Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
anugrah terindah


__ADS_3

keesokan paginya Meera bangun sedikit pusing. Meera segera membersihkan diri. dan mencari keberadaan suaminya. namun nihil tidak ada dirumah. Dan pelayan juga tidak tahu kemana perginya Bara.


mengingat ini jam kerja. Meera segera bersiap-siap untuk kekantor. berharap ia akan bisa menemui Bara.


sedangkan di apartemen Bara masih sibuk dengan pikirannya. ia tak pernah bisa mengendalikan dirinya jika menayangkut tentang istri tercintanya itu. Ia berangkat sendirian kekantor agak siang. Ia tak bisa menemui Meera dulu karena emosi yang masih belum padam ia tak mau melukai Meera seperti semalam.


"aashh.. perih sekali" desah Meera merasakan telapak kakinya yang terkadang masih mengeluarkan darah karena serpihan kaca itu


Meera dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya lalu setelah pukul 15.00 Meera naik keruangan Bara


"bagaimanapun aku harus minta maaf" kata Meera.


sesampainya di luar ruangan Bara. hanya ada sekretaris Bara diluar. mereka mengatakan bahwa Bara tidak ada di dalam. sedang ada rapat diluar. Meera pun menunduk lesu lalu kembali keruangannya.


hingga 4 hari Bara masih tak menghubunginya dan Bara juga tak menemuinya. Hati Meera kosong saat itu juga.


"semarah itukah kau kepadaku, seberat apa kesalahanku sampai kau memperlakukanku seperti ini Bara" batin Meera. lagi-lagi Bara menjadi alasan Meera menumpahkan air matanya.


didalam malam yang gelap dan sepi Meera masih setia menunggu Bara di ruang tamu. berharap malam ini Bara akan pulang. namun hingga waktu menunjukan pukul 01.00 dini hari Bara masih tak kunjung pulang. Akirnya Meera pun pergi kekamarnya dan merebahkan tubuhnya sambil terus terisak. entah mengapa akir-akir ini ia menjadi begitu cengeng dan mudah sekali menangis.


H-1 ulang tahun Bara. Meera begitu sedih mengingat Bara terus menghindarinya. bahkan Shinta juga merasakan kesedihan Meera.


di sela-sela jam kerjanya. tiba-tiba ponselnya berdering dan Meera membukanya. alangkah senangnya setelah sekian lama Bara mengabaikannya akirnya Bara menghubunginya lagi.


"keruanganku" pesan Bara.


Meera dengan segera berlari menuju keruangan Bara namun ditengah jalan ia merasakan mual luar biasa hingga ia berbelok menuju ke toilet.


"huuekkkkkkkk..... Meera kini merasa pusing yang teramat sangat.


Meera menuju ke unit kesehatan sebentar untuk meminta obat. ia merasa masuk angin karena semalaman ia menunggu Bara.


setelah meminta obat dan meminum obat masuk angin Meera berjalan menuju ke ruangan Bara lagi.


sesampainya di depan ruangan Bara. Meera langsung di bukakan pintu oleh Adit.


Meera mematung berdiri didepan Bara karena Bara masih juga belum membuka suara.


"astaga.. aku tak mau di diamkan suamiku hiks hiks..." batin Meera.


Bara berjalan kedepan Meera. tanpa di sadari Meera mundur 1 langkah dan hal itu berhasil memancing Bara.


"maaf..." kata Meera menundukan kapalanya


"kau tahu apa salahmu?" tanya Bara.


"eemm.. aku melupakan.. emmmmmmbbbbbb" belum selesai Meera berbicara bibirnya sudah dilumat kasar oleh Bara.

