
Meera selalu memegang perutnya dan melindunginya. ia tak ingin preman-preman itu mengusik calon anaknya. Preman itu pun semain kesal di buatnya. sedangkan di luar Pasukan Lexa sudah berhasil melumpuhkan penjagaan dari preman preman itu. Lexa menembak dengan membabi buta. pistol yang di gunakannya sangatlah canggih hingga tak mengeluarkan bunyi sama sekali namun lesatan pelurunya jangan ditanya lagi.
Begitu pula Reza yang juga sudah menggila menghajar disana dan disini para preman yang begitu banyak itu. dalam pertempuran itu Lexa sebentar melirik Reza yang tengah menyerang preman preman itu hatinya pun sedikit sendu
"sepenting itukah Meera bagimu Rez. bahkan kau membahayakan nyawamu untuk Meera" batin Lexa.
setelah semua dibereskan. Lexa dan Reza merangsek masuk kedalam vila lebih dalam. ia mencari keberadaan Meera. dengan hati-hati Lexa dna Reza berjalan menyusuri vila itu. satu persatu ruangan di susurinya namun masih belum menemukan Meera hingga Lexa dan Reza naik di lantai paling atas Vila itu. Merasa suasana berubah dan semakin berbahaya. Reza yang semula berjalan beriringan dengan Lexa pun berhanti sejenak dan memegang tangan Lexa.
"kau di belakangku" kata Reza sembari menggenggam tangan Lexa. Reza hanya ingin melindungi wanita itu. namun Lexa sudah salah mengartikannya dengan lebih. Hati Lexa menghangat memandang genggaman tangan Reza. Lexa hanya menurut sambil terus berwaspada. tangannya yang satu sudah siap menarik pelatuk pistolnya jika sewaktu2 musuh menyerang.
Lexa melihat ada sebuah pintu yang sepertinya ada ssebuah kamar disana. Lexa menarik ganggaman tangan Reza lalu berkata
"Rez lihat kesana" kata Lexa sembari menunjuk pintu itu. Reza pun tanpa melepaskan genggaman tangannya langsung berjalan menuju pintu itu. setelah sampai didepan pintu itu. Reza dan Lexa terbakar api dalam dirinya.
"Aaaarrgghhh........." teriak Meera ketika wajah cantiknya ditampar oleh salah seorang preman itu. seketika bibi Meera robek dan mengeluarkan Darah. namun dari teriakan nya itu lah yang membuat Lexa dan Reza menemukannya.
tanpa ba bi bu.. Lexa yang sudah sangat geram mendengar teriakan Meera yang jelas sedang kesakitan itu pun segera ingin mendobrak pintu itu namun Reza menahannya.
"Tunggu.. apapun yang terjadi tetaplah berada di belakangku. mengerti?" kata Reza menatap Lexa.
"kau gila.. mereka menyiksa Meera. aku harus segera membunuh mereka" kata Lexa emosi.
Reza semakin kuat menggenggam tangan Lexa.
"aku harus melindungi kalian." kata Reza. Lexa pun sedikit hangat hatinya.
setelah Lexa tenang Reza melepaskan tangan Lexa dan mengecek peluru di dalam pistolnya
"masih 3. " kata Reza. Setelah itu Reza dengan sekuat tenaga menendang pintu itu hingga terbuka.
"Braaaakkkk.........!!!
3 preman didalam pun kaget dengan tamunya itu. mereka pun segera berdiri menghadap Lexa dan Reza.
Pandangan mata Reza menghitam melihat kondisi Meera yang penuh luka di wajahnya begitu pula Lexa.
"Brengsekkk!!!!.. berani sekali kau menyentuh Meera!!!" bentak Lexa tersulut emosi. Lexa hampir saja berlari menentang preman itu namun tangannya di cekal Reza.
__ADS_1
Preman itu pun mengeluarkan senjatanya. Lexa tersenyum miring melihatnya ia tak takut smaa sekali. sedangkan salah satu preman itu berjalan menghampiri Meera dan lagi-lagi menjambak Rambut Meera hingga Meera meringis kesakitan.
"aahhh..." lenguh Meera.
"Doorrr!!!" Lexa menembak kaki preman yang menjambak Meera tepat di betisnya.
"lepaskan tangan kotormu itu dari tubuh Meera!!" bentak Lexa.
"jangan ikut campur urusan kami.. pergi kalian sebelum habis nyawa kalian ditempat ini" kata salah satu preman.
Reza memicingkan matanya.
