
pagi ini Meera dipaksa berangkat bareng Bara, mengingat kejadian semalam Bara khawatir dengan Meera. meskipun Meera selalu diikuti 2 pengawal yang pandai berkamuflase tetap saja Bara masih kepikiran, drama di garasi mobil pun terjadi
"gak mau, aku berangkat sendiri aja"
"yasudah kita sama-sama kerja dirumah saja gimana?"
"loh kok gitu sih Bara" Meera cemberut
"kenapa? tidak mau berangkat bareng kan, yasudah ayo kerja dirumah masuk lagi kekamar."
"ngapain dikamar"
"ya itu lah. ngapain lagi, kita lakukan seharian full seperti jam kerja, gimana mau?"
mendengar kata-kata Bara membuat Meera menelan ludahnya.
"enggak lah. kamu gak ada puasnya ya heran aku tuh"
"yasudah kalau gak mau ya ayo berangkat bareng" jawab Bara tak mau kalah
"nanti kalau dilihat orang gimana, nanti mereka curiga"
"ketahuan orang ya sudah bilang saja memang kita udah nikah kok!" kata Bara yang memang dari awal hendak memberi tahukan semua ornag bahwa ia sudah menikah. namun karena permintaan Meera ia akirnya menutupinya.
"gini aja. nanti aku turun di sebrang jalan. nanti aku jalan ke kantor sendiri, gimana?" Tawar Meera
"yasudah ayo, sudah siang" jawab Bara
Meera memanyunkan bibirnya. ia kesal dengan Bara yang seenaknya sendiri. tak ada yang berbicara apapun selama perjalanan. Bara hanya fokus dengan Tab nya melihat laporan di emailnya. sedangkan Meera menatap keluar kaca.
Meraka hampir sampai di gedung WS Cops. Bara menyuruh sopirnya berhenti di tempat yang ditunjuk Meera. didalam mobil Meera hendak berpamitan dengan Bara. ia menjulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Bara.
setelah itu ia bergegas keluar mobil. segera mungkin Meera memasuki area gedung, namun Bara masih diam di sana. ia memperhatikan Meera hingga memasuki gerbang. setelah itu ia baru menyuruh sopir melajukan mobilnya masuk kehalaman WS Corps.
tanpa diketahui Meera sepasang mata Shinta melihatnya keluar dari mobil Presdir. Shinta tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. "apa aku salah lihat ya. ahhh sudahlah mana mungkin meera berangkat bareng presdir" Shinta mengusir pikirannya.
waktu berjalan seirama dengan pekerjaan-pekerjaan yang seakan sudah bersabat berkutat dengan jamnya.
__ADS_1
Bara kini ada di dalam ruangannya. ia fokus dengan beberapa file di tangannya.
"dit. kau tahu kejadian tadi malam?" tanya Bara dengan tatapan tak luput dari filenya
"tahu tuan, saya sudah membereskan mereka"
"Tuan ada yang ingin saya sampaikan. tadi aurel menelfon ke sekretaris diluar. bahwa dia akan datang nanti sore bersama nyonya besar katanya mau ada yang dibicarakan" kata Adit
mau apa lagi mereka ini astagaaa... tidak ada habisnya. batin Bara berontak.
"bagaimana dengan nona Meera tuan? apa yang harus saya lakukan. bukankah tidak baik jika nanti mereka bertemu?" tanya Adit karena ia juga kasihan kepada Meera jika Aurel selalu mencari masalah.
"Aku akan mengurusnya, katakan pada Aurel jangan kesini aku yang akan ke rumah papa" kata Bara.
Bara lalu mengirimkan pesan pada Meera.
"Meera nanti aku tidak bisa pulang bersamamu, pulang bersama supir ya"
Meera yang sedang santai karena memang tidak terlalu babyak pekerjaan pun segera membalasnya "ok, aku pulang sama shinta ya. aku mau belanja sebentar" Meera memang memiliki janji pada shinta untuk ke Mall membelikan kado Untuk pacar baru shinta yang akan ulang tahun
"kemana?" tanya Bara
"keruanganku sebentar" perintah Bara.
tak menunggu waktu lama Meera sudah berada di ruangan Bara, karena memang siapa lagi yang mau membantah presdir.
meera duduk di sofa diruangan Bara menunggu Bara yang masih sibuk dengan laptopnya.
Bara mengeluarkan 2 card memberikannya kepada Meera.
"ambil ini, yang hitam bisa kau pakai sesukamu tidak ada batasan. belilah apapun yang kau mau. Yang gold. pakai itu di mall yang akan kau kunjungi jika kau menemui masalah" Bara memberikan penjelasan
Kartu Gold hanya dimiliki oleh beberapa orang penting di WS Corps bisa dibilang itu istimewa.
