
Meera masih membuang mukanya. ia tak mau Davian melihatnya, namun terlambat Davian sudah mengetahui jika Meera ada di sana
"Ameera..?" Davian mendekatkan wajahnya pada Samping wajah Meera yang tertutup tangan
Shinta masih melongo melihat 2 prajurit yang sedang libur itu. mereka terlalu tampan di mata Shinta. namun Meera masih diam. ia tak menjawabnya. Meera benar-benar ingin menghindari Davian. Davian menurunkan tangan Meera. ia memegang tangan Meera dan meletakannya di meja. Meera mati kutu rasanya.
haduuhhh.... tidak ada cara lain ... batin Meera
Meera lalu pelan menatap Davian. dan berkata "eh kamu dav" dengan tatapan malunya.
"Meer. kalian saling kenal?" Tanya Shinta melongo
tak ada jawaban dari Meera.
"Apa kabarmu Meera, lama sekali aku tak bertemu denganmu, aku mencarimu Meera.." kata Davian di depan Meera. sedangkan Meera mukanya sudah merah malu karena bertemu Davian. ia ingat bagaimana ia berusaha menghindari Davian karena saat itu ia memang tak bisa menerima cinta Davian. meski saat itu ia pernah menaruh rasa kagum dengan pria didepannya ini
"aaa.. baik" jawab Meera gugup.
sedangkan teman Davian yang satunya hanya diam disamping Davian.
"Boleh kita duduk disini, kebetulan kita juga akan makan disini" kata Davian
"Ooohh boleh sekali tuann.. silahkan duduk saja bangku nya kosong kok" Shinta menjawab antusias.
ya ampun Shinta... gerutu Meera dalam hati sambil memmnutup mukanya dengan salah satu telapak tangannya memandang tingkah Shinta yang menurutnya membuat malu
Mereka berbicara banyak hal disana. dari sekian banyak pria yang mendekati Meera. hanya Davian yang sedikit bisa mengambil sisi hatinya. bahkan ia sempat berfikir. jika sudah saatnya dan Davian masih menginginkannya ia akan menerima Davian. Bahkan hanya Davian yang dekat dengan orang tua Meera. mereka kini duduk berdampingan.
"Meer.. aku antar pulang ya" kata Davian
"tidak usah Dav" kata Meera.
"kenapa? apa nanti ada yang marah?" kata Davian memancing, sebenarnya davian juga penasaran kenapa sampai lulus kuliah Meera tak mau menerimanya. setiap kali ditanya apa sudah punya pacar Meera selalu bilang tidak. namun ia tak pernah sekalipun menerima Davian
aduh gimana ini.. aaah persetan.. urusan belakangan kalau dia tanya lebih detail. tapii davv.. kamu makin ganteng bangeetttt.. andaii aku belum menikah sama Bara.. hikss....meera berceloteh dalam Hati.
"ii iiyaa.. aku sudah menikah" Meera gugup karena mencari alasan, ia tak mau Davian menaruh harapan besar lagi untuknua
"uhukk uhukk..." Shinta yang mendengar Meera berkata seperti itu pun tersedak kaget matanya melotot memandang Meera.. Meera pun menginjak kaki Shinta dibawah meja tanda agar Shinta diam.
Davian melihat ekspresi Shinta. ia yakin kalau Meera masih menghindarinya sama seperti dulu.
"oh ya.. siapa pria beruntung itu" kata Davian sambil melirik Meera
__ADS_1
"eemm... emm.. ada pokoknya" kata Meera terbata-bata.
Shinta masih melongo, cih meera.. kalau aku jadi kau Meer. ku putus pacarku aku jadian sama orang ganteng di depan ini. dasarr Meera...
Davian semakin yakin Jika Meera berbohong namun ia tak mau mempermasalahkannya.
