
Meera yang tak tahu jika Adit menginap disana kaget ketika melihat Adit sudah berpakaian rapi keluar dari kamar tamu.
"pagi nyonya muda" sapa adit membukukan badannya
"pagi, kamu kok tidur sini?, kesepian ya dirumah sendiri haha" Meera mengejek Adit
"tuan muda yang minta" jawab Adit masih menundukan pandangannya.
"cihh kaku sekali. apa tiap hari kamu begini, kaku dan dingin gini?" kata Meera
"sudah dari lahir nyonya" jawab Adit datar kayak jalan toll
cihh orang ini bahkan menyebalkannya sama dengan Bara. gumam Meera lalu pergi meninggalkan Adit. menuju ke kamarnya. dikamar ia melihat Bara masih tertidur pulas. Meera memilih untuk Mandi, dikaca besar dalam toilet, ia melihat badannya yang banyak sekali tanda merah.
kenapa setiap kali menyinggung perasaannya pasti ia lakukan seperti ini sih, apa ini caranya menghukumku, tapi ngeri juga. aku takut dia kayak orang kesetanan kalau lagi begitu. hiiii.. Meera menatap kaca dengan tatapan tajam menyapu leher dan dadanya.
ini lagi tempatnya disini, (menunjuk leher bagian samping agak keatas) kenapa ada juga disini. gimana nutupinya. huhhhhhh... meera berdecak kesal mengingat kelakuan Bara.
Meera malakukan ritual mandinya didalam toilet. keluar hanya dengan menggunakan jubah mandinya dan rambut yang masih basah. ia segera menuju ke lemari pakaiannya. ia mencari kemeja lengan panjang dan lehernya juga panjang agar menutupi bekas keganasan Bara semalam. setelah mendapatkannya ia lalu memakainya. kemeja berwarna biru muda dengan stelan rok hitam selutut yang nampak seksi digunakannya. pandangannya teralih kepada sosok yang masih tidur diranjangnya. Bara terlihat masih nyenyak disana dibawah selimut yang membalutnya.
Meera segera mengeringkan Rambutnya. ia menata rambutnya dengan serapi mungkin. ia bersemangat hari ini. karena memang sudah seminggu ia tak masuk kerja. setelah memoles wajahnya dengan make up natural Meera terlihat sangat cantik.
Meera menghampiri Bara hendak membangunkannya.
"Bara.. bangun.. sudah siang" Meera menggoyang bahu Bara. Sedangkan Bara masih menggeliat didalam selimut
ganteng juga kalau lagi tidur hihi.... kata Meera dalam Hati. meera terus menggoyangkan badan Bara. Bara meraih tangan Meera dan diletakannya di pipinya. Meera membiarkan tangannya berada di pipi Bara beberapa saat. matanya menatap wajah Bara. Seakan tak lagi memikirkan kejadian kemarin Meera kini sudah seperti biasanya. Memang itulah sifat Meera. ia bukan orang pendendam. jika dia bertengkar dengan siapapun kalau orang itu minta maaf pasti akan di maafkan oleh Meera.
Meera jahil, ia mencubit pipii Bara. Bara seketika bangun dari tidurnya. ia membelalakan matanya merasakan pipinya di cubit.
Meera bangun dan menarik tangan Bara "ayooo bangunnnn.. adit di bawah menunggu sarapan" Bara teringat jika Adit sedang menginap. ia pun beranjak dari ranjang dan menuju ke toilet tanpa berkata sepatah katapun
sekitar 15 menit didalam toilet. Bara selesai dengan menggunkan handuk yang melilit bagian bawahnya saja. Meera yang melihat Bara seperti itu menahan ludahnya lalu memalingkan wajahnya. badannya seperti roti sobek, wajahnya tampan, siapapun yang melihat pasti tergoda. Bara segera menggunakan pakaian yang sudah disiapkan Meera. setelah itu ia menuju ke kaca untuk membereskan rambutnya. Meera membawakan Dasi untuk Bara. ia hendak memakaikannya. namun Bara memegang tangannya.
