Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Di bawah langit Ka'bah


__ADS_3

irvan dan Arum memasuki Masjidil Haram lewat pintu Babussalam. Rumah Allah. Tempat dil mana kaum muslimin di seluruh dunia mendambakannya. Tempat yang dulu penuh dengan berhala dan pemuda Ibrahim menghancurkannya. i Juga tempat di mana Siti Hajar lari pontang-panting dari bukit Sofa ke Marwah karena anaknya, Ismail, kehausan. Lalu, bayi ajaib itu menggerak-gerakkan kedua kakinya dan muncullah mata air yang tak lekang dimakan zaman: zamzam.


"Allahu Akbar!" Arum berseru.


"Seperti mimpi!" Irvan merasa terharu. Bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya bergetar.


"Ya, seperti mimpi!" Arum menimpali. Baginya memang seperti mimpi. Segalanya terasa begitu cepat. Siapa menduga kalau tiba-tiba saja suaminya mengajaknya untuk umrah! Tak ada angin tak ada hujan umrah!


"Lihat itu!" Irvan menunjuk ke angkasa, membuyarkan lamunannya.


Arum menengadah.


Tampaklah kini keajaiban itu! Dulu, mereka hanya mendengar dari dongengan tetangga yang sudah berangkat haji. Kini, keajaiban itu betul-betul terjadi di depan matanya! Segerombol burung merpati terbang memasuki areal masjid. Tapi, begitu hendak berada di atas Ka'bah, burung-burung itu menukik. Unggas itu seperti mengerti bahwa langit di atas Ka'bah adalah tempat yang suci!


"Terima kasih, Mas, atas kebahagiaan inil!" wajah Arum yang pucat dihiasi senyum.


"Berterimakasihlah pada Allah," Irvan tersenyum dan merasa prihatin melihat kondisi istrinya. "Kamu masih kuat?"


Arum mengangguk, "Insya Allah."


"Ayo, kita thawaf!" Irvan menarik lengannya. Arum mengikuti langkah kaki suaminya ke pelataran. Pada musim haji, tempat ini disesaki puluhan juta jamaah haji dari seluruh dunia. Tapi sekarang, tidaklah begitu padat. Arum sejak dari rumah ingin sekali shalat sunnah di Hijr Ismail. Konon katanya, jika bisa shalat sunnah di tempat itu, pahalanya sama dengan shalat di dalam Ka'bah!


Irvan menyuruh Arum untuk berjalan di depannya. Irvan melindunginya dari belakang, supaya jamaah umrah lain tidak menyenggolnya. Arum merasakan betapa suaminya sangat sayang padanya. Dia tahu, suaminya ingin memberikan sebanyak-banyaknya kebahagiaan sebelum maut menjemputnya.


Langit di atas Ka'bah tidak begitu menyengat. Ramah. Bahkan, angin bertiup lembut, menyejukkan orang-orang yang sedang thawaf. Mereka pun melakukan thawaf, berjalan mengikutiarus, mengitari Ka'bah sebanyak tujuh kali. Mereka berada di arus orang-orang berpakaian ihram, tampak menikmati proses ritual ini. Ketika pada putaran kedua, Irvan mengajak Arum untuk mendekati Hajar Aswad. Irvan melindungi istrinya agar bisa memegangi batu hitam dari surga itu. Bahkan menciumnya. Ini sunnah Nabi. Dulu, Nabi Muhammad juga men cium batu hitam ini.


Konon, batu dari surga ini pernah jatuh dari tempatnya karena Ka bah terkena musibah banjir. Lalu, setiap suku mempermasalahkan, siapa gerangan yang layak menyimpan kembali si batu hitam. Mereka ribut dan tidak ada titik temunya. Semua merasa bahwa sukunyalah yang paling berhak menyimpan batu itu. Akhirnya diputuskan, barangsiapa yang paling dulu datang ke Ka'bah saat subuh, dialah yang berhak menyimpan kembali si batu. Kemudian terbukti, pemuda baik hati dan jujur, Muhammad, yang pertama datang ke Ka'bah subuh itu. Tapi, pemuda Muhammad sangatlah bijaksana. Dibentangkan lebar-lebar serbannya. Batu hitam itu diletakkan di tengah-tengah serbannya. Pemuda Muhammad menyuruh setiap kepala suku memegangi ujung serban dan mengangkatnya. Kemudian, pemuda Muhammad mengambil batu itu


dan meletakkan kembali ke tempatnyal Betapa senangnya semua orang! Begitulah Muhammad, sebelum menjadi nabi, sejak mudanya pun sudah terkenal kebijaksanaannya.


