Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Amarah Reza dan Adit pada Bara


__ADS_3

dengan amarah yang menyelingkupi Reza. ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke WS Corps.


Namun nihil ia tak menemukan Bara disana, orang orang di gedung itu mengenal dengan baik sosok Reza sepupu Bara ini.


berulang kali Reza mencoba menghubungi Bara atau Adit, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. hingga ia mendapatkan informasi bahwa Mereka berada di mansion tuan Dion.


dengan amarah yang belum padam Reza memacukan kembali mobilnya. melintasi jalanan yang padat itu, mobil mewahnya berbaur dengan mobil lainnya dalam kemacetan.


"Sungguh Bara ini kesempatan terakirmu, jika kau masih tak mau mendengarkanku, aku akan membawa Meera bersamaku" kata Reza sambil memukul mukul kemudinya.


mengingat kembali keadaan Meera yang spat kritis membuat Reza kalap. ia begitu menyayangi sosok itu. sungguh ia benar benar tak bisa membayangkan jika Meera tak bisa bertahan di tempat penyekapan itu


Akirnya Reza sampai di mansion utama milik tuan Dion, ia langsung menerobos masuk kedalam dengan mata memerah.


"dimana Bara?" tanyanya pada salah satu pelayan


"Di halaman belakang tuan" kata pelayan itu, Reza dengan berlari kecil menghampiri Bara. dan setelahnya ia bertemu dengan sosok yang telah ia cari sedari tadi langsung saja Reza menarik kerah kemeja Bara hingga Bara terpaksa berdiri. Adit dan Tuan Dion tersentak kaget melihat prilaku Reza


"ku disini? kau masih bisa bersantai setelah apa yang terjadi pada istrimu?" kata Reza dengan amarah.


Bara yang masih belum tau eadaannya malah berdecah dan melepaskan cengkeraman Reza


"ck.. benar ternyata jalang itu bersamamu" kata Bara.


Buughhhh!!!!!


pukulan telak menghantam wajah Bara hingga Bara tersungkur. langsung saja Adit memegangi Reza yang hendak lagi menghajar Bara.


"Tuan.. tolong tenang..." kata Adit sambil memeluk Reza dari belakang


"kau bicara apa hah?? kau bilang Meera istrimu itu jalang?? jaga bicaramu Bara Suryatama!!" teriak Reza yang begitu emosi, sebelumnya ia tak pernah se emosi ini.


"haha.. kau membelanya, kau tahu dia meninggalkanku dan pergi bersamamu, apa itu bukan jalang, bahkan jalang lebih baik darinya" kata Bara sambil berdiri. ia sebenarnya juga sedikit bergetar baru kali ini ia melihat saudaranya se emosi itu. padahal Reza yang ia kenal adalah Reza yang tenang, calm dan ramah.


"apa??" kata Reza dengan mata memerahnya. ia tak pernah menunjukan emosinya pada orang lain sebelumnya. namun kali ini ia tak bisa menahannya

__ADS_1


Reza sakit hati mendengarkan tutur kata Bara, bagaimana bisa saudaranya berfikiran sedangkal itu ketika istrinya bertahan hidup dalam kesulitan seperti yang ia lihat demi melindungi buah hatinya. seketika tubuh Reza melemas dan luruh begitu saja ke sofa dibelakangnya.


Tuan Dion memberikan tatapan matanya pada Adit agar membawa Bara pergi dengan harapan meredakan amarah Reza dan itu dilakukan oleh Adit. dengan sedikit paksaan Adit membawa Bara menjauh


Tuan dion juga bergetar melihat reaksi Reza yang tampak sangat emosi dan tak karuan itu, ia mengenal keponakannya dengan orang paling bijaksana dan tenang. namun itu semua hilang entah kemana.


"Bisa ceritakan padaku apa yang terjadi" kata Tuan Dion sambil duduk di samping Reza dan menepuk punggung Pria yang saat ini sedang menangis itu.


"kenapa kau seperti ini, apa yang membuatmu menangis seperti ini, bahkan semasa kecilmu kau tak pernah menangis di depan orang lain" kata Tuan Dion.


Reza terus saja menangis sambil menahan emosinya.


"paman.. kau tahu Meera ........... " Adit menceritakan semuanya dari awal sampai akir. dan itu membuat Tuan Dion bergetar dan sesak.


"Aku mencoba merelakan cintaku untuk Bara saudaraku, aku mencoba mengikhlaskannya, aku tak bisa memilikinya, aku berharap Bara menjaganya namun apa, ia menyiksanya seperti itu,. jika aku datang terlambat saat itu... hiks.. mungkin Meera tak tertolong, kau tahu bagimana perasaanku paman ketika melihat Meera tertembak. hancur duniaku.. jika Meera tak lagi membuka matanya bagimana, jika ia tak bisa bertahan apa yang harus aku lakukan.. kandungannya lemah, bisa sewaktu waktu keguguran.. aku berharap Bara datang menemuinya dan menenangkannya. namun apa yang ku dapatkan.. Bara mengatainya Jalang.. Ya Tuhan..." kata Reza. dengan tangisnya.


