Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Di bawah purnama madinah


__ADS_3

"Yuk, ke Raudhah, Mbak," ajak Mbak Lili kepadaku.


"Sekarang?" tanyaku. Agak kaget juga aku menyimak ajakannya yang setengah mendadak itu.


"Ya.. nanti. Kan, baru dibuka setengah tujuh. Mumpung masih sempat, nih, Mbak Dini. Kan, hari ini hari terakhir kita di Madinah. Kapan lagi?" rayunya.


Aku agak bimbang. Terus-terang, aku belum bilang pada Abang. Bagaimanapun, aku perlu izinnya, kan?


"Ayolah, Mbak. Itu Bu Thayeb dan Mbak Nindi juga akan ke sana. Iya kan, Bu?"


Bu Thayeb mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum arif. Rupanya beliau peka menangkap sirat keraguanku.


"Sabar dulu tho, Mbak Lili. Biar Nak Dini tanya ke Kangmas-nya dulu."


"Sebenarnya aku ingin ke sana lagi, tapi... boleh tidaknya, yah... ku tidak tahu."


Mbak Nindi menyela, "Ah, masak untuk urusan begini, ndak boleh, tho! Kan, mau ke Raudhah, lho. Sekalian menjenguk makam Rasulullah? Mosok dilarang? Wah, kalau aku sih haaqul yaqin 100% bakal diizinkan sama Mas Basuki."


"Wis, wis, sudah. Kita tunggu saja. Toh, ini baru jam lima seperempat. Thayeb dan mas-masnya kan juga belum kelihatan menjemput kita. Nantii ditanyakan dulu, ya?"


Ibu meredakan debat kusir vang memanas di antara kami.


Kutarik napas panjang. Legaa.. adduhh, jangan sampai ada pertengkaran kecil di antara kami. Sayang, sayang bila harus mengakhir perjalanan ibadah suci ini dengan konflik sepele.


"Ayo, jangan melamun! Itu Mas-nya sudah melambai-lambai dari tadi. Nanti, dikira istrinya hilang. Iho," goda Mbak Lili seraya menggamit lenganku. Tersadar aku dari lamunan karena kantuki yang mendera sesaat. Sigap kubalas lambaian Abang yang datang menjemput kami, bersama suami teman seregu.


Di masjid Nabawi, Madinah, jamaah pria dan wanita masuk ke dalam masjid melalui pintu berbeda. Lain dengan di Mekah, semua jamaah dapat masuk lewat gerbang yang sama, sebab letak Ka'bah yang berada di tengah-tengah. Akibat kondisi Nabawi yang demikian, kami harus berjalan berbarengan dengan suami atau rekan sesama wanita, karena kultur di sana memandang kurang baik bila seorang wanita berjalan sendiri.


Dari jauh, sudah terlihat kernyit di kening Abang melihat aku tidak membawa perlengkapan shalatku. Segera kugamit tangannya untuk agak menjauh dari Mas Thayeb, supaya perbincangan kami lebih leluasa.


"Bang, boleh aku ke Raudhah?"


"Sekarang?" ada tanya heran berbaur terkejut dari nada suaranya.


"Ya, mumpung masih ada waktu. Ini kan hari terakhir kita di sini. Nanti siang, kita sudah ke Madinatul Hujjaj. Boleh, ya? Boleh, kan? Cumai sekali ini saja .


Ada nada mendesak dariku. Dan walau sedetik, sempat kutangkap raut tidak senang terhadap rengekanku. Lalu menghilang. Wajahnya kembali biasa, serius. "

__ADS_1


"Ya sudah. Dengan Ibunya Mas Thayeb juga, kan? Hati-hati, ya.."


Suaranya terdengar normal, atau diusahakan normal. Kupandang sekali lagi wajah tampannya, mencari kepastian izinnya. Abang hanya mengangguk, tergesa menundukkan kepalanya. Cepat-cepat kucium tangannya, kembali ku bergabung dengan teman-teman. Masih sempat kutangkap siluet Abang dan Mas Thayeb yang pergi menjauh...


