Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
meera menahan perihnya


__ADS_3

Rumah Tuan Dion


Mobil Bara telah sampai di depan rumah Tuan Dion. sebelum keluar Bara memegang tangan Meera. ia berkata denagn tatapan mata yang tampak serius kearah Meera. "Meera, berjanjilah, apapun yang akan kau hadapi nanti, percayalah padaku, dan jangan meninggalkanku" Meera membelalakan matanya. ia tak faham apa maksud suaminya ini. namun ia memang selalu menanamkan dari pertama menikah dengan Bara. ia memutuskan untuk Percaya dengan suaminya. Meera hanya mengangguk sambil memandang Bara. Bara lalu mencium kening Meera lembut lalu keluar dari Mobil.


Bara dan Meera disambut hangat oleh pelayan yang berbaris di sana. Meera tetegun melihat banyaknya Pelayan disana. ia mulai bergidik ngeri sekaya apa orang tua Bara itu pertanyaan pertama kali yang muncul.


ketika Bara memasuki Ruang Tamu, mamanya pun berdiri senang melihat putranya datang namun pandanganya sekilas melirik Meera Jelas tatapan yang berbeda langsung ditujukan oleh Ny. Martha kepada Meera. Meera dan Bara memberikan salam. tak lupa Meera mencium tangan kedua orang mertuanya. Tuan dion tersenyum bahagia. namun beda dengan mama Bara ia segera menarik cepat tangannya ketika hendak berjabat dengan Meera


"Bara kau datang dengan sekretaris baru mu ya" tanya Mamanya sinis.


hah... sekretaris.. berarti mamanya bara belum tau aku ini istrinya.. batin Meera sedih. ia pun tak berkata apapun. hanya diam saja menundukan pandanganya. ia sudah menduga dari awal pernikahan kenapa Ny Martha tidak datang. namun sampai saat ini ia masih berfikir positif


Tuan dion yang menatap manik mata Meera merasakan kesedihan Meera. namun ia ingin tahu. bagaimana putranya nanti menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada mamanya sendiri.


"Nanti Bara jelaskan" kata Bara sambil menatap Mamanya.


"Baraaa apa kabar, aku merindukanmu" Aurel yang baru turun dari kamarnya langsung lari memeluk Bara. Bara tidak bisa menghindar. Bara pun juga tidak bisa menghindar karena tidak sempat.


"lepaskan, apa-apa an sih kamu" kata Bara tidak senang, lalu ia meraih tangan Meera menggenggamnya.


"siapa lagi wanita cantik ini" hati meera bertanya


Meera melihat suaminya di peluk wanita pun tidak senang namun ia tidak bisa menunjukanya. ia berusaha menutupinya dengan baik. Bara tau tentu Meera tidak nyaman dengan suasana ini


"Bara ayo kita makan dulu tante sudah masak banyak" ajak aurel sambil menggandeng lengan Bara. tanpa menghiraukan Meera. Meera tetap dengan ketenanganya. ia sangat pintar menunjukan ketenangannya kepada orang lain. namun tidak dengan dirinya sendiri.


Di meja makan. Meera duduk di samping Bara. namun Mama Bara tiba-tiba berkata "Aurel sayang kamu duduk di samping Bara aja, kalian terlihat serasi" , jelas kata-kata itu seakan usiran bagi Meera. Bara yang mendengarnya pun tidak senang. ia meraih tangan Meera di bawah meja. berusaha menenangkan Meera.

__ADS_1


Ya Tuhan... apa yang sebenarnya terjadi.. hati Meera perih mendengarnya. ia yang mendengar kata-kata mertuanya pun hendak bangun dari duduknya. namun Bara mencegahnya Bara menggenggam tangan Meera di bawah Meja. jelas Meera tidak bisa pergi.


"masih banyak bangku kosong" kata Bara dingin dengan tatapan gaharnya.


Aurel pun duduk di samping mama Bara. selama makan Aurel tak berhenti mencari perhatian Bara. Dari mulai mencuri pandang. namun Bara tetap diam tak menanggapi. Hati meera tidak bisa dijelaskan. namun ia mencoba tenang. di meja makan tak ada yang bersuara sedikitpun. setelah makan selesai, Bara menggandeng tangan Meera mengajak Mama dan Papa nya berbicara, diruang keluarga. Bara duduk disamping Meera. Aurel juga ikut, dia menggandeng tangan Mama Bara. dan duduk manja di sampingnya. sedangkan Tuan Dion Tenang duduk di kursi tunggalnya. Meera tak bisa sama sekali melepaskan tangan Bara. Mama bara tak suka dengan Meera karena berfikir wanita itu menggoda anaknya. namun ia tak ingin berdebat dulu, ia ingin menunjukan pada Meera bahwa Bara sudah memiliki calon istri dan membuat Meera malu nantinya. mama Bara kembali membuka bicara.


