Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
penjelasan Meera


__ADS_3

Meera merasa tak tahan dengan ciuman Bara yang tak ada habisnya di lehernya. di lerai makin menjadi, dihindari tidak bisa. Meera mencari-cari alasan agar bisa menghindar dari pangkuan Bara.


"Bara kita pulang saja, aku gerah pengen mandi" kata Meera.


"Mandilah, ada pakaianmu di lemari kamar itu" Bara menunjuk satu pintu kamar di salah satu sisi ruangan.


"aaa.. bahkan disini ada pakaian wanita, jangan-jangan Bara sering membawa wanita kesini.. " Kata hati Meera.


Meera lalu cepat berdiri dari pangkuan Bara. ia cepat-cepat menuju kamar yang ditunjuk Bara. ia membuka Almari didalam sana. lengkap pakaian wanita dari dalaman sampai dres hingga piama ada disana. dan semuanya baru, dengan merk-merk ternama. "Cihh.. bahkan semua lengkap ada disini, ah sudahlah persetan dengan apa yang terjadi, yang penting mandi dulu lah" Meera berkata pelan sambil memilih pakaian dalam lemari, pilihannya jatuh pada daster tidur yang ada kancingnya dari atas sampai bawah. karene Meera berfikir akan menginap di tempat itu malam ini. Meera segera menuju kekamar mandi dan berendam. ia mengisi bak mandi dengan air hangat dan menuangkan sabun beraroma stroberi kesukaannya.


Meera masuk kedalam Bathup, ia menyandarkan kepalanya pada ujung bak mandi. matanya terpejam. memikirkan semua kejadian.


"tidak bisa, aku harus percaya suamiku, apapun kejadiannya aku harus percaya, urusan di bohongi atau tidak, itu urusannya"


"tapi aku cemburuu Baraa kau di goda wanita tadi hikshiks.."


"kalau aku bicara, nanti tidak selesai-selesai berdebatnya, kalau aku terus diam kau ini tidak peka peka... harus gimana sikapku ini"


Banyak sekali yang dibincangkan antara hati dan perasaan Meera. Mata Meera masih terpejam di sana. merilekskan badannya dan juga fikirannya


sementara diluar Bara sedang berbicara di ponselnya dengan Adit, adit menceritakan apa yang ada di rekaman CCTV dari mulai Meera terlihat datang hingga akhir. Adit juga menceritakan bahwa Meera tertangkap kamera sedang mengintip Bara di dalam ruangan dan sempat mengambil fotonya. Bara mematikan ponselnya, lalu meraih ponsel Meera yang tadi dimintanya, Ia membuka dan mengecek isi ponsel Meera, galeri yang dibukanya pertama. matanya melotot melihat fotonya sedang bersama melinda dan leora ada disana.


"astagaa... pasti Meera berfikir yang tidak-tidak, pantesan tadi di restoran wajahnya aneh"


"untung.. tadi aku tahan emosi, kalau tidak aku akan menyesal saat ini" gumam Bara saambil mengacak-acak rambutnya. Ia lalu menghapus foto-foto itu, dan dia menuju ke kamar lainnya untuk mandi.


Setelah mandi, Bara hanya memakai kaos putih ketat dan celana pendeknya. dengan handuk masih di rambutnya Bara keluar dari kamar dan mencari Meera kekamar utama. karena sejak tadi ia tak melihat Meera keluar dari kamar. Sebelumnya Bara sudah memesan makanan untuk diantar ke apartemennya. karena informasi dari Adit mengatakan bahwa Meera belum menyentuh makanannya sama sekali saat direstoran.


Bara tak melihat Meera ada didalam sana. hanya ada sepatu dan tas meera yang ada.


"Meera.." Bara memanggil Meera. tidak ada sahutan, Bara menuju ke toilet karena tadi Meera bilang mau mandi, Bara mengetuk pintu toilet, benar saja, Meera tertidur didalam sana. suara ketukan pintu itu membangunkan Meera.. dengan suara seraknya meera berkata "iyaa sebentar", Bara lega mendengar suara meera tapi hatinya bertanya "lama sekali apa dia ketiduran"


Meera segera melakukan ritual mandinya dengan cepat. dan cepat-cepat menggunaan pakaian ganti yang dibawanya dan segera keluar. Bara sudah duduk diatas ranjang sambil memainkan ponselnya, meera segera mengeringkan rambutnya. setelah selesai ia merapikan rambutnya dan hendak keluar dari kamar namun Bara menahannya. "mau kemana?" tanya Bara sambil memegang lengan Meera.

__ADS_1


"ambil minum" kata Meera.


"sebentar, aku mau bicara" kata Bara menarik lengan Meera duduk di tepi ranjang.


meera hanya manut saja. karena jika berdebat juga dia akan kalah dengan Bara.


"kau melihat ku didalam ruangan tadi?" tanya Bara


"aaaaaa dia pasti sudah tau, jujur sajalah" kata hati Meera.


