Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Suntingkan Rembulan


__ADS_3

ini bukan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tapi, malam ketiga ratus enam puluh lima hari Denai berdomisili di Ibukota, Jakarta. Berarti, selama itu pula Denai belum pernah pulang ke kampung halamannya, Payakumbuh. Ulah cinta dua mata sekian jarak, sentak menyentak.


Sebenarnya masalah jarak dan waktu bukanlah hal yang jadi penyebab, Naik pesawat Lion Airlines 299.000 rupiah, dalam waktu hanya satu setengah jam saja dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandarai Tabing. Sisanya, tambah tiga jam naik Bus Bintang Kejora Padang-Payakumbuh.


Masalah biaya? Mungkin terlalu kecil buat ukurannya. Karena Denai bekerja di sebuah Travel Agent sebagai Staff Ticketing.


"Pulanglah, Nak! Kalau kamu tak ingin bertemu tanah merah," isi singkat surat Ibu memberitahukan.


Tak biasanya lbu membuat surat sesingkat in Biasanya Ibu akan menulis dulu perihal peranga kakak-kakaknya.


Pertengkaran Mira, kakak perempuannya yang tertua, dengan suaminya. Masalah sekolah anak Mira condong ke sekolah agama, sedangkan si suami condong ke sekolah umum saja. Keduanya punya alasan yang sama kuat.


"Kalau kita masukkan ke sekolah agama, siapa tahu membalas guna ke ibu bapaknya!" begitu harapan Mira.


"Kamu selalu lebih mendengar omongan orang dari omongan suamimu sendiri. Coba kamu lihat, begitu banyak anak sekarang sekolah di sekolah agama, ibunya haji, bapaknya ustadz, anaknya malah jadi preman-preman! Sekolah agama atau sekolah umum, tiang sebenarnya di hati masing-masing Bukankah sistem belum pernah jadi jaminan?" suaminya menyuarakan keberatan.


Mita, kakak perempuannya nomor dua, yang suka berpindah-pindah tempat usaha.


"Kalau saya paksa terus membuka warung makan di Lintas Timur Sumatera, lama-kelamaan lengang tak berorang! Sepi pembeli! Kalah bersaing dengan maraknya ruko-ruko, Bu."


"peluang pasar memang harus lihai dibaca. Masalahnya kamu jauh dari agama Tuhan, kamu belakangkan, Mita!" kutuk Ibu saat itu Lain pula dengan Taufik, satu-satunya kakak yang laki-laki.


"Saya akan ceraikan dia!"


"Sedikit-sedikit cerai kamu katakan. Gampang benar kata-kata cerai di lidahmu. Makanya, sembahyanglah kamu benar-benar, Fik! Jangan tinggal-tinggal terbawa juga. Main-main kamu dengan kata-kata cerai. Itu salah satu perbuatan yang paling dibenci Tuhan!" sela lbu, saat Taufik sering mengadukan pertengkarannya dengan istrinya.


Hujan tak henti sejak pagi. Dingin menyergap sampai ke sumsum tulang. Denai merapatkan kedua Iutut di kamar kos.


Kini, kalau Ibu tak lagi bercerita perihal kakak kakaknya di surat, apakah sudah bahagia semua kakaknya sekarang? Apakah sudah belajar semuanya dari pengalaman masa lalu? Sama seperti dirinya, saat mengambil keputusan merantau ke negeri orang?


Kehadiran Bapak tiri, yang dirasakan Denai tak ubahnya si pencuri. Pencuri cinta lbu dari dirinya. Bukan! Bukan ulah itu saja yang memaksa Denai pergi jauh dari kampung halaman, Payakumbuh. Jauh dari sanak saudara, jauh dari kawan-kawan lama, jauh dari seseorang yang dirasakannya sejak i lama itu pasti cinta : ibu

__ADS_1


Baru tiga ratus enam puluh hari. Kenapa lbu menuliskan kata-kata itu? Bandingkan saat Denai menempuh kuliah selama lima tahun setengah di kota Pelajar, Yogyakarta. Selama itu, Denai hanya sekali saja pulang kampung ke Payakumbuh. Itu pun karena terpaksa.


