
Bara beranjak kekamarnya. dan dilihatmya kamar itu telah kosong. tidak ada penghuninya.. Seketika Bara menendang kursi yang ada disana..
dan tiba-tiba datang pula Mamanya.
"kemana Meera?"
"entahlah.."
"lalu kemana Reza. tadi mama lihat Reza datang"
Bara lalu menatap tajam mamanya. pikirannya langsung buruk kepada Meera. kenapa bisa mereka berdua menghilang diwaktu yang bersamaan.
"apa kau benar-benar tak menginginkanku Meera" batin Bara seraya menjatuhkan badannya pada ranjang besar di belakangnya.
Mama Bara tampak begitu bahagia melihat raut wajah kekesalan dan kekecewaan pada diri Bara.
sedangkan disisi lain Adit memeriksa seluruh cctv di rumah itu dan tampak tak ada yang aneh. Adit pun memijat pelipisnya yang terasa pening mengingat menghilangnya Meera.
"astaga ... bencana apa lagi ini" batin Adit.
Flash Back
Meera sedang menunggu didalam kamarnya sambil mengelus perutnya. tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. segera ia membukanya karena berfikir mungkin itu adalah suruhan Bara untuk menjemputnya.
benar saja ketika Meera membuka pintu. tampak 2 orang pria berpakaian jas dan lengkap dengan maskernya.
"aah apakah kalian di suruh Suamiku menjemputku?" tanya Meera
"benar nyonya.. mari ikut kita" kata salah satu dari mereka
Meera pun mengikutinya dengan senang hati.
"sayang.. Daddy memanggil kita.." kata Meera dalam hati kepada calon anaknya.
__ADS_1
namun baru beberapa langkah Meera berjalan salah satu Pria itu membekap mulut Meera dari belakang dan membiusnya. Seketika Meera pun jatuh pingsan akibat dosis obat bius yang diberikan begitu besar.
Kedua pengawal itu pun membawa Meera keluar dari mansion lewat pintu belakang. semua kejahatan itu sudah terencana hingga berjalan sangat mulus. banyak penghianat yang bertebar didalam pesta itu. siapa lagi jika bukan Aurel yang merencanakannya. dengan dukungan dari Ny. Martha jelas memudahkan rencananya.
Meera di gendong dan di luar gerbang sudah tampak 2 mobil telah menunggu. banyak dari mereka mengeluarkan pistol untuk berjaga jaga bila mereka ketahuan orang makan akan dengan cepat menghabisi orang itu. Meera dibawa masuk kedalam mobil. dan langsung pergi dengan cepat.
sedangkan Reza yang tak karuan hatinya didalam ruangan pesta pun tak menikmati sama sekali. Ia memutuskan untuk pergi ketaman belakang dengan ditemani segelas wine di tangannya. ia ingin menenangkan hatinya yang sedari tadi rasanya kacau.
ia memilih tak melihat Bara bersanding dengan Meera daripada menahan hancur perasaanya. Reza pun pergi ke taman belakang dengan santainya. udaara yang begitu tenang membuat hatinya sedikit nyaman.
namun keheningan itu terhenti tak kala seorang pelayan wanita yang menghampirinya dengan gemetar dan menangis tersedu sedu..
"hiks. hiks. hiks... tuan muda" kata pelayan itu.
Reza mengangkat pandangannya ditatapnya penuh tanda tanya orang didepannya ini
"ada apa kenapa kau menangis" tanya Reza.
"tuan muda.. nyonya Meera tuan.. hiks.."
"Tadi saya melihat Nyonya Meera di bawa kabur oleh orang berpakaian hitam dan banyak dari mereka membwa senjata api tuan. hiks.. mafkan saya tuan tidak menghentikan mereka. saya takut" kata Wanita itu dengan tangis yang semakin menjadi jadi. seketika Wajah Reza menggelap.
"tenanglah. kami akan menemukan Meera.. jangan berkata pada siapapun ya" bujuk Reza menenangkan pelayan itu yang masih terus terisak didepannya. pikirannya semakin kacau saat ini. Meera hilang...
Reza segera berlari kedalam pesta dan berusaha menemui Bara namun tidak bisa Bara sedang bersama Tuan Dion menemani tamu-tamu penting, Reza berlari mencari Adit namun Adit juga tengah bersibuk saat itu.
Reza semakin geram dan semakin frustasi. ia pun dengan srampangan berlari kekamar Bara dan ingin memastikan sendiri apakah Meera berada disana atau tidak.
pndangannya menggelap ketika hanya melihat Tas dan Ponsel Meera yang berada di sana.. ia pun membawanya pergi. meraih tas Meera dan juga ponselnya. lalu ia pergi keluar mansion dan mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan penuh. dengan menyetir Reza menghubungi semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Meera. Reza menyusuri jalanan jalanan kota itu berharap menemukan Meera.
"Meera... dimana kamu sayang..." kata Reza. hampir-hampir ia menangis karena tak segera menemukan Meera.
Reza pun mengingat Lexa.
__ADS_1
"Lexa.. ahh ya Lexaa..." kata Reza.
dengan Cepat Reza melaju menunu mansion Lexa.
sesampainya disana Reza segera berlari kedalam Rumah melewati pengawal-pengawal yang ada disana. Reza bisa dengan mudah masuk kedalam sana karena perintah dari Lexa. Reza menemukan Lexa sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tengah.
dengan nafas yang tersengal Reza berdiri didepan Lexa dan Lexa sangat terkejut dengan kedatangan Reza.
"tolong.. tolong Aku kali ini" kata Reza terbata mengatur nafasnya.
"duduklah. ada apa kenapa kau begitu panik" kta Lexa. Reza pun langsung duduk disamping Lexa.
"tolong cari keberadaan Meera. Meera menghilang" kata Reza dengan wajah yang tampak kacau..
deg.......... Lexa seperti tersambar petir hatinya
"Meera hilang? bagaimana bisa" teriak Lexa kaget. Lexa sangat menyayangi Meera ia tak akan pernah rela jika terjadi sesuatu dengan Meera
Reza menceritakan apa yang dikatakan oleh pelayan yang meberitahunya tadi.
Seketika api dalam diri Lexa tergugah dan membara
"siapa yang berani bermain dengan Meeraku sialann......!!!! " kata Lexa sambil membanting gelas yang ada didekatnya. Amarahnya memuncak.
Lexa pun berteriak memanggil anggotanya.
"Siaga 1" kata Lexa.
setelah anggota Black Eagle datang. Lexa segera berdiri didepan mereka dengan melipat kedua tangannya
"Phoenik di culik. aku mau dalam hari ini juga temukan keberadaannya." kata Lexa.
"Siappp... " kata pria pria gahar itu. lalu dengan cepat Lexa segera meretas cctv dirumah Bara. Matanya memutar mutar mencari petunjuk.
__ADS_1
"sialaaannnn!!!!! CCTV ini telah direkayasa..!!"
"ini pasti ada terlibat orang dalam" kata Lexa sedangkan Reza sibuk menelfon anakbuahny menanyakan perkembangan Meera. namun nihil tak ada sama sekli yang mendapatkan petunjuk.