
Meera merasakan pelukan hangat suaminya. ia lalu bebalik menghadap Bara.
"emm. maafkan aku telah meninggalkanmu beberapa hari ini" kata Meera lirih
"astagaa... aku yang menyakitinya dia yang minta maaf.. benar-benar aku bingung dengan hatimu Meera.." batin Bara sambil memandang wajah istrinya.
"aku yang salah" kata Bara.
"tidak.. harusnya aku tetap disisimu, aku tak boleh kabur seperti kemarin. harusnya aku memepercayai mu, aku tak bisa membayangkan jika kau benar-benar melepasku, apa lagi keadaan tanganmu terluka" kata Meera dengan mata berkaca-kaca
"hem.... apapun yang terjadi aku tak akan melepaskanmu Meera. kemana pun kau pergi akan ku cari" kata Bara sambil menarik Meera dalam pelukannya
Meera merasa nyaman dipelukan suaminya. ia pun membalas pelukan Bara. ia ingin lebih dari sekedar pelukan. Meera mendongakan wajahnya dan hendak mencium bibir Bara. namun Bara menolaknya. mengingat bibir Meera yang masih memar di gigitnya tadi.
"jangan, bibirmu sakit" kata Bara sambil mengelus lembut bibir Meera. padahal ia juga sangat menginginkannya tapi mengingat bibir istrinya barusan berdarah karenanya. ia menahan hasratnya agar tidak menyakiti istrinya lagi.
Meera tahu Bara tak ingin menyakitinya ia pun tersenyum manis dan kembali memeluk Bara
"astaga.. sudah berhari-hari aku tak melihat senyuman ini.. sayang aku merindukanmu" batin Bara ketika melihat senyum cantik istrinya.
waktu sudah hampir sore. Bara mengajak Meera keluar untuk pulang kembali ke mansionnya.
sepanjang jalan Meera terus memperhatikan keluar jendela dalam diamnya. Bara yang memperhatikan sikap Meera pun segera tahu jika Meera masih tidak nyaman hatinya. Bara menggenggam tangan Meera dan menciumnya sambil terus mengemudi. Meera mendapat perlakuan itu pun tersenyum bahagia.
"nanti aku ingin mengajakmu pergi ke mall.. mau?" tanya Bara. ia berusaha membuat istrinya bahagia.
"benarkah?" tanya Meera dengan tatapan penuh harap.
"yaa.. apapun yang membuatmu senang." kata Bara.
"Yeeyy... berangkattttt" kata Meera bahagia dan langsung mencium pipi Bara.
*Di mall
Bara dan Meera kini sudah berada di Mall. mereka menggunakan pakaian cassualnya. Meera menggunakan celana jeans warna cream dan kaos berwarna peach bermotif bunga-bunga. sedangkan Bara menggunakan Kaos mahalnya karena dikeluarkan oleh brand terkenal.
Meera dan Bara membuat semua orang yang menatapnya menaruh rasa kagum. pasangan tampan dan cantik sangat serasi.
"ayo mau beli apa?" tanya Bara.
"tidak.. aku tidak ingin beli apapun. aku ingin potong rambut. lihatlah rambutku sudah panjang sekali" kata Meera sambil menata rambutnya kedepan. rambut yang lurus hitam lembut itu kini sudah sampai di pinggang panjangnya. sedangkan Bara mengernyitkan alisnya. ia sangat suka dengan rambut Meera itu. dengan rambut seperti itu membuat kesan Meera semakin elegan dan sangat seksi.
"jangan dipotong. mau dandan gimana" kata Bara ketus
"ihh.. ini tuh udah panjang banget susah sisirnya" kata Meera.
"aku yang akan menyisirnya setiap hari untukmu" bujuk Bara.
__ADS_1
"gak mau.. aku mau potong. seginii" kata Meera sambil menunjukan tangannya di pundaknya tanya ia ingin memotong pendek rambutnya.
"cihh.. No!" kata Bara.
"hmm.. oke. segini" kata Meera sambil menunjuk bawah pundaknya
"No!" jawab Bara
"segini?" kata Meera sambil menunjuk agak kebawah pundaknya
"No!" jawab Bara.
"No No No terus. nyebelin banget" kata Meera kesal dan kangsung cemberut.
"udah ah bodo amat aku mau tetep potong.. " kata Meera langsung meninggalkan Bara. Bara pun langsung menyusulnya dan berbisik.
"coba saja potong rambutmu. aku akan menghancurkan salon itu 10 menit setelah kau keluar dari sana" ancam Bara disamping telinga Meera.
Meera segera melirik Bara. "jahat. ya terus gimana.. aku pengen potong. katanya tadi mau nurutin maunya aku. sekarang mau potong aja ga boleh" kata Meera.
setelah menimang-nimang Bara mengijinkan Rambut indah istrinya itu dipotong.
"oke.. 2 cm" kata Bara
"hah??????????????? itu sama aja ga potong dong kalau cuma 2cm" kata Meera.