"Tidak usah. aku punya uang sendiri " balas Meera
"Meera jangan membantah. ini ambil" Bara memberikan kartu itu di tangan Meera.
__ADS_1
"nanti mau pulang jam berapa?" tanya Meera
"tidak usah menungguku. aku ada keperluan, jika ngantuk tidurlah" Bara mengelus rambut Meera.
"Baiklah aku pergi dulu" kata Meera sambil salim dengan suaminya.
setelah Meera pergi Bara segera kembali dengan pekerjaannya. bukan Bara tidak mau mengajak Meera ke rumah orang tuanya. namun ia tak mau Meera terluka hatinya seperti kemarin.
Meera kini sedang berada di perjalanan bersama Shinta ke mall menggunakan taksi online.
"shin kapan Vian ulang tahun?" tanya Meera
"Lusa, aku bingung mau masih apa, menurutmu apa Meer?" tanya Shinta
"entahlah. aku juga belum pernah kasi kado ke cowok kok" jawab Meera jujur
"Meer.. pacarmu siapa sih?" tanya shinta. sebenarnya tadi pagi itu dia salah lihat atau tidak. dia hendak menanyakan langsung tapi tidak enak
"hehe kapan-kapan aku kenalin" jawab Meera, ia tak mau memberi tahukan identitas Bara kepada siapapun
setelah sampai di Mall. mereka berdua berkeliling sambil berfikir apa yang harus di beli. hingga pilihan Shinta jatuh pada sebuah Jam tangan. mereka memasuki toko jam tangan yang Brand nya lumayan punya nama. Shinta memilih jam dengan Warna hitam dengan tali logam yang elegan. cocok untuk kepribadian Vian. Meera berfikir. ia juga ingin membelikam Bara jam tangan. namun diurungkan niatnya karena ia setiap hari melihat jam yang di pakai Bara selalu jam dengan merk ternama yang harganya bisa sampai cukup membeli 1 rumah. ia pun minder. tak jadi membelikan Bara.
setelah itu mendapat kado Meera dan shinta menuju ke toko Baju. disana banyak sekali Merk Merk ternama. Shinta membelikan Vian sepasang kaos couple berwarna biru muda.
"Meer lihat bagus gak?, lucu ya hehe aki bayangin kalau Vian pake kaos ini gimana ya haha" Shinta meringis membayangkan Vian memakai kaos yang dipilihnya
"Lucuuuuu... " kata Meera. Meera jadi ingin membelikan Bara. ia pun berkeliling mencari kaos couple. pilihanya jatuh pada kaos lengan pendek warna hitam bergambar Gajah, kaos itu couple. Meera tersenyum sendiri sambil memandang kaos itu dengan segala pikirannya yang berkelana entah kemana membayangkan Bara yang terkenal kejam memakai kaos karakter gajah. Meera membayarnya dengan menggunakan kartu Debitnya sendiri. ia tak mau menggunakan kartu yang diberikan Bara.
setelah puas berbelanja. meera dan shinta pergi ke kedai untuk membeli makan dan minum karena mereka memang sangat lapar. setelah memesan makanan Shinta pun berbalik menuju ke meja Meera. disaat yang bersamaan Meera melihat dengan teman SMA nya dulu yang kini telah bekerja di Angkatan Udara. namanya Devan dulu Devan pernah menyatakan cintanya. Meera mencoba menghindari Devan sampai Meera lulus kuliah. ia tak mau bertemu dengan Devan lagi. ia khawatir jika Devan mendekatinya lagi. karena menurut kabar yang diterima. Devan belum memiliki kekasih sampai saat ini karena mengharapkan Meera. Devan sosok yang tinggi besar badanya bagus. kulitnya sawo matang khas seorang prajurit. karirinya di Angkatan Udara juga cemerlang. Meera membalikan tubuhnya agar tidak terlihat oleh Devan. setelah Shinta kembali Meera berkata pada Shinta "shinn. kita pindah restoran aja yuk"
"hah?? makanan belum datang minta pindah. gila kamu Meer!" jawab Shinta dengan nada tinggi. karena memang suara Shinta yang terkesan tinggi.
"aduuhhhh jangan keras-kerasss..." Kata Meera sambil menitupi wajahnya
"Kamu kenapa sih Meera.. kok kayak menghindari sesuatu" Shinta sambil menurunkan tas Meera yang menutupi wajahnya
keributan itu pun sampai ditelinga Devan. Devan dan temannya pun menoleh kearah Meera. Devan melihat Meera dengan tatapan bahagia. ia tak menyangka akan bertemu Devan disini.
__ADS_1
tamatt lah akuuu.. devan melihat kesinii gimana ini... meera benar-benar tidak mau bertemu Devan
"Eh Meer lihat ada 2 cowok ganteng datang kesini, Meer lihattt.. keren bangettttt" Shinta mengoyang-goyangkan tangan Meera.