Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
hukuman untuk Meera


__ADS_3

Pagi hari Meera sudah siap untuk pergi ke kantor begitu juga Bara. mereka bersiap-siap untuk pergi kekantor.


"Meera..."Panggil Bara menunjuk bibirnya


Meera langsung faham apa yang diinginkan suaminya. ia langsung maju dan menghampiri suaminya. tepat di depan wajah suaminya. ia sengaja menggoda Bara. Seakan hendak menciumnya namun tiba-tiba ia mengarahkan ke telinga Bara lalu berkata dengan seksi "tidak mau" Bara yang sudah memejamkan matanya pun seketika membuka matanya. ia gemas dengan tingkah istrinya itu. Ia menarik tangan Meera kepelukannya. meera yang menyadari itu langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan. "Nakal" kata Bara disamping telinga Meera. meera langsung tertawa sambil menutup mulutnya, ia mulai merasa merinding terkena hembusan nafas Bara. lalu di jawabnya "nanti lipstiku rusak" setelah itu ia langsung melepaskan diri dari pelukan Bara dan langsung lari kearah mobilnya hendak pergi kekantor. Bara hanya melihat tingkah istrinya itu dengan senyum di bibirnya "aku akan merusaknya nanti siang, lihat saja, masih bisa kabur atau tidak" begitu isi hati Bara.


dikantor.


sama seperti biasa. Meera mengerjakan pekerjaannya dengan serius. namun kini ia harus meminga tanda tangan kepada Bara untuk salah satu dokumen. Meera mencoba bersikap profesional di sana. ia ingin memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan.


sesampainya di depan Ruangan Bara. Meera bertemu 2 asisten Bara didepan ruanganya. kedua orang itu adalah wanita yang sangat cantik. "aku akan menyerahkan dokumen untuk presdir, apa dia di dalam?" tanya Meera.


"Maaf nyonya, presdir sedang memimpin Rapat, anda bisa menitipkan disini, nanti biar saya yang menyerahkan" kata salah satu asistennya yang bernama Susi


"iiihh jangan panggil nyonya.. aku disini juga kerja jangan bilang siapa-siapa tentang hubunganku" kata Meera kepada mereka. Tanpa banyak bertanya mereka pun segera mengangguk faham. lalu setelah menyerahkan dokumen itu pada susi Meera pun pergi keruanganya kembali.


Susi dan anita memang sudah tahu tentang hubungan antara Meera dan Presdirnya. itu terjadi saat Presdirnya membawa Meera keruangannya. Adit memberi tahu mereka.


"Nona Meera jauh berbeda dengan wanita sombong yang datang kemarin ya" kata susi


"iya sok cantik, pakaiannya setiap datang kesini selalu membuat mataku sakit, padahal cantikan juga Nona Meera baik juga" sambung Anita.


"Tapi orang-orang di bawah tahunya nona Aurel lah yang akan jadi istri Presdir" jawab susi


"huhh.. mereka kan tidak tau, lagian para lelaki di gedung ini juga banyak yang mengagumi nona Meera mereka kan juga tidak tahu identitas nona, kalau mereka tahu mana mungkin berani seperti itu" sambung Anita.


"ehemmm..." suara dingin yang mengehentikan obrolan susi dan anita


jelas suara Adit itu siapa lagi kalau bukan dia. mereka tak menyadari kedatangan Adit.


"Maaf tuan.. ini ada berkas dari departemen sekretaris perlu tanda tangan presdir" kata anita menyodorkan berkasnya. lalu di ambil oleh adit dan langsung di bawa ke dalam ruangan Bara. Memang Bara saat itu langsung masuk kedalam ruangannya.


setelah memeriksa dengan teliti. Bara lalu menandatanganinya dan menyerahkan membali pada Adit. jam sudah menunjukan waktunya istirahat. Bara ingin makan siang dengan Meera lalu ia mengirim pesan "naiklah" hanya satu kata namun itu perintah. Meera yang sudah ada janji dengan Shinta ke kantin pun membalas "aku akan ke kantin dengan Shinta" Bara mengernyitkan alisnya melihat balasan Meera. lalu ia membalasnya dengan sedikit kesal "kau yang kesini atau aku yang kesana?" tanya Bara

__ADS_1


jelas meera takut jika Bara serius dengan pesannya. ia lalu mencari alasan agar bisa pergi dari Shinta


"Eh shin. aku lupa, aku ada urusan sebentar, kamu ke kantin sendiri ya.." kata Meera


"urusan apa, yaudah deh. aku duluan ya" kata Shinta sambil melambaikan tangannya, Meera lalu pergi ke ruangan Bara.


Sesampainya di depan ruangan Bara disana ia bertemu dengan anita dan susi. ia yang jengkel kepada Bara pun bertanya "apa presdir didalam? dia memintaku datang" kata Meera.


"ada. silahkan masuk" mata anita sopan membukakan pintu untuk Meera.


sesampainya di dalam ruangan Meera melihat Bara sedang menyilangkan kakinya dan bersender pada punggung kursi. terlihat sekali lelah diwajahnya. Meera tahu ini di kantor. ia harus bersikap seperti karyawan. bukan istri.


