
Suara azan terasa menyilet telinga Karman subuh itu. Langit meremang bertabur bintang sisal malam yang pekat. Sementara kabut tipis mulai turun melulur pepohonan, bergetar pada lampulampu neon di pinggir jalan. Mengendap\-endap Karman, di antara rumpun bambu dan rumput ilalang dengan buntalan karung melekat erat di punggung. Di jalan depan, dalam remang pandang. Karman melihat beberapa orang tua berjalan terbungkuk\-bungkuk menuju surau. Aroma minyak wangi meruap dari tubuh orang\-orang tua itu,i menyentak hidung Karman.
Disembunyikan buntalan karung, ditutupi dedaunan kering dan patahan ranting, Karman bersijingkat keluar mengikuti langkah orang\-orang itu. Jalanan tampak lengang, sebab memang begitulah jamaah subuh di surau, hanya berisi orang\-orang tua. Dingin air yang mengucur dari padasan, terasa segar membasuh wajah Karman manakala ia wudhu. Melangkah Karman, hati\-hati, menapaki undakan surau, duduk bersila menunggu iqamat. Geremeng suara zikir membuat Karman hanyut.
"Matamu merah. Kau tidak tidur semalaman, Karman?" Usai shalat subuh, Haji Basir meng hampiri, menepuk pundak Karman.
Karman tergeragap, menggosok\-gosok mata.
"Belum, Pak Haji. .." Suara Karman parau, membetulkan duduk.
"Aku kagum padamu, Karman. Kau anak muda yang masih mau menjaga rumah Allah. Seperti kau lihat sendiri, tak ada anak muda yang jamaah subuh di sini. Hanya orang\-orang tua yang sudah bau tanah," kata Haji Basir penuh kekaguman. Senyumnya mengembang. "Oh, ya, kudengar kau sudah memutuskan akan tinggal di kampung ini. Itu baik sekali. Amalkanlah ilmu yang kauperoleh selama di pesantren untuk kemaslahatan umat."
Karman mengangguk\-angguk. Di timur, di antara lengas kabut dan embun yang masih menempel di ujung dedaunan, seberkas cahaya merah perlahan merekah. Sebentar lagi terang menyentuh tanah. Mendadak Karman gelisah. Teringat buntalan karung yang ia sembunyikan di pekarangan kosong seberang jalan. Tak ingin berlama\-lama, Karman segera menyalami laki\-laki tua di depannya, pamit mohon diri.
Azan isya' baru saja berkumandang. Namun, Karman tidak segera bergegas ke surau lantaran di rumahnya, di atas tikar lusuh, duduk tiga anak muda. Pandangan mata mereka tegas, menyiratkan kesungguhan. Sembari mengelus\-elus jenggotnya yang mulai tumbuh, Karman menatap satu per satu anak muda sebaya dirinya itu. "Mulai sekarang berjamaahlah kalian di sini. Sebab, masjid tak lain adalah tempat sujud. Akan kudirikan masjid di rumah ini!" Dalam senvap, suara Karman bergetar. "Banyak orang kaya di kampung ini. Tapi, tak ada sebuah masjid pun! Astagifirulla..."
"Kaupunya uang untuk membangun masjid?" Seseorang bertanya. Ragu.
Sejenak, Karman menatap orang itu lalu tertawa pelan. "Allah Mahakaya dan Pemurah," jawab Karman penuh kepastian. Memutar\-mutar butir tasbih, hatinya terus berzikir. "Kekayaan Haji Basir, Kiai Ali, Lurah Marwan, Juragan Mardi, tak ada apa apanya di hadapan Allah." Sesaat melepaskan tasbih,i menjentikkan jarinya.
__ADS_1
Dingin malam menerobos jendela. Disusul gerimis, tiris. Namun, tiga anak muda kampung lugu dan polos itu tetap tak berpaling dari hadapan Karman. Dalam hati memendam kekaguman. Karman, yatim piatu yang dulu teramat miskin, setelah hampir delapan tahun merantau, kini mulai beraniak dari kemiskinannya. Semua orang tahu, sepetak sawah peninggalan orang tua Karman, mustahil bisa membuat Karman seperti sekarang ini. Apalagi musim kemarau panjang, sawah itu tak bisa menghasilkan apa\-apa, kecuali bongkah\-bongkah tanah merah.
"Ketahuilah, semua yang ada di bumi dan langit ini milik Allah. Di situ melimpah rezeki Allah." Suara Karman menjadi lirih, tertelan gerimis yang tampaknya akan berubah menjadi hujan deras. Angin kencang meliuk, menghempas daun\-daun. Beranjak Karman menutup jendela. Selingkar tasbih masih melekat erat di genggamannya.
"Maksudmu?"
Karman seperti terkejut mendapat pertanyaan itu. Namun, senyum yang kemudian mengembang di bibirnya mampu menghapus keterkejutannya.
"Beribadah hanya kepada Allah, dan bekerja giat"
"Aku sudah bekerja giat dan tekun beribadah, tapii masih tetap miskin. Seandainya aku mencun, apakah aku berdosa?"
