
Hari ini adalah hari dimana Rangga mulai turun ke pertandingan di kota S. Kemarin setelah bertemu dengan Meera, pagi harinya ia langusung bertolak ke kota S naik pesawat yang disediakan oleh panitia, karena jarak lumayan jauh, pihak panitia memutuskan menggunakan pesawat untuk mengangkut atletnya. Dalam kejuaraan ini Rangga mengikuti 2 kelas, Hanya Rangga atlet dari kotanya yang di beri kesempatan mengikuti 2 kelas sekaligus oleh tim pelatihnya, Kata dan Kumite. Rangga diijinkan menggunakan ponsel oleh pelatihnya. Agar ia bisa menghubungi keluarganya untuk menambah semangat. mengingat 3 hari ini tidak akan ada penonton pertandingan.
Dikantor Bara dan Meera sedang makan siang bersama di ruangan Bara. Karena setelah hari dimana Bara dan Meera makan Bakso, tiap siang Bara meminta Meera untuk makan siang bersama diruangan Bara. Ponsel Meera berdering
"Siapa?" tanya Bara.
"Rangga" jawab Meera sambil menunjukan layar ponselnya pada Bara
lalau Meera mengangkat panggilan VC adiknya.
"kakak... kak. aku sudah sampai di kota S" kata Rangga.
"ah. iya.., kau yakin? jika kau ragu, kau bisa mundur sekarang, sebenarnya kakak juga masih ragu melepasmu kesana" kata Meera.
"alaahhh.. kakak bicara apa. besok aku sudah turun ke matras. sekarang kakak malah bicara seperti ini" kata Rangga dengan wajah cemberut
Bara yang mendengar perkataan Meera juga tidak senang. ia lalu mengambil alih ponsel Meera
"Hei bocah, kalau kau tidak menang, jangan pernah kembali ke kota ini" Kata Bara.
"kak.. katakan pada kak Meera. jangan bicara seperti tadi. itu bisa membuatku down" kata Rangga merajuk
Bara lalu melirik Meera di sampingnya. setelah itu ia berdiri dan berhalan di dekat kaca.
"sudah jangan dengarkan. fokuslah. tunjukan pada kakakmu. kamu bisa jadi juara tanpa terluka" kata Bara menenangkan Rangga.
"aku sambungkan dengan papa ya" kata Bara. mengingat Tuan Dion sangat senang dengan Rangga yang dianggapnya seperti anak sendiri.
tak berapa lama Tuan Dion menerima VC nya
"wohooo.. 2 putra papa" kata Tuan Dion
"halo Papa.. aku besok akan bertanding, papa tidak ingin lihat?" tanya Rangga
"Aahh.. pasti papa datang nakk.. jangan ada beban di pikiranmu, harus tenang dan fokus.. ok??" kata Tuan Dion
Bara hanya mendengar sambil tertawa melihat Rangga akrab dengan papanya. Ia senang melihat Rangga yang tadi agak murung setelah mendengar ucapan Meera kini menjadi senyum sumringah.
"kakak akan datang saat pertandingan Final. jadi kau harus berusaha sampai di final.. kalau tidak. ingat. jangan pulang ke kota ini lagi" Kata Bara
__ADS_1
"hahaha.... siap bos, tapi kalau aku menang harus ada hadiah yaa!!!" Kata Rangga.
setelah berbicara panjang lebar Akirnya panggilan itu selesai. Meera masih di ruangan Bara. Bara duduk menghampiri Meera.
"apa kau tidak berfikir bagaimana psikis Rangga mendengar kata-katamu tadi?" kata Bara memasang wajah dinginnya didepan Meera.
"apa salahnya aku hanya khawatir" kata Meera menatap Bara didepannya.
"adikmu itu sudah mempersiapkan semuanya. jangan membuat mentalnya down lagi" Kata Bara.
"Aku mendapat info, bahwa orang yang dulu pernah mencelakai Rangga ikut juga dalam pertandingan itu, apa salah kalau aku khawatir" kata Meera
Bara menarik nafas panjang, dan membuangnya kasar. ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"astaga Meera...... mau sampai kapan pikiranmu jelek seperti itu!!!! kalau ada yang berani berbuat curang padanya akan ku hancurkan saat itu juga!" Kata Bara yang sudah lelah menjelaskan pada Meera. setiap kali membahas Rangga. istrinya selalu sensitif.
Bara duduk di samping Meera. ia memeluk Meera agar Meera tenang. Setelah itu Meera berkata
"aku mau melihat rangga jika Rangga masuk final, kebetulan hari itu hari sabtu minggu kan" kata Meera.
"baiklah, kau berangkatlah bersama papa. aku akan menyusul. karena besok aku ada rapat diluar kota" jawab Bara.
Dirumah Meera segera memasak untuk Bara. Ia memasak tumis cumi dan ayam bubu rujak kesukaan Bara. sedangkan Bara menunggu di ruang kerjanya sambil mempersiapkan pekerjaannya besok.
