
seperti biasa ketika jam pulang kantor datang Meera langsung pulang kerumahnya. ia langsung membersihkan badannya lalu menggunakan dasternya. setelah itu ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang mewahnya. "hemm.. nyamannya.. tidur dulu lah sebentar, Bara juga akan pulang malam" kata Meera sambil melihat ponselnya dan membuat alarm nya. agar ia tak ketiduran lama. karena ia harus memasak untuk Bara nanti
disisi lain Bara masih belum selesai dengan jamuan rekan bisnisnya. Bara saat itu ditemani oleh Adit, kolega Bara kali ini adalah teman Tuan Dion dulu bahkan Ny. Martha pernah menjodohkan Bara dengan anak dari kolega Bara ini. Tapi semua itu mental. Bara tidak tertarik sama sekali bahkan terkesan tidak menggubris Via anak dari Koleganya. "untung saja wanita itu tidak ikut" batin Bara. mereka melakukan pertemuan di sebuah restoran mahal di dekat gedung WS Corps. setelah semuanya selesai Bara segera pulang bersama supirnya, sedangkan Adit juga pulang.
di kamar Meera. Meera tak mendenar bunyi alarmnya. mungkin karena tidurnya begitu nyenyak. hingga pukul sudah menunjukan 18.30 ia masih tidur dengan nyenyak di sana sambil memeluk gulingnya.
Bara segera turun dari mobil dan masuk ke rumah. biasanya jam segini Meera sedang berada di teras sambil menunggunya. namun kini tidak ada ia pun bertanya pada siti yang kebetulan sedang merapikan dapur "kemana nyonya?" tanya Bara
"dari pulang kerja tadi Nyonya belum keluar kamar tuan" jawab Siti sopan
Bara segera menuju kekamarnya. disana ia melihat meera sedang tidur nyenyak dengan daster yang sedikit terangkat. hingga paha mulus meera pun terpajang disana ditambah lagi dengan posisi meera yang tidur dengan miring. memperlihatkan pinggulnya yang menggoda semakin membuat Bara menelan ludahnya.
"kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu hingga menemukan istri seseksi ini hihi" batin Bara sambil terus memandang Meera. ia lalu segera berganti pakaian dan segera mandi tanpa membangunkan Meera. keluar dari kamar mandi ia masih melihat Meera masih tidur disana ingin sekali ia menerkamnya. namun ia masih ingat bagaimana ia menghukum meera di kantor tadi tiba-tiba ia tersenyum mengingat Meera yang cemberut setelah mendapat serangan darinya. Bara lalu duduk di samping Meera. ia mengelus lembut rambut Meera. ia menyibak rambut Meera. Meera menggeliat merasakan sentuhan. pelan pelan ia membuka matanya, "Sudah bangun" kata Bara lembut sambil masih mengelus rambut Meera.
"emm sudah pulang, maaf aku ketiduran. aku akan masak" Meera terkejut karena ia ketiduran, bahkan ia belum menyiapkan makan malam untuk Bara. lalu ia segera bangkit dari tidurnya. namun Bara memegang tangannya. "mau kemana?" tanya Bara.
"aku belum masak" kata Meera sambil mengucek matanya
"tidak usah, kita makan diluar saja, siap-siap lah. aku tunggu di bawah" kata Bara tenang.
Meera pun menangguk lalu berdiri langsung mempersiapkan dirinya. lalu ia Turun menemui Bara. lantai Bawah Bara menunggu Meera sambil duduk memainkan ponselnya.
"aku sudah siap, ayo" kata Meera berdiri di samping Bara. kali ini Meera menggunakan celana Jeans warna biru muda, dipadukan dengan kaos putih polos. lalu rambutnya di kuncir kuda dengan sedikit poni menutupi dahinya. sangat Fresh seperti remaja pada umumnya. apa lagi meera kali ini menggunakan tas slempang kecil dan menggunakan sepatu santainya. Bara yang melihat Meera berdandan seperti itu agak bingung. karena ia akan mengajak meera makan di restoran mewah namun pakaian Meera begitu santainya. tak seperti nyonya muda diluarsana.
"mau pakai baju ini?"tanya Bara sambil menunjuk kaos polos Meera.
"iya. kenapa? cuma mau makan kan?" jawab Meera sambil meraih tangan Bara dan menjatuhkannya.
"mau makan dimana?" tanya Bara
"di pinggir jalan, itu yang jalan dekatnya pantai, ada banyak pedagang disana. semua pedagang berkumpul di lapangan itu" kata Meera. ia memang dulu pernah sesekali kesana dengan Rangga.
Bara mengeryitkan alisnya. menatap dalam-dalam istrinya. lalu ia menghela nafas panjang karena rencana mau makan malam romantis di restoran mewah gagal.
"ihh bara ayoo.. nanti kemalamann" kata Meera sambil meraih tangan Bara. Bara hanya menuruti istrinya.
__ADS_1
Meera ikut sampai Garasi, sebelumnya Meera sudah pernah melihat motor sport milik Bara. ia ingin naik motor itu kali ini
"Bara jangan naik mobil ini" jawab Meera ketika Bara hendak membuka pintu mobil Lamborghini nya.
Bara menatap Meera dengan tatapan bingungnya. "mau pakai yang mana?"
"naik motor aja.. lagian nanti disana susah parkirnya kalau naik mobil hehe" kata Meera
Bara semakin bingung dengan istrinya. sejauh yang dia tahu. wanita manapun akan suka jika naik mobil mewah. ini beda dengan Meera ia malah minta naik motor.
