
Kali ini mobil yang ditumpangi Bara dan Meera tidak turun diluar untuk menurunkan Meera. mereka berhenti di parkiran khusus presdir.
sebenarnya Meera sudah meminta turun di luar tapi Bara tak menghiraukannya. Bara menatap lurus ke kaca depan . Adit dan supir tahu arti tatapn itu. mereka segera keluar.
"eh eh. kok keluar dulu, Adit ikut." Meera berdecak
Bara menahan tangan Meera. ia memeluk Meera didalam Mobil. mengelus punggung Meera. meskipun ada penolakan disana Bara tak menghiraukannya.
"jaga dirimu, ingat kamu istriku, bukan wanita lajang lagi, aku akan memecat semua orang yang mendekatimu, jadi jika kamu tak mau melihat mereka menderita, kamu kaga jaraklah dengan mereka" Bara berkata lembut kepada istrinya
Meera mulai terenyuh mendengar kata-kata Bara.
"tapi kan bukan aku yang mulai. bukan salahku kalau mereka suka padaku, toh aku tidak menanggapi" Meera berkata sejujurnya.
Bara juga tahu sebenarnya istrinya tidak pernah menanggapi karyawan laki-laki yang terus mendekatinya, namun bagaimanapun juga ia risih dan cemburu mendengar dan melihat meera didekati banyak pria di perusahannya. bukan tanpa alasan. mereka mendekati Meera karena mereka berfikir bahwa Meera masih lajang.
Bara melepas pelukannya dan Meera berpamitan pada Bara. CUP.. !!! Meera mencium pipi Bara lalu pergi meninggalkan Mobil Bara. Bara tersenyum melihat kearah istrinya. sedangkan ponsel Meeea masih ada didalam saku jasnya.
kedatangan Meera keruangnya membuat Shinta senang bukan main. ia mempersiapkan banyak sekali pertanyaaan untuk Shinta. begitu pula Ana. ia juga senang melihat Meera. Shinta dan Ana tak berani banyak bertanya saat ini karena jam kerja. mereka mengajak Meera untuk kekantin nanti setelah jam istirahat. sedangkan Meera sudah sangat siap menjalani harinya lagi. ia siap dengan setumpuk pekerjaan yang ditinggalkannya beberapa hari lalu.
Kedatangan Meera tadi membuat para Fans pria nya senang . mereka berniat mengajak meera kekantin Bareng nanti waktu istirahat.
"Shin.. ini proposal buat djanto group aku yang ngerjakan?" tanya Meera pada Shinta
"iya Meer. kau dapat bagian itu dari Pak Adit langsung aku sudah ada bagian sendiri hehehe" Shinta menjawab.
"ini tapi sudah hampir selesai Shin" Meera menjawab karena memang pekerjaan yang dikiranya akan menumpuk ternyata tidak. ia diberikan pekerjaan yang sudah hampir selesai. hingga ia tak perlu bekerja lebih keras lagi, siapa lagi kalau bukan Adit yang mengaturnya.
hemm.. mungkin karena aku habis sakit jadi di beri pekerjaan ini. aahh.. syukurlah..hihi batin Meera.
Sedangkan di ruang Bara. Bara sibuk dengan tumpukan file di mejanya. Hari-,harinya dihabiskan dengan bekerja keras mengembangkan WS Corps yang kini sudah merambah kesemua bidang. Bahkan semua perusahaan di bawah naungannya juga berkembang pesat, Bara pribadi memiliki 35% saham di WS Cops secara keseluruhan, sedangkan orang tua Bara tuan Dion memiliki saham 40% yang pasti akan jatuh ketangan Bara sebagai pewaris tunggal keluarga Surya. dengan porsi segitu bisa dipastikan posisi Bara tidak akan bisa di goyahkan oleh pemegang saham lainnya. Itulah yang membuat semua orang tunduk pada perintah Bara. hanya Meera yang sesekali berani membantah. Namun hingga saat ini Meera tidak mengetahui seberapa kaya Suaminya. yang ia tahu suaminya adalah presdir di perusahaan yang tepatnya bekerja. Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 waktunya istirahat. Bara mendengar banyak sekali notifikasi dari ponsel Meera. ia mengambil ponsel Meera dari saku jasnya lalu membuka pesannya. ada 12 pesan baru. dan beberapa dari nomor tidak dikenal.
__ADS_1
Bara menyilangkan kakinya dan bersandar pada kursi kebesarannya. ia membuka pesan satu persatu. semua pesan itu berisi ajakan kekantin dari karyawan nya dengan poto profil WA laki-laki semua. Bara memicingkan matanya melihat semua pesan-pesan itu.
"Meer ini aku anto dari departemen keuangan, kekantin yuk"
"Meer aku dengar kamu sudah masuk, kita makan siang bareng yuk
"haii meera.. kenalin aku sendi. dari sebelah ruanganmu, udah waktunya makan. bisa kekantin bareng".
dann banyakk lagi yang lainnya. Bara membelalakan matanya melihat semua isi pesan istrinya.