"ga mau ya udah" jawab Bara.
Bara hanya tersenyum manis melihat kelakuan istrinya itu.
setelah sampai di salon. Meera segera meminta untuk dipotong rambutnya. Namun Bara tidak mau duduk di tempatnya. ia berdiri disamping Meera hendak mengawasi kalau kalau rambut itu di potong lebih dari 2 cm
"ih bara sanaa duduk disanaa" kata Meera sambil menatap suaminya.
kemudian datanglah hair stylist pria mendatangi Meera. dan hendak menyentuh rambut Meera. namun segera dihentikan oleh Bara.
"tunggu. mau mati kau menyentuh istriku" kata Bara memandang dingin Hair stylist itu.
Meera yang mendengarnya pun sadar akan kecemburuan Bara. Meera menatap Bara dan memberikan isyarat untuk diam.
"oh maaf kak. apa bisa aku di potong oleh pegawai wanita saja?" kata Meera malu.
"oh baiklah cantik" kata hair stylist itu. mendengar istrinya di sebut cantik Bara semakin tidak suka.
kemudian datanglah seorang wanita eksentrik yang juga seorang hairstylist mengatur rambut Meera untuk segera di potong. Bara yang melihatnya pun mengamati dengan seksama.
"mau model apa kak?" tanya wanita itu
__ADS_1
"emm rapikan saja" kata Meera
"jangan lebih dari 2 cm rambut yang terpotong, kalau tidak kupastikan besok salon ini tutup" kata Bara. Meera semakin kesal dibuatnya.
Meera menatap tajam suaminya sadar akan kekesalan singa betinanya Bara langsung oergi dan duduk disofa yang ada di belakang Meera.
seumur hidup baru sekali ini Bara mau menemani wanita pergi kesalon. benar-benar Meera telah meluluhlantakan benteng Bara.
hair stylist itu pun memotong rambut meera dengan sangat hati-hati. dan setelah 40 menit rambut Meera sudah selesai di potong kini tinggal di kramas dan di tata. Bara masih setia menunggunya sambil membuka ponselnya mengecek kerjaannya. Meera yang melihat kesibukan Bara pun tersenyum puas. ditengah kesibukannya Bara masih menyempatkan untuk menemaninya.
sejam berlalu. kini rambut Meera sudah tertata cantik dengan rambut yang terurai sedikit bergelombang dan memiliki poni tipis di dahinya ala-ala orang korea. ditambah dengan parasnya yang sangat memukau membuat Meera semakin elegan.
Meera masih melihat suaminya sibuk dengan ponselnya. ia lalu menghampirinya.
"Bara udah. cantik gak?" kata Meera berdiri didepan Bara. Bara terpesona dengan tampilan istrinya yang begitu elegan dan cantik dengan rambut barunya.
"gak. cantikan yang tadi. sebelum kau potong rambutmu" jawab Bara bohong.
Meera mendengarnya pun nyengir.. "cih jujur banget" batin Meera.
"Bada ayo sekarang giliranmu" kata Meera sambil menarik tangan Bara.
"apa? giliran apa?" tanya Bara bingung
"potong rambut lah. aku yang akan mengintruskan mau digimanain hehe" jawab Meera.
melihat kelakuan pasangan ini membuat semua orang di dalam salon itu pun ngiri.
Bara tak bisa membantah keinginan istrinya. ia menuruti nyonyanya ini dari pada harus menerima kenyataan nyonya besar ini ngambek lagi.
"mas mas.. potong kayak gini ya. tapi nanti yang atas tipisin dikit terus yang samping .yang disini kasih garis sedikit" kata Meera sambil menunjukan layar ponselnya. Bara hanya diam dan menurutinya.
"ahh terserah kau saja" batin Bara.
setelah 45 menit Bara sudah dengan potongan rambut terbarunya dan Meera yang melihatnya pun bersorak bahagia..
"Uwuwuwuuw... ganteng banget suamikuuuuu" kata Meera. dedepan Bara karena puas dengan apa yang dilihatnya.
Bara hanya menggelengkan kepalanya. "Ya tuhan.. istriku sudah gila" batin Bara.
Setelah itu Bara menemani Meera menuju kekasir. disana matanya terbelalak melihat Meera membayarnya dengan kartu yang bukan darinya. melainkan kartu debit Meera sendiri.
ketika hendak pergi salah satu pegawai salon itu pun menghentikan mereka. dan berbicara
"maaf kakak kakak cakep.. boleh minta fotonya.. kalian cakeo bangettttttttt" kata Pegawai itu
"boleh boleh.. ayoo" kata Meera antusias
__ADS_1
Bara hanya menggeleng lagi melihat kelakuan istrinya yang ternyata narsis juga.
Bara berdiri di samping Meera dan Meera memposisikan dirinya agar terkihat rambutnya yang cantik untuk difoto. Sedangkan Bara tak banyak bergerak disana. karena sebenarnya Bara malas meladeni orang-orang itu.