
Hampir satu jam Laila duduk di teras rumah. Bola matanya yang bundar selalu bergerak lincah setiap kali ada sesuatu yang bergerak di jalan depan rumahnya. Bahkan angin yang menghempas pepohonan di seberang jalan hingga daun-daunnya berguguran mengetuk-ngetuk jalan aspal, tak pernah luput dari mata Laila.
Tapi, bola mata bundar itu selalu meredup kembali, sayu lagi, bebarengan dengan helaan napasnya yang berat seperti menahan sesuatu. "Apakah hari ini ia tidak datang?" Laila berucap lirih.
Bibirnya bergetar gemetar. Gelas berisi jus jeruk di meja sampingnya masih utuh, belum ia sentuh. Laila lebih tertarik memperhatikan jalan depan rumahnya. Ia sedang menunggu calon suaminya, Aziz Samudra.
Tapi, dingin malam telah membuat tubuh Laila menggigil dan berkali-kali kedua tangannya sibuk merapatkan kerah baju. Ia tak mungkin bertahan lebih lama lagi duduk di situ. la harus segera masuk ke dalam rumah kecuali jika ia merelakan tubuhnya masuk angin.
Tapi, Laila masih bingung apakah akan masuk rumah, menutup pintu rapat-rapat, atau merelakan tubuhnya terus menggigil seperti orang habis tercebur kolam. Laila terus menimbang. nimbang dua pilihan itu. Sementara gerimis mulai turun dan nun di belahan langit atas, sesekali cahaya api meletik, memanjang seperti juluran lidah naga. Tapi, Laila masih bertahan. "Apakah ia tidak akan datang?" Untuk kesekian kali malam ini Laila mengulang kalimat-kalimat sama.
Gerimis berubah menjadi hujan deras. Gemuruh suara hujan cukup menyiksa telinga Laila. Laila berdiri, dan sekali lagi bola matanya yang bundar menatap lurus jalan depan rumahnya yang telah menjadi sepi, seperti ingin memastikan bahwa nanti tak akan ada yang berubah pada jalan itu. Tetap sepi. Tetap lengang. Tetap tak ada ruang baginya untuk mengharap kedatangan calon suaminya. Laila kemudian melangkah masuk, menutup pintu, dan menguncinya rapat-rapat. "Ya. Ia tidak akan datang malam ini..." Suara itu sungguh-sungguh sangat pelan.
Laila menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya nanar menatap langit-langit kamar. Langit langit kamar itu masih putih seperti dulu ketika kali pertama ia menempati rumah kontrakan itu. la memang menyukai warna putih warna yang melambangkan cinta suci. Mungkin juga kesetian. hatinya kini telah diliputi gelisah.
Dan, malam ini, ia akan memulai tidurnya dengan kegelisahan dan akan memimpikan pula sesuatu yang menggelisahkan. Gelisahnya terus menganga dan kesedihannya kian sempurna. Ia tidak tahu kapan semua ini berakhir. Ia hanya percaya satu hal: sesuatu yang berawal pasti juga akan berakhir.
__ADS_1
Laila memejamkan matanya rapat-rapat, tapi kantuknya justru semakin menjauh.
Berulang-ulang ia mencoba mempraktikkan beberapa teori agar cepat jatuh tidur, tapi selalu gagal. Justru bayangan itu terus berkelindan di kepalanya. Justru kenangan itu terus bergerak seirama putaran jarum jam. Justru semuanya terbuka dan semakin nyata:
"Bergembiralah, Laila. Hari ini, aku telah memutuskan berjihad di jalan Allah. Aku akan berangkat ke Poso..." Laila masih ingat, kata-kata itu diucapkan Aziz dengan penuh keyakinan dan keberanian. Seperti yang sering dilakukan Aziz ketika masih mahasiswa berdiri di atas podium di depan ratusan orang di bawah terik matahari siang.
Begitu pula sorot mata Aziz yang menyalanyala dan garis-garis wajahnya yang tampak keras saat itu, semakin menegaskan bahwa Aziz sangat serius dengan kata-katanya. "Tak ada yang lebih indah kecuali jihad di jalan Allah memerangi kaum kafir yang menzalimi kita, Laila. Kamu tak perlu risau. Kematian sudah meniadi takdir Allah. Kematian tidak akan datang lebih cepat karena kita berjihad atau datang lebih lama karena kita tidak melakukan apa-apa. Tidak, Lailal Tidak! Kematian akan menjemput kita kapan saja sesuai takdir Allah. Maka, izinkan aku berangkat jihad!"
Ya, ya, Laila masih ingat, meski kata-kata itu terdengar bombastis. Tapi Laila tahu, ada kejujuran di balik kata-kata itu. Dan, mata Aziz yang menyala nyala tak bisa menipu!
Di luar, hujan masih turun deras. Suaranya bergemuruh. Tapi di kamar itu, di kamar yang berlangit-langit putih dan juga berdinding serba putih, mata Laila mulai sayup. Redup. Lalu, segalanya menjadi gelap. Segalanya menjadi hitam. Segalanya...