Irvan dan Arum kini sudah berdiri persis beberapa senti dari rumah Allah itu. Mereka berjalan ke pintu depan. Hajar Aswad kini hendak mereka peluk dengan sukacita. Irvan meraba-raba Hajar Aswad. Mereka pun larut, secara bergantian, memeluk dan mencium Hajar Aswad. Mereka seperti tidak ada puasnya. Padahal, beberapa orang sedang menunggu giliran. Mereka tersadar dan meminggir, memberi kesempatan kepada yang lain.


Mereka kembali menuntaskan thawaf. Pada putaran kelima, mereka secara bergantian shalat sunnah di Hijr Ismail. Berdesak-desakan, tapi tidak sesulit saat musim haii. Setelah itu, mereka mengitari Ka'bah lagi sebanyak dua kali. Usai thawaf, mereka beralan ke air zamzam. Meminum airnya lewat kran.


"Seharusnya, Mas ngajak aku naik haji. Bukan umrah!" Arum membasuh wajahnya dengan air zamzam. Penderitaan Siti Hajar membayang di matanya. Seorang ibu yang panik mencari air di padang pasir karena bayinya kehausan. Atas kuasa Allahlah, mata air memancur dari tempat di mana kedua kaki si bayi bergerak-gerak!


"Sekarang, mampunya umrah dulu," Irvan juga membasuh wajahnya dengan air zamzam. "Insya Allah, saatnya akan tiba nanti," tambahnya tersenyum.


"Tapi, Mas 'kan janjinya mau ngomongin sesuatu. Ayo, omongin! Aku udah nggak sabar ngedengernya. Kayaknya serius banget. Ada apa, sih? Kan sebenermya bisa aja dibicarakan di rumah. Lumayan, uangnya bisa ditabung buat naik haji tahun depan."


Irvan kembali menatapnya. Wajahnya tampak serius. Dia mengajak Arum untuk naik ke lantai dua. Dicarinya tempat yang agak sepi. Dia berdiri mengukur-ukur sudut antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Dia mencoba mengira-ngira bahwa di tempatnya berada, kalau ditarik garis diagonal, masih termasuk ke dalam wilayah Multazam. Wilavah Multazam, tempat yang dipercaya kaum muslimin sebagai tempat yang manjur untuk berdo'a. bisa memperlancar segala urusannya. Konon, menurut cerita orang-orang, banyak artis Indonesia berdo'a di tempat ini untuk segera mendapat jodoh!


"Di sini?" Arum minta kepastian.


"Ya, kira-kira di sinilah! Insya Allah!"


Arum juga mengira-ngira. Di depannya terbentang Ka'bah. Dia berdiri dengan perasaan yang sukar dilukiskan: haru dan bahagia. Sekali lagi, dia merasa tak yakin! Siapa sangka sekarang Arum berada di rumah Allah? Seperti petir di siang bolong, tiba-tiba saja sepulang kerja, Irvan mengajaknya untuk umrah. Arum awalnya tidak percaya. Tapi dia vakin, suaminya mengajaknya ke i sini untuk membahagiakannya.

__ADS_1


"Mas," bibir Arum tampak membiru dan kering,


"ada hal yang lebih penting lagi dari sekadar umrah, kan?" bidik Arum.


"Sudahlah, kita beribadah dulu. Insya Allah, ini Multazam. Mari kita berdo'a, memohon ampun pada Allah." Irvan mulai menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangannya.


Arum hanya pasrah melihat suaminya berzikir.