Tuan Dion pun terselimuti amarahbyang membara bagiamana bisa Bara melakukan kesalahan sefatal itu.


Reza mendapatkan telefon..


"Tuan cepat kembali Nona Meera histeris tadi setelah melihat brita di TV akan ada pertunangan suaminya dengan wanita lain" kata Shinta yang saat ini berada bersama Meera.


"maaf Paman aku harus kerumahsakit terjadi sesuatu pada Meera" kata Reza


"tunggu aku ikut denganmu" kata Tuan Dion yang lalu berlari kecil bersama Reza. dan di depan pintu ia bertemu Adit, Tuan Dion mengajak Adit sekalian.


***************


"Aaaaaaa... hikss.. kenapa Bara begitu kejam, bukankah aku masih istrinya, bahkan aku berusaha bertahan hidup bersama janinku untuk ya tapi kenapa ia seperti ini sinta.. hikss..." kata Meera yang berusaha melepas selang infusnya.


braakk.. pintu terbuka..


Tuan Dion bergetar melihat Keadaan Meera yang masih terus histeris.. Tuan Dion lalu berlari dan memeluk Meera.


"tenanglah Nak.." kata Tuan Dion sambil terus mendekap Meera

__ADS_1


"Papa... kenapa Bara seperti ini pa..." kata Meera dengan terus menangis dna berusaha melapaskan dirinya


"maafkan papa..tenanglah" kata Tuan Dion tamterasa air matanya jatuh begitu saja.


"Meera sayang.. tenanglah.. ingat janinmu.. jika kau sperti ini kau akan menyakitinya.. bukankah kau sayang padanya.." kata Reza sambil mengelus kepala Meera.


"Rezaa. mana Bara.. kau berjanji membawanya untukku kan.. kemana suamiku.. kenapa suamiku bersama wanita lain hikss.. kenapa.. apa ia tak menginginkan anak ini.. " isak Meera.


Reza tak tahan dengan isakan itu.


"Maafkan Aku" kata Reza.


"Adit.. kau tahu kan.. ayo critakan apa yang terjadi sebenarnya" kata Meera memandang tajam Adit yang berdiri didepannya.


Reza memundurkan badannya, Adit maju mengahmpiri Meera. hatinya sesak melihat tatapan seperti berlian itu menjadi tangis yang pilu.


saat adit mendekat. Meera menarik kerah baju Adit.


"Katakan.. ayo katakan diamana Tuanmu!! ayo katakan hikss.. aku ingin memberikan kabar baik untuknya.. aku mengandung anaknya tapi kenapa dia meninggalkanku, dimana Salahku.. kau tahu segalanya kan.. cepat beri tahu aku Adittt.. hikss.." isak Meera dengan sesekali memukuli dada Adit dengan lemahyang lalu Adit dengan Reflek memeluk Meera dengan erat, Meera menangis sejadi jadinya di pelukan Adit. Adit terus memeluknya dengan hangat tanpa bicara sepatah kata pun. hingga akirnya ia tenang dipelukan Adit. setelah sejam berlalu Adit terus memeluk Meera hingga wanita ini tertidur begitu saja di pelukan Adit yang hangat.


tampak wajah Meera yang memerah disana, matanya sembab juga pipinya. Adit menyingkirkan anak rambut yang mengganggu wajah Meera. sedangkan Reza dan tuan Dion kini berada di sana sejak tadi mengamati keduanya.


Emosii.. Adit juga sangat emosi. setelah membenarkan tidur Meera, Adit bergabung dengan Tuan dion dan Reza.


"Kalian sekarang tahu kan bagaimana situasi sebenarnya" kata Reza. sambil menghela nafas panjang.


Tuan Dion memijit pelipisnya. "Adit ayo katakan, sebenarnya kenapa berita itu muncul" kata Tuan Dion


Adit terus menunduk. menyalahkan dirinya zendiri


"Angkat wajahmu, jangan seperti pengecut Adit!" titah tuan Dion


"Maaf, ini semua karena saya, jika saja saya tak menuruti perintah tuan muda ini semua tidak akan terjadi" kata Adit lirih.


"jadi ini disengaja? jika aku tidak salah,Bara sengaja mengeluarkan berita itu untuk memancing Meera datang? apakah seperti itu?" tanya Reza dengan memicingkan matanya

__ADS_1


Adit semakin menunduk.


"kedepan kita harus menunggu Meera terbangun, baru kita kan mengambil langkah. apapun yang dikatakan Meera akau akan menurutinya" kata Tuan Dion.


__ADS_2