Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
keberadaan Meera diketahui


__ADS_3

sudah 2 hari Meera disekap. selama itu Meera diperlakukan dengan kasar ia di kurung di kamar yang terdapat di sebuah rumah yang jauh dari kota. Penjaga di sana memberikan Meera makan dan minum secara teratur namun Meera selalu menerima bentakan dan paksaan dari mereka untuk menandatangani sebuah dokumen. yang mana ia tak di berikan kesempatan untuk membacanya


"cepat tandantangani!" bentak salah satu preman itu


"tidak.. !" Meera bersikeras tak mau menurutinya


Meera masih menimang-nimang siapa dalang di semua kejadian naas yang menimpanya ini. bahkan salah satu preman itu sempat menampar pipi Meera karena Meera melawannya. jika kondisinya tidak sedang hamil dan ada anak yang harus di lindungi dalam rahimnya mungkin saat ini Meera akan memilih untuk mati2 matian melawan preman itu agar cepat keluar. namun kondisinya yang hamil muda ini sangat Rentan. Meera tak mau mengambil Resiko.


Meera terus menangis namun ia menguatkan dirinya untuk tetap kuat demin Bara dan Anak yang dikandungnya.


Meera berharap akan ada yang segera menyelamatkannya. Bara selalu disebut dalam hatinya. Hatinya memanggil manggil nama Bara untuk segera menemukannya.


Pasukan Lexa sudah mengetahui keberadaan Meera. bahkan Samudra Xu juga sudah mendengar kesayangannya di culik menjadi sangat Marah hingga ia ingin rasanya turun tangan. namun apa daya urusannya di Thailand belum selesai. ia harus menyelesaikannya. Sam mengutus orang-orang kepercayaannya untuk membawa Meera dalam keadaan baik baik saja. Malam ini mereka akan merangsek masuk kedalam rumah dimana tempat Meera disekap itu. Rumah dengan banyak penjagaan. keadaan Meera sudah sangat menyedihkan wajahnya yang cantik kini ada beberapa luka memar di pipinya dan matanya membengkak karena terus menangis.


sedangkan di mansion Lexa. Lexa memimpin pasukannya untuk merangsek masuk kedalam sana. yang dimana ternyata sekitar rumah penyekapan Meera itu telah di tanami beberapa bom waktu itu yang membuat Lexa harus ekstra berhati-hati agar Meera bisa dikeluarkan dari sana dengan selamat. Lexa sudah dilarang Sam untuk ikut langsung ke misi ini namun ia tak mau. mengingat Meera adalah orang penting dihidupnya dalam masalah ia tak akan tinggal diam.


Reza bersikeras untuk ikut kedalam misi ini. Reza membekali dirinya dengan senjata api yang di simpan di balik jaketnya. Sedangkan Lexa pun melakukan hal yang sama.


"aku bersumpah akan membunuh orang yang berani menyakiti kau Meer.. aku bersumpah!!" batin Lexa bergejolak memikirkan keadaan Meera. Lexa menyembunyikan itu semua dari Rangga. ia tak bisa melihat bagaimana Rangga jika mengetahui kakaknya diculik.


"aku tak bisa menjelaskan pada Rangga jika sesuatu terjadi padamu Meera" kata Lexa sambil menali tali sepatunya. rasanya ia ingin sekali membunuh semua orang yang terlibat dengan tangannya sendiri.


berani sekali mereka mengusik Meera sama saja mengusik Black Eagle..

__ADS_1


sedangkan di mansion Bara. Bara tak mau mencari keberadaan Meera hatinya sakit karena mengira Meera mempermainkan dirinya. Bara telah menyiapkan semuanya namun Meera kabur begitu saja. hanya Adit yang berfikir Meera dalam bahaya karena ia tak menemukan jejak Meera 2 hari ini. namun ketika ia ingin membahas ini. Bara mentah-mentah memarahinya. Bara tak mau mebahas tentang istrinya itu karena ia beranggapan jika suatu saat Meera akan pulang.


"kau siap?" tanya Lexa apda Reza.


