
setelah makan Bara bersiap-siap untuk keberangkatannya. Bara belum memberi tahu Meera jika ia akan pergi beberapa hari.
"aku akan pergi beberapa hari" kata Bara sambil merangkul pinggang Meera di depan pintu.
"hm. kenapa baru bilang sekarang" kata Meera
"ini mendesak sayang"
"apa terjadi masalah?"
"iya sedikit" jawab Bara
Meera tampak berubah murung wajahnya.
"kenapa?" tanya Bara mengangkat Dagu Meera
"apa aku boleh ikut?" tanya Meera
"haha kenapa jadi manja gini?" tanya Bara
"firasatku tidak enak" kata Meera masih merengut dengan pandangan sendu
Baru kali ini Bara melihat Meera berat melepasnya. biasanya Meera malah tampak bahagia jika ditinggal. Bara memberikan isyarat kepada Adit untuk menunggu di mobil saja. Adit pun meninggalkan kedua orang itu didepan pintu mansion.
Bara menangkup wajah Meera dan menciumnya. ciuman lembut mendarat di bibir Meera.
"jangan berfikiran yang tidak-tidak, apa kau tidak percaya dengan suamimu?" tanya Bara.
Meera hanya menganggukan kepalanya saja. Bara lalu menciumnya lagi. dengan tangan Meera memeluk pinggang Bara. setelah sekian lama Merasa Meera sudah agak tenang. Bara menyudahinya. dan memeluk Meera. ia harus segera pergi jika tidak akan ketinggalan pesawat.
"baik-baiklah dirumah, jika ada apa-apa telfon aku" Kata Bara.
Meera hanya menatap Suaminya sengan wajah sendunya. entah mengapa kali ini benar-benar ia tak rela melepaskan Bara pergi. Setelah salim Dan mencium punggung tangan Bara. Bara segera berjalan menuju mobilnya. dan Meera hanya melihatnya di tempat.
"ayolah Meera kenapa dengan dirimu. kenapa jadi melow begini..." batin Meera.
perlahan mobil Bara mulai menjauh. Meera masih ditempatnya sampai mobil keluar pagar dan menghilang. setelah itu ia kembali masuk dan duduk di ruang tamu.
"Semoga Bara baik-baik saja" kata Meera ia segera mengusir pikiran buruknya.
sedangkan didalam mobil Bara. Bara langsung sibuk dengan Laptopnya. tapi ada yang mengganjal dipikiran Adit.
"Tuan, apa ada masalah dengan nona?" tanya Adit
"entahlah. baru kali ini dia seperti tadi biasanya kalau aku pergi dia sangat senang" jaeab Bara sambil terus melihat laptopnya
"apa nona tahu tentang kejadian itu?" tanya Adit
__ADS_1
"jangan sampai Meera tau" kata Bara.
Adit diam tak berkata lagi. setelah beberapa lama kemudian mobil sampai di bandara dan Bara segera menuju pesawat pribadinya dan segera terbang.
sesampainya di kota tujuan Bara langsung menuju ke anak perusahaannya. kedatangan Bara kesana tidak ada yang mengetahuinya. Begitu tiba. semua orang kaget melihat Penguasa WSC memasuki gedung. Bara hanya datang bersama Adit.
Sifat Bara saat sedang Bekerja sangat beda dengan ketika sedang bersama istrinya. Bara sangat tegas dan dingin kepada karyawannya. wajahnya yang tampan didukung tubuhnya yang sempurna membuatnya sangat berkharisma.
Bara dan Adit langsung menuju keruang direktur utama di sana. sesamoainya disana. Sang direktur sedang tidak ada ditempat. Bara menunggu di ruangan itu. Tak berapa lama kemudian Direktur itu datang dengan wajah pias dan keringat dingin.
"Tu tu tuan Muda.. bagaimana bisa" kata direktur itu dengan gugup dan katanya terpotong oleh ucapan Bara
"kumpulkan semua petinggi di sini. aku mau kau adakan rapat hari ini" kata Bara dengan memasang wajah dinginnya.
"babbaik tuan" kata Direktur itu.
dalam waktu 30 menit. Rapat sudah siap dimulai. Bara duduk di kursi kebesarannya. dan Adit mendampingi disampingnya.
"siapa yang akan menjelaskan tentang masalah ini" kata Adit.
Tidak ada yang menjawab satu pun semuanya diam. .Sebenarnya Adit dan Bara sudah tau siapa dalang di balik penyelewengan dana puluhan milyar itu.
semua orang yang terlibat sudah hampir pingsan berada diruangan itu.
"Bapak direktur?" panggil Adit dengan nada memprovokasi.