"Ehm.. maaf ya, Bu, mbak-mbak, aku kok rasanya ndak enak, ya. Tadi itu kan minta izinnya mendadak sekali. Kelihatannya Abang gimana gitu... Apa aku lebih baik ke pondokan saja?"


Terus terang, kuungkapkan kegelisahan yang terus membuncah sejaketadi. Ketika kami masuk kembali ke dalam masjid dan leyeh-leyeh sembari mengistirahatkan mata, entah mengapa sulit sekali aku untuk jatuh terlelap, sementara ketiga rekanku sudah terbuai jauh ke alam mimpi. Masih menari. nari dengan hangat di pelupuk mataku, bagaimana bahasa tubuh Abang secara jujur menolak permohonanku, raut mukanya, ketergesaannya menundukkan kepalanya, meski kata-kata yang terucap bagai di ujung kutub seberang. Nuraniku terdalam akhirnya memberontak, tidak.. tidak.. Sesungguhnya, ia tidak mengizinkanku, hanya terdesak situasi yang tak menguntungkan saja..


Ibunya Mas Thayeb menepuk bahuku sambil berkata,


"Terserah Nak Din saja. Dipikir mana yang terbaik"


"Wah, tanggung Mbak. Setengah jam lagi Raudhahnya dibuka. Sayang kan harus menunggu lama. Eh.. ini malah batal."


"Lho, ya ndak begitu Nak Nindi. Untuk ibadah sunnah, sebagai istri, kita tetap perlu izin suami. Seperti Rasulullah pernah bersabda, kalau suami melarang istrinya puasa sunnah, ya... istrinya ndak boleh maksa dan ngeyel. Begitu, tho? Coba dibetulkan ya kalau Ibu salah," Ibu berupaya meredam perkataan Mbak Nindi.


"Yah, kelihatannya lebih baik aku kembali saja. Toh, sebetulnya aku sudah meniatkan kunjungan ke Raudhah kemarin sebagai kunjungan terakhir. Biarlah, tidak apa-apa. Tapi, Ibu ndak papa ya hanya ditemani Mbak berdua saja? Maaf ya, Bu, aku tidak bisa mengawal lbu."


"Sudah, sudah.... Wis, ndak usah dipikir. Kemarin-kemarin itu, juga waktu di Mekah, siapa yang mengawal Ibu terus? Nak Dini terus, tho?"


Kuayun langkahku cepat-cepat, berusaha mendekati seorang ibu jamaah asal Indonesia. Sayang, baru sejenak kami bersatu langkah, ia sudah berbelok ke gang kecil, masih di seputar kompleks masjid Nabawi. Debar jantungku perlahan mengencang. Aku tak berkawan sekarang, sementara perjalanan masih cukup jauh, kurang lebih duai puluh lima menit waktu tempuh dengan berjalan kaki!


Tadi, ketika rekan-rekanku ribut soal teman seperjalanan, dengan ringan kujawab ada. Sesungguhnya, aku asal ceplos saja. Sekarang beginilah jadinya Segera kutepis penyesalan tak berguna itu, hanya akan berbuah penyesalan-penyesalan lainnya. Lantas, bagaimana sekarang? Ya sudah, bismillah. hanya kepada-Mulah aku berlindung...


Baru saja ibu-ibu ketiga yang kujajari diam-diam berbelok arah dekat restoran Turki langganan kami.


