Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Jejak surga


__ADS_3

Memasuki hari pertama bulan suci Ramadhan Ayah masih belum mau mengubah tabiat buruknya. Setiap malam, Ayah masih sibuk dengan kartu domino dan minum minuman beralkohol di gardu ronda bersama teman\-temannya. Pulang jam lima atau setengah enam pagi dengan langkah gontai, mata merah, dan bau apek. Seperti biasa, Ayah akan duduk sebentar di teras rumah, menghabiskan sebatang dua batang rokok sambil menikmati kopi yang dibikin Ibu dengan terburu\-buru, sebab Ayah akan marah besar jika sedikit saja terlambat. Sedikit pun Ayah tidak malu pada tetangga kanan\-kiri yang tengah menjalankan ibadah puasa.


Begitulah, Ayah seolah telah menjadi dewa di rumah kami. Kami, anak\-anaknya, tak berani menolak perintah Ayah. Menolak berarti tamparan di pipi atau tendangan di pantat atau yang lebih parah lagi bantingan barang pecah belah yang menyebabkan Ibu lari terbirit\-birit masuk ke dalam kamar lalu menangis sesengukan. Wajar, barang barang itu semua yang beli Ibu dari menyisihkan gaji pegawa negerinya yang tak seberapa banyak. Karena itu, Ibu sering bilang pada kami agar menuruti saja apa kemauan Ayah, sebab kalau tidak, yang rugi kami sendiri.


Akhirnya, aku dan dua adikku tumbuh sebagai anak\-anak vang baik dan patuh pada orang tua. Meski kepatuhan kami pada Ayah karena terpaksa. Tapi, itu tidak masalah. Karena bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana kami terhindar dari tamparan dan caci maki Avah vang sering mengundang perhatian tetangga kanan\-kiri. Dan itu berarti pula kami tidak menyakiti perasaan lbu. Sebab di antara kami, Ibulah yang paling banyak menanggung malu jika Avah marah\-marah\-sampal mengeluarkan kata\-kata kasar dan jorok.


Ibu adalah kesejukan embun di pagi hari. Tatapan matanya menenteramkan hati kami. Menyegarkan kekeringan jiwa kami. Ibu laksana batu karang yang berdiri kokoh di tengah hempasan gelombang, lbu tak pernah marah meski perlakuan Ayah demikian menyakitkan. Ibu tertunduk diam, dan paling paling hanya menangis sesengukan ketika Ayah memarahi, membentak\-bentak, atau bahkan menamparnya. Mungkin bagi Ibu, kepatuhan pada suami merupakan nilai ibadah tersendiri. Entahlah.


Sayang, orang yang sangat kami sayangi itu harus cepat pulang ke pangkuan\-Nya. Satu tahun lalu Tbu meninggalkan kami ketika kami masih sangat membutuhkan kehadirannya. Dan mungkin, itulah awal petaka yang menimpa keluarga kami, Ayah semakin jarang di rumah. Selain menghambur hamburkan uang di meja judi, Ayah juga mulai berani main perempuan. Bahkan beberapa kali Ayah sempat membawa perempuan menginap di rumah. Kami sangat tersiksa melihat kelakuan Ayah. Tetangga kanan\-kiri sepertinya juga jijik melihat keluarga kami. Sampai\-sampai Deni, adik bungsu saya, pernah ingin minggat dari rumah karena tidak tahan menanggung malu.


Sedikit demi sedikit, perabotan rumah tangga dijual Ayah. Kami tak bisa berbuat apa\-apa selain menatap hampa ketika Avah dan beberapa temannya datang dengan membawa truk lalu mengangkut meja, kursi, almari, dan barang\-barang berharga lain. Seorang teman Ayah bilang pada saya bahwa Ayah kalah judi jutaan rupiah sehingga barang\-barang tersebut harus disita.


Dulu, saya mengira Ayah akan berubah menjadi i baik sepeninggalnya Ibu. Saya masih ingat bagaimana pesan terakhir Ibu pada Ayah hanya beberapa menit sebelum ajal menjemput. Ketika itu, kami anak-anaknya dan juga Ayah ada di samping lbu yang terbaring lemah di atas ranjang. Dengan terputus-putus, lbu bilang pada Ayah agar mau menjalankan shalat lima waktu. Ayah diam tak berkutik. Dan baru kali itu, saya lihat Ayah yang biasanya garang dan angker mendadak berubah lembut. Sorot matanya redup seperti menyiratkan kesedihan dan penyesalan.


Tetapi, ternyata kesedihan Ayah tidak be. langsung lama. Satu minggu setelah pemakaman lbe Avah mulai pada kebiasaan lamanya. Bahkan semakin bertambah parah.

