Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Mengidam


__ADS_3

3 jam berlalu Akirnya Meera terbangun, ketika Meera membuka matanya kini ia bisa melihat Adit, Reza, Tuan Dion didepannya.


sakit hati yang menyelimutinya membuat ia menangis lagi.


Adit tergerak hatinya untuk menenangkan Meera.


"Jangan menangis lagi nona.. ingat janinmu.." Kata Adit sambil mengelus pundak Meera yang kini tengah duduk diatas ranjangnya.


"papa.. boleh aku minta sesuatu?" tanya Meera.


"katakan Nak.. kau mau apa" tanya Tuan Dion. Tuan Dion berfikir jika Meera meminta Bara maka dengan cara apapun Ia akan membawa anaknya itu datang kesana.


"Aku ingin berpisah saja dengan Bara pa.. hikss.. tolong jangan beritahukan siapapun tentang kehamilanku.. sungguh aku tidak akan memnuntut harta atau tanggung jawab apapun. tapi biarkan aku pergi bersama anaku pa..." isak Meera.


deg.... hati Tuan Dion Remuk rasanya.. namun mengingat apa yang dilakukan Bara ia pun menimbang lumrah jika Meera seperti itu.


"kau ingin bicara dulu dengan Bara?" tanya tuan Dion


Meera menggelengkan kepalanya.


Adit dan Reza sama sama kagetnya mendengar Meera.


"aku mau tolong semuanya rahasiakan ini, dan adit.. adiitt.. tolong bantu aku.. bawa aku ketempat yang Bara tak kan menemukanku Adit.. hikss" isak Meera sambil memegangi ujung kemeja Adit..


"kau bisa kan Adit. hiks.. kau bisa melakukan apapun kan.." isak Meera sambil meremas ujung kemeja Adit.


Adit pun tak tahan dengan tatapan mata yang penuh air mata itu. ia membawa Meera kedalam pelukannya..


"tenanglah aku akan melindungimu nona.. berhenti menangis" kata Adit. entah mengapa sosok itu menjadi sangat hangat


ketiga pria itu pun berbincang di ruangan Reza.


"Bagaimana ini Tuan.. " kata Adit juga bingung


"Aku sudah memutuskan.. biarkan Meera menenangkan dirinya, dan jangan ada yang memberi tahu Bara tentang kondisi Meera. Kau Adit.. aku mempercayakan Meera padamu, aku akan mencari tempat untuk Meera dan calon cucuku." kata Tuan Dion.


"Reza.. terimakasih selama ini menjaga Meera. ku harap kau masih bisa terus menjaganya. kita ber 3 akan bergantian menjaga Meera" kata Tuan Dion.


"bagaimana bisa, aku selalu berada di sisi Tuan Muda" kata Adit


"Akan ku atur" jawab Tuan Dion. Reza melega mendengarnya setidaknya akan ada yang membantunya menjaga Meera.

__ADS_1


"kandungan Meera menginjak usia 2 bulan, jika prediksiku tidak salah ia akan melahirkan bayi laki laki" kata Reza.


"Pewarisku harus tangguh seperti ibunya" jawab Tuan Dion.


mereka mengurus kepindahan Meera hari itu juga. jangan lupakan Rangga. Rangga kini berada diluar Negeri untuk menimba persiapan Ilmu di Akademi militer USA.


Tuan Dion menyiapkan semuanya dengan cepat dan Rapi. Meera akan tinggal di luar negeri dengan semua pengaturan dari Tuan Dion. Toko Meera akan terus berjalan namun orangbdsri Tuan Dion lah yang akan menjalankan bisnis itu.


...Meera Pov...


Bara... maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi Istri yang baik untukmu, mungkin semua salahku hingga kau berpaling, tapi sungguh aku sangat mencintaimu, aku kehilanganmu tapi ku mohon ijinkan aku memiliki janin ini sebagai penggantimu, jika Tuhan menakdirkan kita Bersama, maka suatu saat aku yakin pasti akan bersama kembali.


************


3 bulan berlalu. Meera mulai menikmati kehidupan barunya ia memilih tinggal sendiri dan bersama 1 asisten rumah tangga. tanpa ia ketahui banyak sekali orang orang tuan Dion yang menjaga dirinya tanpa diketahui olehnya. dan juga jangan lupakan Samudra, pria itu menjaga ketat Meera dimanapun. sedangkan Sinta, kini Sinta lah yang menjalankan bisnis Meera di rumah asalnya. sedangkan Lexa., wanita itu tetap sibuk bersama geng mafianya yang misterius itu.


namun Lexa tak pernah lupa mengunjungi Meera setiap 2 minggu sekali. atau satu bulan sekali begitu pula tuan Dion. dan kini jadwalnya Adit yang datang mengunjunginya


"Eh... adit.." kata Meera yang perutnya semakin membuncit.. Meera sedang mengelap meja Meera membuka cafe kecil disebuah pertokoan. darisanalah ia mendapatkan semua kebutuhannya. ia tak mau terus bergantung pada Tuan Dion dan yang lainnya.


