
seperginya Sam dari rumah Meera. Meera segera membawa Bara masuk kedalam kamarnya. ia ingin sekali mencacimaki pria di depannya ini.
sesampainya dikamar Meera segera menutup pintu dan menguncinya. mereka kini sama-sama berdiri berhadapan dengan emosi yang sama pula.
"apa maksudmu mukul orang sembarangan!" kata Meera
"masih tanya apa maksudku? kau tahu aku hampir gila mencarimu dan kau malah peluk pelukan dengan pria asing disini, dimana pikiranmu hah??" bentak Bara sambil memepet tubuh Meera hingga Meera kini bersender di tembok karena sambil berjalan Bara terus memepet Meera hingga Meera tersudut.
"aku hanya pelukan kau sebegitu marahnya hingga mau membunuh orang!! lalu apa yang kau lakukan dengan Aurel seenakmu sendiri ciuman dengan wanita lain dan aku terus kau bohongi! coba katakan harus bagaimana sikapku padamu sekarang!" bentak Meera.
"apa yang aku lakukan. aku tidak melakukan apapun. kalau dia menciumku. itu bukan salahku! aku tidak membalas ciumannya, dna aku juga tidak sengaja!!" balas Bara sambil meletakan tangannya menyangga tembok
"ohh jadi begitu, aku juga bisa! lihat saja berapa banyak orang yang ingin menciumku! berapa banyak orang yang ingin memeluku! bukan salahku kan. toh bukan aku yang memulainya seperti katamu!" kata Meera memandang tajam arah Bara.
"Meera!!!!!! berani sekali kau bilang seperti itu!" bentak Bara.
"apa?" kata Meera
Bara sudha tidak tahan dengan ucapan istrinya yangs sudah menggila di bakar rasa cemburu itu. ia menarik tengkuk Meera dan hendak menciumnya tapi Meera tak mau ia menoleh agar bibirnya tak berpapasan dengan bibir Bara.
"aku tidak sudi lagi di cium oleh mu!" kata Meera.
Bara semakin memuncak emosinya. Ia pun menangkup wajah Meera dan menggigit bibir istrinya hingga Berdarah...
"aaa aaa aa .... " lenguh Meera... yang langsung meneteskan air mata karena bibirnya seketika berdarah digigit oleh Bara.
" sakit Bara.. !!!!!! " kata Meera sambil mendorong tubuh Bara.
Merasakan ada aroma darah dalam bibirnya Bara pun melepaskan gigitannya.
"Sakiiiit....." kata Meera berkaca-kaca sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
"kau tahu aku sangat tidak bisa menahan emosiku jika melihatmu di sentuh orang lain. Mengertilah Meera.. jangan memancing emosi ku, aku mencarimu hingga membuatku frustasi, dan begitu aku menemukanmu kau malah berpelukan dengan pria lain sungguh aku emosi Meera.. " kata Bara melembut sambil menangkup wajah istrinya yang hampir menangis.
"maafkan aku.. " kata Bara lirih menempelkan dahinya pada dahi Meera. Meera hanya Diam sambil terus mengusap bibirnya yang mulai membengkak
Bara mulai mencium lembut bibir Meera lagi. ia menghisap darah di bibir Meera. dan Meera hanya diam menerimanya karena saat itu membuat lukanya sedikit merasa baik.
__ADS_1
setelah cukup lama Bara melepaskan ciumannya dan memeluk Meera erat. Meera yang masih marah memilih menahan emosinya dari pada melihat kembali kemarahan suaminya itu.
"kau masih marah?" tanya Bara melembut. sebisanya Bara menahan emosinya agar tak melukai istrinya lagi. padahal dalam hatinya ia sangat ingin membunuh Sam. orang yang telah lancang memeluk istri kesayangannya itu.
sedangkan diluar kamar. Tuan Dion, Rangga, Adit sedang duduk di ruang tamu.
"kemari duduk disamping papa" kata Tuan Dion kepada Rangga
Rangga lalu berpindah tempat kesamping Tuan Dion. Tuan Dion mengusap kepala Rangga.
"apa papa boleh tau siapa pria tampan tadi?" tanya Tuan Dion
"em.. dia kak Sam" jawab Rangga takut melihat emosi Bara tadi.
"siapa dia?" tanya Tuan Dion
". Dia adalah Pelindungku waktu kecil. dulu rumah kita bersebelahan. Adik Kak Sam bernama kak Sasa teman kecil kak Meera. kami sudah seperti saudara. Dulu kemanapun kak Sam pergi bermain dia pasti mengajaku. Kak sam menjadi pelindung kami. jika aku dan kak Meera di ganggu orang kak Sam selalu datang membantuku. tapi karena suatu hal Kak Sam dan kak Sasa meninggalkan kota ini. Dan kami baru bertemu dengannya lagi. tapi malah kak Bara memukulnya" kata Rangga sambil menundukan kepalanya
Tuan Dion menarik nafas panjang karena merasa putranya salah faham lagi.. ia lalu merangkul pundak Rangga yang terlihat sedih.