"iii iya tuan" jawab Direktur itu
Braaakkkkkk!!!! Adit menggedor Meja.
"kalian semua jangan menantang batas kesabaran kami!!" bentak Adit. Bara yang mendengar pun sedikit ingin tersenyum melihat keadaan didalam sana.
Bara mengirim pesan pada seseorang. dan tak beberapa lama pun ada seorang pria paruh baya masuk. Semua orang menjadi semakin pucat melihat kedatangan pria paruh baya itu. Dia adalah direktur keuangan yang telah di oecat dan dilengserkan karena tak mau mengikuti direktur lainnya untuk berhianat. ia lebih memilih keluar dari perusahaan dari pada korupsi. karena hukuman Bara akan lebih menyakitkan dibanding uang yang diterima.
"Direktur, bagaimana bisa anda" kata salah satu petinggi disana.
"kenapa? ada yang bisa menjelaskan kenapa dia dikeluarkan dari sini" tanya Adit.
karena tak tahan dengan tekanan yang diberikan Adit dan Bara satu persatu pelaku korupsi berjamaah itu pun mengakui kesalahannya.
Bara memicingkan matanya. Karena masih ada satu orang yang tidak ikut mengaku. dia masih termasuk kerabat Bara dari Papanya. Ia tak mau mengurusnya sama seperti yang lain.
"apa masih ada yang belum mengaku?" tanya Adit . tapi Bara segera menarik kemeja Adit dan membisikinya. adit pun mengangguk paham
semua pelaku sudah berlutut di depan Bara memohon ampunan terkecuali kerabat Bara itu yang masih belum mengaku. mereka sampai menangis meminta ampunan.
kerabat papanya itu namanya Rudi. usianya sudah 48 tahun. Dia dapat bekerja disana juga karena rekomendasi dari papanya.
__ADS_1
Polisi sudah siap di luar ruangan dan siap menangkap para pelaku itu. Mereka segera di bawa kekantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
sedangkan Rudi. dia malah tak sungkan berjalan menghampiri Bara. dan berkata
"bagaimana kabar papa mu nak" tanya Rudi.
Bara mendengarnya jijik. dia berkata.
"kau telah menghancurkan kepercayaanku. jangan salahkan aku jika tidak sungkan lagi kepadamu paman" kata Bara dan langsung pergi meninggalkan Ruangan itu.
di bawah semua karyawan berkumpul dan menatap para petinggi yang sudah di borgol oleh polisi berlutut didepan mereka. para pelaku itu berjejer seperti orang menunggu eksekusi mati.
semua orang berdesas desus disana.
Adit Bara dan Mantan Direktur keuangan disana datang .menghampiri. didepan semua karyawan Adit berkata.
"yang kalian lihat didepan ini adalah penghianat WSC. ingat-ingatlah wajahnya!, dan karena semua direktur di sini menjadi tersangka. maka untuk saat ini posisi Dirut diserahkan pada Pak Rio. dan untuk nama-nama Direktur yang baru akan di umumkan besok" kata Adit. dan di sambut tepuk tangan oleh semua karyawan.
"Tuan muda. tolong ampuni kami tuan.. " rengek salah satu tersangka kepada Bara sambil bersujud didepan Bara. Bara tak menggubrisnya dan sekali tak memandangnya.
Bara langsung meninggalkan gedung itu disusul Adit. sedangkan untuk pamannya Rudi ia memiliki Rencana jahat kepada Bara. tentu dia tahu. Bara sengaja melepaskannya saat ini karena akan menghukumnya lebih berat.
"Hah.. bocah. kau belum tahu siapa aku!" kata Roni.
setelah mengurus semuanya dan para pelaku di proses hukum berlaku. Bara dan Adit memilih untuk pulang ke Salah satu aset rumah Bara di kota itu untuk menginap.
sesampainya di rumah Bara langsung menghubungi papanya.
"halo pa.."
"yes Son. ada apa?"
"Paman Rudi membuat masalah di perusahaan cabang. menurut papa bagaimana?"
"ya papa sudah dengar. apa rencanamu?"
"aku akan tetap menghukumnya. setidaknya membuat dia dan keluarganya kelaparan seumur hidup akan sedikit seru"
"Nak dia pamanmu, tidak adakah yang lebih ringan?" tanya tuan dion
"hah..... apa papa kasihan?" tanya Bara
"dia satu-satunya pamanmu yang tersisa nak" kata Tuan dion.
"baiklah akan aku pikirkan" kata Bara kecewa padahal dia sudah menyiapkan rencana untuk menyiksa pamannya itu.
melihat ekspresi Bara yang tidak enak Adit pun bertanya.
__ADS_1
"ada apa tuan?"
"haah.. entahlah" kata Bara.