
Shinta berlari menuju Meera. Diangkatnya kepala Meera, ia melihat Meera yang pingsan itu. wajahnya sangat pucat. lemas dan tak bertenaga. Shinta tentu tak bisa mengangkatnya sendirian ke atas kasur, ia membaringkan tubuh Meera dilantai dengan beralaskan selimut, ia membelai wajah temannya "ada apa denganmu Meera, apa yang terjadi" Shinta mencoba mencari minyak kayu putih ditasnya. ia mengoleskan di hirung dan telapak tangan Meera. berharap temannya akan segera sadar. ia tak mungkin meminta bantuan petugas hotel. mengingat keadaan meera yang begini. takut pihak hotel mengira ada kejadian apa apa. setelah sekian lama Meera pingsan akirnya ia mulai membuka mata.
"meera, meer ini aku shinta, buka mata mu" Shinta menepuk pipi Meera
meera yang masih lemas membuka matanya dan Shinta sedikit mengangkat kepala Meera dipangkuannya. Meera menangis lagi sejadi-jadinya dipelukan Shinta.
"Meera ada apa, apa kau bertengkar dengan kekasihmu?, katakan saja. biar kugantung kepalanya" Shinta menenangkan Meera
"Shinta aku harus bagaimana" Meera berkata dalam tangisnya.
"astaga meera ada apa sebenarnya" Shinta memeluk Meera lagi. tiba-tiba Meera pingsan lagi. Shinta histeris dibuatnya
flash back,
body guard yang mengikuti Meera kehilangan jejak Meera karena saat mobil melaju ia tertahan oleh sebuah truk yang oleh tepat didepannya. ia tak bisa menghindar karen jalanan sangat ramai. dan bodyguard itu merasa kalau Meera akan segera pulang kerumah.
Bara dan adit pulang kemansion Bara. sesampainya disana. Bara mencari Meera. namun tidak menemukannya. ia mencoba menghubungi Meera namun tidak diangkat.
"kemana wanita ini, apa dia jalan-jalan sama selingkhhannya. bagus sekali sampai malam begini belum pulang" kira-kira begitu curiga Bara kepada Meera
Adit menyadari ada yang tidak beres dengan semua ini. ia menelfon bodyguard Meera.
"dimana Nyonya?"
"maaf tuan bukannya sudah pulang? tadi kami kehilangan jejak karena ada kecelakaan"
adit langsung menutup telfonnya. "siaalll tidak berguna" adit marah terhadap pengawal Meera.
Adit berlari menuju ke ruang baca Bara. disana Bara masih tak menyadari keadaan istrinya yang menghilang. Tanpa mengetuk pintu adit menuju ke ruang baca Bara.
"Tuan sepertinya ada masalah dengan nyonya"
__ADS_1
"Tuan mohon sekali ini saja dengarkan saya, anda sudah salah faham kepada nyonya. semua yang anda lihat tidak seperti kenyataan yang anda fikirkan"
"apa maksudmu?" tanya Bara menatap Adit.
Adit menjelaskan kepada Bara bagaimana dan apa tujuan meera bertemu dengan mereka. adit sudah memastikan pembicaraan mereka dari orang suruhannya. dan adit sudah memastikan kebenarannya. mendengar itu semua Bara langsung berubah raut wajahnya. tadi raut muka yang memerah menahan amarah kini menjadi sedih karena ia tahu ia telah salah Faham. ia merasa bersalah.
"kenapa kau baru bercerita?" Bara geram mencengkeram kerah Adit
"sudah berkali kali saya mencoba bicara. tapi tuan tidak mau mendengarkan!" entah keberanian dari mana Adit sampai berani meninggikan suaranya.
"Cepat cari tahu keberadaan Meera"
Bara mencoba menghubungi ponsel Meera.sekali lagi, dan kali ini tersambung dan diangkat oleh Shinta. nomornya diberi nama Bara dengan tanda love love
"kamu dimana?"
"oh ini kamu pacar Meera! heiiii brengsek dengarkan jangan cari meera lagi! apa yang kau lakukan pada temanku hah? ********!!!" Shinta sudah tak bisa menahan emosinya mengingat meera yang masih pingsan di pangkuannya. shinta lalu menutup Telfon itu.
tak butuh waktu lama Adit sudah tau keberadaan Meera dari GPS yang ada di mobilnya.
mereka telah tiba di depan pintu kamar Meera.
Bara membuka pintunya kasar. ia melihat istrinya yang terbaring di pangkuan temannya. tanpa berkata ia mengambil meera dan menggendongnya keatas kasur. Bara menatap wajah Meera dengan penuh rasa bersalah. wajah yang biasanya ceria kini menjadi pucat pasi. Adit segera memanggil dokter keluarga untuk datang kesana.
sedangkan Shinta terpaku di tempatnya. melihat presdirnya dan asisten yang terkenal kejam ada didepannya. ia bertanya-tanya ada apa hubungan mereka. apakah nomor yang bertuliskan Bara gadi adalah Bara presdirnya. ia menyesali telah mencaci maki tadi. "haduh matii akuu. sepertinya aku akan dipecat hihiks" Shinta bangkit dari duduknya dan berdiri disamping Bara. Adit lalu meminta Shinta pulang meninggalkan mereka.