"boleh minta nomor wa mu Meer. yang dulu hilang karena ponselku juga hilang" kata Davian
"aaa ku saja yang kasih tuan, kemarikan ponselmu aku catatkan nomor Meera" kata Shinta. entah apa yang dipikirkan Shinta saat itu.
setelah mereka bertukar nomor telefon. Meera dan Shinta pamit dari sana. di dalam taksi Shinta masih terus menanyakan Davian
"Meeraakenapa kamu bilang sudah menikah. mereka ganteng banget meerr....."
"ah sudahlah"
"Meer andai kedua pria tadi salah satu menyukaiku aku putus dengan Vian tidak masalah Meer. aku akan jadian sama mereka"
"jangan gila kamu Shin." kata Meera sambil masih membayangkan kejadian tadi. Davian memang lebih tampan dari yang dulu terakir ia bertemu..
"Meera.. kamu beneran gk suka sama pria tadi?"
"hmm. entahlah. sekarang keadaanya berbeda shinta sayang.."
hmm.. kamu gak tau sinn siapa suamiku. bisa di bakar aku kalau dia tahu.. batin Meera.
Dirumah tuan Dion
Bara datang dengan Adit, ia datang bukan karena Aurel. namun karena mamanya. sesampainya Bara dirumah. Aurel dan ny. Martha senang ternyata ia tak bersama Meera. mereka makan malam bersama seperti biasa. namun kini tempat duduk Bara bersampingan dengan Aurel. Bara tak mau ribut malam itu ia membiarkan Aurel duduk disampingnya. Tuan Dion sama sekali tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Aurel yang terus mencari perhatian Bara tak di gubris oleh Bara.
selesai makan Bara dan tuan Dion juga Adit berbincang di ruang tengah sedikit membahas saham mereka di beberapa negara. Aurel datang dan langsung duduk di samping Bara. sambil memeluk lengan Bara. Bara masih diam. ia tak menghindar. namun ia tak meresponnya. Aurel makin menggila. kepalanga di sandarkan di bahu Bara. Adit yang melihatnya geram "dasar murahan" begitu kira-kita tatapan mata Adit. Aurel merasa diatas awan. Ia dengan tak tahu diri ketika Bara masih mengobrol dengan tuan Dion tentang saham ia tiba-tiba mencium pipi Bara. Kali ini Bara baru bereaksi. "jangan melewati batasmu aurel" bentak Bara. Adit lalu memberi kan tissu kepada Bara. Tuan Dion geram melihatnya. Tuan Dion juga sedikit kesal dengan Bara. kenapa Bara baru beraksi.
diam-diam ternyata ada rencana licik di rumah itu antara aurel dan Ny. Martha. mereka menyuruh pelayan mengambil gambar Bara dan Aurel. Aurel pun senang berhasil mencium pipi Bara karena itu akan ia kirimkan ke Meera. ternyata benar saja setelah dibentak Bara. Aurel segera berdiri dan ada pelayan yang memberitahunya. dan segera Aurel mengirimkan foto-foto yang berhasil ditangkapnya ke Meera.
Bara mendapat pesan dari ponselnya. itu adalah bodyguard Meera. Bodyguard itu mengirimkan foto nona Meera ketika berbelanja dan tentu saat bertemu Davian. memang Bara sendiri yang mengintruksikan untuk mengirimkan semua kegiatan Meera di mall itu. Ada beberapa foto Meera dengan Davian disana. hal itu membuat Bara marah. Bara tak bisa menahan emosinya. "Bisa-bisanya meera janjian dengan pria lain"
setelah itu ia dan adit pamit untuk pulang.
dimansion Bara
Meera yang baru turun dari taksi. ia mendengar ponselnya berdering, ketika ia membuka pesan ada satu dari nomor tak dikenal. matanya terbelalak melihat Bara bersama Aurel. bahkan disana ada tuan Dion dan Adit. Aurel yang duduk di samping Bara sambil memeluk lengan Bara, Aurel yang makan bersama keluarga di samping Bara, bahkan Aurel yang mencium pipi Bara pun juga ada.
Meera lemas seketika tubuhnya..