"Bara ada yang ingin mama katakan padamu"


"Aurel sudah datang, kapan kita akan melangsungkan acara pertunangan, kau pilihlah sendiri harinya"


deegg... apa yang dikatakan mama. kenapa dia berbicara seperti itu, apa dia belum tahu jika Bara sudah menikahiku, bara tolong jelaskan.. Batin Meera semakin tak karuan. ia berusaha menutupi kegundahan hatinya. namun matanya tak bisa menahan untuk menatap kearah Bara. Tatapan Meera tak bisa dijelaskan. ada banyak oertanyaan tersirat disana. segera ia tersadar lalu mengontrol dirinya lagi. Bara menatap Meera sekilas.


"Maa.. Bara sudah menikah, perkenalkan ini Meera istri Bara, sekarang mama jangan lagi berusaha menjodohkan ku lagi dengan siapapun. maaf aku terlambat memberi tahu" Kata-kata Bara lugas tegas dan penuh penekanan. Ia tak mau membuat Hati Meera semakin menahan sakit.


Tuan Dion yang menantikan kata-kata itu pun menyunggingkan senyumnya.


"kamu bercanda Bara? bagaimana bisa kamu menikah dengan orang seperti ini, mama sudah memilihkanmu istri yang cocok!!" setelah Mamanya mendengar itu ia pun kaget bukan main ia marah dan berkata seperti itu. menatap Meera dengan tatapan bencinya.


"Hey wanita ******. bagaimana kau menggoda anakku? kau hanya menginginkan hartanya kan! kau bahkan tak sebanding dengan kami, siapa kau beraninya menggoda putraku!!" Mama Bara pun marah besar. ia bangkit dari duduknya dan berdiri disana sambil berkacak pinggang


Aurel yang mendengarnya pun juga kaget dibuatnya. bagaimana bisa Bara sudah menikah. tapi tujuan Aurel memang bukan tulus mencintai Bara. selama Ny. Martha mendukungnya baginya tidak akan ada masalah berarti, karena ia tahu Bara sangat sayang kepada Mamanya. ia hanya ingin menguasai harta Bara setelah menikahinya. ia pun akan bertekad mendapatkan Bara bagaimanapum caranya. ia mencengkeram ujung gaunya sambil mengerutkan giginya. "lihat saja bara.. cepat atau lambat kau akan menceraikan wanita ****** itu" gumamnya


Hati meera sakit mendengar kata-kata mertuanya, ia memejamkan matanya menahan air matanya tak jatuh, tubuhnya pun bergetar, ia tak menyangka ternyata mertuanya tak tahu pernikahanya dan tak mau menerimanya. perasaan meera hancur. ia berusaha mengontrol emosinya.


tuan dion tak henti menatap Meera. ia kagum dengan meera. "terbuat dari apa hatimu nak, kau pandai sekali menahan sakit hatimu" batin Tuan Dion


"Kenapa kau diam saja, bicaralah, jangan sok baik didepan kami! aku tahu betul dari parasmu kau bukan wanita baik - baik!!! kata mama Bara sambil menunjuk kearah Meera.

__ADS_1


"Jaga bicara Mama. sekarang dia istriku, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitinya" Bara sudah sangat emosi dengan mamanya yang berbicara seperti itu kepada Meera.


bukan Meera tidak ingin menjawab kata-kata mertuanya. namun lidahnya kelu dan berat sekali untuk mengucapkan apapun. Berat rasanya.


"waahh kau hebat sekali ******, kau bisa mencuci otak anaku hingga bisa membuatnya berteriak kepadaku! apa yang kau lakukan kepada putraku dasarr pel*c*r!!!" kata Mama Bara tak kalah emosinya. semua kata-kata kasarnya ia tujukan untuk meera sangat kasar. "Pa lihat itu kenapa diam saja" teriak Mama bara pada tuan Dion. Tuan Dion pun berkata "papa sudah tau, dan papa setuju, mulai sekarang jaga bicaramu pada menantuku" jawab tuan Dion singkat karena ia juga tak suka dengan kata-kata istrinya yang memalukan. ia menaruh kagum pada Meera ia bisa menahan emosinya.


