Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Gurat Gerimis


__ADS_3

 


Menjelang petang, Tante Nis meng mengajaku berjalan mengelilingi rumah petak yang terdiri atas dua puluh kamar itu. Penghuni rumah petak yang sebagian besar terdiri atas buruh pabrik, tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


Sebagian wanita tampak memasak di teras depan kamar yang mereka sulap menjadi dapur mungil. Anak-anak kecil ribut bermain di halaman sementara yang lain menjerit-jerit menangis karena dipaksa untuk mandi di salah satu kamar mandi yang digunakan bersama oleh seluruh penghuni.


Beberapa kamar tampak sepi, mungkin peng huninya pulang malam karena kerja lembur.


Tiba-tiba mataku tertumbuk pada seraut wajah ang pernah kukenal. Murni! Kilasan masa lalu muncul begitu lancar dan teratur di kepalaku. Aku nengenal Murni sejak kecil, bahkan kami tumbuh lalam jeda waktu yang hampir bersamaan. Mungkin aku terlalu melankolis untuk menggambarkan keadaan masa lalu kami. Kami besar di sebuah panti asuhan hingga suatu ketika seorang perempuan yang mengaku sebagai ibu Murni datang. Murni pergi bersama wanita itu dan hilang tanpa kabar. Tak lama dari kepergian Murni, sebuah keluarga mengangkatku sebagai anak asuh dan aku memulai hari-hari baru yang kurasa sangat membahagiakan.


Hari-hari hangat penuh kasih dari sebuah keluarga yang merindukan kehadiran seorang anak.


Murni, gadis kecil berambut keriting yang selalu ceria meski ketika malam menjelang dia akan menyembunyikan tangis kerinduannya pada ibu yang melahirkannya. Meski telah berpisah dua puluh tahun lewat, aku masih bisa mengenali dengan cermat bahwa postur tubuh itu milik Murni. Namun, sejak kapan dia tinggal dirumah petak ini? Lalu, ke mana ibu yang dulu menjemputnya? Atau.. mereka tinggal berdua di sini? Tak kuasa menahan pertanyaan yang kian bertumpuk di kepala, aku buru\-buru minta izin pada Tante Nis untuk menemui Murni di kamarnya.


"Assalamu'alaikum... Mur, apa kamu masih mengingatku?" tegurku bersemangat sambil menguncang-guncang badannya.


"Mur, aku Anik, temanmu di panti asuhan dulu Ingat, kan?"


Murni tak menjawab salamku dan menatapku daril kepala sampai ujung kaki. Matanya tampak asing seolah menelanjangi pakaian muslimahku. Mungkin dia masih meragukan bahwa aku kawan yang pernah bersamanya di waktu kecil dulu.


"Mur, masa kamu lupa, sih?" aku mulai gemas terhadap sikapnya yang seperti orang pikun itu. Kuguncang-guncang lagi lengannya.


"Dulu, tempat tidurku di sampingmu dan kita memiliki kesukaan vang sama, yaitu membaca buku dongeng. Kita pernah berebut sebuah buku dongeng hingga kepalaku membentur dinding dan... "


"Dan, aku yang dipersalahkan oleh petugas panti asuhan," potongnya tiba-tiba. "Kamu tak usah memperkenalkan diri lagi padaku, Nik. Aku masih mengenalimu dengan baik. Kita sama-sama orang terbuang. Namun bedanya, kamu selalu lebih beruntung dariku," lanjutnya tajam.


Kata-katanya yang dingin dan meloncat jauh dari harapanku ketika menegurnya tadi, membuatku tak enak hati.


"Apa kabarmu sekarang, Mur? Sudah lama tinggal di sini? Bersama ibumu?" tanyaku bertubi-tubi, berusaha menepis seluruh prasangka buruk yang tiba-tiba saja mengendap di sebagian otakku.


Murni kembali menatapku tak acuh lalu dengan cepat mengangkat bahunya.


"Seperti yang kamu lihat. Aku masih hidup dan baik-baik saja. O ya, kabarnya sekarang kamu sudah jadijuragan, ya? Hebat kamu! Sama-sama dari panti asuhan, tapi lompatanmu begitu jauh. Kamu memang selalu lebih beruntung daripada aku, Nik."