__ADS_1
ternyata ini urusan pentingnya.. haha bahkan aku sangat mudah di bodohi, bahkan aku tak sadar jika semua orang hanya pura-pura menerimaku. bagus sekali Bara. ... kata Meera dalam hati, ia merasa semua orang membohonginya. hatinya tak bisa di jelaskan saat ini. ia segera menuju ke kamarnya. dan membersihkan diri. Bara juga belum pulang saat itu.
setelah sekian lama di kamar mandi menenangkan pikirannya. Meera keluar dengan rambut Basahnya. ia mengenakan baju tidurnya. ketika hendak keluar kamar untuk mengambil minum ia melihat kantong kaos yang dibelinya. ia lalu membuka dan memandang sekilas "mungkin Aurel lebih pantas memakainya" gumam Meera lalu meletakan kaos pasangan itu kedalam lemari. setelah itu ia pergi ke dapur.
sesampainya di dapur ia membuka kulkas dan mengambil sekotak susu coklat lalu menuangkan di gelasnya. pikirannya terbayang-bayang kejadian dengan Aurel.
apa aku masih harus percaya dengan Bara jika keadaan seperti ini, huhh.. kenapa saat seperti ini datang begitu cepat.. batin Meera.
Braakkkk... Bara menendang pintu
"kemana nyonya kalian?" bentak Bara pada seorang pelayan
"ada di dapur tuan" kata pelayan lirih, ia takut melihag bara dalam keadaan marah
Meera yang mengetahui kedatangan Bara pun hanya diam di tempatnya. Bara berjalan dengan langkah besarnya menghampiri Meera lalu menarik tangan Meera. Meera yang tidak siap pun menumpahkan segelas susunya hingga gelas itu jatuh dan pecah..
Bara menarik tangan Meera kasar. menuju kamarnya. Meera tak tahu kenapa Bara malah Marah. "aaaaaaa sakiiittt" teriak Meera yang pergelangan tangannya di tarik paksa oleh Bara.
Adit dan pelayan disana hanya menjadi penonton tanpa suara. Adit memang pulang bersama Bara. Adit langsung menghubungi Bodyguard Meera. dna menanyakan sedetail mungkin kejadian di mall tadi.
sedangkan di kamar Meera. Bara masuk sambil menyeret tangan Meera dan mengunci pintunya.
Meera diam menahan sakit di pergelangan tangannya. tentu juga sakit dihatinya. ia tak tahu kenapa Bara marah kali ini. Bara menjatuhkan Meera di atas Ranjang, Meera tersungkur begitu saja di sana.
"Katakan, dari mana kau tadi" Bara dengan emosi di kepalanya
"apa maksudmu, aku dari mall dengan shinta"
"lalu, dengan siapa kau janjian disana?"
"aku tidak janjian dengan siapapun"
"Ameera Kirana. jangan mencoba melewati batasmu!!, katakan dengan jujur atau kau akan tahu akibatnya"
"apa maksudmu, aku tidak janjian dengan siapapun Bara, buat apa aku bohong!" Meera yang merasa tak seperti yang dikatakan Bara pun tak mau mengakui
Bara mendekat kearah Meera. ia mencengkeram kedua lengan Meera. "Katakan dengan siapa kau berselingkuh"
Meera menatap mata Bara "bagus Bara, bahkan kau melemparkan kelakuanmu sendiri kepadaku, kau yang selingkuh aku yang kau jadikan sasaran"
"Jawab Meera!!! jangan menguji kesabaranku!" Bentak Bara didepan muka Meera.
"kau bilang aku selingkuh? lalu bagaimana denganmu yang....." kata-katanya terputus meera tak mau melanjutkan kata-katanya. mata yang awalnya menatap dalam mata Bara. ia pejamkan sejenak lalu membuka mata dan menatap kebawah. ia tak mau mengungkapkan apa isi hatinya.
__ADS_1
"kenapa? ada apa denganku? kau kira aku sama sepertimu?" Bara membentak Meera lagi.