"Ya Allah," bisik Arum dalam hati, "segalanya hamba serahkan pada-Mu. Engkau yang mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Aku mohon lindungan-Mu, ya Allah. Berikanlah yang terbaik bagi kami, keluarga kami, anak keturunan kami. Ya Allah, Zat Yang Mahatinggi, aku berlindung pada-Mu atas apa yang menjadi rahasia suamiku. Aku mencintai dia, ya Allah, dan izinkanlah cinta itu karena-Mu."


Irvan menghapus tetes air mata di pipi Arum. Arum membuka mata, dilihatnya suaminya tengah memandang dengan senyum. Segera disekanya mata dan pipinya. Setelah berdoa, beban di dadanya terasa lebih ringan. Sebelumnya, semua seperti teka teki baginya.


"Pasti ada alasan lain. Iya 'kan, Mas?" Mimik wajah Arum meminta penjelasan.


Irvan menatapnya. Dia mengangguk. "Ya, ada alasan lain," katanya serius.


"Apa?"


"Kita bicarakan di sana saja. Di depan Ka'bah."


"Kenapa harus ke sana?"


"Aku ingin kita membicarakannya di sana. Di depan Ka bah. Di rumah Allah. Barangkali tempat itu akan membawa rahmat buat kita."


"Rahmat buat kita?"


Irvan berjalan mendekati tempat tidur mereka. Dikecupnya kening Dini, anak pertama, yang kini mendekati usia empat tahun. Kemudian dibetulkannya letak selimut Dini. Seekor nyamuk yang menempel di lengan Dini, sempat ditepuknya dengan lembut. "Tidurlah yang nyenyak, Dini. Bermimpilah yang indah," bisik Irvan di telinga Dini. Ada perasaan bahagia bercampur dengan haru, ketika dia mengecup kening Dini. "Kamu cantik seperti ibumu," pujinya memandangi wajah Dini.


Fajar menggeliat di tempat tidurnya. Anak lelaki berusia tiga tahun itu seperti menagih untuk diperlakukan sama oleh ayahnya. Irvan tersenyum dan mendekati Fajar. Dielus-elusnya rambut Fajar. Dibetulkannya posisi tidur Fajar, yang berada di tepian ranjang. "Rasa capek Papa selalu hilang jika melihat kalian. Rasanya, kalian nggak akan tergantikan dengan apa pun," gumamnya.


Irvan tidak menyadari kalau sedari tadi Arum berdiri di pintu kamar. Arum mendengarkan semua gumaman suaminya. Betapa sukacitanya perasaan Arum, melihat suaminya sangat menyayangi anak. anak vang keluar dari rahimnya. Arum merasa tidak sia-sia sudah mengandung, melahirkan, dan merawat Dini serta Fajar.


"Kamu sudah siap mendengarkan?" Irvan membuyarkan lamunannya.


Arum tersentak. Wajahnya makin pucat. Dia merasa gugup. Langit Ka'bah samar-samar berwarna kelabu. Hatinya berdebar-debar. Dia memegangi lengan suaminya. Dia merasa sangat ketakutan, seperti akan kehilangan suaminya. "Mas mau ninggalin Arum?" tanyanya pasrah.


"Mas nggak ke mana-mana. Mas selalu ada di sisi kamu," Irvan tersenyum.


"Lantas, apa yang mau Mas bicarakan?"


"Kamu pucat sekali. Sebaiknva, kita ke rumah Sakit."


"Kalaupun sekarang saatnya, Arum ingin di sini saja. Di rumah Allah. Berada di pangkuan Mas." Arum gelisah. "Ayo, Mas, katakan... "


"Bismillahirrahmanirrahim..."Irvan menguatkan hatinya.


Kini, jantung Arum berdebum!

__ADS_1


"Maaafkan Mas, ya...Mas nggak ingin ada fitnah di antara kita. Itulah sebabnya, Mas membawa kamu ke sini, untuk umrah. Barangkali di tempat yang suci dan penuh barakah ini, kita diberi rahmat dan hidayah oleh Allah... "


"Ada apa, Mas?" Arum sudah tidak sabar.


