Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan itu pun tiba. di kantor urusan agama sudah ada Rangga Tuan Dion, Bara Tentu juga ada Meera. Mereka menyelesaikannya dengan lancar. Tuan Dion merasa bahagia akirnya anaknya yang seperti kutup utara itu menikah dengan gadis pilihannya sendiri, Bara juga sangat senang, begitupun Rangga meskipun ia ragu namun ia senang akirnya kakaknya memiliki teman Hidup. tetapi beda dengan Meera. ia masih bimbang. ia masih tak yakin akan dirinya sendiri bahkan ia sudah memikirkan andaikan nanti Bara meninggalkannya apa yang harus dilakukannya. Meera memendam semua itu sendirian. ia tak mau membaginya kepada siapapun. Pernikahan ini begitu tertutup dan sangat sederhana untuk orang sekelas Bara. Pewaris tunggal kerajaan bisnis WS Group. memang ini permintaan Meera. karena ia berfikir. jika suatu saat ia diceraikan Bara, tidak banyak orang yang tahu tentang siapa mantan suaminya.


mereka menyempatkan mampir ke restoran mewah salah satu bisnis Bara.


"Rangga. mulai sekarang kau bisa memanggilku Papa jika kau mau" ucap tuan Dion sambil memandang Rangga. entah mengapa Tuan Dion sangat menyayangi Rangga. seperti ia melihat dirinya saat remaja dulu.


Rangga tentu sangat bahagia. dan ia meng iyakan dengan semangat, karena ia memang merindukan sosok Bapak yang telah meninggal. Meera tentu sangat senang karena Tuan Dion menerima adiknya. namun yang masih mengganjal dipikiran Meera adalah kemana Mama Bara kenapa tidak ikut. berbagai pikiran berkecamuk di otak Meera. namun ia meyakinkan dirinya bahwa semua baik baik saja.


"Kau harus menang di pertandingan nanti, papa akan datang melihatmu, okee!!" kata Tuan Dion mengacak rambut Rangga.


Rangga tak berani menjawab. Ia masih tidak yakin kakaknya mengijinkannya. ia melirik kakaknya lalu menundukan kepalanya sedih.


"Rangga, berjanjilah padaku, kalau kau tidak akan terluka lagi" tiba-tiba Meera Bersuara menatap Adiknya


Rangga kaget dibuatnya. Rangga sangat senang dan ia bertekad akan memenangkan pertandingan itu dan membuat bangga orang di sekelilingnya


"apa cita citamu nak?" tanya Tuan Dion


"Aku ingin menjadi pilot pesawat tempur Pa" jawab Rangga semangat


degg... tuan Dion kaget, aku akan membantumu nak. itu cita-citaku dulu yang tak pernah ku lakukan, akan aku pastikan kau bisa meraihnya, sekarang kau adalah anaku, akan ku pastikan bahagiamu juga...... kata tuan Dion dalam Hati.


setelah itu mereka pulang, Rangga Bara dan Meera pulang ke rumah Meera karena Meera harus membawa barang nya, sedangkan Tuan Dion pulang kerumah utama.


setela Meera sampai di rumah Bara. Bara mengajak Meera untuk masuk ke kamar Bara. saat Meera keluar dari toilet ia melihat Bara bersandar diatas kasur sedang membuka Tab nya mengecek email yang masuk. Meera ragu untuk mendekat. ia takut jika Bara memintanya untuk melakukan itu malam ini, ia benar-benar belum siap.


"ngapain berdiri disitu? naiklah" kata Bara


"Bara, kau tidak akan melakukannya hari ini kan?" Tanya Meera ragu, ia malu namun ia takut juka Bara nannti memaksanya.

__ADS_1


"kenapa? kau mau sekarang?" Bara menggoda Meera


"tii tiiidakk bara, jangan sekarang" jawab Meera takut Bara Marah


"yasudah kesini, ayo tidur, besok kita harus ke kantor" kata Bara sambil merebahkan tubuhnya, disusul Meera disampingnya. meera tidur dengan membelakangi Bara. Bara yang melihatnya pun tersenyum. ia tak meminta Meera untuk berbalik. tapi ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk Meera dari belakang lalau mereka berdua tidur. aroma badan Meera menjadi candu buat Bara. ia sangat menyukainya


pagi hari Meera bangun dan menyingkirkan tangan Bara yang memeluknya dengan hati-hati karena memang waktu masih pukul 5. ia tak mau membangunkan Meera. ia segera pergi ke toilet dan mencuci muka. lalu bergegas kedapur untuk memasak karena ia memang terbiasa membuat sarapan dari dulu. setelah selesai ia naik lagi ke kamar untuk mempersiapkan baju Bara, lalu ia gantung lengkap dari kemeja jas dasi bahkan pakaian dalam bara sudah ia siapkan, lalu ia pergi mandi.


ia keluar toilet dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. dengan segera ia memakai seragam kerjanya dan memoles wajah cantiknya. seragam Meera sangat Press body. menujukan bentuk tubuhnya yang sempurna. jelas saja ia menjadi terkenal diantara karyawan pria disana.


setelah itu ia membangunkan Bara.