"Bagus sekali bahkan kau mengelabuhi suamiku juga, jadi hanya aku yang tidak mengetahui tentang ini!! lihat saja ******, sebentar lagi Bara akan menceraikanmu!! dan kau lihat dia baik baik (menunjuk aurel) dia adalah calon menantuku calon istri Bara mana bisa kau di bandingkan dengan dia!!" Kata-kata mama Bara yang begitu menohok menyayat hati Meera


Meera sadar siapa dirinya. dan seperti apa kehidupanya. jelas sangat berbeda dengan Wanita Itu. apa yang mau di bantah. memang itu benar adanya. ia tak pantas di bandingkan dengan Aurel, kira-kira seperti itu isi hati Meera


"Cukup Mama!!" teriak Bara. Meera sadar akan kemarahan Bara. ia mencengkeram erat lengan Bara yang hendak Berdiri melawan mamanya. ia tak mau melihat pertengkaran anak dan ibunya. ia menahan Bara agar tak tersulut emosinya. padahal dirinya sendiri juga sangat emosi saat itu.


merasakan tarikan tangan Meera di lengannya. Bara Faham maksud Meera ia lalu menarik tangan Meera beranjak dari sana menuju kamarnya. Meera hanya menuruti. karena ia memang sudah tak ada tenaga melawannya. hatinya sakit batinya ngilu tubuhnya lemas matanya pun sudah sangat merah. entah akan marah atau menangis semua bercampur. tak bisa diungkapkan. Namun Air matanya belum menetes. sebisa mungkin ia menahannya. menahan agar tidak menangis.


dikamarnya Bara memeluk Meera, ia tahu kesedihan istrinya yang ditahan sedari tadi Dan Bara sangat merasa bersalah pada Meera. Meera hanya diam. didalam pelukan Bara ia memikirkan banyak Hal. namun tidak bersuara.


Ia mendongakan kepalanya mengangkat dari dada Bara. memandang wajah suaminya, ia tak berkata apapun. sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan namun lidahnya kelu. telinganya terngiang kata-kata menyayat dari mertuanya.


"Meera sayang, maafkan aku yang menyembunyikan ini, maafkan mamaku, aku mencintaimu, percayalah aku akan melindungimu aku tidak akan meninggalkanmu" mulut Bara berat sekali untuk mengucapkanya dengan tatapan mata meera menahan sedih yang menusuk hatinya.


"kenapa seperti ini Bara" hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Meera, sambil menatap manik mata Bara dalam-dalam, Bara hendak memeluk Meera lagi karena melihat butiran bening sudah ada diujung mata Meera. ia ingin menenangkanya.


namun Meera menolak, ia ingin penjelasan Bara,


Bara menangkup wajah Meera dengan kedua tanganya "Meera sayang, Mama ingin aku menikah dengan Wanita pilihanya, aku tidak mau, aku benar-benar mencintaimu, tolong percayalah, jangan tinggalkan aku"


Meera memejamkan matanya menahan tangis agar tak jatuh air matanya, ia mencengkeram bajunya, ia sakit mendengar Bara mengatakannya. ternyata ia bukan wanita yang diinginkan mertuanya.

__ADS_1


Bara melihat Meera seperti itu merasa sama hancurnya. ia tak bisa melihat Meera menahan tangisnya sendiri. jelas ia menunjukan sikap tegarnya. ia hanya berpura-pura. ia menahan airmatanya. ia menahan semua kata-kata yang ingin diucapakan namun matanya tak bisa membohongi bagaimana yang di rasakan Meera. Bara mengajak Meera menuntunya duduk di sofa. Disana Bara masih memeluk erat pinggang Meera, meera menyandarkan kepalanya pada dada bara. Entah mungkin hatinya yang terlalu lelah atau apa. Meera pun akirnya tertidur. ia memilih tidur agar mengurangi sedikit emosinya.


Bara mengelus kepala meera, setelah sekian lama ia pun menyadarinya jika Meera mulai terlelap mengangkat Meera ke atas kasurr. lalu menyuruh pelayan membantu membersihkan dan mengganti pakaian Meera. setelah itu ia pergi menemui orang tuanya di ruangan Bawah. Ia sangat Marah kepada mamanya. ada banyak kata-kata yang ingin ia katakan pada orang tuanya.


__ADS_2