"kenapa?" tanya Meera berada di depan Bara sambil memandang wajah tampan Bara
"aku pakai sendiri" kata Bara memandang istrinya.
"apa masih marah? kan semalam kau sudah menghukumku, apa masih kurang" Meera cemberut didepan suaminya ia mengira Bara masih marah. padahal pagi ini ia berusaha menebusnya. sedangkan tangannya sudah tidak memegang dasi itu lagi.
__ADS_1
hmmmm..... Bara lalu memeluk Meera. pelukan pagi hari sangatlah hangat bagi Meera. Meera membalas pelukan suaminya.
"jangan bertindak sembrono lagi. kemarin kau pakai handuk dan berjalan kesana kesini didalam rumah. coba kalau aku diam tak menegur. bisa-bisa besok kau jalan keluar rumah pakai handuk itu juga kan" Bara memberikan pengertian pada istrinya dengan lembut.
"tidakk.. tidakk akan lagi.. aku takut" jawab Meera sambil melepas pelukan Bara lalu membuat simpul V pada jari telunjuk dan jari tengahnya.
Bara senang dibuat istrinya. tak lama kemudian mereka turun bersama ke meja makan. disana sudah ada Adit yang menunggu.
"pagi tuan muda" sapa adit
"hmm" Bara menanggapi sambil berjalan menuju kursinya.
"ditt.. kau mengerti kata hmm itu?" tanya Meera apda Adit.
"tidak nyonya" jawab Adit pelan disamping Meera. Adit tentu sudah biasa menanggapi hal seperti itu kini ia hanya ingin bercanda dengan Meera.
"aaaihh.. lain kali jangan bicara padanya lagi. jika hanya di jawab dengan hmmm" Meera menggoyang bahu Adit. dan berkata pelan di samping telinga Adit.
Adit merasakan telinganya ada hembusan nafas Meera menjadi merinding. ia lalu menggosok telinganya. sambil menggerakan bahunya. "jangan menggodaku nyonyaa.. aku bisa tidak tahan" isi hati Adit
"Sedang bicara proyek apa kalian?" tanya Bara menatap 2 orang yang masih berdiri di sana
Adit yang sudah tahu permainan Meera memilih tak menghadapinya. dari pada ia juga akan berhadapan dengan Bara. Meera segera duduk disamping Bara. ia berhadapan dengan Adit. disela sela sarapan Meera memperhatikan adit dan Bara bergantian.
mereka berdua ini kok sama-sama datar ya.. hmmm.. yang satu blok Es yang satu frizer kulkas. saling melengkapi hahahah... meera bergumam dalam Hati.
Bara yang melihat istrinya tersenyum sendiri pun menggelengkan kepalanya. tak habis pikir dengan tingkah istrinya. terkadang cuek, terkadang perhatian, terkadang menjengkelkan, terkadang manis semua jadi satu.
sedangkan Adit ia juga sadar akan tatapan Meera. ia memilih diam. karena disampingnya ada Singa gila yang siap kapanpun menerkamnya jika ketahuan memandang istri tercintanya. "beruntung sekali tuan muda, punya istri cantik, pintar masak, aaahhh andaikan kau punya kembaran nyonyaaa" gumam Adit sambik mengunyah makanan di mulutnya.
Mereka berangkat dalam 1 mobil. sebenarnya Meera tidak mau. tapi ia tak punya kewenangan menolak suaminya itu. didalam Mobil Bara menggenggam tangan istrinya tak mau melepaskan. sedangkan tangan yang satu lagi melihat-lihat ponselnya. mengecek harga saham.
meera memandang wajah suaminya yang fokus pada ponsel pun tersenyum, entah apa yang dipikirkan. sedangkan Bara memilih tak memperhatikan Bara.
"tuan nanti ada pihak Djanto group akan datang ke kantor membicarakan kerja sama" Adit memberi tahu Bara
"hmm" jawaban Bara. Setelah itu Adit tidak berkata apapun lagi. Meera mengingat kata-katanya tadi , haha ternyata dia mengikuti kata-kataku ... batin Meera.