"jangan bilang begitulah, Mur. Kita kan hanya menjalankan peran kita..."


"Dan, peranmu selalu lebih bagus dariku, bukan?" potongnya sinis.


"Mur, seharusnya kamu bersyukur karena ak. hirnya kamu menemukan cinta ibumu. Sedangkan aku, sampai sekarang bahkan tak pernah tahu siapa wanita yang pernah membuatku berada di bumi ini"


 


Murni menggeleng-gelengkan kepala lalu menendang pembatas teras di depan kamar itu dengan kasar. Meski berusaha tenang, aku terkejut juga dengan sikap kasarnya itu.


 

__ADS_1


"ibu dan cintanya padaku? Aku menyesal telah berdo'a untuk dipertemukan dengan ibuku, Nik Percayalah, kamu tetap lebih beruntung daripada aku. Ah, sudahlah, lupakan semuanya. Aku capek, mau tidur," lengkingnya sebelum kemudian.. Brakl Pintu di depanku ditutup dengan kasar dan Murni menghilang di baliknya.


Aku menghela napas. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di saluran napasku. Menyesakkan. Sebenarnya, aku ingin sekali memeluknya ketika menyapanya kali pertama tadi. Aku juga ingin ngobrol tentang banyak hal. Sekian lama kami terpisah oleh suratan nasib yang berbe.da. Kilasan masa kecil di panti asuhan menggodaku untuk berbagi cerita dengannya. Namun sayang, rinduku yang begitu menggigit itu terbenam oleh sikap dingin Murni terhadapku.


"Anik, kamu tidak shalat maghrib dulu?" suara Tante Nis mengejutkanku. Buru\-buru aku beranjak dari depan kamar Murni dan berlari kecil menghampiri Tante Nis. Perasaanku masih kacau ketika Tante Nis menanyaiku.


" Bagaimana Nik? Kamu sudah mengenal beberapa penghuni rumah petak ini, kan? Nah, tugasmu nanti adalah menagih uang sewa mereka dan mengontrol seminggu sekali. Mudah saja, kan?"


Aku hanya mengangguk kecil meski aku tak tahu pasti arti dari anggukanku sendiri.


"Insya Allah, Tante... jawabku yang kemudian disambut senyuman penuh harap Tante Nis.


 


"Tante selalu percaya padamu..."


Aku berusaha tersenyum mendengar pujian Tante Nis. Maghrib hampit beranjak ketika kami shalat di sebuah mushala kecil agak jauh dari rumah petak itu.


Malamnya, aku terbaring dengan perasaan sedih. Berulang-ulang kucoba memejamkan mata, namun tak kunjung berhasil. Bayangan masa lalu bersama Murni di panti asuhan kembali melintas-lintas di pikiranku. Setiap penghuni panti asuhan kukira selalu memiliki kerinduan yang sama. Kerinduan untuk beriumpa dengan orang tua yang telah menjadi perantara lahirnya di dunia ini. Demikian juga denganku dan Murni. Seusai shalat, kami selalu berdo'a bersama agar kelak dipertemukan dengan orang tua kami. Dan, aku masih teringat binar-binar kecil di mata Murni ketika seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya menjemput. Tentu saja setelah melalui serangkaian tes untuk membuktikan bahwa wanita itu memang ibu Murni. Dan kerinduanku pada kehangatan keluarga juga sedikit terobati ketika sebuah keluarga menjemputku tak lama setelah Murni pergi.


Selain menyekolahkan aku hingga D1, orang tua asuhku juga mengajariku berbisnis. Mulai dari berdagang kain, keramik, tas, juga sepatu. Karena ketekunan dan keuletanku belajar bisnis, Tante Nis, adik kandung orang tua asuhku, memercayai aku memegang salah satu minimarketnya. Bahkan kini, aku dipercayanya mengawasi salah satu rumah petak miliknya. Dan, di rumah petak itu, aku bertemu dengan sahabat kecilku yang telah menjadi orang asing di mataku.


Ah, Murni... Murni... Apa yang telah terjadi l denganmu? Mengapa kini kamu berubah? Bukankah kamu seharusnya bahagia telah bertemu dengan ibu kandungmu? Beragam pertanyaan mengusik batinku. Membuatku semakin gelisah di atas pembaringan. Jam dinding berdentang duai belas kali dan aku masih berjuang untuk memejamkan mata dengan melafalkan zikir.


