
Mala m itu, Basri duduk sendiri di beranda rumahnya, menatap bintang-bintang dengan mata nanar. Tangan kanannya menopang dagu dan tangan kirinya menopang siku kanan. Melihat raut wajah dan gayanya saat ini, setiap yang melihat pasti bisa menebak, lelaki bertubuh gemuk i itu sedang berpikir serius atau sedang melamun menuju langit yang ketujuh.
Ya, Basri memang sedang memikirkan sesuatu yang belakangan ini terasa mengganjal di hatinya. Sesuatu yang kadang membuatnya tertegun lama dan hanvut dalam lamunan panjang. Dan ia tak pernah bisa menemukan jawaban atas lintasanlintasan hatinya yang sangat mengganggu itu. Sampai-sampai tidurnya pun mulai terasa tidak nyaman belakangan ini.
Laila, itulah nama wanita yang mengganggu perasaan Basri. Wanita jelita yang telah tiga bulan resmi menjadi istrinya. Wanita yang menjadi impian seluruh lelaki lajang di kampung ini. Bahkan yang sudah punya istri pun tak jarang berpikir untuk menceraikan istrinya begitu melihat Laila. Atau setidaknya menyesal, mengapa baru sekarang mereka mengenal Laila, setelah mereka menikah dengan wanita lain yang tentunya tak secantik Laila.
Laila dan kakeknya, Kiai Sholeh, memang baru beberapa tahun ini tinggal di kampung Batu Tapak i tersebut. Sebelumnya, mereka tinggal di kampung Bukit Putih, kampung istri Kiai Sholeh. Mereka pindah ke kampung ini tepat beberapa minggu setelah kematian orang tua Laila akibat gempa yang melanda Bukit Putih. Begitu kira-kira sejarah singkat Kiai Sholeh dan cucunya yang jelita itu.
Maka tak heran, ketika orang-orang tahu bahwa Basri berhasil mendapatkan Laila, komentar bernada protes bermunculan dari bibir kaum lelaki. Jelas mereka tidak rela, Laila yang begitu jelita itu dinikahi oleh lelaki bertubuh gemuk, pendek, dan berwajah pas-pasan seperti Basri. Tika diibaratkan ke dunia pewayangan, Basri dan Laila di mata l mereka terlihat seperti pasangan Bagong dan Dewi Sinta. Benar-benar tidak pantas. Mengusik rasa keadilan dan keindahan, kira-kira demikian penilaian para lelaki itu.
Namun, Basri dengan penuh kesyukuran tetap melenggang tenang mengarungi bahtera barunya bersama Laila yang juga terlihat bahagia. Yang ada dalam pikiran Basri waktu itu hanyalah bahwa Allah itu Mahaadil. Ia yang sejak kecil telah yatim piatu dan selalu didera penderitaan, tak pernah mengeluh atau menyesali nasibnya. Sangat wajar jika kini Allah memberinya sebagian dari karunia-Nya sebagai imbalan atas kesabaran dan keikhlasannya, begitu ia beranggapan.
Tapi, kebahagiaan itu tidak lama dinikmati Basri. Setelah tiga bulan menikah, ia mulai dihantui oleh perasaan gelisah. Ia mulai berpikir ada yang ganjil antara ia dan Laila. Ya, ia hanyalah seorang pemuda dengan bentuk fisik yang jauh dari menawan. la juga hanya salah seorang anak angkat Haji Musa, imam masjid di kampung tersebut.
Adapun Laila, ia adalah gadis yang secara fisik sangat memesona. Meski gadis itu selalu menutup tubuhnya dengan baju panjang dan kerudung rapat, tetap saja mengundang lirikan kekaguman dari kaum lelaki yang melihatnya. Wajar jika Kiai Sholeh selalu melarang cucunya itu bepergian sendiri. Fitnahnya terlalu besar, demikian lelaki tua itu beralasan.