"Kak.., Ibu sakit keras!" isi surat Ima adik tirinya lebih singkat dari isi surat Ibu saat ini. Padahal, jarak yang ditempuh lebih lama. Duai hari dua malam di atas bus ALS jurusan Yogyakarta Payakumbuh. Malah Denai masih bisa menebar senyum senang. Bisa pulang. Bertemu lbu. Sedang saat itu, Denai hanya seorang pengasong koran.


"Ah.., paling-paling Ibu sekadar rindu. Lain dari itu, tentulah tak ada," Denai menyeringai sansai.


"Jangan-jangan karena usia Ibu...? Lima puluh empat tahun, apakah sudah terlalu tua untuk ukuran manusia Indonesia? Apa Ibu sakit?" Denai makin digeluti berbagai macam pikiran. Semakin lama makin terasa menyergap seisi kepalanya Pertempuran dalam seribu satu angan angan.


"Makanya, tinggalkanlah kebiasaan minum kopil Perbanyaklah minum air putih. Biar badan lbu sehat terus!" Denai dingin di samping Ibu. Waktu itu, Ibu terkena demam tinggi. Harapannya satu ketika itu. Ibu berhenti dari kebiasaan minum kopi agak sekali saja. Itu sudah lebih dari cukup baginya dalam mencintai Ibu.


"Kamu tak tahu Denai, kalau tidak minum kopl sekali saja dalam sehari, pusing kepalaku," Ibu bersungut-sungut.


Kematian memang di tangan Tuhan, tapi apa i salahnya kita menjaga diri darinya? Pikiran Denai ternyata melayang sampai ke alam sana! Saat perpisahan Denai dengan Ibu. Orang yang paling dicintai. Tak bisa diterima akalnya sampai kini. Tapi buktinya? Perpisahan itu ternyata tak terelakkan! Baru sepekan tamat SMU. Denai ingin sepenuhnya meneruskan pekerjaannya sebagai seorang guru mengaji di surau tua ujung desa. Namanya surau Lakuak. Kalau semasa SMU, Denai mengajar anak-anak desa mengaji terkesan hanya sekadar sambilan. Denai harus membagi waktu antara belajar, sekolah, membantu Ibu dan Bapak tirinya bekerja di sawah. Tapi kini, tentu telah berkurang satu. Senang sekali hati Denai saat itu.


Keinginannya menjadi seorang guru mengaji mulai punya banyak waktu dalam mewujudkannya Benar-benar membahagiakan. Saat-saat kita dapat membagi apa yang ada di kepala ke orang lain. Inilah bisik hati Denai bilamana anak-anak desa kini telah banyak yang pintar membaca qur'an di surau Ber-alif-ba-tsa tiap pagi dan sore hari bersama anak-anak desa, benar-benar dirasakannya adalah hakikat hidupnya sebagai manusia. Ketika kita bisa memberikan sesuatu yang baik pada sesama! Ini prinsip hidup Denai saat itu.


"Besok, kalau saya lihat juga kamu mengajar mengaji di surau, saya takkan segan-segan menyeret paksa kamu di tengah anak-anak itu," Ibu tampak muak.


"Apa salah, Bu, saya mengajar mengaji?" Denai membuka lembaran Tafsir Al-Azhar yang sering kali dibacanya.


Denai bergeming diserang kata-kata lbu. Walau sekolah agama bukan latar belakangnya, tapi ketika dicobanya untuk memahami kevakinannya secara i kaffah, apakah salah? Denai tak patah arang. Semua ucapan Ibu bukanlah penghalang. Berjenggot lebat meng gantung, dipadu gamis putih yang disebut-sebut Ibu baju datuk-datuk itu, Denai melenggang tenang ke surau Lakuak. Layaknya suasana peribadatan lainnya, Khusuk dan tenang. Denai memulai pengajian sore itu dengan bercerita dulu. Anak-anak desa tampak siap sekali mendengar cerita dari guru mengajinya, yang mereka sebut dengan panggilan "ustadz"


"Kali ini, Ustadz akan bercerita tentang berbakti kepada ibu-bapak. Namun sebelumnya, Ustadz akan bertanya dulu, masih ingatkah adik-adik cerita tentang Malin Kundang!?"


