
Malam sempurna gulita. Jarum jam menunjukkan pukul 00:00. Tapi, Emak belum juga beranjak ke peraduan. Matanya yang mulai rabun masih awas. Kantuk belum menggigitinya. Jemarinya yang tirus masih cekatan menisik daun ketupat yang telah diisi ketan. Hatinya tak putus bertasbih, "Allah, Allah, Allah."
Sementara lamat\-lamat suara takbir mampir ke rumahnya. Suara takbir berasal dari mushalla kecil di pojok jalan. Berbeda dengan sebelumnya, yang riuh dengan keriangan anak\-anak menyebut asmaNya, kini suara takbir merintih\-rintih. Begitu syahdu, begitu teduh. Rintih kerinduan untuk menghampiri Sang Kekasih.
Emak pun memeram kerinduan. Sebelas tahun silam, Ruh duduk di hadapannya, membujuknya agar merestui keinginan anak lelakinya itu untuk merantau. Emak seperti tak percaya bila mesti berpisah dengan buah hatinya. Di saat itu, ia merasa, waktu telah mengkhianatinya. Ia bahkan tak percaya bila bocah yang suka menggelendotinya itu kini telah berubah menjadi remaja tanggung.
Seperti jamaknya remaja pria di desanya, mereka mendadak ingin mengingkari keberadaan alam pedesaan yang damai. Mereka merasa tak seia dengan kesunyian desa dan hendak meninggalkannya. Demikian juga dengan Ruh.
"Bukankah di sini lebih tenteram." Emak saat itu berusaha mematahkan keinginan putranya. "Kalau kamu pergi, siapa teman Emak? Tak ada lagi yang menanyakan tentang bulan, tentang bintang yang gemerlap di malam hari."
"Saya sudah cukup mendengar dongeng Emak tentang bintang," tukas remaja di depannya. "Saatnya kini untuk memetik bintang di langit dan menyematkannya di pundak. Bukan cuma mendengarkan dongengnya."
Emak mendeguk. Diam\-diam, ia memahami tak satu pun yang dapat merintangi keinginan anaknya. Kendati tak dapat memberikan restu, Emak mengalah. Membiarkan putra semata wayangnya pergi.
__ADS_1
Adakah Tuhan marah lantaran ia tak merestui niat baik anaknya untuk menemukan kehidupannya sendiri? Kenyataannya, sejak meninggalkan desa, Emak tak pernah mendengar kabar berita putranya. Sejak itu, semangat kehidupan Emak sirna. Ia merasa sia\-sia meneruskan kehidupannya. Sia\-sia? la yakin, suatu ketika Ruh pulang, setidaknya mengabari keberadaannya di ibu kota. Demi keyakinan itu, ia bertahan hidup.
Keyakinannya terbukti kini. Di pekan pertama Ramadhan, ia menerima secarik telegram. Isinya ringkas: Ruh pulang untuk lebaran.
Tangisnya pecah. Setelah sebelas tahun memendam rindu yang sarat keperihan, akhirnya Ruh pulang. Maka, berbeda dengan malam lebaran tahun\-tahun sebelumnya, Emak kali ini begitu bersemangat. la menyiapkan ketupat ketan yang lezat dengan santan untuk Ruh. Ia tak pernah lupa penganan kesukaan Ruh saat lebaran.
Demi Ruh, Emak terus terjaga, ketika malam Imenyempurnakan dirinya.
Denging nyamuk tak mampu mengusik Ruh. Pria separuh bava itu duduk mencakung di bawah iembatan layang Cililitan. Cahaya lampu kendaraan yang melintas sesekali jatuh ke wajahnya. Tapi, ia tak peduli. Ruh laiknya berubah menjadi patung, satu patung dari sekian banyak patung yang bertebaran di lakarta.
"Jangan\-jangan kau sudah bau tanah," nilai Jogi dengan tatapan aneh. Jogi mengucapkan itu saat mereka membagi hasil rampokan tiga hari menjelang Ramadhan. la memang tak begitu bersemangat menerima bagian jarahan, bahkan menampik ajakan Jogi untuk hura\-hura di Kota.
Ruh hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatnya. Ia lalu berbalik meninggalkan sahabatnya yang terlongong menyaksikan sikapnya. Ruh merasa itulah saat terakhir pertemuannya dengan Jogi. la memang tak mengetahui apa gerangan yang menyelinap di bilik hatinya. Bukankah Jogi tak sekadar sahabat dalam beroperasi, juga telah menjadi saudara.
__ADS_1
la ingat Jogi yang menyelamatkannya dari kebuasan Jakarta. Itu sebelas tahun silam, saat ia pertama tiba di Jakarta. "Jakarta ini buas, sehingga kita mesti lebih buas, untuk mengalahkan kebuasannya," demikian nasihat Jogi saat meng ajaknya menetap di tempat kosnya.
Sejak itu, ia mengikuti Jogi, melakukan aksi penodongan. Semula, ia begitu canggung. Nuranil yang terpelihara saat di desa, merajamnya setiap kali usai merampok. Jogi seperti mengetahui isi hatinya dan selalu menyemangatinya. "Sudahlah, nggak usah merasa bersalah. Kita merampok untuk mempertahankan hidup. Mereka yang di kantor itu merampok, justru untuk mematikan kehidupan orang banyak," ujar Jogi.
Ucapan yang selalu diulang, bagaikan mantra, akhirnya menyugesti Ruh. Ia, belakangan, kian sulit membedakan kebenaran ucapan Jogi, bahkan mana vang benar ataupun salah.
Sugesti itu memudar saat Ruh bermimpi tentang Emak sebulan silam. Di dalam mimpinya, ia menyaksikan Emak kian tua dan nyaris tak berdaya. Emak bagaikan balon vang kehilangan udara: mengecil, kering, dan lelah.
Saat Ruh terjaga, ia merasa gundah. Bayangan Emak yang kering dan letih tak lekang dari pikirannya. Tiba\-tiba Ruh merasa bersalah. Emak menjadi demikian, tentu akibat digigit rindu, digerumus sendirian. Apalagi Ruh menyadari kealpaannya tak pernah berkirim kabar. Alpa? Ah, Ruh sengaja melupakan Emak karena gagal menyematkan bintang di pundaknya. la merasa malu, bahkan untuk sekadar berkirim kabar.
Maka, sejak sebelas tahun di tanah perantauan, Ruh baru kali ini sesunggukan, di pagi buta. Sungai kecil mengalir di pipinya. Bahunya terguncang. la merasa beban dosa demikian sarat di pundaknya. la melupakan Emak. la bahkan melupakan nasihat Emak: hidup yang disulut ambisi justru membuat letih. Ambisi, keinginan untuk menjadi sosok berkuasa, justru membuat orang gampang tergelincir, sulit membedakan mana yang hak dan batil. "Allah menciptakan kita itu untuk menyembah\-Nya? Apa sih makna kekuasaan yang diuber\-uber bila akhirnya kita cuma menjadi penyembah?" Demikian nasihat Emak.
Ruh pun ingat, saat ia berusia sebelas, Emak menegurnya lantaran keasyikan mengangon sehingga lupa makan, bahkan alpa shalat. "Yang namanya rezeki itu, apa yang dipakai di badan dan apa yang masuk ke perut. Bukan sibuk bekerja mengumpulkan harta hingga lupa kepada\-Nya," tegur Emak.
__ADS_1
Nasihat\-nasihat Emak bersirobok ke bilik hatinya. Ruh kian sesunggukan, merasakan kehidupannya kini jauh dari harapan Emak. Mendadak Ruh rindu pada Emak. Mendadak Ruh ingin pulang.