Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
kesalahpahaman


__ADS_3

Meera menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, sontak membuat ponselnya terjatuh.. Praakkkk..


meera ingin menjerit, ingin sekali ia berteriak di sana. ia mencengkeram mukanya. ia menahan semua amarahnya disana.


baru tadi siang ia melepaskan 3 pria yang bahkan siap membahagiakannya. namun kini harapan yang di gantung meera setinggi awan kepada pria yang di percayanya kini seakan sia-sia. dalam matanya ter lintas wajah anom. reyhan Terutama Davian. ia ingin sekali berteriak disana. sekuat hati ia menahan sampai tubuhnya bergetar hebat.


tak lama berselang Adit mengiriminya pesan. "nona tuan muda tidak pulang malam ini, karena ada urusan di luar kota"


Meera menatap layar ponselnya dengan mata yang tak bisa dijelaskan. hatinya perih. seakan-akan dia dihianati orang yang di percayanya.


Meera berdiri dan berjalan dengan langkah gontai. tubuhnya lemas. meera benar-benar tidak dalam keadaan yang baik baik saja. Siti melihat nyonyanya dari tadi. tak berani mendekat ia tak tahu apa yang dialami nyonyanya saat ini, namun ia tahu Meera menahan sesak di dadanya.


ketika menaiki tangga Meera dengan kakinya yang kemas hampir jatuh. untung Siti ada di dekatnya. ia segera menghampiri Meera "nyonya kenapa, nyonya sakit?" kata Siti


Meera tak mau memperlihatkan kesedihannya kepada Siti. ia memaksakan senyumnya. dan tangannya yang 1 ia menggenggam ponsel didadanya seakan menekan rasa pedih di jantungnya. sedangkan yang 1 mencengkeram kuat pingiiran tangga.


"tidak apa. aku hanya ngantuk mba" Kata Meera menunjukan senyumnya


"aku tahu nyonya, anda sedang sedih kali ini, jangan membohongiku" kata Siti dalam hati


didalam kamar Meera ia duduk di tepi ranjang. ia menundukan kepalanya. semua pikiran berkecamuk disana. banyak sekali yang ingin ia utarakan, namun lidahnya kelu. ia menahan tangis semalaman disana. hingga ia tak bisa tidur lagi


sedangkan di sisi lain. Bara yang sudah sangat mabuk dibawa Adit ke apartemen milik Adit. tak mungkin ia membiarkan Bara pulang dengan keadaan seperti ini. Adit merawat Bara dengan setulus hati. ia memandang tuan mudanya dengan seribu makna. ia tahu ini semua salah faham. namun Bara tak mau mendengarkannya. Setelah Bara tidur. Adit kebalkon menelfon pelayan senior di mansion Bara.


"nyonya sudah tidur?" tanya Adit


"sepertinya belum tuan" jawab pelayan


"apa dia sudah makan?"


"Belum tuan, tadi hendak makan tapi tidak jadi, hanya minum air putih"


"kenapa?"


"tidak tahu tuan, tadi nyonya hampir jatuh dari tangga. untung ada siti, slah satu disana menolong Nyonya"


"panggilkan siti"


"Ya, tuan, ini saya siti"


"katakan tentang Nyonya"


"sepertinya nyonya tidak dalam keadaan baik-baik saja. ia lemas tuan entah apa sebabnya"


"baik, trimakasih" Adit lalu menutup telfonnya. Adit menghela nafas panjang. sebenarnya Adit geram dengan Bara. Bara hanya percaya dengan apa yang dilihat, tak mau mendengarkan sama sekali.


Ke esokan harinya Meera tampak sangat tidak baik. matanya mengitam, bibirnya pucat, dan ia tampak lemas dari biasanya. Meera mengerjakan kerjaaanya dengan hati-hati, terkadang ia memijat pelipisnya karena ia merasa pusing. Shinta melihat Meera dengan keadaan seperti itu juga bingung tidak biasanya.

__ADS_1


"Meera kamu gapapa?" tanya Shinta, meera menggelengkan kepalanya dan tersenyum tanda ia tak apa-apa.


"Meer kamu pucat, kamu sudah makan?" Shinta memegang tangan Meera, Meera hanya mengangguk dan berkata "sudah tidak apa, aku baik saja"


"Meer kalau ada masalah kamu cerita saja. siapa tau aku bisa bantu" Shinta yakin Meera saat ini sedang dalam masalah


"tidak shinta, aku tidak apa-apa" kata Meera menenangkan Shinta yang terlihat panik.


Diruangan Bara


Bara sedang berkutat dengan pekerjaannya. ia sebenarnya kangen dengan Meera namun ia masih Marah dengan Meera karena ia masih mengira Meera selingkuh. tapi ia ingat dengan Cincin yang diterima Meera dari pria itu. ia ingin menghancurkannya.


"naik keruanganku, bawa tasmu" pesan Bara pada Meera.


Meera ingin sekali berbicara dengan Bara. ia ingin bertanya salahnya apa hingga Bara marah sekali waktu itu. Meera dengan langkah gontai menuju ke ruangan Bara.


