
sesampainya didalam kamar Meera segera meminta Bara untuk melepaskan bajunya.
"lepas bajumu" kata Meera menatap tajam Bara
"mau apa? apa kau ingin?" kata Bara berusaha mengalihkan pembicaraan.
"ya aku ingin. jika yang dikatakan Aurel salah aku akan dengan senang hati melayanimu sampai pagi. tapi jika yang dikatakan Aurel benar. ada luka tembak di tubuhmu, kau harus membayarnya karena telah membohongiku!" Kata Meera tegas.
Deg.... Bara seketika menciut mendengar kata-kata istrinya... Mati aku!!!! batin Bara
"kenapa? tidak mau? baik terserah. aku sudah tau jawabannya" kata Meera sambil melangkah keluar dari kamar.
Bara segera menahan tangan Meera.
"tunggu, mau kemana?" tanya Bara.
"kemana? tentu aku akan pergi ketempat dimana ada orang yang lebih bisa menghargai keberadaanku" kata meera tajam, sambil mengibaskan tangannya.
"matiiii matiii lah aku sekarang. istriku benar-benar murka" batin Bara
"akan aku jelaskan. tapi tenanglah dulu. jangan pergi" kata Bara menghadang Meera didepannya yang hendak keluar.
"Jelaskan!" kata Meera sambil bersedekap tangan.
Bara menjelaskan semuanya kejadian itu. tapi ia tak menjelaskan tentang Aurel bagaimana bisa sampai di tempatnya waktu itu. Meera mendengarnya pun sejenak bergejolak hatinya. bagaimana bisa Bara menyembunyikan hal itu kepadanya.
"Buka bajumu" perintah Meera.
Bara lalu membuka kancing bajunya satu persatu dan setelah terlepas kemejanya disana Meera melihat jahitan di bahu Bara belum terlalu kering. Mata Meera membelalak melihat luka itu. tapi ia masih ingin memberikan pelajaran kepada Bara.
"oh.. jadi kemarin. kau melakukan itu tanpa melepas bajumu karena ini?" tanya Meera.
Bara hanya mengangguk.
"kau menyembunyikan dariku kau bilang agar aku tidak khawatir kan? tapi disana kau malah memilih di rawat oleh Aurel. sebenarnya kau anggap aku ini apa, hah?" Kata Meera.
"aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa datang" kata Bara menyentuh tangan Meera.
"Tidak tahu? kau kira aku percaya? apa kau pikir aku tak becus merawat suamiku yang sakit? kau memilih di rawat orang lain dibanding aku. Sepertinya kau salah menikahi ku. harusnya kau menikah dengan Aurel!!" kata meera dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"ngomong apa!!! aku benar-benar tidak tahu!!! tanya saja Papa. papa juga ada disana!!" kata Bara.
"woooaaahhh..... bahkan kalian kompak sekali membohongiku" kata meera
"bukan begitu.. aku benar-benar tak ingin membuatmu khawatir. dan masalah aurel sungguh aku tidak tahu!" Bara menjelaskan lagi.
klunting... klunting..... ponsel Meera berdering tanda pesan WA masuk. Meera segera membukanya. dan seketika ponselmya dilemparnya ke tembok. sambil menjerit!!!
"aaaaaaaaaaa!!!!!!!!! baji*gan kau Bara!!!!!!!!! Brengs*kkkkkkk!!!!!!* teriak Meera sambil menangis.
Bara yang melihat nya pun tak tahu apa lagi yang terjadi.
"tenanglah ada apa!!" kata Bara berusaha memeluk Meera
"Ada apa?? ada apa katamu!!!!! kau jahat Bara!!!! apa salahkuuuu!!!" kata Meera sambil menangis sekeras kerasnya. Bara yang melihat istrinya histeris setelah membuka pensan di ponselnya pun segera memungut ponsel Meera dan melihat foto dirinya sedang dicium di bibir oleh Aurel. Bara segera menghampiri istrinya lagi yang terduduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"tenanglah!! ini semua tidak seperti yang kau lihat! kau pernah di jebak kan oleh aurel. coba kau pikirkan lagi ini hanya caranya membuatmu marah Meera!!" Bara menjelaskan sambil menyentuh bahu Meera.
"apa?? apa yang tidak seperti yang ku lihat hah?? dulu kau dicium di pipimu, sekarang kau ciuman bibir. besok apa lagi? kau tidur dengannya hah?? kau bilang aku dijebak. jebakan macam apa yang kau maksud!! semua sudah jelas!!" Kata Meera masih terus menangis
"Astagaa!!!!! aku tidak ciuman. aku di cium. seketika itu aku langsung melepasnya. kalau kau tidka percaya kau bisa memeriksa cctv di ruanganku" Kata Bara mencoba memeluk Meera dengan dirinya yang masih bertelanjang dada.