Dengan perbedaan yang begitu mencolok, bagaimana pernikahan antara ia dan Laila bisa terjadi? Dari sisi Basri, jelas ia sangat bahagia mendapatkan gadis secantik dan sebaik Laila. Tapi dari sisi Laila? Tidakkah gadis itu justru tersiksa seperti yang dibayangkan orang-orang sekampung? Jangan-jangan Laila dipaksa oleh Kiai Sholeh untuk menerima lamarannya waktu. Sebab, Kiai Sholeh sangat sayang padanya, dan Basri pun sudah menganggap lelaki tua itu seperti kakeknya sendiri.
Basri memang sering datang ke rumah Kiai Sholeh untuk belajar kitab gundul atau sekadar berbincang bincang tentang agama. Tapi sungguh, waktu itu, ia tak pernah berniat mendekati Laila. la sadar, Laila bukanlah gadis yang diciptakan untuk menjadi pendampingnya. Maka, ia pun selalu berpaling tiap kali bertemu gadis itu, takut hatinya terbang melihat senyum Laila. Dan lebih takut lagi jika ia jadi berkhayal memiliki pendamping seperti itu.
Tapi, takdir ternyata berkata lain. Laila kemudian benar-benar menjelma di sisinya, menjadi permaisuri di kerajaan hatinya. Dan, ia pun tibatiba seperti berubah menjadi seorang pangeran yang berbahagia. Tak terhitung berapa kali ia melakukan sujud syukur atas anugerah itu, anugerah yang tiga bulan kemudian malah membuatnya berubah menjadi seorang pelamun.
Ya, kini ia lebih sering melamun. Tak hanya di beranda rumahnya yang sederhana, tapi juga ketika mengajar anak-anak mengaji di masjid. Bahkan, Haji Musa sempat menegur saat melihat ia melamun waktu menunggui toko kue milik ayah angkatnya itu. Dan, orang-orang mulai curiga melihat perubahan Basri belakangan ini. Bisik-bisik pun terdengar dari mulut ke mulut. Apa lagi kalau bukan mengenai isu keretakan rumah tangganya. Ah, suara suara sumbang itu kian meresahkan hati Basri.
Rasanya ia semakin sadar bahwa ujian berupa kenikmatan jauh lebih sulit menjalaninya dibanding ujian penderitaan. Wajar jika banyak orang yang tergelincir di dalamnya. Dan kini, ia sendiri mengalaminya. Telah bertahun-tahun ia hidup susah, tak sekalipun ia mengeluh. Tapi, ketika kini ia mendapat karunia berupa istri yang sangat cantik, tiga bulan saja telah membuatnya mengeluh lahir batin.
"Bang, coba ke sini sebentar!" panggil Laila malam itu. Wanita jelita itu sedang duduk di beranda rumah, menikmati indahnya malam. Perlahan, Basri mendekat dan duduk di samping istrinya dengan mulut bungkam.
"Belakangan ini, Abang sudah jarang menemani Laila duduk menatap bintang, Dulu, Abang bilang, ke mana pun Putri Laila pergi, Pangeran Khais akan selalu menemaninya. Iva, kan? Lalu, kenapai sekarang sang Pangeran mulai jarang menemani sang Putri? Apakah Abang sudah tak suka bintang?"
Basri masih diam tak menjawab. Ya, Tuhan, andai saja Kau mau mengubah hamba menjadi seorangi pangeran tampan untuk beberapa detik saia, kebahagiaan ini pasti bisa hamba nikmati, batinnya merintih.
"Hei, Abang kenapa? Apakah Abang sakit?" tanya Laila cemas. Direngkuhnya lengan suaminya penuh perhatian.
__ADS_1
Basri pun kian membisu.
"Sekarang, coba Abang lihat bintang yang di timur itu! Indah sekali, bukan? Cahayanya lebih gemerlap dibanding bintang yang lain. Ia seperti kebanggaan langit terhadap bumi." Laila menunjuk sebuah bintang dengan jarinya yang lentik.
Basri menelan ludah.
