
"Ayah, sudah dapat uangnya apa belum?"
"Sebentar lagi, Nak"
"Soalnya, besok hari terakhir, Yah. Kalau belum bayar, Ningsih enggak mau sekolah. Malu sama Kepala Sekolah dan teman-teman."
"lya, Nak. Do'akan Ayah, ya."
Selamet menutup telepon dengan wajah tegang.
"Ningsih, ya?" Saroni, teman jaganya malam itu langsung menebak
"Ya. Dia menanyakan uang masuk SMP negeri yang Rp550.000 itu. Aku bingung ke mana harus mencari uang sebesar itu," sahut Selamet dengan nada masygul.
"Kapan harus dibayar?"
"Besok adalah hari terakhir."
"Kok, cepat sekali?"
"Pihak sekolah memberikan waktu seminggu. Aku sebetulnya sudah berusaha mencari ke sana kemari. Tapi, belum dapat juga. Cari uang di zaman susah begini enggak gampang. Marni sempat usul untuk menjual cincin kawin. Tapi, aku tidak setuju.i Cincin itu satu-satunya perhiasan yang masih tersisa di tangannya. Lagi pula, harga cincin itu paling paling cuma separuh dari biaya yang kami butuhkan."
"Pinjam di koperasi kantor?" usul Saroni.
"Aku sudah coba, tapi enggak bisa. Aku masih ada cicilan. Sebetulnya aku dan Marni sudah jauhjauh harimenyicil dana untuk Ningsih masuk SMP. Jumlahnya Rp700.000. Tapi, dana itu habis terpakai waktu Bimo masuk rumah sakit dua minggu lalu. Ya, namanya juga cobaan Tuhan," Selamet menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang galau,
"Kalau saja aku bisa membantumu, Met. Tapi, aku pun tidak punya cadangan dana sama sekali."
"Sudahlah, Ron. Pegawai rendahan seperti kita ini mana pernah punya gaji. sisa? Di kantor, kita memang kelihatan gagah dan tegas. Tapi di rumah, kita adalah orang-orang yang hidup amat sederhana,i yang tiap pertengahan bulan selalu berpikir ke mana lagi cari pinjaman."
Malam terus berjalan. Kedua anggota satpam itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mendung bergayut. Namun di ujung langit, sebuah bintang merangkak perlahan.
Tiba-tiba Saroni ada akal.
"Kenapa kau tidak ngomong saja sama pak dirut yang baru? Kudengar, Pak Aswin orangnya baik. Tidak seperti bos yang dulu, pelitnya minta ampun." Pak Salim, dirut yang lama, akan selalu 'dikenang oleh para karyawan.
Dialah yang selalu menjegal kenaikan gaji dan penandatanganan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). Dia pula yang memutuskan bahwa komponen Tunjangan Hari Raya (THR) hanya gaji pokok. Padahal, berdasarkan ketentuan Departemen Tenaga Kerja, THR itu haruslah gaji pokok dan tunjangan tetap lainnya alias Take Home Pay.
Selamet sendiri tak kan pernah lupa kepada Pak Salim. Dialah satu-satunya orang yang:saat diundang khitanan Bimo dua tahun silam hanya menitipkan secarik surat di meja resepsionis, "Semoga Bimo cepat sembuh dan jadi anak saleh." Tanpa amplop kondangan!
"Ah, aku malu, Ron. Pak Aswin kan belum seminggu di sini. Lagi pula, mana dia kenal sama orang-orang kecil seperti kita ini?"
__ADS_1
"Yah, kau benar, Met. Kita ini ibarat sekrup. Walaupun punya arti penting, namun keberadaan kita hampir tak pernah dihargai."
Kembali dua sekawan itu tercenung. Pikiran keduanya menerawang jauh, menembus batas waktu.
Selamet melirik jam dinding di pos satpam. Pukul setengah sembilan malam. Para karyawan pabrik garmen itu kebanyakan sudah pulang. Kecuali sebagian yang lembur. Namun, para direksi masih bertahan di ruang kerjanya masing-masing. Buktinya, mobil-mobil mereka belum ada satu pun yang meninggalkan kantor.
"Ron, aku mau shalat isya dulu, ya."
Saroni cuma mengangguk.
Selamet mengambil air wudhu, kemudian mengerjakan shalat di mushalla yang terletak di pojok kanan gedung.
