
Dikantor Meera kini sedang mengerjakan pekerjaannya. berkutat dengan komputernya, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Sama dengan Shinta ia juga sangat sibuk hari ini. sampai saatnya waktunya istirahat.
"huhh meer.. aku tuh capekk banget hari ini, kerjaan gak ada habisnya.. andaii aku punya suami kayak presdir.. enak kali hidupku ya.. ga usah kerja duduk diam dirumah gak bakal kekurangan uang" kata Shinta sambil memandang lemas Meera. di depan meja Meera. Meera yang mendengarnya hanya tertawa. "segera bakar kata-katamu shin sebelum menyesal" begitu kira-kira kata hatinya
Bara mengirim pesan pada Meera. "aku masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, kamu makan siang sendiri ya sayang"
meera yang mendengar ponselnya bunyi segera melihat pesannya, wajah meera nampak sumringah. ia lalu membalasnya "siap bos. jangan lupa makan"
Meera pun beranjak keluar bersama Shinta, mereka hendak ke kantin. ketika dalam sampai di loby langkah Meera terhenti, ia melihat sosok yang pernah dilihatnya dari belakang sedang menuju ke lift. namun Shinta membuyarkan pikiran Meera
"ih meera lihat apa sih, ayooooo aku lapar" rengek Shinta sambil menarik tangan Meera
"iyaa iyaa ... jangan ditarik. "jawab Meera menuruti Shinta
Di Ruang Bara
Adit melongo melihat Aurel datang. ia kaget karena ia tiba-tiba ada di depan ruangan Bara.
2 asisten adit di luar ruangan pun juga kaget, tidak biasanya ada orang yang datang ke area lantai ruangan Bara tanpa konfirmasi. Dulu memang Aurel sering datang ke kantor Bara, karena memang Mama Bara ada di belakangnya. sehingga bisa seenaknya dia masuk kesana. namun setelah beberapa bulan terakir Bara menyuruh jika Aurel datang jangan di kasi masuk ke Ruangannya tanpa konfirmasi.
"Haii adit.. apa kabar" kata Meera menyapa Aurel. jelas kata-kata nya terdengar seperti penjilat di telinga Adit.
Adit tahu betul orang seperti apa Aurel. karena ia sendiri yang mencari tahu tentang aurel pada saat itu "Cihhh.. orang ini, masih tidak tahu malu" gumam Adit
"nona, sudah membuat janji?"tanya Adit
"apa itu perlu?, sudah minggir aku mau bertemu Bara" jawab Aurel sombong. sambil mendorong Adit
jelas kedua asisten Bara yang di depan ruangan pun tak suka dengan Aurel.
"Maaf nona, Tuan Muda sedang tidak bisa diganggu, silahkan pergi" Kata Adit sedikit meninggikan suaranya sambil menghalangi Aurel masuk kedalam ruang tuan mudanya
"kau ini besar kepala sekali, sapa kau beraninya mengusirku!" kata Aurel yang tak mau kalah dengan masih kata-katanya yang sombong
"aku membawa makanan dari tante Martha. dia yang menyuruhku! apa aku masih perlu meminta ijinmu?" sambung Aurel menunjukan apa yang dibawanya.
Adit masih menahan Aurel di luar. sedangkan ia memberikan isyarat mata kepada asisten Bara di sampingnya untuk masuk ke ruangan Bara untuk memberitahukan kedatangan Aurel.
__ADS_1
"siaall.. nekat juga dia, biarkan dia masuk" jawab Bara
lalu asistennya keluar dan memberitahukan pada Adit. Aditpun mempersilahkan masuk Aurel.
Aurel pun terlihat Bangga dan memberi senyum sinisnya pada ke tiga orang didepannya.
dikantin
Meera dan Shinta sedang menikmati makan siangnya. Shinta yang seperti orang kelaparan memakan makanannya dengan cepat dan menghabiskan 2 porsi jus jeruk sekaligus.
"gila kamu shin, gak malu apa di lihatin orang-orang kamu makannya banyak gitu" Kata Meera memperhatikan Shinta yang masih menggenggam sebotol akua dingin yang baru dibukanya
"bodo amat Meer aku tidak perduli, aku lapar, pekerjaanku banyak, aku perlu tenaga banyak juga" jawab Shinta tak perduli
"Eh meer tau gak, si Vian dari departemen keuangan kemarin nembak aku" Shinta mulai bercerita
"hah?? masak?? terus terus??" Meera juga penasaran. Meera memang baru sekali ini tahu jika Shinta di tembak Cowok. beda dengan dirinya yang sering di tembak cowok tapi selalu di tolak
"ya terus aku terima lah. mumpung ada yang mau sama aku hahaha.. paling tu cowok kesambet kali suka sama aku" jawab Shinta jenaka
"iya.. dong kapan kapan double date yah aku kamu sma mba ana. tapi kita gak berani ngumbar di kantor. takut ganggu kerjaan. Lagian lumayan kan diajak ke acara ntar. bentar lagi kan ada acara tahunan di kantor ini Meer"
Meera memang belum pernah mengetahui tentang acara tahunan. karena ia juga belum lama bekerja di sana. beda dengan Shinta yang lebih dulu masuk di WS corps
"acara apa shin?" tanya Meera
"ih Meera kamu tuh taunya apa sih, semua keryawan udah ributin ini tau gak sih. kamu doang yang gak tau. biasanya sih kita ada kayak liburan gitu, terus pesta-pesta di pantai sama semua karyawan, eh lagian tahun ini kan Perusahaan ini jauh lebih berkembang dari tahun sebelumnya pasti tahun ini lebih seru" jawab Shinta.