__ADS_1


Suatu kali, pernah saya bilang pada Ayah agar mau melaksanakan pesan terakhir Ibu. Tapi, Ayah hanya tertawa sambil menepuk-nepuk bahu saya, katanya, "Kamu pikir kalau aku shalat lantas kita akan jadi kaya, heh? Kamu rajin shalat, tapi Tuhan tetap tidak ngasih duit sama kamu. Kamu masih tetap miskin. Sudahlah, aku nggak mau ngomong lagi soal itu. Aku mau shalat atau tidak itu urusanku sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur."


Kali lain, pernah juga saya bilang pada Ayah bahwa shalat itu tujuannya bukan untuk mencari rezeki, bukan agar bisa kaya raya, tapi semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah karena dengan begitu akan terhindar dari perbuatan tidak terpuji. Tapi, Ayah justru marah-marah. Sambil menggebrak meja, Ayah bilang, "Anak kemarin sore, tahu apa kamu tentang hidup, heh?! Hidup itu makan. Dan makan itu perlu duit. D-u-i-t! Kamu tahu?"


"Ayah mengaku orang Islam, tapi Ayah tidak menjalankan perintah-Nya," jawab saya lirih. Takut.


Ayah berjalan mendekati saya lalu mencengkeram leher saya. "Aku sudah tidak percaya lagi pada agama mana pun" desis Ayah seperti kesetanan. Lalu, pergi keluar setelah sebelumnya membanting pintu keras-keras.


Sejak itu, saya tidak pernah bercakap-cakap dengan Ayah. Saya muak melihat kelakuan Ayah. Apalagi kalau sedang membawa perempuan yang entah dari mana asalnya menginap beberapa hari di rumah. Meski kami masih sering bertatap muka, tapi kami sudah seperti orang asing saja. Dan saya tahu ada sorot kebencian di mata Ayah ketika sedang menatap saya. Tapi, saya tak peduli. Dan begitulah, kehidupan mengalir sebagaimana adanya. Saya bekerja pagi hari dan baru pulang sore hari. Sedang Ayah pergi malam dan biasanya pulang pagi. Atau, tidak pulang sama sekali.


Suatu hari di tempat kerja, sehabis istirahat shalat Jum'at, saya mendapat telepon dari Deni, adik bungsu saya. Dengan suara terputus-putus, Deni menyuruh saya agar segera pulang karena Ayah mendapat kecelakaan. Ketika saya tanyakan bagaimana kondisi Aah, Deni justru mengisak Lalu, sambil menahan isak, Deni bilang bahwa Ayah meninggal di tempat kejadian.


Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya ada dalam benak saya, sebab sedikit pun saya tidak terkejut mendengar kabar itu. Saya juga tidak merasa sedih kehilangan Ayah. Biasa-biasa saja seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tapi beberapa saat ke. mudian, entah mengapa saya tergerak untuk mintai izin pulang pada atasan saya.


Sampai di rumah, rumah saya dapati sepi. Tidak seperti layaknya kalau ada kematian. Hanya ada beberapa tetangga dan teman-teman dekat Ayah yang sering mangkal di gardu ronda. Saya maklum. Sebagaimana saya, orang-orang tentu banyak yang tidak menyukai Ayah. Karenanya, wajar ketika meninggal pun, mereka enggan datang ke rumah kami.

__ADS_1


Jenazah Ayah sudah dimasukkan ke dalam peti. Sedikit pun saya tak ingin melihatnva. Untuk apa?


"Pengemudi truk itu mabuk.." kata Deni ketika saya mendekati adik bungsu saya itu.


"Bukan sebaliknya?" jawab saya enteng, sekenanya, yang langsung disambut tatapan aneh beberapa orang di sekitar saya.


Dan entah, tiba-tiba saya merasakan ada seseorang mencengkeram lengan saya, kuat, lalu menarik masuk ke dalam kamar.


"Jangan bikin malu! Ayahmu tertabrak truk ketika sedang menyeberang jalan, mau shalat Jumat!" kata Haji Malik sesampai di dalam kamar.


Shalat Jum'at? tanya saya dalam hati, kaget. Sementara Haji Malik keluar meninggalkan saya,•saya masih terpaku di tempat. Bingung, gelisah, sedih, kecewa, dan entah apa lagi perasaan yang menyesak dalam benak saya.


Jarak antara rumah saya dengan masjid sekitar seratus meter. Ayah tertabrak truk ketika sedang menyeberang ialan-tinggal menyelesaikan tidak lebih lima belas langkah lagi.


Sampai tiba upacara pemberangkatan jenazah rumah saya masih sepi. Yang hadir hanya itu-itu saja, tidak lebih dari lima belas orang, Itu pun lebih banyak bekas teman-teman main judiAyah. Wajah mereka tampak sedih. Entah kesedihan yang bagaimana.

__ADS_1


Dan, masih sempat saya dengar bisik-bisik di antara mereka, "Untuk menghormati si mati, tak ada salahnya nanti malam, kita main kartu di sini, oke?"


__ADS_2