"kau tau kak Bara sangat menyayangi Kalian?" tanya Tuan Dion
"karena itulah kak Bara tidak bisa melihat istrinya di peluk pria lain. dan tadi pria itu tampak akrab denganmu. kak Bara Takut pria tadi merebut kalian darinya lagi pula ia juga tidak mengenal pria tadi, jadi dia salah faham, apa kau marah?" tanya tuan Dion
"tidak pa. aku tahu kak Bara cemburu, tapi aku kasihan dengan kak sam" kata Rangga
"hmm.... besok kak Bara kan meminta maaf kepada pria tampan tadi" kata Tuan Dion
adit yang sedari tadi menyaksikan hanya menggelengkan kepala. tak habis pikir tuan mudanya menjadi sosok yang lain ketika bersangkut paut dengan Meera. menjadi lebih agresif dan tempramental..
sedangkan dikamar Bara terus menerus meyakinkan dan menenangkan Meera hingga akirnya Meera luluh dengan kata-kata Bara.
Kini Meera berada dipelukan suaminya. Bara enggan menanyakan tentang Sam. mengingat kejadian tadi saja membuat darahnya mendidih lagi. Meera berfikir
"maafkan aku Bara. semarah-marah nya aku harusnya aku tak pergi meninggalkanmu beberapa hari ini, aku tak bisa membayangkan jika kau benar benar melepasku dan tak mencariku, aku akan menyesal semuamur hidupku, maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini" batin Meera.
"kau disinilah dulu aku keluar sebentar" kata Bara lalu beranjak keluar dari kamar tidur sederhana itu
__ADS_1
diluar masih ada papa, rangga dan Adit menunggunya. Bara lalu duduk di samping Adit.
"Rangga.. apa kau juga marah kepadaku?" tanya Bara
"tidak kak. aku tidak marah. aku hanya takut melihatmu tadi" kata Rangga
Bara berdiri lagi menghampiri Rangga.
"jika kau tidak marah berdirilah" kata Bara didepan Rangga
Rangga pun berdiri dan langsung dipeluk oleh Bara.
"maafkan kakak membuatmu takut, apa aku masih kakakmu?" tanya Bara.
Rangga segera melepaskan pelukannya. dan berkata "tentu.. kak Bara tetap kakak keren ku" kata Rangga sambil tersenyum. Bara pun senang mihat kakak beradik ini menjadi lebih rileks tak seperti tadi.
ia tahu betapa terkejutnya Rangga melihat dirinya yang menggila hingga mengangkat pistolnya didepan Rangga tadi. Tuan Dion menyaksikan pemandangan didepannya kini pun tersenyum puas. benar-benar Bara telah menemukan Adiknya kini.
Untuk menenangkan pikiran Rangga Tuan Dion membawa Rangga untuk pergi. begitu juga dengan Adit yang harus sibuk dengan urusannya.
"ayo ikut papa" kata Tuan Dion kepada Rangga
"kamana?" tanya Rangga
"sudahlah. nanti kau juga akan tahu," jawab Tuan Dion
"emm.. aku pamit kak Meera dulu. nanti aku di marahi habis-habisan jika keluar tidak pamit" kata Rangga
"sudahlah kakakmu biar aku yang mengurusnya. bukankah aku juga kakakmu?" kata Bara. sebenarnya Bara juga khawatir karena kondisi bibir meera yang bengkak karena ulahnya tadi apa pikiran Rangga nanti jika mengetahui wajah sembab dan bibir bengkak kakaknya itu. Rangga pun beranjak kekamarnya untuk berganti pakaian
"papa mau ajak kemana Rangga" tanya Bara
"aku akan membawanya ketempat yang bisa membuatnya menjadi pria tangguh. setidaknya jika anak pertamaku bodoh. anak keduaku tidak boleh sebodoh abangnya!" jawab tuan Dion kesal juga dengan kelakuan Bara.
Bara hanya mendengus kesal. kini bukan hanya Meera dan Rangga tapi juga Papanya yang merasa kesal padanya.
setelah kepergian mereka. Bara kembali kekamar dan mendapati Meera sedang berada didepan cermin sambil mengusap bibirnya yang memerah.
__ADS_1
Bara lalu memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahnya di leher Meera.
"maafkan aku.. " kata Bara.