
5 bulan berlalu..
kini perut meera sudah besar dan usia kandungannya sudah 9 bulan, mendekati kelahiran putranya, ia sudah tak lagi berkerja, Shinta datang ke sana untuk membantunya begitu juga Lexa yang kini lebih sering menemani Meera.
Meera sedang berada di rumahnya duduk di sofa sambil mengelus elus perutnya yang membesar. terasa sangat nyeri ketika anaknya menendang nendang...
namun sehari ini Meera merasakan sakit yang tak biasa, ia sampai meringis kesakitan..
"Assshh..." rintih Meera.
"apa ada yang sakit?" tanya Shinta yang hini berada di dekatnya.
"Sakit sekali.. apa aku akan melahirkan hari ini, tapi hitungan dokter masih 1 minggu lagi" kata Meera sambil meringis.
"ayo ke dokter.. " kata Shinta sambil memapah Meera.
Lexa datang tergopoh gopoh bersama bodyguard nya. dan langsung duduk di samping Meera yang sedang kesakitan dan shinta berada di kursi depan bersama supir.
"apakah sakit sekali?" tanya Lexa ketika melihat Meera meringis sambil mengatur nafasnya
Meera hanya menganggukan kepalanya,
"Heii.. kau tak bisakah mengendarai lebih cepat hah?" bentak Meera pada supirnya.
"Baik Nona" jawab Supirnya yang langsung tancap gas.
setelah sampai di Rumahsakit, Meera langsung masuk ruang bersalin. Lexa hendak masuk tapi ditahan Shinta.
"Hei. kau ini mau apa, jangan menganggu dokter Lexa!" kata Sinta sambil menarik tangan Lexa.
Shinta segera mengabari Adit..
5x panggilan tidak dijawab. Shinta terus berusaha. dan wajahnya berubah sendu, sampai akirnya Lexa bersuara.
"Hah.. kau menghubungi pria dingin itu, mana mungkin di jawab, dia lagi meeting bersama Bara" lata Lexa.
Shinta terdiam.. ia ingat bahwa Adit bukan orang yang sembarangan bisa dihubungi
Lexa lalu menghubungi Tuan Dion
"Halo paman"
__ADS_1
"Meera akan melahirkan hari ini, kami sudah berada di rumahsakit"
"Seharian tadi ia meringis kesakitan, akirnya kami bawa kerumahsakit"
"aku juga tidak tahu" jawab Lexa menyauti Perkataan Tuan Dion
"Baiklah paman hati-hati" tukas Lexa. dan menutup telefonnya
Tuan Dion langsung saja berangkat dan tak lupa ia mengabari Adit agar segera berangkat. dengan berseri seri ia segera menaiki jet pribadinya.
sedangkan Meera masih tampak lemas di ruangannya setelah melahirkan. Bayinya begitu imut, kulit putih bersih rambut tebal dan mata bulat menjadi kelebihannya.
dan tak lama kemudian Adit dan Tuan Dion datang dengan wajah berseri-seri Tuan Dion menghampiri bayi Meera yang berada di sampingnya.
"keturunanku.. yah.. dia keturunan Suryatama" kata Tuan Dion sambil menatap Wajah Bayi mungil yang sedang terpulas itu, sedangkan Adit menghampiri Meera yang masih memejamkan matanya.
"Ayo bangun, kau tak ingin melihat bayimu kah? lihatlah dia begitu Tampan" kata Adit sambil duduk di samping ranjang Meera
Tak lama kemudian Meera terbangun namun karena masih lemas ia hanya berbaring di tepat tidur dan melihat sudah banyak orang disana.
"Papa... Adit.." kata Meera
"Iyaa.. nak.. kami disini.. lihatlah bayimu begitu tampan" kata Tuan Dion yang menggendong bayi mungil itu
"Aah.. putraku.." kata Meera dengan berkaca kaca..
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Tuan Dion
meera menggelengkan kepala.
"baiklah biarkan aku yang meberinya nama, tolong jangan menolaknya"
"namanya, Devano Raja Suryatama" kata Tuan Dion dengan mata berbinar..
sedangkan Meera menjadi sendu. bagaimana anaknya memakai nama Suryatama sedangkan dipikiran Meera Bara saja tidak mau mengakui ia sebagai putranya.
"Pa.. bagaimana kalau tidak usah dengan nama Suryatama.. Papa tau.. Daddy nya tak menginginkannya" kata Meera sendu
"yang harus kau tahu Meera dan jangan lupakan ini, Devano adalah satu satunya cucu ku dia adalah keturunanku satu satunya, bagaimana bisa aku tak memberikannya nama belakang itu.. tolong jangan menolaknya.. setidaknya ini akan berguna ketika ia dewasa nanti " kata Tuan Dion meyakinkan Meera yang tampak Ragu
Baiklah Meera kalah, memang Raja adalah cucunya.