"katakan padaku. apa saja yang sudah kau lakukan dengannya" kata Meera sambil menangis
Luka Bara mengeluarkan darah lagi karena cengkeraman Meera tapi Bara tidak merasakannya.
"aku tidak melakukan apa apa Meera.. Ya Tuhan.. kenapa kau tak percaya padaku!!"" kata Bara sambil meangkup wajah istrinya.
Meera merasakan ada yang mengalir di jarinya. ia segera melihatnya dan ternyata Darah Bara seketika ia mlepaskan tangannya dan bangun untuk melihat Luka suaminya.
"maaf maaf kan aku hiks.... aku tidak sengaja maafkan aku " kata meera
"tidak apa jangan menangis" kata Bara.
"ayo kerumahsakit.. cepat pakai bajumu. aku tidak mau kau inveksi maafkan aku hiks hiks.. " kata Meera sambil menarik tangan Bara untuk berdiri sambil terus terisak dalam tangisnya.
"sudahlah tenanglah dulu. aku tidak mau diobati jika kau masih seperti ini. jangan menangis" kata Bara sambil menarik istrinya kedalam pelukannya.
"lepaskan. lukamu berdarah lagi ayo diobati dulu Bara!!!" kata Meera meninggi
__ADS_1
"kalau kau terus bergerak luka ini akan tambah lebar! diamlah" kata Bara masih memeluk istrinya yang masih menangis. ia tak habis pikir dengan Meera. keadaan Meera sendiri sedang sangat bersedih tapi melihat lukanya kembali berdarah semua seperti ia melupakan sakit hatinya. kini menjadi panik tampak di wajahnya.
"hiks hiks... maafkan aku. aku tidak becus jadi istri. aku melukaimu. hiks hiks.. maaf Maafkan aku" kata Meera masih sesenggukan
"aku yang salah. sudah lah kapan kau berhenti menangis. aku tidak akan melepasmu jika kau terus menangis." kata Bara sambil mengelus kepala Meera.
"aku sudah tidak menangis.. hiks.. ayo aku obati dulu hiks.. " kata meera sesenggukan
Bara tersenyum mendengar suara istrinya. jelas-jelas dia sedang menangis tapi bilang tidak menangis. Bara lalu melepaskan Meera. Meera segera mencari kotak obat di dalam kamar. Setelah menemukannya Meera segera membersihkan luka Bara. untung saja tidak ada yang fatal. Meera dengan telaten membersihkan Luka Bara. sedangkan Bara diam saja membelakangi Meera. Meera melakukannya dengan masih terus menangis. ia menyesali perbuatannya yang membuat suaminya terluka. Sesekali ia menyeka air matanya. dan sesekali suara sesenggukan meera terdengar oleh Bara. selesai luka Bara di beri perban. Meera lalu mengembalikan kotak Obatnya ketempat semula.
Bara segera Berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.
"lepaskan!" kata meera.
Bara membalik tubuh Meera. dan hendak menciumnya. Seketika Meera teringat Foto Aurel dan suaminya sedang berciuman. Meera langsung memalingkan wajahnya.
"aku tak sudi di cium olehmu lagi" kata meera
"apa maksudmu, aku suamimu" kata Bara.
"suami macam apa yang ciuman dengan wanita lain"
"Astaga... ayo ikut aku!!" kata Bara sudah kehabisan akal menjelaskan pada istrinya yang masih terus manangis dan marah kepadanya. ia menarik tangan Meera dan membawanya menuju ke ruang tengah dimana disana masih ada Aurel dan ny martha sedang berbincang.
"kau!!! karena kau istriku marah padaku! sekarang jelaskan apa yang kau perbuat!! jika kau mengarang cerita habis riwayatmu!!" ancam Bara berkata didepan Aurel. sedangkan tangannya masih menggandeng Meera.
"memangnya apa yang aku lakukan" tanya Aurel sok bodoh
Bara melemparkan Ponsel Meera kearah aurel. dan aurel melihat fotonya sedang berciuman dengan Bara.
"apa yang aku jelaskan. memang itu yang terjadi" kata Aurel. ..
Meera mendengarnya pun segera mengibaskan tangan Bara dan langsung berlari keluar rumah.
"kalau sampai terjadi sesuatu dengan hubungan dan istriku. ku bunuh kau!!" kata Bara dengan amarahnya.
Meera sudah beeada diluar. di luar dia langsung menuju ke mobil Bara dan langsung mengemudikan mobilnya keluar halaman. sedangkan Bara yang mengejarnya pun sudah tidak sempat. bara mengusap rambutnya.
"Sialaaannnnnnn!!!!!!" umpat Bara
__ADS_1