__ADS_1


Bara bukan tidak menemui Meera. Bara selalu datang setiap hari kepada Meera namun Bara datang ketika Meera sudah terlelap. Bahkan penghuni rumah lainnya juga tahu. tapi Bara meminta untuk semuamya diam. Bara selalu mendapatkan kabar apakah meera sudah tidur. sudah makan atau lagi apa dia dirumah.


setiap malam Bara mendatangi dan mencium meera ketika tidur. Bara juga tak tega. namun ia ingin memberikan pelajaran pada Meera. tidak ada yang boleh mendapatkan perhatiannya kecuali dia Suaminya.


ia juga melihat Meera menangis hampir tiap malam. Bara merasa Meera kini benar-benar menyadari kesalahannya. ia pun ingin segera mengakhiri hukuman itu.


Bara menarik Meera kekamar pribadinya. Meera hanya menurut saja hingga akirnya ia tak tahan dengan nafasnya yang tersengal ia pun mendorong dada Bara.


"aku tak bisa bernafas" kata Meera sambil mengusap bibirnya.


"itu yang kurasakan ketika kau memperhatikaan pria lain" kata Bara.


"aku hanya menolongnya. kenapa kau begitu marah padaku"


"kau menyentuhnya"


"aku membantunya!"


"kau melindunginya"


"aku hanya menolongnya Bara. dia hampir mati di kepung preman sialan saat itu kenapa. emmmmbbbbbhhh" Kata-kata Meera terpotong lagi ketika Bara mendorongnya terlentang di Ranjang dan menindihnya lalu menyerang bibirnya kasar. Meera meronta-ronta dibawah kungkungan Bara.


"Bara kita sudah sama-sama dewasa. bukan seperti ini caranya menyelesaikan masalah!!" kata-kata Meera ketika berhasil melepaskan serangan Bara.


"kau membelanya?"


"Bara kumohon jangan seperti ini. aku pasti akan menyerahkan diriku padamu. tapi jangan dalam keadaan emosi seperti ini hiks.. " kata Meera yang tiba-tiba menangis.


"bahkan kau tidak mau ku sentuh"


"tidak Bara. tidak seperti itu.. hiks.. aku mau. aku mau Bara tapi jangan emosi seperti ini.. kau bisa menyakitiku.. hikss" meera terus menangis di bawah kungkungan Bara


"bahkan kau menyebut namaku. lupakah kau harus memanggilku apa?" kata Bara yang juga tengah dilanda emosi.


"hikss... iya sayang maaf... aaaaww..." Teriak Meera ketika Bara membuka paksa rok Meera. dan kini Bara memaksa Meera untuk melayaninya. Meera menangis sejadi-jadinya. ia tak mau disentuh dengan emosi seperti ini.


Bara menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Meera. Meera merasakan perutnya sangat sakit ketika Bara menghujaninya.


"aaakkhhh.....sakiitt Bara sakiittt" teriak Meera namun Bara tak memperdulikannya. Meera meremas seprai di bawahnya kuat-kuat.


Bara menghukumnya benar-benar menggila kali ini. Mata Meera sudah bengkak karena menangis sedari tadi. Tubuh Meera sudah sangat lemas. ia tak bisa menandingi kekuatan birahi Bara yang begitu besar. Bara menuntaskan hasratnya dan menyemburkan benihnya yang begitu banyak kerahim Meera. Meera hanya bisa merasakannya sambil terus terpejam. badannya Remuk rasanya.


Melihat istrinya terkulai tak berdaya. Bara memeluk istrinya dan mengecupi ujung kepala Meera.


"ingatlah Meera aku tak mau kau menyentuh pria lain apapun alasannya. kau miliku Meera. aku mencintaimu. jangan membuatku emosi lagi. tolong mengertilah" kata Bara lembut sambil mengelus punggung Meera. Meera mendengarnya namun tak merespon. ia tak punya tenaga sama sekali kali ini. merasa kan perutnya sangat sakit Meera meringis kesakitan. sedangkan Bara segera memakai bajunya dan pergi meninggalkan Meera. karena akan ada meeting setelah ini.


dengan sisa-sisa tenaga Meera menuju ke lemari. ia tahu disana ada beberapa stel pakaiannya yang disiapkan Bara. Ia memakainya lemas. Meera menahan perutnya yang sakit sedari tadi. sebelum keluarr dari kamar Bara Meera mengirim pesan pada Shinta.