Hari ini, aku memulai tugasku mengawasi rumah petak dengan menagih uang sewa per bulannya. Tante Nis membekaliku beberapa catatan tentang pembayaran sekaligus informasi orang-orang penyewa yang agak susah ketika ditagih. Dan Murni masuk dalam daftar orang yang susah ditagih. Mungkin ini akan sedikit menyulitkanku mengingat pertemuan pertama kami yang kurang menyenangkan.


Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang saat mengetuk pintu kamarnya.


"Assalamu'alaikum..," salamku di antara ketukan Namun, tak ada sahutan. "Assalamu'alaikum..," aku mengulang salamku. Lampu di kamarnya menyala, namun sepi sekali. Ke mana dia? Apa belum pulang kerja?


"Nyari Murni, Mbak?" kepala seseorang tiba-tiba menyembul dari kamar sebelah dan sedikit mengagetkanku.


"Iya Pak. Ke mana, ya?"


"Wah, Murni pulangnya ndak tentu, Mbak.i Kadang siang sudah pulang, kadang malam, atau malah pagi hari," jawab bapak itu dengan logat Jawa yang kental. "Namanya juga bos..," lanjutnya membuatku tersentak.


"Bos? Memangnya Murni kerja di mana, Pak?" tanyaku penasaran.


Bapak itu menggaruk kepalanya lalu tertawa kecil.


"Ya, bekerja sebagai bos. Perusahaannya ada di mana-mana," tawa bapak itu berderai kini.


"Maksud Bapak?"


"Dia menjadi bosnya para pengemis, Mbak. Itu sudah menjadi rahasia umum. Semua juga sudah tahu. Murni mengumpulkan gelandangan untuk disuruhnya mengemis," jelasnya membuatku semakin tersentak seolah disengat kalajengking. "Datang pagi-pagi saja kalau mau nagih dia. Biasanya, dia pergi menjelang siang."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan bapak itu. Setelah mengucap salam, aku buru-buru pergi. Pikiranku semakin kacau saja. Di dalam bis yang membawaku pulang, kata-kata bapak itu kembali terngiang. Murni bos pengemis? Pemalak para gelandangan di jalan? Ah.., aku ingin bapak itu berbohong dengan kata-katanya. Semoga itu bukan Murni yang kukenal, hibur hatiku kemudian.


Di perempatan besar lampu merah, aku turun. Aku ingin memotong jalan dengan naik metromini agar cepat sampai di rumah. Mungkin lebih baik aku membicarakan masalahku ini dengan Tante Nis. Aku yakin Tante Nis punya jalan keluar.


Aku baru saja akan melambaikan tangan untuk i menghentikan sebuah metromini ketika mataku menangkap sosok Murni di seberang ialan sedang menarik-narik tangan seorang ibu tua. Karena kaget dan penasaran, perlahan aku melangkah mendekati tempat Murni sambil berlindung di balik orang yang lalu lalang.


"Mana uang hasil hari ini? Ayo berikan!" hardiknya sambil menggeledah seluruh pakaian wanita tua itu.


"Hari ini hanya dapat tujuh ribu dan sudah kuberikan tadi padamu, Mur," jawab wanita itu lirih.


"Bohong! Dari dulu, kau memang pembohong! Penipu! Wanita tak berguna!" lengking Murni sambil terus menarik-narik pakaian wanita tua itu sampai hampir telanjang.


Ketika wanita itu mendongak, aku persis bisa menatap wajahnya dengan jelas meski sedikit terhalang orang yang lalu lalang. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Paras wanita itu seperti pernah kukenali. Bukankah dia.. bukankah dia.. Ah, aku pasti salah lihat. Kukucek mataku berkali-kali. Tapi, sebuah bayangan muncul dengan keras. Bukankah wanita itu yang menjemput Murni sekian tahun yang lalu? Wanita yang mengaku sebagai ibunya? Tapi.., ah!


Aku masih sibuk dengan pikiranku ketika tibatiba sebuah truk datang menghampiri Murni. Secepat kilat Murni menyeret wanita itu ke dalam truk yang kemudian melaju kencang. Aku terpaku. Dadaku kian berdebar hingga menciptakan gigil yang menggoncangkan tubuhku. Ketika sebuah metromini melintas di depanku, dengan lemas alu melambaikan tangan dan meloncat ke dalamnya.