__ADS_1
Tuan Dion tak henti menggendong dan menimang Raja. hingga Meera tertidur lagi saat ini karena efek obat yang di berikan
"Dia akan menjadi pewarisku Adit,.. berikan semua Saham dan hartaku pada Raja, sudah cukup apa yang ku berikan pada Bara. sekarang berikan hartaku yang tersisa ini pada Raja, setidaknya ia harus terjamin hidupnya hingga dewasa" kata Tuan Dion
"Bagaimana jika Tuan Muda tahu dan menanyakannya?" tanya Adit, karena ia tahu akan menjadi masalah besar jika Bara mengetahuinya.
"Aku akan memberi tahunya kelak .. " kata Tuan Dion, Adit hanya melepas nafasnya. Ia tahu selama ini Bara berusaha mencari tahu tentang Meera namun karena permintaan Meera untuk menyembunyikannya maka Tuan Dion selalu menghalangi rencana Bara. Sebenarnya Adit kasihan pada Bara, namun mengingat kelakuan Bara pada Meera juga membuatnya geram.
setelah beberapa hari Meera diijinkan pulang. Tuan Dion melarang keras Meera turun dari kursi Roda. kini Tuan Dion terasa lebih menyayangi Meera dari pada Bara. dikelilingi orang yang menyayanginya membuat Meerabegitu terharu.
Hadiah dari Lexa pun datang, 2 kontainer pakaian dan mainan bayi datang ke rumah sederhana Meera disana.
"oh astaga.. kau.. kauu apa apan Sa.. kau ingin mengubur rumahku dengan mainan ini.?" kata Meera kaget melihat orang-orang menurunkan isi dari kontainer itu, sedangkan Lexa tak menggubrisnya. Lexa bersimpuh sambil menggesek2 kan jarinya pada bayi mungil itu
"Lexa!!" teriak Meera
"sssshuuutt.. jangan keras kerass." kata Lexa lalu memandangi Raja kembali.
"kenapa dia begitu imut Meera.... kapan ia bessar" kata Lexa.
Meera mendengus kesal ucapannya tak di gubris oleh Lexa.... Rumahnya sudah seperti akan membuka toko mainan di sana. semua tampak berantakan.. sedangkan Tuan Dion dan Adit sudah kembali ke negara Asal.
Adit menyimpan foto-foto Raja yang masih tampak sangat mungil di ponselnya. ia ingin sekali menunjukannya pada Bara. namun apa daya ia tak berani melawan Tuan Dion.
ia tahu jika Bara selalu mencari Meera. Bara bahkan tak menyentuh wanita manapun setelah di tinggal oleh Meera..
*********
5 tahun berlalu..
"Rajaa!!! apa yang kau lakukan, kekacauan macam apa lagi ini Raja Astaga!!" kata Meera memarahi Raja yang kini sedang meminum susunya di teras rumah. Meera berjalan tergopoh gopoh sambil membawa Tab canggih milik anaknya itu.
Meera duduk di samping Raja yang tampak santai dan dingin itu. Wajahnya mirip sekali dengan Bara.. bisa dibilang Raja adalag kfotokopi Bara waktu kecil.
"Apa momy?" tanya Raja santai
"Jelaskan pada momy kenapa kau meretas situs permainan ini, bukankah momy sudah melarangmu meretas apapun lagi?" kata Meera kesal. karena Anaknya selalu melakukan hal itu bahkan Situs Nasa pernah di retasnya di usia yang baru 5 tahun. Meskupun amsih kecil IQ Raja sudah mencapai 220, dia sangat jenius terutama dalam IT, meretas situs berharga seperti mainan baginya.
"hanya uji coba virus baru buatanku Mom" kata Raja
"Raja.. itu tidak baik, kau bisa membuat paman paman yang bekerja di game itu menjadi pusing karena ulahmu.. ayo sekarang perbaiki lagi.. jangan hanya bisa merusak" kata Meera menyerahkan tab milik Raja.
__ADS_1
"Tidak mau, biaarkan saja coba paman-paman yang lebih tua itu bisa tidak mengatasinya. kalau mereka bisa, berarti virusku gagal" kata Raja.
"Ya Tuhan!! lihat akan ku telfo Ayahmu yaa!! lihat saja nanti kau pasti akan di marahi olehnya" kata Meera menakut-nakuti Raja.