Kembali Karman tersentak. Sesaat, keningnya berkerut. Namun, bibirnya kembali bergerak\-gerak, tersenyum. Matanya menyorot teduh. "Suatu hari, para sahabat datang ke rumah Khalifah Umar, mengadukan seorang pencuri yang ketahuan mengambil harta milik orang kaya. Para sahabat menginginkan agar Khalifah Umar sendiri yang memotong tangan pencuri itu. Akan tetapi, Khalifah Umar tidak tega melakukan lantaran pencuri itu hidupnya sangat miskin. Beberapa hari kemudian, para sahabat datang lagi ke rumah Khalifah Umar membawa pencuri yang sama. Kembali, Khalifah Umar tidak tega memotong tangan pencuri itu. Khalifah Umar justru bilang, jika dia sampai mencuri untuk yang kali keduanya, yang harus dipotong bukan tangannya, melainkan tangan si orang kaya. Jadi..."
"Allah menguji mereka dengan kehilangkan harta benda, semata\-mata agar selalu ingat pada Allah. Kelak, jika masjid ini selesai dibangun, mudah mudahan mereka sadar, kembali ke jalan Allah." Suara Karman terdengar lantang di siang terik, mengelus\-elus jenggotnya yang kian panjang dan lebat sembari mengawasi Lasto, Ugon, dan Tandu tiga orang murid setianya vang terus sibuk merampungkan fondasi masjid. Terengah\-engah tiga orang itu menggotong batu, mengangkut pasir, dan membuat adonan semen. Truk sesekali menderu menurunkan bahan bangunan.
"Apakah Allah akan mengutuk kampung ini?"
Termenung sesaat, Karman menggeleng. "Mudah. mudahan Allah mengampuni. Allah Maha Pengampun. Lasto, apakah bapakmu sudah mulai shalat?"
__ADS_1
Lasto yang ditanya mendongak. "Sudah."
"Bagus. Mudah-mudahan kelak menjadi ahli surga. Bagaimana dengan bapakmu, Tandu?"
"Kemarin sudah rajin, tapi sekarang berhentil"
"Kenapa?" Karman mendekat.
"Sejak kambingnya hilang, Bapak tak mau shalat" Bagai tersengat aliran listrik, wajah Karman memucat. Tapi hanva sesaat. "Apakah rumahmu masih yang di dekat sawah itu, Tandu?"
"Benar. Ada apa?"
"Oh.., tidak apa-apa. Mungkin bapakmu lupa l zakat. Suruh Bapakmu kembali shalat. Semoga Allah mengganti dengan rezeki yang berlimpah."
Tak ingin pembangunan masjid tersendattersendat, Karman menyewa tenaga kuli bangunan.i Diam-diam warga kampung berdecak kagum. Di tengah kemiskinan yang terus merongrong, Karman justru semakin kaya. Meski lantai masih tanah, dinding belum dilapisi semen, kubah belum dipasang, masjid itu sudah digunakan untuk shalat berjamaah. Karman selalu mengumandangkan azan sekaligus bertindak sebagai imam. Tapi, hanya harihari pertama masjid itu ramai. Hari-hari berikutnya orang sepi. Jamaahnya tak pernah lebih dari sepuluh Orang!
Keresahan warga kampung kian membuncah lantaran sudah hampir delapan bulan pencuri itu belum tertangkap. Beberapa orang pernah melihat kelebat pencuri itu, namun seperti siluman, pencuri itu tiba-tiba lenyap dalam gelap. Tak pernah terendus jeiaknya. Beberapa orang lagi pernah melihat pencuri itu mengendap-endap masuki serambi masjid, tapi begitu dilihat ke dalam, hanya kelengangan yang ada.
Dendam yang tak tertahan, membuat warga kampung terus berjaga-jaga. Mereka banyak yang berhenti bekerja, sebab tugas menumpas kejahatan jauh lebih mulia dan berpahala. Seorang pencuri harus dipotong tangannya! Dan, entah dari mana sumbernya, kasak-kusuk mulai menyebut nama Karman sebagai biang kerok pencurian selama ini. Begitulah, kebencian mulai tumbuh di dada setiap orang pada Karman. Orang-orang pun mulai mengintai setiap gerak-gerik Karman.
Suatu malam, ketika bulan bersinar cukup terang misteri panjang itu mulai terungkap. Sepuluh orang lebih, tak mungkin pandangan mata mereka tertipu Dan, laki-laki yang sembunyi di balik semak-semak dengan buntalan karung melekat di punggung itu, jelas tak lain kecuali Karman! Dengan pedang terhunus dan kebencian membuncah, serentak orang-orang memburu laki-laki itu. Bersorak-sorai mereka, justru karena orang yang selama ini dikenal alim oleh masyarakat, ternyata seorang pencuri ulung. Kentongan dipukul, pedang diayunayunkan, sesekali berkilat tertimpa cahaya bulan.
__ADS_1
Pencuri itu, tinggal sepuluh atau lima belas meter lagi, tapi mendadak orang-orang berhenti. Merapat. Menajamkan pendengaran. Dari masjid, suara azan subuh terdengar nyaring, menggema, menusuk nusuk gendang telinga. Selain sudah sangat hafal, telinga sepuluh orang tak mungkin salah dengar. Jelas, suara azan itu milik Karman! Dan, bukankah hanya Karman satu-satunya orang yang masih sudi mengumandangkan azan?!
Lalu, siapa pencuri itu? Dalam diam, orang-orang saling pandang. Heran.