"Baraa.. bangunn ayo sarapan" berulang kali ia mencoba membangunkan Bara namun tidak direpson sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 7, Ide jail Meera muncul . ia memencet hidung Bara.. ia pun tertawa terbahak-bahak ketika melihat Bara kaget dan segera bangun dari tidurnya karena tidak bisa bernafas.


"jangan menggodaku pagi-pagi" kata Bara serak khas bangun tidur


"siapa yang menggoda, kamu di bangunin dari tadi gak bisa kok, ayoo cepat bangun kita sarapan" kata Meera masih sedikit menahan tawa


Bara keluar toilet dan melihat pakaian yang disiapkan istrinya. ia tersenyum senang melihatnya, sedangkan Meera sudah menunggu dimeja makan.


"lain kali nona tidak perlu memasak. biar saya saja non" kata pelayan disana karena sungkan majikannya memasak sendiri


"hmm biasa aja bi, aku sudah terbiasa" jawab Meera sopan


tak lama Bara turun dan duduk di samping Meera.


"Bara aku berangkat sendiri ya, aku takut kalau dilihat orang kantor kita berangkat bareng" kata Meera.


"hmm.. tapi masih dalam pengawasanku, smentara pilihlah salah 1 mobil di garasi yang kau suka. pakai itu, hari minggu kita beli yang baru untukmu" Kata Bara sambil menyelesaikan makannya. meera hanya mengangguk manut karena ia tak ingin bertengkar dan sangat menghindari namanya pertengkaran.

__ADS_1


di kantor Meera kembali dengan pekerjaan yang begitu menyita waktunya. namun tiba-tiba Shinta menghampirinya. "eh meer tau gak senior yang seenaknya sama kita kmarin sudah dipecat"


"masak sih" tanya Meera kaget. bagaimana bisa senior yang seperti dianak emaskan oleh menejer sampai dipecat


"iyaa sepertinya ada yang mengadukan kepada Presdir, karena asistennya yang galak itu sendiri yang langsung memecatnya" sambung Shinta


jangan-jangan benar Bara yang melakukannya, aahh bodoo amat lah bukan urusanku...Batin Meera


di ruangan rapat Bara sedang memimpin Rapat dengan serius dan memyimak presentasi yang disajikan dengan teliti, disampingnya tentu ada Adit yang setia menemaninya ia tak menerima kesalahan sekecil apapun di dalam pekerjaanya. karena memang tuntutan yang diberikan sesuai dengan penghasilan yang mereka dapatkan.


Bara sedang mengembangkan bisnis tambang minyaknya di salah satu daerah. Hampir selesai pembangunannya dan akan segera beroprasi. Proyek besarnya ini sangat menyita waktunya beberapa bulam terakir. hingga diputuskan akan meresmikan Tambangnya itu minggu depan dan akan segera beroprasi seminggu setelahnya. Ia tak sempat menghubungi Meera, karena seharian ini ia memimpin Rapat di beberapa tempat, ia pulang larut malam. sedangkan Meera menunggunya di ruang depan sambil melihat youtube di ponselnya.


"kau belum tidur? kenapa malam-malam ada di teras?" tanya Bara menghampiri Meera


"aku menunggumu" jawab Meera sambil mengambil alih jas bara yang tadi di lepas Bara, lalu mereka jalan menuju kamar dan Bara segera mandi. Meera menyiapkan baju Bara.


setelah itu Meera mengambilkan makanan untuk Bara dibawanya ke kamar mereka dengan segelas teh hangat.


"makanlah, kau pasti lapar" kata Meera menatap Bara


Bara senang dengan perlakuan Meera. ia berusaha menjadi istri yang baik. meskipun jelas meera masih terlihat ragu padanya. Bara makan ditemani Meera. setelah menyelesaikan makannya Bara menuju ruang kerja disamping kamarnya. meera yang baru saja dari dapur pun mengikutinya ke ruang kerjanya. Meera masuk melihat-lihat semua buku yang terpajang rapi disana. ada beberapa lukisan juga dan sepertinya mahal. Bara yang melihat istrinya berjalan-jalan di ruangannya tak melarangnya. ia fokus pada laptopnya. jam sudah menunjukan pukul 22.00 meera mulai merasa ngantuk. ia pun berkata pada Bara. "Bara, sudah dulu kerjanya aku ngantuk, ayo tidur"


Bara yang memang sudah selesai dengan pekerjaannya pun melangkah keluar dengan menggandeng tangan Meera. saat sudah di ranjang Bara tau Meera belum tidur. ia lalu menarik Meera kedalam pelukannya dan mencium bibir Meera, Meera tidak menolak tapi karena ia sudah ngantuk ia tak membalasnya, tetapi ketika Bara mendekatkan bibirnya ke dada meera, Meera pun protes "jangan Bara, geli"


Bara tersenyum. tak menghiraukan Meera. ia menyesap leher meera hingga meninggalkan 2 Kissmark di dada Meera yang tampak jelas. setelah selesai ia mengangkat kepalanya dan mencium kening Meera.


"aku minggu depan ada urusan bisnis ke luar daerah, kau dirumah atau ikut?" tanya Bara.


"dirumah saja. aku harus kerja" kata Meera.

__ADS_1


"baiklah, ayo tidur" jawab Bara lalu memeluk tubuh Meera dan mereka akirnya tertidur.


__ADS_2