Esoknya, dengan kegundahan yang nyaris sama aku kembali ke rumah petak untuk menagih Murni. Semalam, setelah berpikir keras, aku membatalkan niatku untuk menceritakan tentang Murni padai Tante Nis. Bagaimanapun, aku harus mengetahui dengan pasti sebelum mengatakannya pada Tante Nis.


"Mau menagihku, juragan?" sindir Murni sinis ketika aku menghampirinya.


"Aku hanya menjalankan tugasku, Mur..."


"Tugas sebagai juragan? Ha... ha... ha. potongnya sambil tertawa terbahak. Tiba-tiba darahku terasa berdesir. Sedikit demi sedikit amarah mengaliri sendi-sendi tubuhku.


Kalau saja aku bisa mengambil jarak darinya, mungkin itu akan lebih baik. Namun, rasanya itu tidak mungkin karena memang tugasku menemui tiap kepala penghuni rumah petak ini dan menagih uang sewanya. Sepertinya, kami berada di duai tempat yang terbatasi oleh jurang dan tak mungkin dipertemukan. Padahal, kalau mengingat masa kecil kami yang tumbuh bersama di panti asuhan, rasa rasanya tidak ingin ini terjadi.


"Kamu pasti sudah mendengar tentang aku dan penghuniyang lain, kan? Itulah aku sekarang, Nik. Bosnya para gelandangan. Ha. ha.. ha..," suaranya diiringi lengking tawa yang sumbang


Ku tatap wajah di hadapanku dengan dada yang kian nyeri.


"Berhentilah bermimpi untuk merasakan cinta ibu kandung, Nik. Mungkin kita memang terlahir dari batu atau malah dari binatang?"


"Mur.., kamu.." aku mulai tak tahan mendengar kata-katanya yang semakin kasar. Aku tak tahu mesti mengatakan apa pada sahabat masa laluku ini.


"Seandainya aku seberuntung kamu, mungkin aku tak akan begini," katanya kemudian sedikit lunak. Tatapannya menerawang. "Tapi, ternyata ibu yang selalu kuharapkan kedatangannya dan cintanya itu justru menghancurkanku. Aku di jadikan pengemis jalanan olehnya dan setelah dewasa dijadikannya aku... aku... pelacur!" Murni menghentikan kata-katanya. Matanya terlihat menyala karena luapan marah. Aku masih mendengarnya dengan jantung yang serasa hampir copot dan seolah ada bom berkekuatan dahsyat meledak di atas kepalaku.


"Lantas.., kalau sekarang aku menjadikan wanita itu pengemis juga, apa aku berlebihan? Bukankah itu impas?"


Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak. Bayangan wanita yang ditarik-tarik Murni semalam melintas cepat di kepalaku. Inikah jawabannya? Ya Allah, kuatkan hamba...


Di luar dugaanku, tiba-tiba Murni tersenyum dan menyerahkan sebuah amplop padaku. Dipegangnya tanganku erat.


"Anik, mungkin uang sewa yang kuberikan padamu ini bukan uang halal. Namun, setidaknya aku telah memenuhi kewajibanku untuk membayar sewa. Lihatlah aku seperti kamu melihatku saat ini Jangan melihatku seperti Murni kecil di panti asuhan dulu...."


Kami saling bertatapan lama. Aku tak bisa menelan ludah, apalagi berkata-kata. Tanganku terasa berat ketika menerima amplop dari tangan Murni. Sekian lama kami terdiam dan disibukkan oleh pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Pulanglah, Nik. Hatiku perih melihatmu. Aku jadi teringat banyak hal yang ingin kulupakan. " kata Murni kemudian. Terdengar lemah dan meratap. Matanya terlihat hampa.


Kujangkau tubuhnya dan kubenamkan dalam pelukanku. Aku tahu, Murni masih sahabatku yang dulu. Hanya keadaan yang telah mengubahnya. Gerimis turun perlahan ketika aku berpamitan pada Murni. Kugenggam erat amplop pemberiannya sebelum kemudian kumasukkan ke dalam tas. Diam diam aku terisak.


__ADS_2