"Ciiiihhhhh beraninya menggoda istriku" gumam Bara dengan wajah marahnya. ia mengacak rambutnya karena pusing melihat tingkah karyawannya yang terus mengirim pesan pada Meera. satu persatu kontak itu ia blokir. ia tak mau Meera di ganggu lagi. Adit yang melihat tingkah tuannya pun ingin tertawa. Adit sudah tau bahwa Meera sering di ganggu oleh karyawan lain. "haha lihat lah dirimu tuan. baru saja kau menekan bos perusahaan lain dengan tenang, sekarang kau hampir gila kan menghadapi karyawanmu sendiri yang tergila-gila pada istrimu" bagitu kata hati adit.
"apa perlu saya siapkan draft pemecatan tuan?" goda Adit kepada Bara.
"kalau kau berani berbicara lagi. buat draft itu untukmu sendiri" Bara galak menjawab kata-kata Adit.
"siap salah" kata Adit. "haahhaa lihatlah tuan muda Surya, pewaris tunggal WS Corps yang lagi bucin, andaikan nona Meera tau. pasti akan sangat seru" gumam adit dalam hati
"Tuan, setelah jam istirahat direktur Djanto Group akan datang untuk membahas proyek pertambangan yang sedang dalam tahap pembangunan" Kata Adit menjelaskan dengan sopan.
"kita punya berapa saham di perusahaan tambang itu?" tanya Bara
"55% tuan, sangat kuat posisi kita saat ini, sedangkan Djanto Group memiliki 30%, tapi kita tidak bisa meremehkan, seperti yang kita tahu Djanto Group licin sekali dalam berbisnis" jelas Adit
"Mereka tidak akan berani macam-macam dengan kita, kalau mereka melakukannya. hancurkan Djanto hari itu juga, toh kita juga punya saham besar di perusahaan mereka" kata Bara. Bara tak segan-segan menghancurkan lawan bisnisnya. bahkan ada salah satu perusahaan terkenal yang kini pemiliknya untuk makan pun susah. karena telah di hancurkan oleh Bara. bukan tanpa alasan Bara telah di hianati oleh perusahaan itu. dan menghancurkan penghianat merupakan hal wajib bagi Bara.
Di kantin
Meera bersama Ana dan Shinta. Shinta sudah tidak tahan dengan semua pertanyaannya, mereka duduk satu meja. menikmati makan siangnya.
shinta : Meer. aku ingin bertanya
__ADS_1
Meera : aku sudah tahu apa pertanyaanmu. (meera merasa perlu memberi tahu ana dan Shinta. karena tidak ada pilihan lain . tidak mungkin ia menyembunyikan setelah kejadian kemarin)
shinta : Jadi benar? presdir itu... (kata-katanya menggantung, sambil membelalakan matanya menatap Meera)
Meera : ihh jangan keras keras.. aku akan cerita tapi jangan teriak teriak (meera malu dilibat orang di sekelilingnya ia tak mau orang-orang tahu identitasnya)
Shinta : baiklah ceritakan (shinta diam mendengarkan, sedangkan Ana hanya diam ia tak tahu apa-apa, karena shinta juga tak berbicara sebelumnya)
Meera : iya Bara Suamiku, kami menikah sudah sebulan lebih yang lalu, jangan bicara pada siapapun.kau tak mau orang-orang tahu (meera berbicara dengan hati-hati)
Ana : Apaa??? (Ana berkata keras membuat orang di sekeliling mereka melihat kearah mereka)
Meera : Aaaiihhh... jangan keras keraaas.. (Meera menutup mukanya malu diperhatikan orang-orang. namun orang disekelilingnya tak mendengar jika Meera istri Bara. hanya mendengar teriakan Ana)
Shinta : Ya ampun Meera..... Lalu kenapa dengan kejadian kemarin. kau tahu aku memakinya lewat telfon, aku menyesal sekarang hiks.. (Shinta memikirkan ketika ia memaki Bara seenak mulutnya)
Meera : ada sedikit salah faham, tapi sudah clear
Ana : Kau memaki presdir shin? (ana kaget memdengar perkataan Shinta)
Shinta : Siapa tahu itu presdir kita. aku hanya khawatir saat itu, ingin ku bunuh pacar meera. eh tidak taunya yang datang Presdir Bara dan asisten Adit yang galak itu. (Shinta sedih meingingatnya)
Ana : Matii kau shin. bulan ini pasti akir ceritamu di perusahaan ini (Ana mengatakannya dengan percaya diri. karena siapapun yang membuat presdir tidak enak hati akan berakir riwayatnya di perusahaan ini)
Meera : tidak akan. aku akan memohon Pada Bara (meera menenangkan Shinta ia menepuk pundak Shinta yang mulai sedih)
Ana : Meera ada banyak yang ingin ku tanyakan padamu. tapi tidak sekarang. aku penasaran dengan ceritamu bagaimana bisa menikah dengan Presdir Bara
Meera : Baiklah besok besok saja. kalau ada waktu luang akan ku ceritakan semuanya. sekarang sudah waktunya kembali kerja.
Ana dan Shinta masih sibuk dengan semua prediksinya. ada rasa iri di hati mereka. karena Meera bisa menikah dengan Bara.
__ADS_1