"Denai.. Denai!? Turun kamul Pulang.. pulang" jerit Ibu bergegas melompat hijab pembatas laki-laki dan perempuan yang terbuat dari papan triplek bercat hijau, Seketika Ibu telah berada di hadapan Denal.


"Kamu tak mengerti apa yang saya katakan dari rumah? Anak tak patuh!" Ibu langsung menarik paksa kedua lengannya dari atas podium menyeret paksa ke luar surau. Mulut Denai terkatup. Denai mengikuti langkah demi langkah kaki lbu. Matanya kosong menyisir seisi surau. Sedang anak-anak desa melihat pemandangan yang tak biasa ini memias dingin. Mereka saling berbisik ke sesama teman sebelahnya. Kenapa ada seorang ustdaz, malah membuat marah ibunya? Tentulah Denai kini telah menjelma jadi Malin Kundang yang sesungguhnya, dibenak anak-anak desa. Denai anak pelawan! Denai tentulah anak durhaka! Sesampai di rumah, naik darah Ibu malah makin bertambah-tambah.


"Membuat malu saya saja kerjamu!"


"Bu.. Dena.. "Diam! Membantah kalau saya katakan!"

__ADS_1


"Satu sabun mandi tak terbeli dari kerja kamu mengajar mengaji itu! Belum lagi kata-kata orang desa di tepian mandi, di sawah, di ladang, di pekan tentang kamu!" Denai kelu.


Tertunduk dalam mata berkaca-kaca Romannya memias pasi. Tak mengerti, apa se. sungguhnya kata-kata orang desa tentang dirinya selama ini?


"Seperti anak tak beribu bapak kamu rasanya. Padahal, dari kecil saya di besarkan sampai kamu tamat sekolah pula. Bapakmu bekerja keras, kadang kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, demi menyekolahkanmu. Kamu malah bertingkah seperti anak-anak dagang, Merantau ke negeri orang, tak beribu bapak. Lalu, menawarkan diri mengajar mengaji di masjid-i masjid atau di surau-surau seperti ini. Kemudian orang-orang desa akan kasihan, memberiini-tu Apa itu cara kamu mempermalukan saya!?" Denai tak tahu, bagaimana lagi caranya meng hadapi Ibu. Denai tak mengerti bagaimana cara berpikir Ibu? Maka, Denai terus saja membatu.


"Pergilah kamu dari atas rumah ini! Kamu sudah besar, baik buruk kamu tahu!" Ibu berlalu memerah muka. Bergelut dengan pikiran sendiri. Tak tahu ke mana tempat mengadu. Denai akhirnya tepekur dalam buncahan air mata di sajadah panjang menjelang sepertiga malam. Sama seperti sepertiga malam yang lalu-lalu. Denai sempurna menumpahkan semua asa dan rasa pada-Nya.


Bedanya, kata-kata Ibu yang terakhir tadi terus menyengat di ulu hati. Tanpa banyak pertimbangan lagi. Denal memutuskan benar-benar angkat kaki. Berangkat esok harinya. Saat matahari sepenggalan naik.


"Ya Tuhan, Ibu... Ibu... Ibu!" sepenggal kata berkelebat hebat yang mengundang duka makin mendalam di hati. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, tak berlaku buat Denai. Perpisahan dengan Ibu benar-benar dirasakannya seakan berada di kehidupan baru. Kehidupan yang jauh dari terkaman pikiran-pikiran singkat Ibu. Sebagai selama ini. Selalu mencipta air dan api, di antara merekai berdua.


Keduanya kini telah berjauhan. Mungkin dengan cara begini, Ibu menemukan arti hidup dengan cara mengubah berpikirnya? Lagi pula, selama ini, Denailah tempat yang paling tepat buat Ibu mengadukan segala keluh kesah.


"Tuhan benar-benar adil, Bu! Dia tak pernah mencipta sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada hikmah dibalik semua itu!"


