Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Bara tertembak


__ADS_3

sudah 4 hari semenjak perjalanan Bara keluar kota. Meera hanya sesekali berkomunikasi dengan Bara. Bara yang sibuk mengurus perusahaannya dan sedangkan Meera sibuk dengan urusan Toko dan kerjaannya. Bahkan Meera sempat bertemu Melinda dan Aurel saat di kantor. Namun Meera sama sekali tak terpancing dengan profokasi mereka.


Berbeda dengan malam sebelumnya. kali ini Meera susah untuk memejamkan matanya. dia merasa tidak nyaman dengan firasatnya yang buruk kepada Bara. ia mencoba menghubungi ponsel Bara tapi tidak di jawab. menghubungi Adit Adit hanya bilang kalau Bara sedang sibuk. Meera merasa benar-benar tidak enak hati kali ini.


dikota Bara berada


Malam ini ada jamuan bisnis yang di lakukan Bara dan rekan-rekannya biasa di diskotik mewah kota itu. Seperti biasa Bara menemani Minum rekan-rekannya. sedangkan adit yang biasanya tidak minum sama sekali kini ia ikut minum. karena pekerjaan kali ini sungguh menguras pikiran dan tenaganya. namun Bara tidak sama sekali menyentuh wanita disana. padahal wanita malam disana sangat cantik dan hanya memakai bikini saja.


tanpa diketahui Bara. pamannya sudah bersiap dengan rencana liciknya. karena 2 hari yang lalu. Bara mempermalukan pamannya di depan semua orang. bahkan menurunkan jabatan pamannya menjadi menejer pemasaran. sungguh hal itu memancing dendam pamannya.


keluar dari diskotik itu sudah pukul 01.30. Adit dan Bara sudah setengah mabuk tapi masih bisa terkontrol. Sampai di parkiran tiba-tiba Bara mendapat seranga dadakan. Bara tak bisa menghindar. suara tarikan pistol itu pun sangat nyaring dan pelurunya mengenai lengan Bara. hingga mengeluarkan banyak darah Bara langsung terhuyung dan ditangkap adit. sedangkan orang yang menembak Bara itu langsung kabur. Adit yang panik langsung meminta bantuan orang di sekitarnya dan membawa Bara ke rumahsakit. Bara kehilangan banyak darah. hingga ia pingsan.


di Rumah Sakit Adit sedang menunggu Bara diluar UGD. setelah beberapa saat dokter keluar dan menemui Adit. menjelaskan bahwasanya luka tembah yang dialami Bara memang dalam hingga merobek dagingnya. namun untungnya tidak sampai tembus ke tulang. Adit yang tadi setengah mabuk kini sudah tidak merasakannya lagi. ia tenang namun juga bingung bagaimana harus menjelaskan pada Meera dan tuan Besarnya tentang ini.


kini waktu sudah menunjukan pukul 08.00 adit yang kelelahan tertidur di sofa ruangan VVIP yang ditempati Bara. dan Bara mulai bangun dari tidurnya merasakan berat di lengannya. matanya mengerjap. seharusnya hari ini adalah hari dimana Bara akan kembali ke kota asal.


"aarrghh..." desah Bara merasakan sakit nya.


Adit mendengar bara yang terbangun pun ikit membuka matanya dan segera menghampiri Bara.


"Tuan muda. biar saya bantu" kata Adit membantu Bara duduk diranjangnya.


"maafkan saya tuan, saya tidak bisa menjaga anda" kata Adit menundukan kepalanya


"sudahlah. kau sudah tau siapa dalangnya?" tanya Bara. sambil memegang lengannya.


"sudah tuan. Paman anda sendiri" kata Adit.


"jangan beri tahu papa dan Meera" kata Bara


"maaf tuan muda, tuan besar sudah tahu, kemungkinan sebentar lagi datang" kata Adit.


"huh.. yasudahlah. kemarikan ponselku" kata Bara.

__ADS_1


Adit mengambilkan ponsel Bara yang sudah di cas nya semalaman


Tuan Dion sudah datang dan segera masuk kekamar Bara. mengetahui putra semata wayangnya terluka tentu Tuan Dion tak bisa berdiam diri saja.


"bagaimana keadaanmu?" tanya Tuan Dion berada disamping putranya


"baik, apa mama tau?" tanya Bara


"tentu tidak, aku tak memberitahunya" Kata Tuan Dion


Dokter dan 3 perawat masuk untuk mengecek kondisi Bara. dokter mulai memeriksa keadaan Bara. setelah itu perawat mencoba melihat luka Bara. apakah ada jahitan yang lepas atau tidak. tapi tiba-tiba ponselnya berdering. dan itu Meera.


Bara mengangkat telfonnya.


"Bara.. kemana saja dari kemarin tidak ada kabar sama sekali" kata Meera langsung mencerca Bara.


"hmm..kenapa? ada masalah?" kata Bara.