Bara duduk disamping meera dan menggenggam tangan Meera. ia menyesali perbuatannya.. pandangannya tatuh pada ponsel Meera ia melihat ponsel Meera yang diletakan diatas meja oleh Shinta ketika hendak keluar tadi. sambil menunggu dokter tiba. Bara melihat isi ponsel Meera. matanya terbelalak melihat isi pesan dari nomor yang tidak dikenal, ia melihat foto-fotonya bersama beberapa wanita di club malam dan bersama aurel di rumah orang tuanya. hatinya semakin tidak karuan. Adit juga melihatnya dan tak tega terus memandangnya. Adit memejamkan matanya dan berbalik membelakangi Bara sambil menekan dahinya "astagaaa......Terbuat dari apa hatimu nonaa... sampai hal seperti ini bisa kau tahan sendirian" ia juga merasa bersalah kepada Meera karena ikut membohonginya.
Bara menyesal sekali mengingat semua tuduhan yang ia berikan pada Meera. Bara tak bisa berkata-kata. hatinya kelu. menerima kenyataan bahwa istrinya menahan semua amarahnya sendirian. bahkan ia tak menanyakan apapun pada Bara. Bara kembali mengingat kata-kata Meera "Aku percaya padamu" ia semakin menyesali perbuatannya. Bara tahu siapa yang melakukan ini semua. yang mengirim foto-foto itu. siapa lagi jika bukan Aurel.
Dokter datang. dan segera memeriksa keadaan Meera.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Bara
"tubuhnya sangat lemah, perutnya kosong, biarkan istirahat dan aku akan memasang infus" kata dokter
"bisakah kita rawat dirumah ku saja?" tanya Bara
"Bisa, tetapi harus ada perawat yang menjaganya tuan" kata dokter.
Bara lalu mengangkat badan Meera menggendongnya menuju mobilnya. Meera masih belum sadar dari pingsannya. Bara memandang wajah sembab Meera yang kini ada di pangkuannya.
sesampainya dirumah Bara menggendong tubuh Meera diletakannya di ranjang. sebelum dokter masuk memeriksa lagi ia meminta pelayan membersihkan tubuh Meera. setelahnya baru dokter masuk dan memasang infus pada tangan Meera. Karena tubuh Meera yang sangat lemas dokter tersebut menempatkan 2 perawat terbaiknya untuk menjaga Meera.
"Tuan, saya menyuntikan obat bius agar nona meera istirahat lebih panjang, karena tubuhnya sangat lemah, jika nanti di bangun tolong jangan biarkan dia setres. takutnya kalau banyak pikiran kondisinya tak kunjung membaik"Kata dokter tersebut di depan Bara
"Terimakasih" ucap Bara.
sampai di luar dokter tersebut berbicara pada Adit, "Tuan kalau besok nona masih belum pulih, terpaksa kita bawa kerumahsakit"
"Baik" jawab Adit
Bara memandang wajah Meera yang sendu. ia duduk di samping ranjang Bara. "Maafkan aku Meera, bukalah matamu, kau boleh menghukumku" kata Bara,
Bara masih menyimpan ponsel Meera. Bara bersender di sofa, ia membuka kembali Ponsel Meera. ia melihat semua Chat yang ada disana.
Melihat chat dari Reyhan, Anom, Davian, bahkan ia menemukan Chat Reza sepupunya. ia membuka satu persatu. semua balasan yang dikirim Meera tak menggambarkan Meera memberikan harapan bagi mereka. Bara kembali membuka Chat dari nomor tak dikenal itu, ia membuka 1 persatu foto dirinya. Ia melihat jam berapa foto itu dikirim. Hatinya kelu ketika ia tahu bahkan Meera lebih dulu melihat foto-foto saat Bara dicium Aurel dari pada Bara yang marah saat itu, "Astaga Meera.. kau menyimpan semua kesedihanmu sendiri seperti ini" Bara mengangkat pandangannya. kepalanya tersender pada punggung sofa ia memejamkan matanya. ia mencoba merasakan bagaimana Meera menahan sedih di hatinya saat itu dan bodohnya saat itu Bara tidak mau mendengarkan kata-kata Meera.
tiba-tiba ponsel Meera bunyi, Davian mengirim pesan.
"Meera, aku tak pernah menyesal mencintaimu, jika kau sudah menemukan orang yang kau cintai, aku akan mendoakan kebahagiaanmu, jika ia menyakitimu jangan kau tahan sendirian, aku ada disini kapanpun kau butuh, Aku ingin pamit, aku akan pergi bertugas kembali. Bahagialah selalu Meera"
dibawah pesan itu Davian mengirimkan sebuah Foto dirinya yang memakai seragam lengkap dengan Baretnya gahah sekali. ia berdiri di dengan gagah disana.
__ADS_1
Bara membukanya dan kini ia sama sekali tak marah, ia menyesal karena telah menuduh istrinya berselingkuh. Kini ia sadar istrinya mengorbankan banyak orang demi bersamanya. hatinya semakin sedih.. malam itu Bara terlelap di sofa dikamarnya. sedangkan Adit tidur di kamar tamu.
Adit di ruang tamu juga tidak dalam keadaan tenang. ia merasa bersalah pada Meera..