"ooow.." Meera menjawab.. ia penasaran dengan acara itu. ia memang tidak suka bergosip seperti karyawan yang lain mangkanya ia juga tak terlalu tahu tentang ini
mereka pun berjalan akan kembali keruangannya namun sesampainya di loby ia bertemu lagi dengan Aurel. kali ini ia tepat bertatap muka dengan Aurel. Bukan Aurel namanya jika tidak membuat masalah, sebelumnya aurel sudah mengetahui jika Meera bekerja di perusahaan Bara. dan Bara menyembunyikan pernikahannya. bahkan orang di kantor itu hanya Bara, Adit dan kedua asisten Bara yang tahu. itu menjadi umpan yang empuk bagi Aurel melancarkan rencananya.
"oh jadi kamu kerja disini" kata Aurel
"iya" jawab Meera singkat
"hahaha.. memang kau cocok menjadi keryawan rendahan disini. oh ya aku pergi dulu aku dari ruangan calon suamiku mengantar makanan" kata-kata Aurel yang sengaja meninggikan suaranya agar terdengar semua orang di sana. ia memberikan penekanan di kata-kata SUAMIKU.
__ADS_1
Meera tidak bisa menghindar karena memang itu jalan menuju ruangannya. ia menanggapi provokasi Aurel dengan tenang dan senyum di wajahnya. lalu ia menjawab "oh ya, baiklah saya permisi nona" kata-kata sederhana namun membuat Aurel geram karena Meera tak terpancing provokasinya. lalu Meera meninggalkan Aurel disana sambil menarik tangan Shinta.
setelah sampai diruangan Shinta yang kepo pun bertanya pada Meera
"kamu kenal dia Meer? cantik sih tapi cantikan kamu"
"hanya sekedar tahu" kata Meera santai
"eh tadi bukannya dia turun lewat lift Presdir ya. berarti dia dari ruangan Presdir. ohhh jangan-jangan dia calon istri Presdir" Shinta bertanya-tanya sambil menggelengkan kepalanya. Meera tak menjawab. "eeh meer kamu tadi berani menjawabnya, nanti kalau orang itu mengadu pada presdir gimana. kamu di marahin lagi nanti kayak waktu itu aku denger dari orang-orang serem ih" Shinta masih terus berbicara
"dimarahin ya sudah, dengarkan aja" Jawab Meera cuek.
sedangkan di loby sudah ribut karyawan membicarakan aurel.mereka mendengarkan kata-kata aurel mereka langsung beranggapan bahwa Aurel calon istri Presdir mereka.
Flash Back on
Aurel masuk ke ruangan Bara. ia langsung menuju kesamping Bara ingin merangkul pundak Bara namun ditepis oleh Bara.
"aku membawakan makanan untuk mu. Tante Martha yang suruh" Kata Aurel.
"letakan di situ, dan cepat keluar, aku sedang sibuk" kata Bara ketus.
"kalau sibuk aku suapin yahh.." tawar Aurel dengan kata-lata manjanya
"pergi, jangan melewati batasmu" kata-kata Bara dingin namun penuh penekanan.
Aurel tak mau berdebat. ia merasa hari ini cukup samapai disini. ia tak mau Bara ilfil padanya. ia pun langsung pergi meninggalkan Bara.
Adit yang menemani Bara ketika ada aurel didalam pun merasa jijik dengan Aurel.
"apakah Meera tahu Aurel ada disini" tanya Bara. ia takut jika Meera bertemu Aurel akan salah Faham
"sepertinya tau Tuan, saya lihat dari rekaman CCTV ketika nona Aurel masuk kedalam Lift Nona Meera melihatnya" jawab Adit mengatakan sejujurnya
"siaalll!!" Bara berdecak kesal. ia kan menjelaskan pada Meera nanti dirumah niatnya. karena jika menjelaskan sekarang tidak ada waktu. ia ada rapat yang tak bisa ditunda.
Meera memang tak melupakan kejadian di rumah mertuanya. namun ia sebisa mungkin memendamnya. ia berusaha mengendalikan dirinya agar tetap tenang.
__ADS_1