"ini pasti konspirasi" batin Reza
"bagaimana kalau kita berbisnis?" kata Reza menatap Preman itu
"aku tahu kalian dibayar. aku akan dengan sukarela membayar kalian 2x lipat jika kalian mau melepaskan Meera. dan akan ku buat 3x lipat jika kalian mau memberi tahuku siapa dalang di balik semua ini"
Lexa mendengarnya pun agak geram bagaimana bisa keadaan seperti ini Reza malah mengajak mereka berbisnis.
bukannya membalas pertanyaan Reza preman itu malah tersenyum devil langsung maju berkelahi dengan Reza dan Lexa. para anak buah Lexa. datang terlambat karena salah satu preman itu berhasil meledakan gas air mata gang lumayan banyak. hingga sedikit menyusahkan pengawal lexa. dengan mebabi buta Reza melawan preman itu hingga Reza akirnya menembak mati salah satu preman itu dari jarak yang begitu dekat. Setelah itu Reza melihat Lexa yang sedang dalam kesusahan melawan preman itu pun membantunya. Reza menembak tepat di pergelangan tangan preman itu ktika preman itu mengarahkan pistolnya kepada lexa. dna seketika pistol yang di legang preman itu pun jatuh. utung pertolongan Reza tepat waktu jika tidak mungkin Lexa tertembak. Reza menghampiri Lexa.
"kau sudah tidak apa?" tanya Reza. sedangkan Lexa hanya menganggukan kepalanya.
Meera sudah berdiri karena preman yang menahannya sudah tak berdaya sama sekali dengan lutut remuknya. tak memperdulikan betapa juga sakit dibadannya Meera harus berusaha kuat demi Anak yang dikandungngnya.
Meera mengelus perutnya "tenanglah sayang" kata Meera. Meera segera berjalan kearah Reza dengan langkah gontai. namun langkahnya terhenti ketika.
Dooorr..... suara letusan pistol itu mengenai lengan Meera.. Meera seketika mematung ditempatnya. merasakan sakit di tangannya yang begitu perih. Meera hampir saja oleng.
"Meeraaa!!!!!!!!!" teriak Reza dan Lexa bersamaan
Lexa yang melihat Meera tertembak pun dengan geram langsung menembaki preman itu dengan membabi buta.
Lexa menembak di dada di kepala dan di perut prememan itu.
"sialan!! brengsekkkk....! umpat Lexa. Seketika preman itu pun meregang nyawa ditangan Lexa. Lexa menghampiri preman itu dan menginjak kepalanya dengan sangat kasar. rasanya melihat preman itu mati belum cukup puas baginya dengan serampangan Lexa menendang kepala dada dan sekujur tubuh preman itu.
__ADS_1
sedangkan Reza segera berlari menangkap tubuh Meera yang akan terjatuh. Darah kelur banyak dari tangan Meera. Meera tak bisa berkata-kata.
"betahanlah sayang.. bertahanlah anak Mommy" batin Meera berbicara pada janin yang kini sudah memasuki minggu ke 6 itu.
Reza memeluk Meera yang terjatuh dalam pelukannya. darah yang mengalir di lengan Meera menyatu dengan jaketnya. Reza menitihkan air matany melihat orang yang ia cintai begitu mengenaskan.
"tolong..!" lirih Meera .
Reza semakin membutakan pandangannya. ia tak bisa melihat Meera seperti ini
"bertahanlah semua akan baik baik saja" kata Reza. sambil menangkup badan Meera dan hendak mengangkatnya.
"Lexa.. " lirih Meera. yang membuat Reza pandangannya beralih kepada wanita yang tengah sibuk menyiksa preman itu.
"Lexaa!!! sudah hentikannn!!" teriak Reza melihat wanita itu membabi buta tiada hentinya. Namun seakan menulikan pendengarannya. Lexa terus saja menghajar preman preman itu. bahkan bukan hanya preman yang menembak Meera tapi kali ini Lexa menembak dengan srampangan preman yang tadi hendak menembaknya itu. darah sudah mengalir kemana mana
Reza meletakan Meera melepaskan pelukannya dengan pelan lalu berdiri menghampiri Lexa dan memeluknya dari belakang.
"Lexaa.. sudah sadarlah!!!..!! kata Reza menahan Amarah Lexa.
"lepasakan akuuu Reza!!! aku belum puas menyiksa mereka!!" kata Lexa berusaha melepaskan pelukan Reza.
"meraka menambak Meera ku.. mereka menyiksa Meeraku.. aku harus menyiksanya. lepaskann!!!" teriak Lexa
"Lexaa!! aku tahu kau marah tapi lihat lah kesana Meera lebih membutuhkan bantuan kita.. kumohon hentikan kegilaan mu ini" kata Reza.
Lexa pun memandang kearah Meera dan seketika hatinya tercabik melihat sahabatnya terkulai tak berdaya. Lexa seketika Lemas dan menjatuhkan Pistolnya begitu saja.
"Meera.. Meera..." kata Lirih Lexa
merasa Lexa sudah tenang Reza melepaskan Meera lalu dengan cepat Lexa berlari ke arah Meera dan bersimpuh di samping Meera yang bersender di tembok sambil memegangi lengannya.
"Meera... " kata Lexa mengelus pipi Meera.
Reza dengan cepat menyusul mereka dan menggendong menarik Meera dalam pelukannya.
"sadarr Meera sadar.. kumohon jangan menutup matamu" kata Reza sembari mengangkat Meera dan berjalan keluar diikuti Lexa dibelakangnya.
__ADS_1