"presdir memanggilku?" tanya Meera


Bara yang mendengar istrinya memanggil seperti itu tidak suka "Meera sekarang hanya ada Bara suamimu, bukan Presdir"


"Tapi ini dikantor Tuan" jawab Meera


Bara semakin tidak suka dengan kata-kata istrinya. "yasudahlah, jadi kau harus menuruti printah presdirmu bukan? kemarilah" kata Bara ia memanfaatkan suasana


Meera yang kaget pun ber teriak "aaawww..."


"sudah diam. ini printah presdir" kata Bara memeluk pinggang Meera


Meera yang melihat kaca di ruangan itu pun takut jika terlihat orang dari luar. ia tidak tahu jika ruangan itu memiliki teknologi yang canggih. dimana yang dari luar ruangan tak bisa melihat kedalam. namun yang dari dalam ruangan bisa leluasa melihat keluar.


"ini di kantor, nanti orang diluar lihat" kata Meera menoleh pada Bara


bara tak menyiakan itu. ia mencium bibir Meera. ia merusak lipstik Meera yang belum ia lakukan tadi pagi. tangan Bara mulai menyelinap kedalam rok Meera. ia meraih apa yang bisa ia raih di dalam sana. Meera merasakanya pun risih. ia melepas ciuman Bara dan berkata "gila ya. di kantor ini, nanti dilihat orang" ia kesal pada Bara yang tak tahu tempat melakukan hal seperti itu


"wah. berani sekali berkata begitu kepada Presdir. kalau kamu tenang, tidak akan ada yang tahu. terserah padamu, kalau kamu mau mereka lihat ya berontaklah, kalau kamu tidak ingin mereka lihat dan cepat selesai ya tenang lah." kata Bara sambil terus meraih Celana dalam Meera dan menyibak Roknya.


"bara gilaaaaa... aku benci seperti ini.. tak ada pilihan lain semakin berontak orang diluar sana akan semakin curiga, kalau sampai mereka tahu, betapa malunya akuu huhuhu" batin Meera

__ADS_1


Berjadilah Yang terjadi. mereka melakukannya diatas kursi Bara. Meera tak bisa melawan. ia takut akan diketahui oleh orang diluar. sementara jika orang diluar memandang kedalam akan hanya terlihat Meera duduk di pangkuan Bara. tentu mereka tidak akan curiga, tanpa mereka tahu aktivitas di baliknya. seperti itu kira-kira pikiran Meera.


Meera menutup mulutnya rapat-rapat, ia tak mau mengeluarkan suara menjijikan itu. Meera semakin kesal pada Bara yang tak segera berhenti padahal waktu makan siang akan segera usai. disamping itu ia juga merasa sudah kelu di pangkal pahanya.


"ba..raa.. Sudahh" kata Meera


"panggil aku sayang" jawab Bara tak menghentikan aktifitasnya


"berhenti dulu" jawab Meera terbata-bata karena hentakan itu


"yasudah begini saja sampai nanti" kata Bara. Bara sengaja menggoda istrinya.


kurang ajaaarrr... licik sekali.. astaga aku sudah tidak punya kekuatan lagi melawannya.... batin Meera.


"iya iya sayang sudah cukup. berhenti yaa.." kata Meera memelas agar Bara menghentikan gerakannya


bersamaan dengan puncak nya Bara datang. Bara memeluk erat Tubuh Meera. Meera merasakan hangat di rahimnya. Ia lalu Berdiri dan merapikan pakaiannya. ketika hendak Berjalan ia merasakan perih di area itu. Bara yang melihatnya hanya tersenyum sambil berdecak "Rasakan, siapa suruh tadi pagi menggodaku"


Tanpa meminta ijin dari Bara Meera langsung berjalan dengan hati-hati ke toilet yang ada di ruangan Bara. Didalam sana ia memmersihkan sisa sisa kegilaan Bara. posisi tadi membuat pangkal pahanya ngilu. hingga untuk berjalanpun agak susah. "Bara gila.. seenaknya sendiri melakukan hal itu di ruangannya" batin Meera. setelah itu ia keluar dari toilet dan menemui Bara.


disana ia melihat Bara duduk dengan santainya seakan tidak terjadi apa-apa barusan. "cihh aku tak bisa jalan gini dia masih santai" batin Meera kesal menatap Bara.


Bara tak memandang Meera dan berkata "Terimakasih sayangku"


Meera menjawab "sama-sama Presdir Bara yang baik hati" sambil memasang senyum palsunya. lalu pergi keluar ruangan menuju ruangannya dengan langkah yang agak aneh. Bara yang melihatnya pun tersenyum sendiri. Diluar ruangan 3 pasang Mata menatap Meera yang dengan wajah cemberut dan berjalan agak aneh pun berfikiran aneh-aneh. apa yang terjadi didalam.


Adit lalu masuk keruangan Bara dengan muka yang tampak sedang berfikir kenapa muka Meera cemberut gitu bahkan bibirnya bisa di kasi pita. didalam ia melihat tuannya sedang tertawa terbahak bahak. ia bingung namun tak berani bertanya duluan.


"kau lihat Meera tadi?" tanya Bara


"iya Tuan, nona cemberut, ia berjalan dengan sangat hati-hati" jawab Adit jujur


"hahahahahaha.... kau tahu, aku baru saja menghukumnya" jawab Bara sambil tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


Adit yang mendengar tawa Tuannya pun lebih bingung lagi. sudah sangat lama Tuannya tak tertawa selepas itu. Adit sangat senang melihatnya..


__ADS_2