"Mas minta keikhlasan kamu. "


"Apa selama ini Mas merasakan Arum nggak pernah ikhlas?"


"Alhamdulillah. Selama ini, Mas selalu men dapatkan keikhlasan kamu sebagai seorang istri. Terutama keikhlasan kamu merawat Bapak yang sedang sakit di rumah," Irvan menggenggam tangan istrinya dengan rasa sayang.


"Itu sudah kewajiban kita sebagai anak, Mas. Bapak kan sudah tua. Lagian, inget nggak, Mas. Dulu.., sebelum kita menikah, Mas kan pernah bicara sama Arum bahwa kalau Arum menerima lamaran Mas, berarti Arum juga harus mau menerima Bapak tinggal bersama kita."


Irvan mengangguk.


"Tapi, yang mau Mas bicarakan sekarang bukan soal Bapak, kan?"


"Mas menerima tawaran kamu"


Wajah Arum yang pucat, tiba-tiba saja berubah bercahaya. "Subhanallah," bibirnya bergerak lemah. Langit Ka'bah juga tak lagi kelabu. Semuanya benderang.


"Maafkan Mas. Seperti yang pernah kamu sarankan, sekarang Mas mau... menikah lag..."


Kalimat yang meluncur dari mulut suaminya itu seperti air sejuk mengaliri dahaga. Terasa sangat menyakitkan pada kali pertama, tapi seterusnya membuat lega! Suaminya meminta izin darinya untuk menikah lagi! Apa dirinya tidak salah mendengar? Suaminya mau mempunyai istri kedua Dirinya akan dimadu, saat kematian begitu dekat! Benarkah itu? Akan ada istri baru yang bakal menggantikan tempatnya di sisi anak-anak! Tapi, bukankah anak-anak lebih membutuhkan kehadiran seorang ibu dibandingkan egonya memiliki suami sepenuhnya?


Arum merasa matanya hangat.


"Maafkan Mas. Ini sebetulnya berat bagi Mas. Tapi, betul kata kamu, sepeninggal kamu, Fajar dan Dini harus ada yang mengurusi."


"Boleh tahu, siapa orangnya, Mas?" Ada ketegangan dalam suara Arum.


"Orang yang telah kamu kenal dengan baik, yang kita percaya dapat mengasuh Dini dan Fajar dengan baik," Irvan membelai lembut pipi istrinya yang kian cekung. "Mas memilih Tuti "


"Tuti... Arum mengingat lebih keras nama itu. Rasa sakit kini membuatnya lamban berpikir. Arum memegang keras kepalanya yang terasa mau meledak.


"Tuti, guru ngaji anak-anak...." Irvan mencekal lengan Arum. "Terasa lagi?"


"Subhanallah... Tuti... ya. Aku ingat, Mas. Kasihan dia. Kita harus melindunginya dari fitnah. Janda, mandul, ah... Mas benar telah memilihnya.." Arum tersenyum. Ia tahu persis siapa Tuti. Hatinya lega sudah. Insya Allah, Dini dan Fajar akan mendapat ibu baru yang sabar. "Allah.." Arum mengerang sambil tetap memegangi kepalanya.


"Istighfar, Arum. Ingatlah Allah. La ilaha illallah..." Irvan memeluk tubuh lemah Arum. Dibisikkannya kalimah thayyibah di telinga Arum. Dirasakannya napas Arum tersengal-sengal. Irvan menatap wajah istrinya.


"Titip anak-anak, Mas . Jaga baik-baik..." Arum menutup matanya dengan berat. "La ilaha illallah..," bisik Irvan berulang-ulang. Irvan menatap gerak bibir Arum mengikuti kalimatnya. Tak kuasa Irvan melihat Arum sakaratul maut, terus saja Irvan berbisik di telinga Arum hingga tak terdengar desah napasnya.


Irvan menutup kedua mata istrinya. Dikecupnya wajah yang dikasihinya itu.


"Allah..," bisik Irvan lirih. "Terimalah Arum di sisi-Mu, ya Rabi. "


Tiba-tiba di bawah langit Ka'bah ada cahaya melesat ke udara.

__ADS_1


__ADS_2