Ups, gagal lagi! Hati bertambah dag dig dug, sementara jalan kian sepi. Debu-debu beterbangan dengan giatnya di lingkungan pemukiman yang kumuh ini. Para jamaah haji dari berbagai negara yang biasanya ramai tampak terbagi. Ada yang ke Raudhah, wisata ziarah, maupun telah pulang ke pemondokan masing-masing. Meski pagi baru menjelang, kesunyian itu terasa mencekam, karena lingkungan ini termasuk wilayah paling rawan di l Madinah. Bayangan yang seram-seram pun bergoyang lincah di pelupuk mataku. Cerita tentang jamaah wanita Malaysia yang diperkosa di toilet bawah tanah oleh pria yang menyamar memakai gamis dan cadar hitam; rumor ibu paruh baya yang dilrik penduduk asli daribawah hingga atas; serta isu laki-laki Arab vang tiba-tiba menyelinap masuk di sebuah pondokan; benar-benar menumbuhkan kepanikan berlipat-lipat. Tanpa sadar, ayunan langkahku bertambah ngebut, makin cepat, makin cepat... Bibirku pun tak putus-putusnya mengucap istighfar, memohon ampunan dan belas kasihan Nya, kiranya Allah berkenan melindungiku hingga selamat tiba di pemondokan.


Selaksa adegan semalam hadir seolah nyata di hadapanku. Tanpa terasa, pipiku menghangat. Air mata menetes perlahan. Semalam, kami berdua perg ke atap, mengangkati jemuran pakaian yang semenjak pagi dijemur.


Langit Madinah amatlah ayu, biru cerah ditingkahi pendar-pendar cahaya bintang gemintang beribu-ribu. Sedang purnama rupanya. Di hari-hari kemarin, bulan masih separuh atau bahkan berbentuk sabit, dan subhanallah.. dia selalu dijaga satu bintang di sisinya! Serasa ingin berlama lama memandangnya, seolah kubah masjid semesta raya..


Tanpa kusadari, aku beringsut mendekati tembok yang berseberangan dengan cahaya kemilau keemasan tiang-tiang masjid Nabawi. Alangkah moleknya!


Abang sejenak mendekat, merengkuh bahuku.


"Ada apa, Sayang?," tuturnya lembut

__ADS_1


"Allah benar-benar Mahabesar ya, Bang. Lihatlah langit itu, bulan dan bintang itu, alangkah indahnya. Terima kasih Sayang atas perjalanan terbaik yang pernah Abang berikan..."


Seraya berkata, kuputar badanku untuk bersitatap dengannya. Kugenggam erat jari-jemari tangannya yang kukuh perkasa. Abang tersenyum, wajahnya tampak bersih bercahaya.


"Sama-sama, Sayang. Alhamdulillah, kita diberi kesempatan untuk berbulan madu dengan-Nya bersama-sama, di tanah suci-Nya. Semoga apa yang kita lakukan selama ini selalu diridhai-Nya.."


Ada bulir air menderas di pipiku. Aku tersedusedu, tak mampu kutahan haru yang menyeruak.


Abang memelukku hangat.


"Apa ada kata-kata Abang yang salah?"


"Tidak, tidak apa-apa. Aku... hanya merasa sungguh luar biasa karunia Allah kepadaku. Diberikan-Nya Abang sebagai jodohku, disuburkan. Nya benih-benih cinta kita, diluangkan-Nya waktu kita untuk berhaji berdua, sedang berapa banyakkah suami yang langsung mengajak istrinya haji di usia belia? Tapi.. masih ingatkah Abang, aku masih saja menggerutu, mengomel, atau malah marah untuk hal-hal sepele?"


"Sst... sudahlah. Bagaimanapun, kita masih belajar, belajar sebagai suami-istri, juga untuki menjadi seorang muslim yang benar. Termasuk Abang juga, kan?"


Begitulah Abang, kematangan berpikirnya begitu menonjol, meski kami hanya berbeda usia satu tahun. Wajahnya sangat serius tatkala ditimpa persoalan besar, atau tiba-tiba berhujan tangis saat menyaksikan Ka'bah dari dekat, rumah-Nya yang terasa sangat bersahaja dibanding rumah-rumahi makhluk-Nya yang megah bergaya Spanyol atau Mediterania. Juga saat menatap langit pagi Mekah di depan Multazam dan berbincang sarat maknai tentang niat kami berhaji. Dan terakhir kali, kejadian pagi ini. Ah... kuyakin pasti kini, sama sekali tak ada terbetik niatan di hatinya untuk menghalangi keinginanku pergi ke Raudhah atas dasar alasan otoritas total sebagai suami, namun lebih pada sifat Abang yang lebih menyukai rencana matang daripada kejutan. Maafkan, kekasih, maafkan sekali lagi...