Meera mendapat pesan dari ponselnya. ia segera menarik tangannya dari genggaman tangan Bara. ia segera membuka pesan. ternyata dari Anom. Bara yang merasa tanganya kosong pun segera melirik kearah Meera yang sibuk dengan ponselnya. Ia memperhatikan Meera.
__ADS_1
"siapa?" tanya Bara.
"Teman" jawab Meera cepat. haduuh kalau dia tahu ini dari anom tamatt aku..
Bara langsung meraih ponsel Meera ia lalu dilihatnya siapa yang mengirim pesan. sebelum dibuka Meera kembali mencoba meraih ponselnya lagi. namun Bara tak membiarkannya. ia letakan ponsel meera kedalam saku jasnya. dan di pegangnyanya dengan satu tangan, kedua tangan Meera. setelah merasa Meera tak bisa memberikan perlawanan Bara membuka ponsel meera lagi dan mengetahui jika Anom yang mengirimnya pesan.
"Meera kenapa tidak masuk kerja beberapa hari ini aku merindukanmu, apa hari ini kamu masuk?" pesan Anom.
"matii akuu matiii... adaaawww... pagi-pagii iniii masa mau perang lagii" batin Meera meronta melihat ekspresi Bara.
Bara yang tadinya tenang menjadi Marah karena istrinya masih di chat orang lain. Bara memasukan lagi ponsel Meera kedalam saku jasnya. ia memandang Meera dengan tatapan tajamnya. Meera sudah salah tingkah dibuatnya.
"apa?? mau marah? bukan aku kok yang ngirim pesan duluan" Elak Meera karena tak mau dimarahi pagi-pagi oleh Bara.
"tidak usah berhubungan dengan Anom lagi" kata Bara tegas.
"dit pecat anom" Bara memberi titah pada Adit
"siap tuan" jawab Adit (ooooooo jadi karena Anom tuan muda ribut gini) batin Adit
"ehh ehh. apa apa an. salah apa anom. main pecat seenak jidat. gk bisa ya di pisahin antara urusan kantor sama pribadi" Meera kesal dengan Bara yang bertingkah seenaknya menurutnya.
"kamu belain orang itu?" Bara sudah mendidih dibuat Meera. dengan tak melepaskan genggaoan pada tangan Meera
"apaan sih. ya lagian anom salah apa sampe di pecat" Meera tak mau kalah.
Bara sudah tidak sabar dengan pembelaan Meera. tangan yang 1 mencengkeram tangan meera yang 1 ia meraih tengkuk Meera dan mendaratkan ciuman di bibirmya dengan kasar. tak perduli didepannya ada supir dan Adit yang melihatnya. Meera mencoba melepaskan diri. tapi tenaga Bara lebih besar. "emmmmmmmmm" hanya kata itu yang terdengar. Bara semakin menggila disana. bebrapa lama Bara akirnya melepas Meera. "Gak ada malunya. ini tu di mobil, ada orang lain selain kita, bisa-bisanya main nyosor aja" Meera kesal dengan Bara yang semakin tak tahu tempat
"kalian melihatnya?" tanya Bara melirik kedua orang di depannya yang sedang menatap lurus kedapan
"Tidak tuan" kedua orang didepan menjawab kompak.
yaaa ampun tuan muda. bagiamana aku tak melihatnya. kalian melakukannya di situ.. hiks. istri mana istrii.. batin supir.
aaaaahhh.. aku lama-lama tak tahan juga jika harus di beri pertunjukan seperti ini... batin Adit.
"kau dengar?" tanya Bara pada Meera. Sedangkan Meera memalingkan mukanya pada jendela. Meera merasa malu dengan supir dan Adit.
"kalau kau membantah lagi aku bisa melakukannya didepan semua karyawan" ancam Bara,meera menatap Bara dengan kesal.
__ADS_1