__ADS_1


"Shin.. tolong aku, tolong antarkan aku ke rumahsakit, aku tunggu diparkiran" pesan Meera.


Meera dengan tertatih berjalan menuju ke garasi mobilnya sambil terus meremas perutnya yang semakin menusuk-nusuk itu.


Meera duduk di kursi samping kemudi. wajahnya pucat pasi. Shinta yang melihatnya pun langsung Heboh..


"meer meer kenapa kamu... " kata Shinta yang sudah duduk di kursi kemudi. langsung melajukan mobilnya ke RS terdekat.


"apakah anda habis melakukan hubungan suami istri?" tanya dokter perempuan itu


meera mengangguk. shinta yang sedari tadi menemaninya hingga masuk keruang perawatan pun membelalakan matanya.


"aah.. lain kali anda harus menahannya dan lebih berhati-hati.. karena usia kandungan anda masih sangat rentan"


"apaaaa?????????? janin????" Meera terkaget. begitu pula Shinta.


"wah wah wah.. jangan bilang anda tidak tahu kalau anda sedang hamil 3 minggu"


shinta langsung berhambur memeluk Meera yang masih berbaring di ranjang periksa.


"alhamdulillah... meera.. kau hamillll... sebentar lagi aku akan jadi aunty..." kata Shinta masih memeluk Meera.


"aaiih.. tolong jangan terlalu Erat. kandungannya sedikit lemah. jangan banyak pikiran ya.. terus jangan telat makan. kasian calon dedeknya" kata Dokter cantik itu seraya mengelus tangan Meera.


Meera senang bukan main ia bahagia. hingga tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. hingga ia menangis haru..


"jangan lupa rutin minum obatnya. semoga dedek nya sehat selalu"


"terimakasih dok.." kata Meera..


Shinta mendadak menjadi calon aunty yang possesive. setelah meninggalkan ruang perawatan Shinta tak hentinya mengelus perut Meera yang masih rata itu. bahkan Tas dan obat-obat Meera kini Shinta yang membawakannya. Shinta juga melarang Meera untuk menggunakan sepatu pantofelnya. Shinya bahkan menyempatkan membeli sandal japit untuk Meera.


"dengarkan aku. jika sesuatu terjadi pada calon ponakanku. ku pastika aku tidak akan menyapamu seumur hidupku" kata Shinta yang masih mengelus perut Meera.


"aaaiihh. kau ini.. sudah jangan begini terus aku malu" kata Meera.


Shinta mengantarkan Meera kemansion Bara. ditengah perjalanan Meera meminta Shinya untuk menyembunyikan kehamilannya dari siapapun. karena di samping ia belum mengumumkan pernikahannya ia juga akan memberikan Surprise Bara nanti dihari ulang tahunnya. anak yang sedaru dulu di tunggunya kini hadir dirahimnya. meskipun sedikit lemas Meera tak hentinya mengusap lembut perutnya itu.. dan Shinta pun mengerti dan berjanji tidak akan memberi tahukan siapapun.


"mommy menyayangimu sayang" batin Meera


sesampainya di mansion. Shinta melongo dengan keindahan mansion itu. baru pertama kali Meera membawa orang lain masuk kerumahnya.


"gilaaa gede bener rumahmu Meer" kata Shinta masih terus memandangi keindahan rumah itu.


"aah..sudahlah. kau bawa saja mobilku nanti ya.. sekarang kita masuk dulu" kata Meera


"aku sebenarnya ingin menemanimu dulu tapi hari ini aku ada janji Meer maafkan aku ya.. dan aku naik taxi aja" kata Shinta memeluk Meera.

__ADS_1


__ADS_2