Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
jangan menghianatiku Meera.


__ADS_3

Meera menunggui Reza di kamarnya. Reza yang tadi sempat pingsan pun sudah siuman. Meera hendak menanyakan perihal tadi tapi diurungkannya setelah melihat jam sudah menunjukan pukul 23.00 Meera segera sadar ia melupakan janji dengan Bara. tanpa menunggu lama Meera segera berlari menuju garasi dan melajukan mobionya dengan kecepatan tinggi menuju ke restoran. tanpa ia sadari tasnya tertinggal di kamar Reza.


"aduh mati aku matiii.... bagaimana bisa aku melupakan janjiku pada suamiku Ya Tuhan..." batin Meera.


sedangkan di sana Bara sudah memilih meninggalkan restoran dan sudah berada di mansion. sungguh Bara teramat Murka kali ini.


sesmapainya di Restoran. Meera berfikir Bara masih menunggunya. ia berlari ke dalam restoran itu namun tak menemukan. saat itulah ia sadar bahwa tasnya tertinggal di dalam kamar Reza.


tanp berfikir panjang Meera segera masuk ke mobilnya dan langsung pulang kemansion.


Reza yang mendengar ponsel Meera berdering pun memberanikan diri untuk mengangkatnya


suara di seberang sana sudah sangat terdengar marah.


"dimana??" bentak Bara


Reza yang mendengarnya pun sedikit kaget oleh teriakan itu.


"ini aku Reza. ponsel Meera tertinggal disamping tempat tidurku" kata Reza santai.


sungguh Bara sudah sampai puncak emosinya. ia langsung menutup telfonnya.


"sialannn.. beraninya mengabaikan makan malam denganku lalu pergi dengan pria lain" kata Bara kesal dengan wajah yang sudah memerah.


Meera telah sampai di mansion. Ia sudah siap dengan apapun yang akan di ucapkan Bara nanti.


"dimana suamiku?" tanya Meera kepada salah satu pelayan yang sedang membereskan guci besar yang tadi di gulingkan Bara ketika memasuki rumah dengan emosinya.


"dikamar nyonya" jawab pelayan itu

__ADS_1


Meera segera berlari menaiki tangga dan perlahan dibukanya pintu kamarnya. dan matanya terbelalak ketika melihat keadaan kamarnyanyang sudah seperti kapal pecah.


"astaga.." batin Meera.


baru selangkah Meera memasuki kamarnya. ia sudah di tarik dan di benturkan ke tembok oleh Bara yang saat itu berada di balik pintu.


"aaauhh..." lenguh meera ketika punggungnya menghantam tembok.


Bara langsung mengungkung Meera di bawah nya. tangan kanan kirinya di buat untuk menahan pundak Meera . lalu ditataplah Meera dengan guratan merah di wajahmya.


"dari mana"


"dari rumah lexa. maafkan aku. ada sesuatu tadi." kata Meera. sungguh Meera takut dengan keadaan ini.


"bohong!!!".


"sumpah. aku dari rumah Lexa sayang"


"iya ponselku ketinggalan. maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja"


buugghhhh!!!!!"" Bara memukul tembok hingga darah dari tangannya mengalir. Meera tersentak kaget. jika saja Bara memukul kepalanya entah sudah menjadi apa ia sekarang.


"kau mengabaikan makan malam denganku lalu kau tidur kencan dengan pria lain. apa maksudmu, kau menghianatiku?"


"aku tidak kencan. sungguh aku tak pernah menghianatimu sayang. sumpah demi apapun" kata Meera yang sudah serak. ia takut sekali dengan kemarahan itu..


"apa namanya Meera!! katakan apa namanya. kau mengabaikan makan malam yang sudah ku rancang sedemikian rupa. aku sendiri yang menyiapkannya. apa ini balasanmu?"


"sayang sungguh aku tidak bermaksud mengecewakanmu. maafkan aku. maafkan aku" kata Meera sambil menberanikan Diri untuk mendekat ke Bara dan hendak memeluknya. namun bukannya pelukan yang ia dapat malah kibasan tangan yang ia dapat hingga ia terpental kelantai dan sikunya mengenai sepihan kaca yang telah dihancurkan Bara.