"Nona jangan melakukan hal ini lagi,, bagaimana jika anda kelelahan" kata Adit mengambil lap dari tangan Meera.


"ah tidak.. hanya mengelap meja saja" kata Meera lalu duduk di kursi.


"eemm.. adit.. bolehkah aku memintamu mengantarku kedokter kandungan?" tanya Meera sedikit Ragu.


"Baiklah.. ayoo" kata Adit.


sesampainya di ruangan dokter kandungan. mata adit melebar melihat calon anak dari Meera. entah mengapa ia ikut senang dan bahagia mendengar bayi itu tumbuh sehat dan berjenis kelamin laki laki..


"Tuan.. apa kau tak ingin melihat ini, lihatlah anakmu tumbuh didalam sana. didalam rahim wanita yang telah kau sakiti" batin Adit sendu memikirkan Bara.


Meera tampak sumringah, ia mengidamkan seorang bayi laki laki dan kini ia mendapatkannya.


"Aditt... lihatlah bukankah ini menggemaskan?" kata Meera menunjuk sebuah layar didepannya. Adit hanya mengangguk saja. senyumnya muncul tak kala melihat senyuman Meera.


setelah pulang dari dokter Adit membawa Meera kepusat perbelanjaan..


"Aku tak ingin membeli apa apa Adit.." kata Meera sambil mengelus perutnya


"Belilah kebutuhanmu Nona.." kata Adit yang setia berada di samping Meera

__ADS_1


"kau tahu aku tak ingin berbelanja karena jika aku mendatangi tempat-tempat seperti ini aku selalu teringat Bara" kata Meera sendu smabil terus berjalan pelan.


"Baik. ayo pulang" kata Adit lalu menghentikan langkahnya. diikuti Meera.


"terimakasih Adit.. kau selalu mengerti keadaanku" kata Meera.


sesampainya di rumah. Adit melihat Meera yang tampak kelelahan sambil mengelus perutnya.


"ahh anak ini aktif sekali, dia bergerak terus. terkadang aku kesakitan di sini" kata Meera sambil mengelus perutnya.


Adit merasa kasian pada Meera seharusnya ia merasakan kasih sayang seorang suami yang mendampinginya tak kala hal seperti itu.


"Adit.. eemmm.. akuu boleh minta tolong" kata Meera.


"emm.. akuu rindu dengan aroma Bara. mungkin aku mengidam. mungkin anak ini yang menginginkannya" kata Meera, ia malu tapi mau bagiamana lagi ia sangat merindukan itu.


"Bisa bawakan jas atau kemeja Bara untuku? mungkin itu akan mengobatiku" kata Meera.


Adit menarik nafasnya panjang,


"baiklah.." kata Adit..


"Aaahh.." lenguh meera tak kala perutnya sedikit nyeri akibat tendangan sikecil.


Adit dengan sigap bersimpuh didepan Meera dan mengelus elus perut meera. dan dengan ajaib nyeri itu hilang


"haha.. sepertinya dia menyukaimu" kata Meera pada Adit.


"heii jagoan.. jangan menyakiti Momy mu, jaga dia, jangan membuatnya susah yah.." kata Adit dengan lembut, Meera tersentak bisa bisanya Adit bersikap seperti itu.


Adit tersadar.. "maaf nona tadi hanya reflek"


"Tak apa Adit.. aku senang kau bisa menenangkan bayi ini, kedepan jika dia rewel aku akan merepotkanmu yaah" kata Meera sembari tersenyum.


waktu terus berjalan.. hingga Adit harus segera pergi. "Nona aku harus pergi jika ada sesuatu jangan sungkan menghubungiku" kata Adit.


Meera menganggukan kepalanya. menatap punggung adit dari kejauhan membuat Meera sesak karena mengingat Bara.


"nak.. dia adalah pamanmu, teman daddy mu.." kata Meera mengusap perutnya yang buncit.


sekembalinya Adit ke Indonesia. Adit langsung bertemu dengan Tuan Dion. ia menyampaikan perihal keinginan Meera. disana tampak Tuan Dion tersenyum namun sedetik kemudian ia merasa sedih.

__ADS_1


"kasihan Meera.." kata Tuan Dion


__ADS_2