Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Meera yang terus dibohongi


__ADS_3

pagi hari ketika berangkat kekantor. Bara berkata pada Meera.


"nanti malam papa mama mengundang kita untuk makan malam dirumah" kata Bara


"benarkah??" tanya Meera


"iya. tapi nanti aku masih ada rapat sore. tunggu lah dulu di ruanganku." kata Bara


"aku akan ke butik dulu beli gaun" kata Meera.


"tidak usah. aku sudah menyiapkannya" kata Bara


hati Meera senang bukan main karena diajak oleh Bara. kini sepanjang jalan Meera menampakan senyum cantiknya. Bara juga sangat bahagia melihat istrinya. namun Bara tak akan melupakan bahwa di rumahnya ada Aurel dan Mamahnya yang pasti akan membuat ulah.


sesampainya dikantor Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing begitupun dengan Bara. Meera segera menyelesaikan kerjaanya. lalu setelah jam waktu pulang tiba ia segera menuju ke ruangan Bara. disana ada 2 asisten Bara yaitu lusi dan susi yang juga masih belum pulang.


"maaf aku diminta presdir menunggu didalam" kata Meera kepada 2 orang didepan ruangan Bara


"silahkan masuk nyonya" kata Susi


"aaiiss jangan panggil gituu... aku malu.." kata Meera


maluu.... huhuhu itu panggilan yang diharapkan semua wanita didunia ini. menjadi nyonya Bara Suryatama. kau malah malu.. hikss. mirisss... batin Susi


Meera memasuki Ruangan Bara. ia duduk di sofa sambil memperhatikan suasana sekitarnya. Ia tak sadar nanti akan ada kejutan besar yang akan diterimanya.


Pukul 17.00 Bara selesai meeting dan langsung menghampiri Meera diruangnnya. Disana ia melihat Meera duduk bersender sambil bermain ponsel. sampai tak sadar kedatangan Bara.


Bara duduk disamping Meera. "sibuk apa?" tanya Bara


"hehe balas chat Anom. tadi mengajaku makan diluar bersama Shinta dan Ana" jawab Meera jujur


Bara mengernyitkan matanya. kondisi sangat lelah karena kerjaan. ditambah istrinya yang terus di kirimi pesan dari lelaki lain.


"sudah ku bilang. jangan berhubungan dengan mereka" kata Bara merebut ponsel Meera.


"lah kan gak ngapa-ngapain. cie cemburu.. hihi" goda Meera sambil mencubit lengan Bara.


"Meera aku lelah. jangan memancing emosi ku" kara Bara melembut


"siapa juga yang berani memancing emosimu, kembalikan" kata Meera mengulurkan tangannya meminta ponselnya


Bara menarik nafas panjang.. "lama-lama aku sinting melihat istriku di chat dengan pria-pria gila itu" batin Bara


"Nanti, sekarang ayo pulang. siap-siap" kata Bara sambik memasukan ponsel meera pada saku jasnya dan segera pulang. dan mereka pun bersiap-siap.


tepat pukul 19.30 mobil Ferarri biru dongker Bara memasuki halaman rumah keluarga Suryatama.

__ADS_1


ada perasaan was was di dalam benak Bara. Mekihat istrinya yang seharian tersenyum ceria ia tak bisa membayangkan jika nanti didalam akan mendapatkan perlakuan yang tidak enak didalam.


"jangan jauh-jauh dariku, jangan dengarkan apa yang mereka katakan nanti jika mereka menyinggungmu" kata Bara sebelum keluar dari mobilnya.


"emm.. apa ada Aurel?" tanya Meera


Bara menganggukan kepalanya. "jangan khawatir ada aku dan papa" . Meera lalu tersenyum cantik.


Setelah itu mereka keluar dari mobil dan mereka berjalan memasuki rumah dengan bergandengan tangan. Tampak wajah Meera yang sumringah berbeda dengan Bara.


didalam Rumah Mereka di sambut oleh Tuan dion Ny Martha dan juga Aurel. mereka langsung menuju ke ruang makan. Tak seperti biasanya Ny . Martha sedikit lebih baik kepada Meera. tak lagi terdengar hinaan atau pun cemoohan yang di keluarkan dari mulutnya. sampai makan selesaipun mereka dalam keadaan kondusif.


setelah itu mereka duduk santai di ruang keluarga.


Bara duduk di samping Meera sambil merangkul pinggang istrinya dan menciumi rambut Meera dari belakang. Meera merasa malu karena kini ada Tuan Dion yang sedang memperhatikan mereka. sedangkan Bara bodo amat. Sesekali Bara menggelitiki pinggang Meera. Dan Meera pun menggeliat karena geli oleh tangan Bara. Tuan Dion pun tak masalah dengan apa yang dilihatnya.