Tanpa kusadari, ada anak sungai kecil memancar dari mataku..


Rasanya lega sekali melihat tikungan itu, tak lama lagi aku akan tiba di pemondokan. Alhamdulillah, plong betul seluruh isi dadaku. Rasa bersalah bercampur cemas menguap dengan cepat. Bergegas kutapaki anak-anak tangga menuju ke lantai tiga kujumpai wajah-wajah yang kukenal, dan itu membuatku sempat bergidik bila mengingat tadi sempat kutempuh perjalanan panjang tanpa teman di daerah yang cukup rawan! Hh, svukurlah, masih ada Engkau yang senantiasa melindungiku, ya Rabb selalu... Terima kasih...


Sempat kuterlonjak kaget kala berpapasan dengan Mas Thayeb. Lho, mana Abang? la juga sama kagetnya denganku. Agaknya, mereka segera berpisah seusai menjumpai kami. Mas Thayeb terpaksa kembali karena ada yang tertinggal sementara Abang mengubah rencananya menuju ke... Raudhah! Astaghfirulah.


Dari lubuk hati terdalam, aku sungguh berharap menemukan seraut wajah Abang seusai menekan nomor kode gembok digital itu, menghambur kepadanya seraya memohon maaf atas sikap kekanak-kanakanku tadi. Namun, itu adalah kemustahilan. Allah masih mengujiku. Kucoba menekan rasa kecewa, bagaimanapun rencana-Nya jualah yang berlaku. Waktu serasa berhenti bergerak dan merayap,


tatkala akhirnya terdengar ketukan di pintu kamar yang kukunci. Setengah berteriak, aku bertanya pada si pengetuk pintu. Abang! Segera kubuka pintu, dan Abang refleks menutupnya lagi. Raut mukanya sungguh teramat sulit dibaca, ada cemas berlimpah, mungkin juga marah terpendam. Namun, yangi kurasakan mendominasi adalah rasa cinta kasihnya yang tulus terpancar. Tangannya segera terulur ke bahuku dan tangisku pun pecah berderai-derai, tangis yang semenjak tadi berusaha kusembunyikan sekuat tenaga. Ada sekitar lima menit waktu meniti tanpa kata. Hening.


"Ma. maafkan aku ya, Bang. Maafkan, ya?"


"Kenapa pulang sendiri, Sayang? Abang kaget sekali mendengar Dini sudah ada di pondokan. Mas Thayeb yang cerita. Seperti disambar petir rasanya, apalagi setelah tahu cuma sendirian saja. Kenapa, Sayang?"


Kututurkan segalanya, segalanya. Tak ada yang tersisa. Dan mendadak, Abang kembali merengkuh ku makin erat ke dalam pelukannya. Ganti ia yang meluruhkan segenap air matanya.


"Oh, ya Rabbi, Allah... ampuni hamba-Mu. Tidak sepantasnya hamba melarang istri hamba untuk beribadah kepada-Mu. Ampunkan hamba. . Salah Abang, kurang ikhlas melepasmu pergi. Beginilah jadinya. Allah memberi cobaan ini, untunglah Dini selamat. Maafkan Abang sekali lagi, ya?"


Aku hanya mampu mengangguk, ada keharuan membuncah di dada. Ya Rabbi Penguasa jagat raya, Kau tunjukkan kebesaran-Mu sekali lagi kepada kami, makhlukmu yang tak berdaya ini lewat keagungan cinta-mu. Biarlah hanya dikau dan purnama madinah saja yang menjadi saksi cinta suci kami berdua ....

__ADS_1


__ADS_2