
Meera menatap Bara dengan senyumnya. ia merasa Bara perhatian. diangkatlah kaki Meera kepangkuan Bara. dan bara duduk di samping Meera. Bara melihat lutut Meera yang berwarna merah kebiruan. memar disana nampak jelas. ia masih menunggu meera bercerita. sedangkan Meera masih memandangi wajah Bara dengan senyumnya. namun akirnya ia tak sabar untuk bertanya. "ada yang ingin kau katakan padaku tentang kakimu ini?"
"tidak ada. hanya terbentur meja saja kemarin" mata Meera masih dengan kebohonganya.
bara menjadi semakin kesal pada Meera kenapa ia masih dibohongi. namun ia memilih untuk diam tak berbicara sama sekali. Setelah beberapa lama ia memijit kaki Meera. kini Meera merasa lebih enakan. ia pun mengajak Bara untuk makan. diruang makan pun Bara tidak berucap sama sekali Meera pun juga sama, setelah makan Bara langsung naik ke kamarnya. Dia duduk di sofa sambil memeriksa email di Tab nya. Tak lama kemudian Meera masuk membawakan irisan buah dan secangkir kopi. ia berkata "Baraa.. ini makan dulu" Bara tidak menanggapinya. Meera mengira Bara sudah kenyang ia pun mengambil inisiatif mendekatkan tubuhnya ke samping bara namun Bara menghindar. Bara meletakan Tabnya dan menuju kasurnya. lalu berbaring disana. Meera yang melihatnya pun mau ikut tidur disamping Bara. Meera lalu bertanya "Baraa.. kau pulang lebih awal. kangen ya hihi" Meera mencoba mengajak Bara bercanda. Bara yang mendengarnya sebenarnya juga ingin tertawa. ia pun membalikan badanya memunggungi Meera tanpa menjawabnya. Meera merasa dicuekin "ihh lagi puasa ngobrol atau diet kata-kata sih. gini amat" batin meera mulai merasa Bara cuek padanya. ia pun memilih untuk tidur juga.
Ketika pukul 5 sore Bara sudah bangun dan menyandarkan diri pada ujung kasur. ia memandangi istrinya yang masih tidur bawah tatapannya. sambil bergumam. "aku akan menunggumu berkata jujur padaku" rasanya ia ingin sekali mencium bibir Meera itu. namun ia tahan. tak beberapa lama kemudian Meera bangun ia pun mengerjapkan matanya. dan melihat Bara di sampingnya sedang duduk bersandar. "baraa. sudah bangun?" tanya Meera.
Bara pun tak menjawab langsung pergi kekamar mandi lalu mandi agar tubuhnya kembali segar setelah tidur. meera menyiapkan pakaian Bara. setelah bara selesai mandi Meera pun bergantian mandi.
jam menunjukan pukul 19.00, Bara memutuskan untuk pergi kemeja makan menunggu meera disana untuk makan malam. Meera yang baru selesai mandi pun mencari Bara dan akirnya ia menemukan Bara di meja makan. Mereka makan dengan keadaan yang masih sunyi. tidak ada yang berbicara. Meera merasa aneh dengan Bara. kenapa dari tadi siang kok sikapnya berubah. ia berfikir apa bara sakit. ia berusaha menyentuh kening Bara namun Bara menghindar lalu berdiri dan menuju kedepan TV. Meera melihatnya pun geregetan. ia pun mengikuti Bara. ia lalu duduk di samping Bara. Bara tak meliriknya smaa sekali. pandangannya menuju ke layar televisi.
"Bara... kanapa sih kamu kok diemin aku, aku salah apa" Meera tak sabar
hahaa kena kauu.. siapa suruh membohongiku batin Bara tapi mukanya masih sama datarnya. ia tak menghiraukan Meera.
Meera meraih remot Tv lalu mematikannya. Bara yang melihatnya pun langsung berdiri lalu menuju kamarnya tanpa berbicara. Meera semakin kesal dibuatnya. cih sebenarnya ada apa sih. gerutu Meera. Meera pun mengikuti Bara kekamar. sesampainya disana Bara sudah duduk di ujung kasurnya. Meera berdiri disamping Bara dan menarik Ponsel Bara yang dipengangnya.
__ADS_1
"kalau kau tidak mau bicara akan ku hancurkan ponselmu" Kata Meera mengancam.
wkwkkk kamu imut kalau lagi marah sayang.... batin Bara.
meera memasukan ponsel bara kedalam laci di samping ranjangnya. ia lalu menarik lengan Bara yang hendak membelakanginya
"ih bara kamu kenapa sih, kalau ada masalah tu ngomong. jangan diem gini." kata Meera yang sudah tidak sabar sambil mencengkeram tangan Bara.
"aku tanya sekali lgi, kenapa lututmu?" tanya Bara datar
"gapapa ini tu kebentur meja. apa an sih kok gak percaya" kata Meera. masih dengan menutupi kejadian itu karena takut Bara akan melarangnya pergi kesana lagi
"baiklah kalau masih tidak mau mengaku, malam ini aku tidur di kamar sebelah, kamu tidur disini" ancam Bara
mata Meera memerah medengar Bara seperti itu. ia pun diam karena sedih.