"Laila ingin bintang itu jadi milik Laila seorang, Bang. Dan Laila yakin, jika kelak Laila masuk surga, Allah pasti akan memberikan bintang itu untuk Laila."
Basri masih diam seribu bahasa. Bahkan, untuk menatap wajah Laila yang menjulang anggun di sampingnya, ia pun merasa berat. Ah, mengapa ia baru sadar bahwa pernikahan ini membuatnya terlihat tolol dan tak berharga? Mengapa waktu Kiai Sholeh meyakinkannya tiga bulan yang lalu, ia tak sanggup menolak? Ia malah merasa begitu tersanjung dan langsung terbang ke awan. Dasar bodol! Tak tahu diri! Kini, ia memaki dirinya sendiri.
"Abang! Kenapa diam terus?" Suara Laila merajuk.
"Abang sudah tak suka lagi menemani Laila, ya? Abang sudah bosan mendengar Laila bercerita tentang bintang-bintang? Tentang surga yang indah dan tentan..
"Dik Laila.." Suara Basri akhirnya keluar juga. Tapi, wajahnya malah menunduk dalam. Sementara Laila menatapnya heran, mengapa suara suaminya terdengar sendu begitu? Perlahan dilonggarkannya rengkuhan tangannya di lengan Basri.
"Abang kenapa?"
Basri menarik napas berat. "Abang merasa bersalah."
"Kenapa dulu Abang nekad melamar Dik Laila dan kenapa Abang percaya begitu saja ketika Kiai Sholeh meyakinkan Abang akan pernikahan ini."
Laila tertegun.
"Seharusnya Abang sadar bahwa pernikahan ini adalah sebuah siksaan bagi Dik Laila. Yang pada akhirnya akan menjadi siksaan juga bagi Abang karena melihat Dik Laila menderita. Dik Laila. Abang tidak pantas untuk Dik Laila. Sangat tidak pantas!"
"Abang bicara apa? Istighfar, Bang!" seru Laila dengan mata membulat.
"Apakah Dik Laila tidak melihat betapa jauhnya perbedaan kita?" Kalimat lelaki itu mulai terbawa emosi. "Apakah Dik Laila tidak melihat buruknya sosok lelaki yang menjadi suami Dik Laila ini? Sangat bertolak belakang dengan Dik Laila yang cantik rupawan. Lihatlah, Dik! Kita bukanlah pasangan Pangeran Khais dan Putri Laila seperti dalam cerita-cerita. Sebab, Abang tak pantas menjadi seorang pangeran!" la menutup mukanya dengan telapak tangan.
Laila terpana tak percaya.
"Dik Laila tak kan pernah bisa mencintai Abang sebagaimana layaknya seorang wanita mencintai laki-laki. Itu tidak mungkin!" Tubuh lelaki itu bergetar menahan goncangan di dadanya.
__ADS_1
Bibir Laila juga bergetar. Inilah yang dikhawatirkannya. Suaminya mulai kehilangan rasa percaya diri. Jika pernikahan mereka kandas, sungguh ia kecewa. Ia akan kehilangan kesempatan emas untuk membangun mahligai di surga. Sejak dulu, ia selalu percaya pada apa yang dikatakan kakeknya bahwa memiliki seorang suami yang saleh adalah langkah awal untuk meraih surga. Dan bersabar atas segala kekurangannya adalah langkah selanjutnya.
"Jika kau bisa menjalaninya dengan ikhlas sampai akhir hayat, insya Allah surga adalah balasan yang pantas bagimu," ujar kakeknya waktu itu. Dan Laila sangat percaya akan hal itu.
"Bang, maukah Abang mendengarkan Laila?" tanya Laila sesaat kemudian. Basri hanya diam, tetap menutup mukanya.