"Laila, orang-orang kafir itu berhasil me nangkapku. Kini, aku tinggal menunggu vonis mati. Mereka tentu akan menggantung tubuhku lalu menembakku. Tapi, aku tidak takut sebab aku akan mati syahid. Laila, maafkan aku jika selama ini pernah berbuat salah padamu. Aku berharap kamu bisa melanjutkan perjuangan ini. Selamat berpisah calon istriku. Selamat tinggal.."
"Tidaaakk" Laila menjerit. Keras Mimpi-mimpi itu selalu datang mengusik tidurnya. gosok mata.
Malas Laila bangkit dari ranjang, menggosok matanya.
__ADS_1
"Apakah ia benar-benar tidak datang?" Kata-kata itu selalu diucapkan Laila setiap kali ia duduk di teras rumah. Diucapkan dengan suara lirih, tapi penuh penghayatan hingga bibirnya yang mungil bergetar gemetar. Sudah hampir dua jam Laila duduk di situ. Bola matanya yang bundar masih bergerak lincah setiap kali ada sesuatu yang ia tangkap dari jalan depan rumahnva. Bahkan, ranting pohon yang patah oleh hempasan angin dan jatuh di atas jalan aspal, tak luput dari tatapan Laila. Tapi, bola mata bundar itu selalu meredup, kehilangan cahaya, diikuti tarikan napas berat seperti ada sesuatu yang ia tahan. Gelas berisi ius jeruk di meja sampingnya masih utuh. Laila lebih tertarik memperhatikan jalan depan rumahnya. la sedang menunggu calon suaminyal
Tapi, udara malam yang tak bersahabat telah membuat suasana hati Laila semakin rusuh. Gelisah. Laila bingung apakah akan masuk ke dalam rumah lalu membenamkan tubuhnya dalam selimut atau tetap duduk di situ sembari menyalakan lilin harapannya; menunggu kedatangan suaminya. Menunggu memang membosankan. Tetapi menjadi tidak membosankan ketika nyala lilin itu menjadi besar, berkobar. Laila memilih tetap duduk di situ. Sebab, calon suaminya mungkin akan datang malam ini
Tapi, siapa yang bisa menahan gerimis? Ia bisa turun kapan saja, setiap saat, setiap detik, tanpa berkompromi terlebih dulu dengan manusia. Apalagi Laila. Seperti halnya malam ini! Betapapun keras Laila menjerit, berteriak, meronta, agar gerimis tak turun, tapi Langit telah berkehendak lain! Dan, kehendak Langit mutlak terjadi. Langit adalah kekuasaan tanpa batas. Laila tak mungkin bisa menahan gerimis. Menahan hujan. Menahan badai. Menahan angin. Menahan topan. Sedang meng harap kedatangan Aziz pun, ia selalu gagal!
Lilin yang baru dinyalakan Laila telah redup seiring gerimis turun disusul hujan deras. Harapan itu musnah sudah. Laila berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum menutup pintu, sekali lagi bola matanya yang bundar menatap lurus jalan depan rumahnya yang penuh genangan air. Tapi bukan untuk melihat genangan air itu. la hanya ingin memastikan bahwa jalan itu akan terus tergenang air hingga pagi dan seseorang tak akan datang ke rumahnya malam ini. Laila melangkah masuk rumah, menutup pintu dan mengunci.
"ia tidak akan datang malam ini..." Suara itu mungkin lebih mirip desahan.
Tiga jam, Laila duduk di teras rumah menunggu calon suaminya. la terus menunggu meski mendung tebal menyelimuti permukaan langit dan hujan deras bakal turun. Siapa yang bisa menahan hujan? Hujan akan turun kapan saja, bahkan ketika sebelumnya langit tampak cerah, tak ada tandatanda akan turun hujan. Apakah Laila bisa menahan hujan? Apakah Aziz bisa menahan hujan? Tak ada! Tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menahan hujan. Termasuk Laila! Termasuk Aziz! Laila adalah seorang perempuan yang terus larut dalam do a harapannya. Aziz adalah seorang lakilaki yang rela mengabdikan hidupnya untuk tugas i suci di jalan Allah.
Selebihnya, mereka adalah manusia biasa. Manusia yang hanya menjalankan tugas kemanusiaannya. Manusia yang penuh kelemahan. Manusia yang penuh kekurangan. Manusia yang selalu tak berdaya jika dihadapkan pada kekuasaan Langit yang luas tanpa batas.
Setiap malam, Laila terus menunggu Aziz. Setiap malam, Laila terus membangun harapan-harapan. Setiap malam, Laila terus merajut impian-impian.
__ADS_1
Setiap malam, Laila terus merenda kenangan demi kenangan. Laila tidak tahu, kekuasaan Langit yang begitu luas tanpa batas telah merenggut nyawa Aziz ketika sebuah senapan menyalak dan sebutir peluru melesat menembus batok kepala Aziz di sebuah tikungan jalan yang sepi pada suatu malam ketika ia hendak pulang.
Subhanallah! Lagi, seorang mujahid kembali ke pangkuan Allah