"hei kau. tidak bisa kah berhenti mengganggu istrimu!" kata Tuan Dion


"tidak Bisa" jawab Bara sambil terus menciumi rambut Meera. Meera pun merasa risih dengan Bara.


"Sudah jangan begini, malu!!!" kata Meera membisiki Bara pelan.


CUP....!!!!


Bara mencium pipi Meera didepan Tuan Dion.


"Astagaaa!!!!!" kata Tuan Dion


"aaauuuhhhh" lenguh Bara melepas pelukan pada pinggang Meera dan menggerayangi pinggangnya yang di cubit Meera.


"rasain!!" kata Meera.


"hmm.. apa kabar putraku Rangga??" tanya Tuan Dion


"baik pa. dia sebentar lagi lulus" kata meera. sedangkan Bara kembali menggerayangi pinggang Meera. Sambil berbincang dengan Tuan Dion Meera berusaha melepaskan tangan Bara berulang kali. tapi Bara tak bisa Berhenti. Meera pun kesal dibuatnya.


"Bara.. sudah tanganmu diam" kata Meera.


"siapa suruh kau mengabaikanku" kata Bara. karena sedari tadi Meera sibuk berbi cang dengan Tuan dion dan mengabaikan suaminya.


"kalau tidak bisa diam aku akan berpindah tempat" ancam Meera.


"coba saja" ancam Bara.


"Sini Meera duduk disamping papa, biarkan saja dia sendirian" kata Tuan Dion geli melihat tingkah putranya. Meera pun segera berdiri dan berlari dan langsung duduk di samping tuan Dion. Tuan Dion pun tertawa terbahak bahak..


"hohoho... ternyata istrimu lebih menurut dengan ku" ejek Tuan Dion. Meera tampak tersenyum. sedangkan Bara memicingkan Matanya

__ADS_1


"beraninya, kembali kesini!!" kata Bara.


"Tidak mauuu!!!" jawab Meera.


"Ini semua gara-gara Papa, istriku jadi tidak penurut" kata Bara.


"Lihatlah dirimu, kesan galak mu hilang seketika jika begini" kata Tuan Dion


"halah itu tidak berlaku didepan kalian, Meera kau mau jadi istri durhaka??" kata Bara memandang Meera


"Bodo amat hahaha" jawab meera.


Bara pun berdiri dan beranjak dari kursinya lalu datang kearah Meera dan papanya lalu duduk di samping Meera. Mereka pun duduk Bertiga dan Meera di tengah. Bara langsung memeluk Meera. meskipun ada papanya Bara tidak perduli sama sekali. Tuan Dion yang melihat putranya seperti anak kecil pun tak tahan menahan Tawanya. Sedangkan Mama Bara dan Aurel melihatnya dari lantai dua pun berdecak


"terus saja sekarang tertawa. sebentar lagi kai akan menangis" kata Ny Martha.


sesuai rencana Awal. Aurel turun sambil membawa kotak obat. sesampainya di bawah. Aurel lalu menghampiri Bara. Sedangkan Bara masih sibuk menciumi rambut Meera sambil memeluknya.


"Bara apa lukamu sudah sembuh?ayo aku bantu membersihkan lukamu" kata Aurel sambil menenteng Kotak Obat.


Meera yang mendengar pun memicingkan matanya.


"hah.. luka. luka apa?" batin Meera.


Bara yang mendengarnya pun juga kaget. sejenak ia menghentikan aktifitasnya. dan berkata.


"luka apa. jangan mengacau" kata Bara.


"kok luka apa sih. ya luka tembak di bahumu lah.! mari ku bantu mengobati seperti dirumahsakit kemarin," Kata Aurel Manja.


"luka tembak, Rumahsakit??" batin Meera ia menoleh kearah suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Merasa akan ada perang dunia diantara putra menantunya Tuan Dion pun ikut bicara.


"apa maksudmu, sudah sana jangan membuat masalah!!" kata tuan Dion kepada Aurel.


Ny martha pun datang dan ikut bicara.


"aduhh.. papa ini gimana sih. kemarin yang merawat Putra kita kan Aurel, Aurel yang menjaganya di rumahsakit. ya pantas saja lah jika dia khawatir dengan luka itu"


Meera semakin bingung di buatnya. Meera semakin memandang Suaminya dengan tatapan tajam.


"ngomong kosong apa sih mama ini. jangan membuat ulah lagi" kata tuan Dion.


Bara merangkulkan tangannya lagi kepinggang Meera.


"yaaa.. mau bagaimana lagi pa. ketika Putraku dirawat karena terluka. istrinya juga tidak mau merawatnya. untung saja ada Aurel yang setia menemaninya, bukan begitu Bara" kata Ny. Martha.

__ADS_1


Deg..!!!!!! Hati Meera serasa disambar petir rasanya.


tanpa Menjawab Bara pun menarik tangan Meera menuju kamarnya. ia tak mau mamahnya semakin liar memorovokasi Istrinya.


__ADS_2