
Bara masih berkutat dengan alat-alat kesehatannya. Meera terus memandangi Bara disana. Meera duduk di kursi sambil memegang ponselnya. sesekali ia mengambil foto Bara. Bara mengangkat barbel. bara sedang lari di treadmil.
"hihi kau tampan sekali tuan muda" pekik hati Meera.
Bara tahu juka ia sedang di perhatikan namun ia memilih diam. membiarkan imajinasi istrinya melayang bebas di otaknya.
"Bara, seminggu lagi kejuaraan Rangga digelar. aku ijin tidak masuk kerja ya. aku mau lihat Rangga" Meera memohon pada Bara. Bara yang mendengar perkataan Meera meletakan barbelnya lalu berjalan menuju Meera duduk.
"kalau aku melarang bagaimana?" jawab Bara karena ia sudah tau jadwalnya. ia tak ingin Meera pergi seorang diri, Ketepatan seminggu lagi Bara harus keluar kota mengurus bisnisnya.
"bodoamatt.. aku akan kabur lah" jawab Meera ceplas ceplos
Bara memicingkan matanya memandang Meera. Meera yang melihat itu pun langsung memperbaiki kata-katanya barusan
"ehh tunggu dulu tuan muda. maksudku tidak kabur. tapi akan sedikit memaksamu untuk mengijinkanku" Kata Meera.
"Aku tidak bisa menemanimu, aku sedang ada Rapat saat itu.
yeessssss bukankah itu lebih baik, aku bisa bebass tanpa pengawasan Bara.. Gumam Meera.
"tidakk apa-apaa.. aku bisa sendirian" jawab Meera cepat.
Bara tidak menjawab. Bara sedang menenggak air dingin di botol dengan badan yang penuh keringat, ia berdiri di depan Meera. sedangkan Meera. masih sibuk dengan ponselnya ia arahkan ke Bara dan sesekali memotretnya. Bara yang melihat tingkah istrinya itu tahu kalau kamera ponsel Meera mengarah padanya.
"bangun" kata Bara. Meera lalu bangun berhadapan dengan Bara. Bara dengan usilnya langsung memeluk tubuh Meera.
"huhh lepasin Bara. Basah ini looh" kata Meera
Bara tak melepaskan pelukannya, Bara tersenyum sendiri mengingat Meera pasti risih karena badanya basah oleh kringat. kini meera juga merasakannya "hihi rasakan, siapa suruh memotretku diam-diam" batin Bara.
Meera memukul dada Bara ia risih dengan keringat Bara. namun karena tubuh Bara yang kekar, Bara jelas kekuatannya lebih besar dari Meera. ia tak melepaskan pelukannya
"Baraa sudah ih kecut, jorokkk" Meera mulai kesal dengan tingkah suaminya.
Bara yang di ejek kecut pun segera melepaskan Meera ia lalu mencium bau tubuhnya sendiri. ternyata masih wangi. sedangkan Meera keluar ruangan dengan wajah cemberut. "apa-apaan Bara jorokkk" gumam Meera.
Meera merasa ikut berkeringat pun memilih untuk mandi karena waktu juga sudah menunjukan pukul 17.00 Meera berendam selama 30 menit disana. membuat tubuhnya kini rileks. setelah ritual mandinya selesai Meera keluar dengan menggunakan jubah mandinya.
__ADS_1
ia tak langsung menggunakan pakaiannya. hanya menggunakan bra dan celana dalam lalu dibalut jubah mandinya, Meera menyisirr ambut nya yang basah terurai begitu saja. ia menggunakan bedak, lipstik dan handbody sesuai dengan ritual biasanya.
Ia tak melihat Bara di kamar. Meera merasa haus. ia ingin minum yang segar-segar. dengan masih menggunakan jubah mandinya ia turun dari kamar menuju ke dapur. dengan santainya ia membuka kulkas dan menuangkan jus jeruk di sana. ia hendak menuju ke kamar lagi, tapi ia mendengar ada percakapan adit dan Bara di ruang tamu, Meera lalu menghampiri mereka, Bara yang melihat istrinya menggunakan jubah mandi saja dan keluar dari kamar pun geram dengan tingkah istrinya. sedangkan Adit menelan saliva nya dengan kasar. "yaa ampun nonaaa... seksi sekaliiii" begitu kira-kira arti dari tatapan Adit,. Bara yang melihat Adit pun melempar bantal sofa demuka Adit "Jangan lihat istriku!" bentak Bara.
Adit menjawab spontan "nanggung tuan" katanya tanpa sadar
Bara memicingkan matanya menatap Adit "Adiitttttt" bentak Bara kebih keras menyadarkan Adit.
Adit yang menyadarinya langsung menundukan pandangannya "siap salah" kata Adit.
Meera yang medengar Bara teriak teriak pun berkomentar "bisa tidak. gak usah teriak-teriak"
Bara bangun lalu menggendong istrinya tanpa mengatakan apapun, ia tak ingin tubuh istrinya dinikmati mata orang lain. mereka meninggalkan Adit yang duduk sendiri di ruang tamu
"Bara lepasss!!!!" Meera mencoba melepaskan diri dari Bara.
didalam kamar Bara menurunkan Meera dan memandang wajah istrinya dengan tatapan Gahar.