Bara masih di periksa dengan Suster yang melap lukanya. sedangkan mendengar Bara telfonan Tuan Dion, Adit, dan dokter pun hanya Diam.


mendengar perkataan Meera. Bara memberi isyarat kepada perawat agar menghentikan kegiatannya di lengannya. perwawat itu pun mundur.


"aku tidak apa-apa, aku sehat dan tidak terjadi apa-apa, apa yang perlu di khawatirkan, tidakah kau ingat suamimu ini sangat kuat?" kata Bara menghibur Meera karena terdengarnya suara Meera sudah Serak.


"alah. kamu tu susah dihubungi. apa kamu sedang dengan wanita lain diluar sana hah sampai tidak mau diganggu" tanya Meera sedikit menaikan intonasinya.


Bara menggelengkan kepalanya memikirkan pikiran buruk istrinya itu. bagiamana bisa dia dengan wanita sedangkan kondisinya saja begini.


"ngomong apa kau ini. mana mungkin aku dengan wanita lain. sedangkan istriku sendiri dangat menggoda" kata Bara sambil memijat keningnya karena diomeli Meera sedari tadi.


"halah buktinya kemarin-kemarin kayak gitu kok. kemarin kamu bilang. hari waktunya pulang kan? aku masakan makanan kesukaanmu ya, mau pulang jam berapa?" tanya Meera


"hm... maaf aku masih ada urusan pekerjaan disini. belum bisa pulang. masih banyak yang harus diselesaikan" Kata Bara. ia tak mau mengatakan kondisinya kepada Meera. jelas Meera akan sedih nantinya.

__ADS_1


"urusan apa? aku nyusul yah?" kata Meera


"jangan jangan nyusul. aku tidak ada waktu menemanimu" kata Bara.


"emm. kalau gitu.. alihkan kepanggilan VC yah.. aku kangen" Rengek Meera


"jangan. jangan VC. aku lagi persiapan Meeting. lain kali saja ya" kata Bara terus mencari alasan.


"alasan teruss.. aku nyusul ga boleh. aku vc ga boleh. beneran kan kamu lagi main dengan wanita lain disana" kata Meera.


"Meera aku tu gak seperti yang kamu pikirkan. disini tuh kerja. aku kerja juga buat siapa kalau bukan buat kamu. pikiranmu negatif terus" kata Bara. Bara selalu kesusahan menghadapi Meera. disana tuan dion dan Adit sudah tak tahan menahan Tawanya sampai mereka berdua menutup mulutnya.


"Rasakan kemarahan macan betinamu" batin tuan Dion.


Orang yang disana melongo mereka jelas mengetahui jika Bara sedang berbohong sedari tadi. Bara yang dikenal Kejam didunia Bisnis bisa begitu luluh didepan istrinya.


suster disana pun melihat itu menjadi iri dengan Meera. "beruntungnya istri dari tuan muda ini. punya suami ganteng dan kaya raya.. " batin perawat itu.


"halah kau mencari alasan kan agar istrimu tidak tahu" batin Tuan Dion


"tuann. tuuan.. kau selalu bingung menghadapi istrimu kan lihatlah mukamu sampai pucat gitu hahaha" batin Adit.


"Yaudah deh. kamu sibuk lah dulu. nanti kalau senggang VC yah.. " kata Meera lalu menutup telfonnya. Meera merasa Tenang setidaknya ia bisa mengetahui keadaan Bara dari suaranya saja sudah membuatnya senang. Bara merasa lega setelah menutup telfonnya. benar-benar membuatnya pusing setiap kali menjawab kata-kata istrinya itu.


"seneng kalian ya melihatku tak berdaya didepan Meera" kata Bara melihat Papa dan Adit yang tak tahan menahan tawanya.


"salahmu sendiri, siapa suruh berbohong padanya. Papa yakin setelah kepulanganmu nanti akan terjadi masalah besar jika Meera tahu bekas lukamu" kata Tuan Dion


"mau bagaimana lagi. bahkan Meera sampai mau menangis karena dia bilang firasatnya buruk terus. dari awal dia melarangku berangkat. bahkan dia maksa mau ikut kesini. padahal biasanya kalau ku tinggal dia sangat bahagia. ternyata firasatnya benar. untuk masalah ini pasti akan ku ceritakan. tapi nanti nunggu waktu yang tepat." jawab Bara.


"lalu apa rencanamu?" tanya Tuan Dion


"aku akan disini hingga 2-3 hari kedepan sampai lukaku sedikit mengering. agar tak terlalu mencolok nanti ketika bertemu Meera" kata Bara.

__ADS_1


"baiklah. serahkan Pamanmu padaku, akan ku tunjukan bagaimana menghukum orang yang berani menyakiti pewaris WSC" kata Tuan Dion Geram. Bara adalah putra semata wayangnya. ia tak akan membiarkan Putranya merasakan sakit itu sendirim Tuan Dion siap membalaskan dendam lebih kejam kepada Paman Bara itu. meski mereka masih keluarga.


__ADS_2