
pagi hari Bara sudah bangun. ia melihat istrinya masih berbaring di ranjang. Bara memutuskan untuk membersihkan dirinya dulu. ia mandi dan kemudian menemui Adit di ruang kerjanya. Disana Adit sudah rapi dengan pakaiannya. Adit bangun lebih Awal.
"Kau ke kantor lah. aku akan disini, jika ada yang perlu ku urus. emailkan saja" kata Bara
"Baik tuan" jawab Adit sopan
"Dit, Meera sampai sekarang belum sadar, apa kita bawa ke rumahsakit saja?" tanya Bara meminta pendapat Adit
"kita tunggu dulu tuan, jika nanti siang masih belum ada perubahan kita bawa nona ke rumahsakit" kata Adit
Bara hanya mengangguk diam. Bara masih menyesali dirinya yang begitu jahat pada Meera
ketika Bara dan adit keluar ruangan mereka melihat salah satu pelayan berlari dari dapur membawa segelas air putih menuju ke kemar Meera. Bara mengehentikan perawat itu "ada apa?"
"nona sudah siuman. saya siapkan air hangat untuk Nona tuan" kata Perawat itu
"Kemana semua pelayan di rumah ini" tanya Adit
"tidak tahu tuan. mungkin mereka sibuk" jawab perawat itu karena memang saat ia keluar dari kamar Meera tak menemukan satu pun pelayan ada di sana. mangkanya ia mengambil sendiri kedapur.
Bara langsung menuju ke ruangan Meera. disana ia melihat Meera yang sudah membuka Matanya dan satu perawat lainya mengatur infusnya. Bara lalu duduk di samping Meera. Meera juga melihat Bara. Meera marah dengan Bara. ia kecewa. ia pun memalingkan badannya membelakangi Bara.
"Nona minum dulu, nona dehidrasi" kata Perawat memberikan segelas air putih.
meera hendak duduk namun ia masih lemas kepalanya juga masih pusing, Bara yang melihatnya pun hendak membantu, Bara memegang bahu Meera. namun dengan segera di kibaskan oleh meera yang tak sengaja menarik selang infusnya hingga selangnya jatuh dan darah keluar dari tangan Meera "aaaaa......." jerit Meera.
Perawat disana gugup dan terkejut karena tiba-tiba Meera menyendal selangnya. "nona jangan ditarik, nanti darahnya keluar banyak" Perawat itu lalu meraih selang infus Meera.
Bara yang melihatnya juga panik. ia hendak membantu Meera lagi untuk duduk, namun meera dengan tegas berkata "jangan sentuh aku"
Bara lalu mundur dari tempatnya, ia tak mau membantah Meera kali ini mengingat Meera yang sakit dan ia juga sadar bagaimana perasaan meera.
Bara berdiri di samping ranjang Meera. Meera duduk bersender pada punggung ranjang di bantu kedua perawatnya. perawat-perawat disana di buat gugup dan panik karena ia diawasi langsung oleh Bara. tuan muda Keluarga Surya. sedikit saja kesalahan akan habis riwayat mereka.
__ADS_1
Meera masih tak mau memandang Bara yang ada di sampingnya. Setelah infus kembali terpasang sempurnya salah satu perawat memberikan minum pada Meera. Meera menerimanya.
"Habiskan nona" pinta Perawat itu
Meera menenggak habis air dalam gelas itu. lalu ia memejamkan matanya sambil terus duduk. kepalanya pusing lagi.
kedua perawat itu keluar dari kamar. menyisakan Bara dan Meera berada di sana. Bara Berjalan menuju Meera dan duduk di samping Meera. Meera masih memalingkan wajahnya.
Bara memegang tangan Meera yang tidak diinfus.
"Meera, maafkan aku" kata Bara
Meera masih tidak menggubris
"Meera aku tahu aku salah, maafkan aku"
Meera masih diam.
Bara menangkup wajah Meera dihadapkannya ke arahnya. Meera menatap wajah Bara. Meera iba melihat Bara ia berfikir mungkin Bara sudah sadar jika ia memang tidak benar-benar selingkuh. Meera juga melihat Ada ketulusan di manik mata Bara. seketika tangis Meera pecah disana . Bara memeluk erat istrinya. Meera tak mengucapkan sepatah katapun. tapi dari tangisnya sudah cukup menceritkan tentang apa isi hatinya.