"ya." jawab Reza tegas. Merekapun pergi meninggalkan mansion Lexa.


didalam mobil hanya ada keheningan antara Lexa dan Reza. hati Lexa sedikit tersayat melihat kekhawatitan Reza pada Meera yang begitu berlebihan dimatanya. Bahkan Lexa tau Reza tak istirahat dan makan dengan baik selama Meera menghilang urusan pekerjaan pun Reza menyerahkan semua pada asistennya. Reza fokus mencari Meera saja.


"Dulu Davian. sekarang Reza.. apakah selalu seperti ini Tuhan jalan cintaku. selalu mencintai pria yang mencintai sahabatku" batin Lexa dengan tatapan sendu.


setelah sampai di lokasi anak buah Lexa sudah bergerak. penjinak bom yang di bawa Lexa berusaha keras untuk menemukan dan melumpuhkan semua bom yang tertanam di sana. Lexa dan Rezza yang menunggui didalam mobil harap harap cemas.


"kau tahu siapa dalang di balik semua ini?" tanya Reza memecah keheningan


"sudah" jawabnya pelan sambil menatap keluar jendela.


"kau tak ingin memberitahukan ku siapa dirinya?" tanya Reza memandang Lexa


Lexa hanya diam. ia tak mungkin mengatakannya sekarang. Lexa ingin orang itu sendiri yang mengakuinya didepan semua orang.


"baiklah. aku akan mencari tahu sendiri" kata Reza sambil memalingkan mukanya menghadap kaca.


banyak sekali pertanyaan yang muncul di pikiran Reza. Dari Bara yang kenapa tidak ada pergerakan dan rentetan kejadian yang menimpanya juga yang menimpa Meera.

__ADS_1


tadi siang Reza pergi ke gedung WS Corp. ia menemui Bara. Ia handak menanyakan keberadaan Meera. namun Bara tak mau menemuinya. Reza bisa dengan mudah masuk ke WS Corps karena ia memiliki beberapa saham disana. Reza begitu gigih ingin membicarakan hal itu kepada Bara namun Bara tak mau menemuinya sama sekali hanya Adit lah yang datang berbicara padanya. namun karena utusan Bara. Adit pun juga hanya meluangkan waktunya sedikit untuk menemui Reza dan ketika Reza ingin mengatakan hal yang menyangkut Meera. Adit berkata.


"maaf tuan Saya tidak berwenang membahasnya. dan tuan muda melarang saya" kata Adit. Reza sangat geram. bagaimana bisa Bara menjadi pribadi yang begitu Arogan. ia hanya tau marah marah marah dan Marah. tanpa ia mau mencari tahu kebenarannya.


"dooorrrr dorrr dooorrree" terdengar suara tembakan beruntun dari dalam rumah itu. Bunyunya sangat nyaring.


hingga Lexa dan Reza tersentak kaget.


"suara apa itu." kata Reza. Sedangkan Lexa mencengkeram tangannya kuat kuat.. pikirannya melayang kemana-mana mengingat didalam sana ada Meera.


"berani melukai Meera ku. akan ku bunuh kalian semua" batin Lexa. Lexa lalu mengeluarkan pistolnya. ia membuka plurunya dan dilihatnya ada berapa banyak. Lexa menepuk pelan pistol itu. "bekerjasamalah" kata Lexa sambil mengamati pistolnya. Lexa tak hanya membawa 1 pistol namun 3 ia bawa. untuk berjaga2 jaga jika ia kehabisan peluru di salah satu pistolnya.


sedangkan Reza sudah sangat khawatir dengan keadaan didalam. pikirnanya sudah kalut.


"berapa lama lagi anak buahmu menjinakan bom bom sialan itu" tanya Reza gemas


"bersabarlah. ini bahaya" kata Lexa.


sedangkan didalam rumah Meera tampak bersimpuh dilantai karena preman-preman itu berulang kali berbuat kasar padanya. menjambak rambutnya dan memaksanya untuk menandatangani itu.


"Jangan menyulitkanku. cepat tanda tangani dan kau akan bebas" gertak preman itu sambil menjambak rambut Meera kebelakang.


Meera tetap tidak akan mau menandatanganinya. hingga membuat preman-preman itu kehabisan kesabaran dan menakut-nakuti Meera dengan menembak guci di samping meera hingga pecah. Meera tak takut sama sekali dengan bunyi tembakan itu. bahkan ia tak gentar sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2