Didepan Ruangan Bara , Meera bertemu dengan Adit, "Astaga.. Meera sampai seperti ini" gumam adit melihat keadaan Meera yang pucat.


didalam ruangan Bara. Meera berdiri didepan Bara tanpa bersuara. Bara berkata "Kemarikan Tasmu!" Meera menyerahkan tasnya. tas yang di pakai biasanya. Meera menatap Bara dengan bayak makna tersirat. kecewa, sedih, marah jadi satu disana.


Bara menemukan kotak cincin itu. emosinya naik lagi. ia lalu berdiri dihadapan meera. "dari mana cincin ini?" tanya Bara


"Dari teman" kata Meera


"ohh. teman? selingkuhan tepatnya" Bara berkata kepada Meera


"dia temanku" jawab Meera.


"hebat sekali, bahkan kau berselingkuh dengan 3 orang pria sekaligus" Bara berkata menyayat hati Meera.


"kau mengira aku bertemu dengan mereka dan kau anggap aku berselingkuh? lalu bagaimana dengan mu yang..." Meera menggantungkan kata-katany, ia tak mau meneruskannya. lidahnya sudah sangat kelu, ia memejamkan matanya sejenak dan membukanya namun kali ini ia menatap kelantai


"kenapa tidak kau teruskan kata-katamu? jangan pernah berselingkuh dengan siapapun. atau akan ku hancurkan sekalian semua orang yang di sekitarmu, termasuk Rangga!" ancam Bara lalu membuang cincin itu.


Bara kembali mencengkeram lengan Meera.


Meera yang melihat cincin itu di buang rasanya sakit hati apa lagi mendengar Bara mengancam adik kesayangannya membuat hatinya hancur.


"kau tidak percaya padaku?" tanya Meera


"apa aku bisa mempercayai istri yang bisa bisanya keluar makan beesama dengan 3 pria asing" jawab Bara penuh amarah.


Meera tak mampu lagi berada disana. ia melepaskan tangan Bara dan berlari dengan sisa tenaganya keluar ruangan. 2 sekretaris dan adit melihatnya keluar dengan wajah menyedikhan itu pun saling memandang. hanya adit yang tahu keadaan sebenarnya.


sedangkan Bara menjatuhkan badannya lagi di kursinya sambil memijat dahinya. Adit segera masuk. mulutnya sudah gatal ingin memberi siraman rohani pada tuan mudanya


"tuan apa kau tidak ingin mendengarkan penjelasanku" tanya Adit

__ADS_1


"KELUAAARRRR!!!! teriak Bara.


"Tuan muda. anda benar-benar salah kali ini" gumam Adit.


disisi lain Meera tak kuat menahan sedihnya. hatinya sudah kecewa saat ini. Bersamaan dengan itu shinta mengirimnya pesan


"Meera dimana. ayo pulang"


"tunggu di depan" balas meera


Meera berjalan menuju parkiran. ia memasuki mobilnya, sebenarnya ia tak kuat sudah melajukan mobilnya. tubuhnya begitu lemah. namun ia tak mau Shinta tau. kali ini Meera pulang dengan Shinta.


"Meera kau pucat sekali, aku saja yang nyetir ya" kata Shinta karena melihat Meera yang sudah pucat


"baiklah" kata Meera.


mereka bergantian posisi kini Shinta yang mengemudi, dijalan Shinta memperhatikan Meera terus. Meera terlihat jelas sedang menahan tangis.


"Meer kau mau kemana?" kata Shinta.


"antarkan aku ke salah satu hotel Shin. aku tidak ingin pulang dulu" kata Meera


"Ke rumahku saja ya?" kata Shinta.


"jangan, antarkan aku kehotel. bawalah mobil ini, besok aku jemput ya" kata Meera.


"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku Meer" kata shinta


ia menunkan Meera disebuah hotel Shinta meninggalkan Meera disana. karena Meera yang memaksa Shinta pergi. sebenarnya shinta tidak enak hati dengan Meera. namun ini permintaan Meera sendiri


Meera memasuki kamar hotel yang dipesannya. ia duduk di lantai. tenaganya sudah habis. ia menangis sejadi-jadinya disana. ia membayangkan semua yang ia lihat dan dia alami akir-akir ini. ia memilih hotel agar tidak ada orang yang tahu.


"kenapa baraa.... "


"kenapa seperti ini..."


"aku terlalu bodoh Tuhan.."


"apa salahku..."


jeritan Meera tak bisa di bendung lagi. bajunya sudah compang camping disana. mukanya sudah memerah.


waktu menujukan pukul 20.30 meera terus menangis. hingga ia pingsan disana


ponselnya yang berdering pun tak dihiraukannya. semua itu panggilan dari shinta. shinta ingin mengetahui kondisi Meera.


Merasa hatinya sudah tidak nyaman. Shinta pun kembali kehotel itu. dalam perjalanan hatinya sudah tidak nyaman sama sekali.

__ADS_1


sesampainya di depan pintu kamar meera. ia mencoba mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. ia akirnya masuk karena pintu tidak dikunci. "aaaaa meeraaaaaa" jeritnya melihat Meera yang tersungkur dilantai.


__ADS_2