"menangislah, jangan kau simpan sendiri, aku minta maaf" kata Bara. Meera memeluknya erat. berada dipelukan Bara membuatnya sedikit tenang. perlahan tangisnya mulai mereda. Bara mengelus pucuk kepala Meera dan menciumnya sesekali.
"kau masih percaya suamimu kan?" tanya Bara sambil mengangkat wajah Meera. disana ia melihat mata Meera yang penuh dengan air.
meera tidak menjawab. hanya menganggukan kepalanya. "aku tidak bisa tidak percaya padamu Bara. kau suamiku. entah kau bohong atau jujur yang ku tahu kau suamiku" kata-kata meera yang tak bisa diucapkan hatinya namun tak bisa terucap di bibirnya
"terimaksih sayang" bara kembali memeluk Meera. namun sebenarnya Bara masih sedih karena Meera tak mau membuka bibirnya untuk mengeluh padanya.
"maaf permisi tuan. nona harus makan" kata salah satu perawat.
"kemarikan biar aku yang menyuapinya" kata Bara.
Bara lalu menyuapi Meera . namun Meera tak menghabiskan makananya. Bara tak memaksa yang penting Meera mau makan. Meera lalu berbaring lagi setelah minum obat, Namun kini Bara ikut berbaring di sebelahnya dan dia memeluk Meera.
__ADS_1
entah apa yang dipikirkan Meera. ia dengan mudah percaya pada Bara. ia memaafkan Bara. namun ia tak pernah lupa. Meera yang nyaman di pelukan Bara pun terlelap kembali karena efek obat
sedangkan Adit sudah kembali ke kantor mengurus perusahaan. Setelah Meera nyenyak dalam tidurnya. Bara bangun dan ia berjalan menuju dapur.
disana ini marah karena ingat bahwa perawat yang mengurus meera berlarian sendiri mengambil air hangat untuk istrinya. sedangkan disana ada lebih dari 10 pelayan.
semua berdiri di depan Bara. mereka tahu kesalahan mereka. karena meninggalkan nyonya nya sendirian dan tak meninggalkan satu orang pun berada di sekitar kamar Meera.
Bara membanting piring di depan pelayan yang berjajar disana. "kenapa tidak ada seorang pun yang siap berada di luar kamar istriku? apa kalian tidak lihat istriku sakit hah?" praaanggggg.... suara gelas lagi hancur disana
Sebenarnya bukan tidak ada. namun 1 pelayan yang ditugaskan berjaga di luar kamar meera saat itu sedang kebelet ketoilet. kebetulan saat ditinggal ada pelayan yang mencarinya. namun tidak ada di sana.
ketua pelayan disana yang bekerja bertahun-tahun pun membuka suara
"Maaf tuan Muda. tidak akan terjadi lagi kejadian seperti ini" kata pelayan itu
"kalau sampai hal ini terjadi lagi. jangan tampakan wajah kalian di hadapanku. dan kau tahu apa yang akan aku lakukan bukan!!!" kata Bara mengancam. semua ketakutan disana. mereka tak berani mengangkat wajahnya.
Bara meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya. disana ia melihat Meera yang masih tidur. dia pun duduk disofa. ia melihat lagi ponsel Meera. ada pesan yang belum terbaca. Bara sedikit membelalakan matanya. karena yang mengirim pesan adalah Reza.
"Meera,, aku ingin bertemu denganmu, bisa kau luangkan sedikit waktu?"
Bara tak bisa membiarkan ini terjadi. ia akan memberitahu Reza tentang hubungannya dengan Meera. Bara menelfon Reza menggunakan ponsel nya sendiri
"halo rez"
"hiiii bro. ada apa, maaf aku sibuk sekali akir-akir ini, menyelesaikan proyeku"
"ohh.. datanglah kerumahku sendiri malam ini, aku mengundangmu"
"oke broo. kau harus menjamuku dengan mewah ahaha"
kurang lebih seperti itu percakapan mereka
__ADS_1