Dia berusaha shalat sekhusyu' mungkin. Begitu i pasrah dan mengiba pada Tuhan. Kepada pemilik langit dan bumi, dia berdo'a seperti do'anya para pemuda Kahfi saat terkurung dalam gua. "Ya Allah, i aku yakin, Engkau Mahaadil. Aku selalu berbuat jujur dalam hidup dan pekerjaanku. Sekarang, aku butuh pertolongan dan rezeki-Mu. Dengan keadilan yang Engkau miliki, berilah aku rezeki sesuai yang aku butuhkan. Ya Allah, jika ada satu saja kebaikan dalam hidupku vang Engkau terima, maka aku mohon dengan kebaikan itu, kabulkanlah do'aku." Suaranya lirih dan perlahan, namun terdengar cukup jelas.
Pukul sembilan malam, sebuah sedan Mercedesi putih B 1000 AS muncul. Selamet dan Saroni segera berdiri tegak sambil memberi hormat.
"Malam, Pak," kata Selamet dan Saroni hampir bersamaan.
Pak Aswin turun dari mobilnya.
"Malam, Pak..."
"Saroni, Pak."
"Ini ada martabak keju spesial. Tadi, sudah saya niatkan buat penjaga malam. Silakan, Pak Selamet dan Pak Saroni."
"Terima kasih, Pak."
"Saya ke atas dulu. Ada rapat."
Satu setengah jam kemudian, Pak Aswin turun. Dia mampir di pos satpam.
"Enak martabaknya, Pak?"
"Enak sekali, Pak. Tapi, Selamet tidak mau makan," sahut Saroni.
Selamet menyikut lengan sahabatnya.
"Kenapa Pak Selamet?" Pak Aswin heran.
"Maaf. Pak. Sulit rasanya menelan makanan seenak ini."
__ADS_1
"Kenapa?"
Selamet tidak menjawab.
"Anu, Pak. Selamet lagi kalut." Selamet menginjak kaki Saroni. Yang diinjak cuma meringis.
"Ada apa, Pak Selamet? Mungkin bisa saya bantu." Selamet hanya diam menunduk. Lidahnya terasa kaku.
Akhirnya, Saroni yang bicara. "Selamet butuh biaya sekolah buat anaknya, Pak. Besok, sudah harus dibayar. Sudah cari ke sana kemari, tapi tidak dapat."
"Pak Selamet butuh dana berapa?"
selamet mendongak.
"Rp550.000, Pak. Buat anak saya yang baru masuk SMP negeri."
Pak Aswin tersenyum. "Pak Selamet jangan khawatir. Saya akan bantu. Tapi sekarang, saya tidak membawa uang cash. Besok pagi pukul delapan, datang ke ruangan saya, ya."
"Tapi, kapan saya harus menggantinya, Pak?" Kali ini, Pak Aswin tertawa kecil. "Sudahlah, Pak i Selamet. Ini bukan pinjaman. Dana ini hadiah saya untuk anak Pak Selamet yang sedang menempuh pelajaran. Semoga dia kelak menjadi anak yang berhasil."
"Terima kasih atas pertolongan Bapak."
Pak Aswin menggeleng.
"Sudahlah, Pak Selamet. Ini semua adalah pertolongan Tuhan. Cuma, kebetulan diberikan lewat tangan saya. Saya tak akan pernah lupa asal usul saya. Saya juga berasal dari keluarga miskin. i Sekarang pun, keluarga besar saya di kampung banyak yang hidup dalam kesederhanaan. Saya berusaha membantu mereka sebisanya, terutama untuk biaya sekolah dan pernikahan."
Selamet tercekat. Dia tak kuasa berkata apa-apa lagi. Air matanya menetes di pipi. "Terima kasih, Tuhan. Engkau betul-betul Mahaadil," ucapnya dalam hati.
Selamet terkejut saat Pak Aswin menyentuh bahunya. "Jadi, jangan lupa, besok pagi saya tunggu ya. Sekarang, saya pulang dulu. Selama
"Malam, Pak.."
keduanya melepaskan kepergian pak aswin sampai Mercy E320 'Mata Kucing' itu menghilang dibalik gerbang.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Ron, Atas bantuanmu."
Saroni tersenyum tulus. " Ah, Sudahlah, kawan. tuhan'kan tidak tuli tidak buta. kalau kita selalu berbuat baik, masa sih dia tega menyia-nyiakan kita?"
Selamet mengangguk. Matanya menatap cakrawala. langit begitu bersih.
Tiba-tiba rembulan menyembul di sana.
__ADS_1