"kenapa matamu merah? mau nangis?" kata bara
__ADS_1
"iya aku jujur, kmarin ada insiden kecil. aku mau dibegal orang tapi tenang aja aku gapapa ada orang yang nolongin aku. aku gak cerita karena takut gak kamu ijinin lagi aku kesana" Pertahanan Meera akirnya runtuh karena ia tak mau suaminya terus diam kepadanya. akirnya jujur lah dia
"hmmm.. lain kali jangan bohong lagi. aku gak suka" kata bara sambil menarik Meera dan memeluknya.
Meera pun merasa bersalah membohongi suaminya. dan membalas pelukan Bara.
"besok sore kita kerumah Papa. kita makan malam disana" kata Bara.
meera tentu senang mendengarnya karena ia sangat ingin bertemu dengan Mama bara.
Bara membaringkan tubuh Meera ke kasur lalu menindihnya. Meera membiarkannya. ia larut dalam ciuman yang mesra dan hangat. Bara juga ingin melepaskan rasa rindunya. Bara menurunkan ciumanya pada leher Meera. lalu tanganya menyelinap kedalam baju Meera. tangan Bara mulai nakal disana. Meera yang merasa geli pun memegang tangan Bara dan berkata "stop bara" Bara yang mendengarnya pun tersenyum tipis namun tak mnghiraukannya. ia terus melakukan aktivitasnya. perlahan Bara membuka kancing daster Meera. hingga disana ia bisa melihat gunung kembar yang padat dan menggoda karena ukuranya cukup besar.
"Bara jangan. Geli" meera berulang kali mengucapkanya. Setelah meninggalkan kismark di leher dan dada Meera Bara lalu turun ke gunungan besar itu hendak menyesap ujungnya namun Meera segera mencegah. "Bara jangan nanti sakit", "tidak akan sakit sayang" kata Bara. lalu melumatnya. Meera tak tahan dengan godaan Bara. ia pun yang awalnya tidak nyaman kini mulai terbiasa. Bara menaikan wajahnya tepat di depan wajah Meera. "kita lakukan sekarang ya" kata bara.
"Bara aku takut, kata orang akan sakit" Meera memandang Bara diatasnya. "percaya padaku" lalu Bara melepaskan semua pakaian Istrinya dan juga dirinya. lalu mengunci pintunya agar tidak ada yang mengganggu. Meera sebenarnya masih belum mau melakukannya namun ia takut Bara akan marah lagi. lagi pula itu kuajibannya.
Bara mencium bibir Meera dan tangannya yang lain mengarahkan ular berbisanya ke dalam goa yang telah lama ia ingin membukanya. baru kepalanya saja yang masuk Meera sudah menjerit kesakitan "sudah Bara perih jangan diteruskan" sambil menahan dada Bara. seakan pemain handal Bara pun menyakinkan Meera "Ini belum semua Meera, kamu tahan ya. akan sedikit sakit tapi nanti akan nikmat" Meera memejamkan matanya dan tangannya mencengkeram lengan Bara. sekali 3x hentakan akirnya masuk semua Meera menjerit kesakitan dan hampir menangis "Bara sudah aku mohon jangan lagi. ini perih". Bara mendengarnya lalu mencium bibir Meera dan memainkan gunung kembar yang terlihat menantang itu. setelah dirasa Meera cukup tenang ia pun melancarkan aksinya. ia menyetubuhi Meera sesuka hatinya. ia tak menghiraukan jeritan Meera karena itu terdengar merdu baginya dan semakin menambah keinginan untuk memakan habis meera malam ini. hasrat yang ditahanya sejak lama kini ia salurkan semuanya.
__ADS_1
meera menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang menjijikan itu namun bara menarik tangannya lalu berkata "jangan ditahan tidak akan ada yang mendengar" .. aaaaahhhhhhh... meera melenguh ketika Bara menambah kecepantannya. Bara tersenyum melihat respon Meera. mereka melakukannya hampir 3 jam. Meera sudah tidak kuat lagi. tubuhnya lemas, rambut yang indahnya pun kini berantakan, wajahnya yang cantik memerah, entah berapa kali ia sampai. namun Bara masih sangat perkasa. "Baraa. sudahh aku tidak kuat la..giii aahahhhhh" meera memohon Bara menghentikan aktifitas di belakangnya. kini meera berada di depan Bara membelakannya. kedua tangannya di tarik kebelakang oleh Bara. Bara akirnya sampai pada puncaknya. Meera pun jatuh lemas di kasur. Bara juga membaringkan tubuhnnya di samping Meera. ia mengecup kening Meera "terimakasih sayang" kata Bara. Meera sudah kuwalahan ia tak menjawab, entah apa yang dirasakan tubuh Meera saat itu sakit, pegal, perih, semua jadi satu, meera akirnya tertidur dengan masih tak memakai apapun.. tak beberapa lama Bara pun juga tertidur, Bara terlihat sangat senang ia memandangi wajah istrinya yang kelelahan akibat ulahnya, ia menarik selimut menutupi badan Meera sebelum tertidur.