Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Mengetuk cinta episode 2


__ADS_3

keletihan itu sungguh menguras batin dan energinya. Awalnya, ia masih coba berjalan meraih handle pintu-pintu yang dilewatinya. tapi bebwrapa tahun terakhir, Renal merasa apa yang dilakukan sia-sia belaka. maka, lelaki muda itu punmulai mengunci hati. ia menyibukkan diri dengan berbagai tugas kantor, berbagai aktivitas kemasyarakatan. ia tetap pribadi yang baik. hanya saja, soal mengetuk pintu hati perempuan menjadi hal sensitif yang menyisakan goresan perih.


la bahkan sudah berpikir untuk benar-benar menyerah. Dan itu mungkin, andai saja malam itu Riza yang sudah lama hilang, tidak tiba-tiba muncul dan mengusik dengan semangat khas orang-orang multilevell


"Nal, ayolah. Jangan menyerah!"


Riza belum kapok juga menyemangati. Setelah tiga tahun mereka tak bertemu. Dan, lelaki itu tak bisa menahan iba melihat penampilan Renal yang jauh berbeda. Dulu, sebelum keberangkatannya ke daerah untuk tugas kantor, Renal masih rapi dan klimis.


Sementara sosok di hadapannya sekarang...


"Kenapa wajahmu jadi penuh onak dan duri begini?" Sahabatnya tertawa. Meraih kruk dan menggeser duduknya mendekati Riza.


"Kamu aneh Nal, pake cambang dan kumis begitu. Gondrong lagil"


Renal tak mempedulikan. Tangannya meraih toples kue dekat meja dan membukanya untuk Riz


"Rapi atau gondrong, apa bedanya bagiku, Ri?"


Riza menggelengkan kepala.


"Nal, jangan nyerah. Kamu tidak boleh patah semangat, dong. Jangan berputus asa dari rahmat l Allah! Masih banyak gadis-gadis lain di luar sana"


Renal tersenyum kecil.


"Ya, dan mereka semua menutup pintunya untukku. sudahla. Gimana kabar istrimu dan anak-anakmu?"


Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal lain. Di luar penampilannya yang lebilh kucel, Renal masih sama. Simpatik, pintar ngomong, dan cerdas


"Seandainya aku perempuan, Nal. Pasti.. "


"Seandainya kamu perempuan, wuihh, aku tak berani membayangkannya. Pasti menyeramkan!"


Riza yang diserobot, terpingkal-pingkal.


"Nal, sekali ini saja. Please? Ikut aku?"


Teguh cepat-cepat menggeleng.


"Aku capek, Za. Letih membayangkan orang-orang menampar pintunya depan mukaku."


Riza tak setuju. Tangannya menunjuk ke lampu ruang tamu.


"Bayangkan Thomas Alfa Edison. Dia melakukan percobaan hingga ribuan kali, baru berhasil. Coba kalau ia menyerah di hitungan kelima ratus, misalnya?" ujarnya gigih.


"Beri kesempatan satu kali ini. Ayolah!"

__ADS_1


Dan, tanpa menunggu jawaban Renal, Riza sudah menyiapkan segalanya. la sendiri yang memilihkan kemeja bertangan panjang untuk Renal, lalu sepatu, celana panjang untuk pengganti sarung lusuh, dan terakhir alat cukur.


"Cukuran?"


"Ya. Biar rapi. Cepat, kita tak punya banyak waktu!"


Satu jam kemudian, dua sahabat itu sudah berada di depan sebuah rumah megah. Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk mobil Riza,


sebelum menutupkannya kembali.


"Anak pejabat, Za?"


"Bukan. Dia perempuan pengusaha. Orangnya begini!" Riza mengacungkan ibu jarinya, "Top habis!" Mereka tak menunggu lama dalam ruang tamu yang beralas karpet tebal. Seorang gadis berkerudung hijau pupus, melangkah mendekati mereka, lalu tersenyum ke arah keduanya.


"Apa kabar, Riza?"