"Jika Abang mengukur cinta Laila secara fisik, itu artinya Abang juga mencintai Laila hanya sebatas fisik. Tahukah Abang bahwa Abang telah salah memaknai cinta kita. Dan sungguh, ini membuat Laila kecewa. Laila tidak menyangka Abang sepicik itu. Karena ketika Laila memutuskan untuk menerima lamaran Abang, pada saat itu Laila merasa telah menerima lamaran seorang lelaki saleh, yang kemuliaannya kelak bisa Laila banggakan di hadapan Allah dan para malaikat."
Hening. Basri tetap dalam diamnya.
"Laila yakin, cara Kakek meyakinkan kita tidak berbeda. Beliau sama-sama membukakan mata hati kita untuk melihat hakikat cinta yang sesungguhnya. Dan, Laila semakin vakin ketika mendapati Abang tak pernah melewatkan satu malam pun tanpa bertahajud. Tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa menamatkan satu juz Al-Qur an. Dan, tak pernah pula melewatkan hari Senin dan Kamis tanpa puasa sunnah. Lalu, salahkan jika Laila seperti melihat surga di sisi Abang.. dan ingin meraihnya?" Suara Laila tetap bening meski jelas kesedhan mewarnainya.
Basri mulai terguncang dari diamnya.
"Di kampung ini, tak seorang pun pemuda yang seperti itu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia, bahkan tak jarang dilumuri dosa. Hal itu membuat Laila vakin bahwa memang Abanglah yang telah diutus Allah untuk menjadi pendamping Laila. Dan kini..? Setelah kita mulai melangkah, tiba-tiba Abang ingin berbalik arah.
Abang ingin menghentikan langkah kita vang begitu manis. Abang benar-benar membuat Laila kecewa.... Kalimat wanita itu mulai tersendat dihadang tangis.
"Jika Abang bisa bersyukur atas segala kelebihan Laila, lalu mengapa Laila tidak boleh bersabar atas segala kekurangan Abang? Laila tahu, Abang bukanlah lelaki yang gagah dan tampan seperti seorang pangeran. Tapi bukan itu yang membuat Laila melabuhkan cinta pada Abang. Lagi pula, apalah artinya seorang pangeran jika ia tak mampu mengantarkan Laila ke surga? Laila "
"Cukup, Dik..! Jangan teruskan lagi," potong Basri parau. Perlahan, ia mengangkat kepalanya.
Dicobanya memandang wajah jelita yang terlihat sendu itu. Mata indahnya mulai digenangi air bening. Ah, sungguh Basri tak tega melihat Laila menangis. Digenggamnya jemari lentik Laila sambil menenangkan guncangan di dadanya sendiri. Dan untuk beberapa jenak, mereka hanya saling
membisu, menenangkan hati yang sempat dibawa oleh arus yang berpusar entah ke mana.
"Abang memang salah. Abang larut dalam keraguan yang memperdaya, hingga makna cinta itu bergeser dari tempatnya." Akhirnya, Basri memecah keheningan setelah mengembuskan napas panjang. "Hampir saja Abang berbuat khilaf. Tap untunglah Abang didampingi oleh seorang wanita penghuni surga seperti Dik Laila."
Laila menghapus air matanya."Abang sungguh sungguh tidak akan berpikir seperti tadi lagi?"
Basri mengangguk pelan. "Ya. Sebab, Abang tidak ingin Dik Laila kehilangan bintang itu," jawabnya sambil menunjuk ke arah timur.
Laila tersenyum lega. Ditatapnya wajah Basri yang tengah menengadah memandang langit. Ah, andai saja ia tahu bahwa sinar bintang itu tak lebih indah dari gemerlap wajahnya.., batin Laila berbisik kagum.
__ADS_1
"Bang, tahukah Abang bahwa sebenarnya Laila telah memiliki satu bintang yang begitu gemerlap? Dan, Laila tak lagi menginginkan bintang di atas sana. Biarlah ia tetap menjadi kebanggaan langit. Selamanya," ujar Laila sambil kembali merengkuh lengan suaminya penuh sayang.
"Benarkah?" Basri menatapnya heran. Laila hanya tersenyum penuh arti. Dan sungguh, tak ada lagi yang perlu dijelaskan.