"tidak. sudah malam. nanti masuk angin" jawab Bara tidak suka
"ihh gapapa Bara ayoo.. aku suka naik motor" Kata Meera sambil mengedip-ngedipkan matanya
Bara yang merupakan seorang Pangeran di kerajaan bisnis dan tidak ada yang berani melawan titahnya. tapi di depan istrinya ia kehilangan semua kekuatannya. ia lalu memanggil supirnya untuk mengecek motornya karena lumayan lama tak di pakai. Bara kembali ke kamar sebentar untuk mengganti pakaiannya. awalnya ia pakai kemeja santai. kini ia menggunakan kaos dan celana levis. tak lupa ia membawa jaket untuknya dan Meera. ia juga mengganti sepatu yang di pakainya.. demi apapun jika bukan Meera tidak ada yang bisa memaksanya seperti ini
setelah semua beres. ia lalu membuka lebar jaket Meera lalu meletakannya diatas kepala Meera lalu berkata "pakai jaket"
meera tersenyum melihat Bara perhatian dengannya. ia lalu segera menggunakan jaketnya. lalu berjalan keluar dari garasi , sedangkan Bara sudah memulai menyalakan motornya. suara motornya aja gagah banget "bruumm brumm" kira-kira seperti itu. ia lalu melajukan motornya pelan ke luar garasi dan berhenti di depan Meera.
"naiklah" kata Bara setelahnya. meera pun dengan senang hati naik ke motor dan mereka terlihat sangat keren saat itu. (bagaikan Boy dan Reva haha)
sepanjang Jalan sangat Ramai. Bara mengemudikan motornya dengan hati-hati takut meera kedinginan karena memang angin disana lumayan kencang.
"Bara malu sama motor metic, masa kecepatan motor sport mu kalah sama mereka" ledek Meera sambil tangannya menunjuk sepasang muda mudi naik motor metic mendahului mereka.
Bara yang mendengarnya hanya mendengus pelan tak menjawab.
Meera semakin geregetan di buat Bara. sepertinya Bara sengaja mengendarai motor begitu pelan.
"Bara aku saja yang nyetir. kalau seperti ini kapan sampainya" Meera mulai Crewet
Bara yang mendengarnya pun juga kesal dengan Meera. akirnya ia membuka suara "pegangan yang erat" kata Bara lalu melajukan Motor sportnya dengan kencang.
Meera bergidik ngeri di buat Bara. jalan Ramai tapo Bara sangat ngebut meliuk liuk dijalanan. Meera mencengkeram jaket Bara. ia memejamkan Matanya dan memeluk Bara.
__ADS_1
Bara merasakan pelukan Meera di perutnya semakin erat, "rasakan siapa suruh crewet" batin Bara dengan menahan tawanya.
"Bara pelannnnnnn.. aku takut jatuh" akirnya Meera membuka suaranya
Bara pun mendengarnya dan hatinya puas karena Meera akirnya tahu kalau ngebut itu bahaya. "bara lalu menurunkan kecepatannya. karena memang hampir sampai di tempat tujuan. tak lama kemudian Bara memakirkan kendaraannya. sambil melepas jaketnya.
"Bara jangan gitu lagi kalau naik motor. bahaya" Meera menatap Bara dengan cemberut. dan sambil melepas jaketnya.
"yang tadi bilang motorku kalah sama motor matic siapa? yang mau gantiin aku siapa?" jawab Bara sambil menatap Meera yang cemberut
yaa tapi gak ngebut kayak orang stor nyawa gitu juga kali .... batin Meera.
Meera dan Bara meninggalkan Helm dan jaket mereka diatas motor Bara. lalu mereka berjalan menuju lapangan tempat para pedagang berkumpul
lapangan itu sangat ramai. banyak pedagang disana. semua makanan ada di sana. mulai dari pentol sampai seafood ada semua.
Meera tak sadar jika tangannya telah menarik tangan Bara. mereka menautkan jari-jarinya seperti anak muda yang baru dilanda kasmaran. Bara menyadari itu, ia pun tersenyum melihat tangannya. mereka berkeliling disana.
"Bara aku mau itu" kata Meera sambil menunjuk kedai sate lok lok. Bara hanya mengikuti. Baru kali ini ia bersama wanita ke tempat seperti ini. biasanya ketika ia berjalan dengan wanita-wanita yang dipilihkan mamanya pasti ke tempat suoer mewah. namun ini dengan istrinya ia malah ketempat sederhana ini.
didepan Kedai itu Meera menatap berbagai macam sate lok lok dengan tatapan Rakus. ia oun bertanya kepada Bara "Bara mau apa?"
"aku terserah" kata Bara karena ia memang tak pernah memakan makanan seperti itu.
"aku mau ini, ini, ini ,ini, itu, itu, ini" kata Meera sambil menunjuk banyak makanan di depannya
setelah selesai di bakar dan di beri saus sesuai selera Meera pedagang itu menyerahkan sekotak satai ke meera lalu meera berkata pada Bara
"Bara, bayar.. kok diam ih" kata Meera sambil menatap Bara.
"gimana mau ambil dompet tangan kananku kamu pegang terus" kata Bara melirik tangannya.
"hehe iya maaf" kata Meera tak sadar genggaman tangannya baru terlepas.
setelah itu mereka mulai berjalan lagi dan mencari makanan lainnya. hingga ia menemukan seorang pedagang dadar gulung.. Meera langsung menghampirinya dan langsung memesan 20 tusuk dadar gulung, Bara yang melihat kelakuan istrinya pun menggelengkan kepalanya dan heran dengan tingkah polos istrinya.
__ADS_1