"Alhamdulillah, baik, Mbak!" Renal merasa


sahabatnya mestilah sudah gila mengajaknya kemari. Gadis di depannya punya Jekuk wajah yang lebih dari cantik, juga dua bola mata yang tenang, menyiratkan kecerdasan. Dengan alasan apa Riza berpikir menjodohkannya dengan gadis berwajah bidadari ini?


"Ssst.., namanya Anggita."


"la lebih tua? Kamu memanggilnya mbak?"


"Kenal di mana?"


"Oh," Riza menjawab dengan suara lebih pelan


"Dualu, pernah ku presentasi!"


Waduh!


Anggita hanya tersenyum saja mendengar kerbutan dua sahabat tadi.


"Mbak Anggi ini punya usaha sendiri di bidang..."


Dan dalam sekejap, Riza menyebutkan seluruh kehidupan Anggita yang luar biasa, melebihi public relations mana pun. Perkenalan yang membuat hati Renal kian menciut. Di matanya, Anggita memilik segalanya. Kekayaan, paras yang cantik, kedudukan. Kemandirian gadis itu sungguh membuatnya rikuh. Lantas, apa yang membuat gadis sesempurna itu belum menikah?


"Bagi saya, pernikahan bukanlah sebuah penyelesaian suatu keadaan."


Setuju, timpal Renal dalam hati.


"Menikah adalah keputusan besar. Saya tidak bisa menikahi siapa pun yang hanya berlandaskan ketertarikan fisik semata, karena bagi saya, itu bisa sangat menipu."


Ya, Anggi benar. Tampaknya, sejauh ini mereka memiliki pemikiran yang sama.

__ADS_1


"Pun karena alasan kemapanan atau status sosial. Saya tidak bisa menikah hanya demi memuaskan status sosial kalangan tertentu."


Ooo. Bibir Riza dan Renal membulat berbarengan. Menyadari itu, keduanya tersenyum malu. Untunglah Anggita tak melihatnya.


"Menikah adalah kebahagiaan hati, bukan begtu Za?" Riza memerlukan waktu beberapa detik, sebelum dengan sedikit gagap menjawab,


"Ya.., spakat Mbak!"


Setelah malam itu, Renal dan Anggita menjadi lebih akrab. Mereka tak sering bertemu, lebih banyak bertukar kabar lewat e-mail. Waktu yang berlalu kian memupuk rasa kagum di hati Renal Iman akan gadis yang satu itu.


"Lamarlah. Buat keputusan besar!"


Riza menyemangati. Renal menggelengkan kepala.


"Aku masih trauma, Za. Lha, gadis-gadis yang di bawah standarnya saja menolak, apalagi dia? Biarlah, setidaknya kami memilikd persahabatan yang unik."


"Wah, payah. Kamu tidak ingin dapat lebih, apa?" "Lebih?"


"Ya, memilikinya sebagai istri. Begitu."


"Bagaimana kalau ia menolak?"


"Maka, kalian tetap berada pada persahabatan yang sekarang. Nothing to loose, Nal! Aku yakin, dia cukup bijak untuk itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ia menerima?"


"Masa?"


"Mungkin saja! Tapi, kita gak akan pernah tahu, kan?" "Ya, kecuali mencobanya."


"Tepat!"


Malam itu, dengan berlapis-lapis keberanian, mereka mendatangi rumah Anggi.


Tapi, pintu gerbang terkunci rapat. Satpamnya hanya berteriak tanpa membuka pagar.


"Bu Anggita ke Singapur."


"Sama siapa?"


"Saya gak tahu, Mas!"


"Kapan pulangnya?"


Hening. Lalu, "Saya gak tahu, Mas! Ke sini aja lagi!"


Renal merasa keberanian yang dikumpulkannya menguap. Apalagi ketika esok dan esoknya e-mailnya tak pernah dibalas gadis cantik itu. Tiba-tiba lelaki itu melihat pintu yang sedang coba diketuknya, kembali tertutup rapat. Deritnya menyanyikan melodi masa silam yang membuat nyeri tak hanya telinga, tapi juga jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2