Denai kembali memias dingin seorang diri di kamar kos. Mengingat masa-masa di pematang sawah bersama lbu menunggu sawah ladangnya. Bagaimana Denai bisa menamatkan sekolah sampai SMU? Sedang adik-adik tirinya sekolah pula empat orang. Biayanya hanya dari Ibu berjualan sayur. Sedang Bapak tiri hanya petani, yang bekerja untuk sawah ladang orang. Kalau bukan kuasa Tuhan, tak mungkin hidup ini akan berjalan, simpul pikiran Denai suatu ketika.


Hampir menjelang petang. Hujan tiada kunjung mereda. Sebentar lagi, malam akan mengantarkan kelam pula. Surat Ibu makin digamitnya erat. Denai harus memutuskan malam itu, jadi atau tidak pulang menemui lbu. Mengapa Ibu sedari dulu hanya sekadar rindu? Tak lebih dari itu. Mengapa lbu tak pernah bertanya tentang pekerjaannya? Tentang kuliahnya? Padahal cutinya telah masuk semester keempat pula! Tentang tempat tinggalnya? Tentang tak ingin Ibu bermenantu baru? Dua puluh lima tahun, sudah pula berlalu setahun lalu! Denai tiada akan memulai menanyakan semua itu pada lbu. Toh, selama ini, keputusan-keputusan hidup yang diambilnya sering didapatkan jawabannya di atas sajadah panjang. Ketika rembulan jatuh di pelataran. Menjelang sepertiga malam. Saat malam menyunting rembulan. Denai khidmat mendekat pada-Nya.


Tak semua orang mengalamiitu. Mungkin ukuran cinta pada-Nya yang jadi penentu, bukan bentuknya. Karena antara ukuran dengan bentuk sering kali,menipu. Maka, malam menyuntingkan rembulan adalah pertemuan teristimewa yang selalu dinantikan Denai. Pernah pula bu mengatakan di surat sebelumnya. Ibu akan menyusulnya ke rantau kalau ia tak jua pulang kampung ke Payakumbuh. Untung, dl sepertiga malam, saat malam menyuntingkan rembulan, Denai mendapatkan jawaban. Denai percaya, semua itu adalah emosional Ibu belaka. Takkan pernah nyata adanya.


Dari situ, Denai mulai belajar bahwasanya emosional sesaat Ibu sering meluluhlantakkan apa vang ada. Tetapi, untuk isi surat ini, Denai akan menunggu sepertiga malam lagi. Saat malam menyuntingkan rembulan. Saat-saat Denai dapat mengenang semua.


Mulai perihal semua kakaknya yang mementingkan diri masing-masing. Bapak tiri sejak hadir di kehidupannya tak ubahnya patung batu. Adik-adik tiri sedang dicobanya mendekatkan diri ke agama. Ibu mulai membicarakan pewaris hartanya. Semua itu menyegar di kepala. Denai bisa melihat semuanya dengan mata hati di cinta tertinggi pada Nya.


"Tuhan, kenapa Engkau jauhkan aku dari lbu? Cintaku pada-Mu, seiring sejalan dengan cintaku pada lbu. Tuhan, Engkau katakan dalam Kitab-Mu, i bila seorang hamba-Mu mendekat sedepa pada-Mu, Engkau akan mendekat selangkah pada hamba-Mu. i Bila hamba-Mu mendekat dengan berjalan, Engkau i akan mendekat dengan cara berlari. Tapi, kenapa i antara aku dan Ibu, Engkau hanya berikan itu semua, hanya di sepertiga malam saja. Pada saat malam menyuntingkan rembulan? Terkadang, aku menyangsikan kehadiran-Mu saat itu. Karena antara aku dan Ibu, selalu Engkau buat keraguan kecintaan? Ataukah aku bukan hamba-Mu? Masih adakah cinta-Mu untukku? Untuk Ibuku?"


Kini, barulah sesak di dada melanda Denai. Akankah saat-saat malam menyuntingkan rembulan ditemui lagi? Hanya telepon di kosnya yang berdering nyaring. Di Payakumbuh sedang Hari Raya Haji. Harap cemas semua anggota keluarga tengah berkumpul menanti kepulangannya. Semua saling bergantian. Antara kakak dan adiknya.


Mengulang-ulang kembali lewat saluran telepon interlokal,

__ADS_1


"Denai, Ibu telah dulu!"


"Kak, Ibu telah pergi!"


__ADS_2