Meera mengangguk sambil menundukan pandangannya


"kau marah?, jangan membiasakan diri terus diam seperti ini, katakan saja biar aku tahu bagaimana hatimu" kata Bara. mengangkat dagu Meera


"ah sudahlah aku katakan saja. persetan apa nanti tanggapannya" batin Meera


"siapa tidak marah, aku hanya bertemu dengan tidak sengaja dengan temanku kau sangat marah membuatku takut setengah mati hingga kau menghukumku, sekarang aku lihat dengan mataku sendiri kau bermanja dengan 2 wanita ganjen itu, dan kau tidak mengelak sama sekali, malah terlihat menikmatinya" Kata Meera dengan suara serak menahan tangisnya dengan mata berkaca-kaca.


Bara mendengarkan suara istrinya. ia senang akirnya Meera mau mengatakan isi hatinya. meski Bara tahu itu tidak semua Meera ungkapkan.


"jangan berhubungan dengan Marvel lagi" sambung Bara


Meera hanya mengangguk merespon kata-kata Bara, ia lalu memeluk Bara. dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Bara. Bara membiarkan Meera nyaman di sana. sambil menepuk punggung meera pelan.


"ayo makan, kau laparkan" kata Bara. di respon dengan anggukan kepala Meera. Bara dan Meera lalu menuju ke ruang tamu. disana sudah ada 1 porsi steak, dan 2 orange jus.


"kok cuma 1?" tanya Meera.


"kamu saja yang makan, aku sudah kenyang" kata Bara sambil duduk di samping Meera.


meera yang memang sudah lapar pun menyantap makanan disana. ia sesekali menawari Bara namun Bara tidak mau, karena memang Bara sudah kenyang. tak beberapa lama pun Satu porsi steak habis di lahap Meera.


Bara memang duduk di samping Meera namun ia sibuk dengan ponselnya. ia sibuk mengecek file-file yang tadi siang belum sempat di croscek karena ada meeting.

__ADS_1


Meera segera membereskan meja. setelah itu ia duduk lagi di samping Bara.


Begitulah Meera, selalu takluk oleh Bara. ia kini sudah bersikap biasa. karena pikirannya yang selalu positif kesemua orang, itu membuat suasana hatinya juga sedikit membaik. ia tak pernah menyimpan dendam kepada siapapun. sesakit hati apapun ia akan selalu memaafkannya, apalagi Bara. ia tak bisa untuk tidak memaafkan suaminya.


"aaa kenyang.. " kata Meera. sambil mengusap perutnya.


Bara melihat Meera tersenyum sendiri. Bara senang karena istrinya menampakan ekspresi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"ayo pulang Bara" kata Meera sambil menghadap Bara


"kita tidur disini dulu malam ini" kata Bara.


"yasudah ayo tidur, aku mengantuk" kata Meera.


mereka berdua lalu menuju kekamar namun Meera ketoilet dulu untuk menggosok giginya karena habis makan. setelah itu ia berbaring di samping Bara.


Bara memeluk Meera, Wajahnya ditempelkan ke leher Meera. Bara menciumi Leher putih Meera. suara nafas Bara tedengar oleh telinga Meera. membuat Merinding tubuh Meera.


"Bara jangand dicium cium terus, geli" kata Meera.


"sudah tidurlah, tadi katanya mengantuk" kata Bara tak mengubah posisinya. padahal Bara sedang tersenyum disana


tangan Bara mulai nakal melepas 2 kancing atas baju Meera.Meera mulai risih. ia menurunkan tangan Bara. tapi lagi-lagi tangan Bara naik lagi. begitu terus berulang-ulang


"Bara, jangan" kata Meera.


"oh tidak jadi ngantuk rupanya"kata Bara bangkit menindih Meera, tangannya ada di samping kepala Meera. matanya menatap Meera.


"bukan, aku mengantuk, tapi tanganmu, aku tidak bisa tidur kalau seperti tadi" kata Meera.


Bara langsung menarik baju Meera hingga tertarik kesamping dan menampakan leher meera dan tulang leher meera yang putih disana. Bara langsung menyesap kasar leher itu, "aaaa sakiitttt" Jerit Meera karena Bara menyesapnya sesekali menggigit hingga terasa sakit dilehernya. sudah ada 2 kismark yang terlihat sangat jelas di leher meera berwarna merah darah kebiruan. Saat hendak melakukannya di bagian leher meera yang lain, Meera menahan dada Bara.


"Bara aku tidak akan melawan, tapi jangan gigit" kata Meera. karena ia merasakan sakit ketika tadi Bara melakukannya.

__ADS_1


Bara mendengar istrinya berkata seperti itu malah tidak melanjutkan aksinya. ia berbaring lagi di samping Meera dan ia membenamkan wajah meera pada dadanya. ia memeluk istrinya hingga tertridur lelap. dan Bara juga sangat senang dihatinya.


__ADS_2