang mafia hitam dan tanpa pengawalan? tidak setuju saya tuan Muda." adit mengeyel.
"sayaanngg....." rengek Meera sambil mengalungkan tangannya pada leher Bara. merayu Bara agar menuruti kemauannya memang ahli bagi Meera
__ADS_1
"ya ya ya.. kau menang.". jawab Bara sambil mengelus pipi Meera. ia tak bisa melihat istrinya yang begitu manja padanya. memang sikap itulah yang dinantikannya. dari pada sikap diam Meeea yang membuatnya pusing 7 keliling.
"kalau kau takut kau boleh tidak ikut, keputusanku mutlak kita pergi tanpa pengawalan" kata Bara menatap Adit. adit pun terpaksa setuju.
"kau bersiaplah. jangan pakai pakaian seperti ini." kata Bara menatap Rok levis Meera yang panjangnya hanya diatas lutut
"oke aku pakai yang lebih seksi ya" jawab Meera sambil berdiri sengaja menggoda Bara
"coba saja gapapa. kalau perlu gausa pakai baju sekalian" kata Bara memicingkan matanya.
meera pun tertawa puas setelah menggoda suaminya. ia langsung pergi meninggalkan Bara namun tak lama kemudian Bara menyusul Meera juga untuk berganti pakaian.
dikamar Meera sedang memilih pakaian cassual sesuai seleranya yaitu celana jeans yang sedikit sobek di bagian kedua lututnya. dan menggunakan kaos polos Abu-abu. tak lupa menggunakan jam tangan yang sempat di belikan Bara, tentu jam tangan yang sangat mahal. ditambahkan dengan riasan dan tatanan rambut natural dimana Rambutnya hanya di ikat kuda dan di poninya dibiarkan menjuntai menutupi dahinya. sungguh pemandangan yang menyejukan. tak lupa Meera hanya menggunakan sendal santainya. sangat menawan.
tak butuh waktu lama Meera, Adit dan Bara telah berkumpul di ruang bawah. Mereka memilih menggunakan 1 mobil saja. Meera dan Bara duduk di belakang dan Adit menyetir.
didalam Mobil Bara memperhatikan penampilan istrinya dari ujung kepala sampai kaki.
"apa dilemarimu sudah tidak ada lagi celana yang tidak sobek?" tanya Bara
"hehehe... keren tau. ini gayaku dari dulu. santai.. sedikit cocok jika diingat aku bagian dari mafia itu jika penampilanku seperti ini" kata Meera. perkataan itu membuat Adit seketika membelalakan matanya.
"kuingatkan sekali lagi, jangan lagi kau ikut campur didalam dunia bedebah itu" kata Bara mncengkeram tangan Meera yang sedari tadi di genggamnya.
"disana nanti jangan jauh jauh dariku. aku tidak sudi istriku bergumbul dengan orang2 disana" akta Bara.
"kenapa tidak diikat saja tanganku biar aku.tidak bisa lepas sekalian" kata Meera sedikit kesal.
"dit berhenti beli rantai dan gembok" kata Bara.
"siap tuan" jawab Adit
"Heeeiiii!!! kau ini ya tidak bisa kah sekali saja membantah tuanmu? kenapa kau selalu menuruti omongannya." Meera mengomel pada Adit sambil menunjuk pundak Adit.
"Maaf nona" jawab Adit.
"itu tanganmu kau gunakan menyentuh pria lain didepanku? berani sekali. kemarikan tanganmu" kata Bara.
"gak mauu, aku hanya reflek. jangan menghukumku." jawab Meera menyembunyikan jarinya di belakang pinggangnya ia sadar ia tak boleh menyentuh pria lain selain Bara. atau kalau tidak Bara akan marah.
"Hmm...." jawab Bara sambil menunjuk bibirnya.
__ADS_1
"aaaihh.. bibirku masih sakit. tidak ingatkah kemarin direstoran itu" jawab Meera mencari alasan. namun Bara percaya padanya.
"kau berhutang padaku" jawab Bara.
"untungg... untung.... gimana tadi jika ia memaksaku. uh malunya dilihat Adit. suamiku ini benar-benar menyebalkan" batin Meera.
sesampainya didepan pintu gerbang Mansion Samudra Xu. Adit memilih turun untuk menemui penjaga disana. sedangkan Bara dan Meera menatap di dalam mobil.
"aku berani tarohan. mereka tidak akan memberikan ijin pada Adit" kata Meera. ia tahu betul bagaimana keadaan disana. dan benar saja meskipun Adit bernegosisasi panjang lebar mereka tetap tidak membukakan gerbang.
"kita tidak bisa masuk tuan" kata Adit begitu masuk kemobil
"biar aku saja" kata Meera hendak membuka pintu mobil. namun ditahan Bara.
"jangan!! biar aku saja" kata Bara.
"aaaiihh.. sama saja kau juga tidak akan bisa masuk kesana.."
"apa mereka tidak tahu siapa aku" kata Bara.
"hahaha.. siapapun kamu mereka tidak perduli. kalau tidak percaya. coba saja. aku lihat dari sini" kata Meera
Bara pun membuktikan sendiri ia turun dengan gagahnya dan berbicara pada pengawal yang berjumlah 4 orang itu. namun naas hasilnya sama ia tak bisa masuk.
"sialann!!" umpat Bara. setelah masuk kedalam mobil dan duduk di samping Meera.
"sekarang giliran aku" kata Meera langsung membuka pintu mobil dan dengan santainya berjalan menuju ke pos penjagaan. dari kejauhan pengawal yang berjumlah 4 orang itu melihat Meera mereka pun berbaris dan menundukan kepalanya. bahkan sebelum Meera berada dekat dengan Meraka.
"selamat datang Nona" sapa salah satu pengawal. Meera pun mengangkat sedikit tangannya agar orang2 tadi segera berdiri tegak tidak lagi membungkuk. karena ia tak mau kejadian seperti itu dilihat Bara dan Adit. namun kedua orang di dalam mobil itu sudah memperhatikan mereka. dan mereka pun dibuat terperanga. bagaimana bisa orang-orang berwajah gahar seperti pembunuh itu menunduk hormat pada seorang wanita. dan nampak sangat menghormatinya. sedangkan mereka mencoba bicara saja tidak di dengarkan.
"ya.. aku mau masuk. bukakan gerbangnya dan beri tahu kak sam. aku datang" kata Mera
"baik nona" kata salah satu pengawal.
Meera lalu berjalan menuju mobil Bara lagi dan masuk. seketika Bara dan Adit tersadar dari angan angannya.
"ayo masuk" kata Meera
"bba baaik nona" kata Adit
Meera menurunkan kaca mobilnya agar pengawal itu bisa melihat siapa saja didalam mobil itu. dan lagi2 ketika melihat Meera pengawal-pengawal itu menundukan kepalanya. Adit dan Bara sungguh tak habis pikir.
__ADS_1
"seperti apa pengaruhmu sebenarnya Nona" batin Adit.
"sayang jangan jauh dariku ingat itu" kata Bara sebelum turun dari mobil.