"gak malu apa di lihat adit, main gendong aja" kata Meera. yang merasa Bara seperti anak kecil
"kamu itu sembrono Meera, dikantor pakai pakaian ketat, di rumah pakai jubah begini kesana kesini, maksudnya apa" Bara marah menatap Meera
"suka kamu di omongin karyawan laki-laki satu gedung? suka kamu jadi pusat perhatian hah?"
"ya orang dirumah kok. kan gak keluar rumah. lagian siapa yang mau lihat" Meera membantah tanpa dosa
Bara tak tahan dengan istrinya. ia mendorong Meera ke ranjang dan menindihnya. kali ini Meera benar-benar akan mendapatkan hukumannya.
Meera tak bisa mengelak sama sekali. ia berada di bawah kungkungan Bara tanpa segelai benang. karena semua sudah di buang Bara. sedangkan Bara masih lengkap pakaiannya.
Bara menyesap leber Meera meninggalkan bekas merah disana yang nampak jelas. begitu pula di dadanya. ia meninggalkan begitu banyak bekas Meerah disana. Hanya desahan dan jeritan yang terdengar dari ruangan itu. Bara menghukum Meera tanpa ampun. "Bara sudahhh cukupp ahhhh" pinta Meera karena ia juga sudah lemas.
"katakan. kau ulangi lagi atau tidak" kata Bara
"ti tiidakkk, aku janjii.." Jawab Meera.
Bara menyelesaikan hukumannya. entah sudah berapa kali ia menyelesaikannya kini Meera terkulai tak berdaya di atas ranjang nya. Bara melihat istrinya sedikit kasihan. tapi mau gimana lagi. Meera hanya akan takut dengan hukuman seperti itu. Melihat Meera yang mulai memejamkan Matanya. Bara mencium kening Meera "jangan memancing amarahku, jaga tubuhmu. hanya aku yang berhak atas dirimu meera. mengertilah" Bara mencium kening istrinya. ia lalu memakai celananya dan turun lagi menemui Adit meninggalkan Meera yang lemas tak berdaya di stas ranjang hanya ditutupi slimut
__ADS_1
"jangan memandang istriku seperti tadi" kata Bara kepada Adit.
Adit yang ditinggalkan hampir 2 jam pun berkelana pikirannya. "kemana nona tuan?"
Bara menajamkan pandangannya pada Adit. "mau ku robek mulutmu?"
"siap salah" Adit menundukan pandangannya.
"Tuan tadi nona aurel datang bersama Nyonya besar, mereka kecewa tidak bertemu tuan" Adit mengatakan kejadian yang terjadi di kantor.
"lalu?" jawab Bara
"nona Aurel menyebut bahwa dirinya calon istri tuan Muda kepada karyawan. sedangkan Nyonya besar mendukung kata-kata nona Aurel, jadi hampir dipastikan seluruh penghuni gedung WS Corps. tahu jika Nona Aurel adalah calon istri Tuan Muda" penjelasan Adit
Bara tampak mengacak-acak rambutnya. ia tak habis pikir dengan kelakuan mamanya. Bara juga semakin geram mengingat provokasi yang di lakukan Aurel pada Meera kemarin.
"kalau bukan mamaku yang dibelakang wanita itu, sudah kupastikan ku bunuh sendiri wanita itu dengan tanganku" kata Bara geram.
Adit yang mengetahui kekesalan tuannya pun hanya diam.ia tahu jika Bara sudah marah dengan seseorang. menghilangkan nyawa manusia bagaikan menepuk nyamuk. sudah ada beberapa contohnya.
"tuan bagaimana dengan acara tahunan yang biasa diadakan perusahaan memperingati aniv WS Corps, waktunya kurang 2 minggu tuan ?" Adit bertanya
"Aturlah, Tahun ini perusahaan kita meningkat tajam, buat acara dengan meriah dari tahun lalu" Jawab Bara.
"serahkan proposalnya kepadaku paling lambat lusa" sambung Bara.
"apa tuan besok ke kantor?" tanya Adit.
"iya" jawab Bara.
mereka berbincang-bincang hingga larut malam. dan Adit memutuskan menginap di mansion Bara. karena Bara juga memintanya.
Bara kembali kekamarnya ia berbaring di samping istrinya. Menatap istrinya dengan penuh makna
"kau ini, wanita yang seperti apa sebenarnya. terkadang menjengkelkan, terkadang sangat manis, terlihat sangat tegar namun terkadang juga terlihat sangat rapuh, seperti banyak sekali yang kau pendam dalam dirimu" Bara perlahan ikut memejamkan matanya. memeluk tubuh istrinya.
Pagi hari Meera bangun lebih awal. ia ingin memasak untuk suaminya. ia sadar kemarin ia telah melakukan kesalahan hingga membuat Bara marah. ia ingin menebusnya. Meera membersihkan diri ia menggunakan baju tidurnya dan mulai masak di dapur karena waktu masih menujukan pukul 05.00 Meera dibantu pelayan disana memasak nasi goreng, capcay dan sambal goreng, setelah selesai masak waktu sudah menunjukan pukul 06.30 Meera segera mandi dan berseragam. kali ini Meera menggunkan kemeja lengan panjang dengan kerah menjulur panjang menutupi leher Meera agar tanda penganiayaan bara tidak terlihat. sedangkan untuk bawahan ia menggunakan Rok sampai lututnya. ia lalu membangunkan Bara. dan drama pagi pun terjadi lagi
__ADS_1