Setelah selesai masak Meera segera memanggil Bara untuk turun makan. Meera hendak masuk karena ruangan tidak terlalu tertutup rapat namun ia urungkan karena mendengar suaea bara yang berbicara pada ponselnya.
"Awasi, jangan sampai ada yang berbuat curang padanya!"
"kalau sampai ada yang berani macam-macam. habiskan hari itu juga"
"kirimkan padaku jadwal pertandingannya"
"rekam semua pertandingan yang diikuti oleh adiku, dan selalu kirimkan ke padaku"
Meera tersenyum bahagia karena Bara benar-benar menepati janjinya menjaga Rangga. bahkan Bara menyebut Rangga Adikku itu artinya Bara juga menerima Rangga.
setelah mendengar Bara menutup panggilannya Meera baru mulai masuk kedalam ruangan.
"Bara makanan sudah siap" kata Meera.
__ADS_1
"oke, aku juga sudah lapar" kata Bara.
"Baraa... " panggil Meera saat Bara berjalan keluar dari ruangannya.
"apa?" tanya Bara
"gendong.." Meera sambil merentangkan tangannya dengan mata yang di kedip kedipkan. Bara melihat tingkah istrinya tersenyum geli. biasanya Meera tidak pernah mau di gendong. kali ini ia memintanya sendiri. tapi Bara senang Meera manja padanya
"ogah.. kamu tuh berat, aku belum makan. tidak ada tenaga" kata Bara sambil tersenyum.
Meera cemberut di buatnya tanpa bicara Meera lalu berjalan mendahului Bara. Bara tersenyum melihat Punggung Meera. ia sengaja menggoda istrinya. padahal jikapun meera meminta digendong mengelilingi mansion Bara pasti kuat.
selesai makan Meera langsung kekamar ia berdiri didepan cermin "masak sih aku berat, apa aku gendut ya" kata Meera.
Meera lalu mengganti bajunya menggunakan leging dan kaos ketat. ia ingin berolahraga agar Bara tidak mengatainya Berat. sedangkan Bara setelah makan langsung kembaki ke ruang kerjanya.
Meera masuk keruang fitnes Bara. ia mulai berolahraga disana. berlari di Treadmil. mengangkat barbel, loncat-loncat, push up, sit up, semua dia lakukan.. keringatnya mulai bercucuran ia semangat melakukannya. karena ia memang dulu sangat sering ber olah raga.
setelah itu ia beristriahat sebentar. dan minum segelas jus jeruk. ia berfikir akan mengenang masa-masa ketika ia menjadi sensei karate, Meera sudah memegang sabuk hitam sejak ia duduk di bangku kelas 2 smp. tentu ia sangat mahir kala itu. sebelumnya ia keluar ia melihat kanan kiri. karena ia tak melihat satu orang pun ia akirnya masuk lagi dan mengunci pintu dari dalam lalu mulai menggunakan hand protect milik Bara. karena ia tak mau Bara tahu ketika ia latihan.
ia melatih kembali pukulannya kepada Matras. tanpa di duga Meera masih lihai melakukannya.
"hahaha .. aku masih bisa rupanya" kata Meera.
setelah selesai dengan pukulannya. ia lalu mulai dengan tendangannya. semua tendangan yang dulu pernah di pelajarinya ia praktekan sekarang. meski tak selincah dulu. tapi lumayan lah untuk orang yang sudah hampir 4 tahun tidak pernah lagi melakukannya.
ia meloncat dan berbalik menendang matras dengan telapak kakinya. tendangan itu disebut ushiro. ia lakukan berkali-kali, menggunakan kaki kanan dan bergantian dengan kaki kirinya.
setelah itu ia melatih tendangan maygerinya. ia mundur beberapa langkah dari samsaknya. lalu ia berjalan maju dan setelah 2 langkah ia menendang dengan keras samsak itu menggunakan ujung kakinya. Setelah dirasa cukup Meera yang sudah basah oleh keringat kembali beristirahat dan minum lagi. ia mengatur nafasnya. setelah itu ia keluar dari ruangan fitnes dengan baju yang sudah basah oleh keringat.
ia masuk kekamar dan bersamaan Dengan Bara juga baru masuk kekamar.
"habis ngapain?" tanya Bara karena melihat istrinya menggunakan legging dan kaos ketat yang menunjukan lekuk tubuhnya yang seksi itu Namun bajunya Basah
"olahraga. biar gk ada yang bilang aku ini Berat" cibir Meera sambil melangkah ke toilet.
"hahahaha... marah ternyata" kata Bara. memandang istrinya.
setelah keluar dari kamar mandi Meera melihat Bara yang berada di ranjang sedang bebaring. ia ingat kalau besok Bara akan keluar kota. ia lalu mengambil koper bara. dan segera menyiapkan keperluan yang di bawa Bara. semua keperluan bara dari mulai mandi sampai tidur ia siapkan dalam satu koper.
__ADS_1
"Hmmm.. kalau lihat dia tidur gini juga tidak tega. sepertinya Bara sangat lelah" gumam Meera sambil menaikan selimut Bara yang sudah terlelap