__ADS_1


"aaah.. sakit" pekik Meera sambil mengusap Sikunya yang berdarah.


"kau tahu. aku menyempatkan waktuku hanya untuk datang menemuimu dan ingin membuatmu bahagia krena aku sadar belakangan ini kau kesepian. tapi apa.. kau mengecewakanku dan kau pergi bersama sepupuku, katakan apa aku tidak boleh kecewa saat ini?" kata Bara sambil terus memandang Meera yang sedang merintih kesakitan di bawahnya.


Meera mencoba berdiri ia tahu ia salah. ia harus meminta maaf.


"tenanglah aku akan menjelaskan semuanya" kata Meera lirih sambil terus memegangi sikunya


"aku mencintaimu Meera. aku tak mau kau pergi dariku. aku tak mau ada pria lain di hidupmu. tapi kenapa kau mengecewakanku" kata Bara dengan suara seraknya.


"aku membantu Reza..aku....".. kata-kata Meera terpotong ketika Bara lagi-lagi melempar pigura ke lantai tepat di samping Meera.


"aaaa........." teriak Meera ketakutan. Meera menangkup kedua telinganya dan menundukan kepalanya. sungguh ia tak bisa menahan tangisnya lagi. sebutir air mata keluar dari matanya.


tanpa berkata apapun Bara lalu pergi meninggalkan Meera. dengan membanting pintu keras keras.


wajar saja jika Bara marah. hari ini ia sempat sempatkan pulang dari luar negeri dan ingin membahagiakan istrinya. ia melewatkan meeting bernilai ratusan triliun di sana. karena ia berfikir Meera lebih dari segala-galanya. ia membuat diner romantis. karena ia akan memberitahukan Meera jika ia akan mengumumkan statusnya nanti di acara ulang tahunnya. dan itu pasti akan membuat Meera bahagia. bahkan Bara sudah menyiapkan bebrapa hadiah untuk Meera. baik berupa asset ataupun yang lainnya yang sudah Bara alihkan atas nama Meera. Bara akan memberikannya malam ini bersamaan dengan dineer romantis ini. tapi apa daya. lelahnya dan usahanya seakan tak di hargai oleh Meera. apa lagi Meera bersama Reza sepupunya. sungguh hati siapa yang akan tidak marah jika seperti itu. seperti itu mungkin pikiran Bara.


Bara memilih ke bar pribadinya di dalam mansion itu. Bara menenggak banyak alkohol disana. ia tak mampu berada di kamar itu bersama Meera. atau kalau tidak ia bisa saja menganiaya meera lebih parah akibat cemburu butanya.


sedangkan Meera. terus merasa bersalah atas semuanya. Meera tak marah sama sekali kepada Bara atas apa yang dilakukan Bara hingga membuat dirinya Terluka.


Meera membereskan kamar itu. jari kaki jari tangannya ikut berdarah-darah karena terkena goresan kaca namun tak dihiraukan Meera.


setelah selesai. Meera merasa dirinya saat ini pusing sekali. hingga ia belum juga mengganti pakaiannya ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Ia berniat menunggu Bara datang tapi rasa pusing dikepalanya tak bisa diajak kerja sama. hingga ia memilih untuk tidur saja.


pukul 2 dini hari Bara yang sudah mabuk berrat datang lagi kekamar Meera. di lihatnya wajah Meera yang tidur bagaikan anak kecil itu. Lalu pandangannya turun ke jari-jari manis Meera hingga tatapannya bertemu dengan darah yang hampir mengering itu.


Bara mengusap kapalanya kasar.

__ADS_1


"jangan menghianatiku Meera.. aku mohon" gumam Bara sembari menatap wajah istrinya. melihat begitu banyak luka gores meskipun tipis tapi itu pasti sangat perih. Bara lalu cepat pergi toilet dan mandi air dingin agar kesadarannya kembali dan mengurangi efek mabuknya.


setelah kembali ia mengobati luka-luka meera dengan betadin dan dengan hati-hati Bara mengecup kening Meera lalu pergi. Bara memilih untuk pergi ke apartemennya.


__ADS_2